Merenungi Indonesia

Sesungguhnya yang lebih maju disebelah Timur Indonesia itu hanyalah waktu berbuka & sahur. selain itu tertinggal semua #Merdeka #ea #fakta

Saya terdiam membaca linimasa, lalu terhenti dan diam membaca tulisan @almascatie. Hingga saya memulai menulis ini pada pukul 00, twit yang bukan kicauan asal-asalan itu hanya dipancar ulang empat kali, hampir tujuh jam. Dari kalimat Blogger Maluku yang baru sekali saya jumpa di Jakarta, Oktober lalu, itu, saya sebagai ‘orang Barat’ tersentil.

Jauh sebelum Proklamasi dikumandangkan Soekarno-Hatta di Pegangsaan, Thomas Matulessy sudah berjuang habis-habisan untuk mengusir penjajah. Ia, Kapitan Pattimura, itu bahkan berhasil menggalang kekuatan perlawanan bersama kerajaan Ternate, Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi hingga Jawa. Kebersamaan sudah ditunjukkan, jauh sebelum ada kebangkitan Boedi Oetomo, Sarikat Islam dan sebagainya di Jawa.

Bumi Nusantara yang kayalah, yang sejatinya mendorong berbagai bangsa di dunia berusaha menaklukkan ganasnya samudera. Rempah-rempah dan hasil perkebunan dari negeri subur pula yang membuat antarbangsa bersengketa, lantaran ingin memonopoli hasil bumi Nusantara. Inggris, Portugis, Belanda, Jepang, semua tergila-gila akan kekayaan kita, jauh sebelum ada nama Indonesia.

Lalu, datang suatu masa, ketika ratusan pemuda: Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Java dan banyak lagi yang mewakili suku dan etnis se-Nusantara bertemu, sebagai upaya merajut kebersamaan, lantas melawan penindas dan perampok kekayaan. Mereka tak tergerak secara tiba-tiba, namun dilandasi semangat warisan leluhur mereka, yang telah puluhan hingga ratusan tahun merasa diperlakukan tidak adil oleh bangsa pendatang.

Apa yang ‘dikicaukan’ Almascatie perlu kita renungkan bersama, ketika hari ini, kita semua merayakan 66 tahun kemerdekaan Indonesia. Sudahkan keadilan merata, bagi rakyat yang dulu juga telah melahirkan pahlawan-pahlawan di daerahnya, namun dipersembahkan untuk sebuah bangsa bernama Indonesia?

Kalau yang berada di bagian ‘Timur Indonesia’ pun belum mengecap manisnya kemerdekaan, apakah arti kita meneriakkan kebersamaan? Semaju apakah pembangunan di Timur, yang desainnya ditentukan dari Jakarta (yang Barat), selain mengirim gergaji mesin dan buldozer, untuk menumbangkan pepohonan dan  mengeruk perut bumi untuk dijual ke luar negeri? Sudahkan saudara-saudara kita di sana mengenyam pendidikan yang memadai?

Mestinya, sebagai bangsa kita sedih, ketika kemakmuran dan hasil-hasil pembangunan tak kunjung merata dan lebih banyak dinikmati mereka yang hidup di Jawa. Justru terlalu banyak orang yang menderita adalah mereka yang tinggal di lingkungan kaya, seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Sumatera dan masih banyak lagi.

Mari kita tanya kepada aparatur negara kita, seberapa banyak infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang mempermudah saudara-saudara kita di luar Jawa untuk memperbaiki nasibnya dengan cara mengelola lingkungannya?

Saya, dan banyak orang yang tinggal di Pulau Jawa, sepertinya hanya menjadi manusia-manusia cengeng, yang selalu mengeluh dan mengaduh, ketika kenikmatan hidup terganggu sedikit saja. Tidak bisa main Twitter selama satu jam seperti tersiksa puluhan tahun, padahal kebanggaan yang ditunggu-tunggunya hanya semu belaka, ketiga sebuah kata atau frasa menjadi perbincangan utama di antara pengguna Twitter sedunia.

Kita banyak yang lupa, di pedalaman Kalimantan, atau Sumatera saja, masih banyak petani yang berhari-hari termenung, kebingungan mengangkut hasil panennya untuk diuangkan di ‘kota’ lantaran buruknya sarana dan prasarana transportasi, juga komunikasi.

Tak adil rasanya, membandingkan fasilitas dan intrastruktur Jawa dengan non-Jawa yang begitu timpang, hingga puluhan tahun mengenal kata ‘merdeka’, namun sejatinya tak merasakan apa-apa. Apakah hanyan karena Jawa dihuni mayoritas bangsa Indonesia sehingga semua bentuk dan praktek pembangunan dikonsentrasikan? Saya kira, semua berhak memperoleh dan merasakan buah kemerdekaan, bukan sebaliknya, meratapi tiada henti.

Terlalu banyak teman meneriakkan optimisme semu, karena tak pernah menyuarakan ketidakadilan. Padahal kita tahu, para politisi dan penerima mandat pengelolaan pemerintahan, lebih takut dikritisi, dicerca dan diolok-olok karena kegagalan dan ketidakbecusan mereka mengelola pemerintahan, walau hanya lewat berita-berita media massa, media Internet, temasuk status Facebook dan kicauan Twitter.

Kadang saya sedih, mungkin ini pula bentuk kenaifan saya, menyimak linimasa Twitter dan percaturan teman-teman di dunia maya, selalu mengajak bertutur yang serba baik. Dengan polosnya mereka menyanjung keberhasilan yang bisa jadi cuma polesan konsultan komunikasi dan pencitraan, dan menjauhi sikap kritis, menyodorkan fakta-fakta dan petunjuk ketimpangan. Seolah-olah, yang kurang menjadi tak pantas disebut, sehingga harus disimpan rapat-rapat di almari besi.

Entahlah, mau disebut apa manusia seperti saya, yang lebih banyak bertutur nyinyir dibanding pamer optimisme. Berat bagi saya untuk berpura-pura, apalagi mengisi dan memaknai kemerdekaan hanya lewat penyebaran tagar atau hastag tertentu, semata-mata demi status masuk trending topic percakapan dunia.

 Saya ingin mengajak teman-teman onliner(s) menyimak kicauan @ipulgassing berikut:

Dear blogger, adalah lbh apik kalau kalian posting sesuatu ttg hr kemerdekaan selain ngetwit pake hashtag itu..

Dengan ngeblog, kita bisa menyodorkan petunjuk-petunjuk otentik untuk kita berbangga, atau sebaliknya, meratapi yang masih terjadi di sekitar kita. Cukup banyak berita media massa, yang bercerita tentang yang serba baik saja, atau laporan hasil reportase jarak jauh, atau hasil jurnalisme cangkem alias pernyataan-pernyataan resmi yang serba baik belaka.

Seorang blogger, mislanya, bertutur melalui postingan apa saja, tentang kekayaan dan kekurangan yang dialami atau dijumpai di sekitarnya. Twitter, bagi saya, masih hanya kicauan selewat saja, yang sudah dilupakan keesokan harinya.

Jika Anda masih optimis, tunjukkan cerita-cerita baikmu lewat blog. Begitu juga sebaliknya, supaya kita semua bisa berkaca, lalu menyusun strategi untuk mengantisipasi dan mengubahnya. Kekacauan pembangunan kita, lantaran para pengambil kebijakan asyik dengan asumsi dan ilmu kira-kira, serta laporan serba baik semata. Syukur,  selain lewat blogging juga ditunjukkan dengan tindakan nyata.

Mari, ajarilah saya yang bisanya juga masih berkata dengan berbusa-busa semata.

 

 

 

 

13 thoughts on “Merenungi Indonesia

  1. Saya masih merindu untuk hormat kepada sang saka merah-putih Pakdhe.

    Saya ingin mengubah bangsa ini Pakdhe, menjadi lebih baik, setidaknya menjadi apa yang saya yakini baik. Namun saya tahu, mengubah bangsa berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa tak mudah dilakukan oleh seorang diri. Indonesia Timur masih tetap merana, menanti untuk diperhatikan. Apa yang bisa saya perbuat?
    .-= mawi wijna´s last blog ..Motret Upacara Bendera Tengah Malam =-.

  2. Pakde… halo pakde. ini komen pertama saya. banyak dengar cerita tentang pakde dari almascatie. simplenya kami tadi setelah bikin kegiatan offline #KACI Kenal Ambon Cinta Indonesia sempat kumpul-kumpul-kumpul dan ngobrol kurang lebih sama seperti yang pakde tuliskan. pada prinsipnya keadilan distributif dimana semua orang berhak merasakan-mendapatkan hal yang sama belum terjadi, kita memang merdeka yang artinya keluar dari kungkungan penjajahan tapi untuk mampu mencapai (setidaknya sedikit titik terang) tujuan negara perihal keadilan dan kemakmuran belum jua terjadi (semoga tetap di perjuangkan untuk suatu harui nanti).

    sekedar menambah pandangan, Ambon dulu kota pusat pemerintahan kolonial sebelum di pindahkan ke batavia (jawa), hal itu disebabkan karena memang yang di cari adalah rempah-rempah, apa yang memang hanya ada di Maluku jadi Indonesia pada prinsipnya harus berterima kasih terhadap indonesia timur dengan apa yang di miliki sehingga bangsa asing mau datang dan mau menanam kekuasaannya di timur jauh yang akhirnya di beri nama indonesia. ada banyak orang berkonsepsi bahwa penjajahan selain membawa dampak negatif yaitu kesengsaraan ada pula efek positifnya yaitu keterbukaan-percepatan perkembangan peradaban dari konserfatif ke modern (ada hubungannya akhirnya dgn politik etis dalam hal ini peningkatan strata pendidikan orang indonesia). berterima kasih pada apa atas itu ? saya pikir salah satunya tempah-rempah di timur yang kini kotanya “tertinggal” dan orang-oeangnya sering berteriak “merdeka” sebagai konsepsi yang seringkali tidak bisa di sangkal rasionalitasnya.

    tentang kicau 140 karakter jujur saya memang bukan orang online (begitu istilah almas. hhe.) kenal online ya gara-gara memanfaatin twitter buat networking-buka jaringan yang mungkin juga sama dengan yang dilakukan bloggers dengan blog di awal-awal. saya punya pikiran sendiri ketika berhadapan dengan tagar ### segala rupa atau dengan gerek bendera online atau dengan upacara online yang tadi meriah sekali. bagi saya hal tersebut tetap adalah nilai baik, apresiasi terhadap hari kemerdekaan bisa lewat rupa-rupa macam tapi sayangnya semua orang bisa memetik nilai. buat yang bikin program ini itu via online media dia paham-melek teknologi lalu mengaplikasikan tapi bagaimana dengan orang yang cuma ikut saja (sebutlah followers di twitter yang modal punya bb bisa ngetik ini dan itu secara cepat, tambah tagar selesai). kesadaran kritis khususnya anak muda tidak terbangun, apakah merdeka itu ngetik hasteg ini dan itu saya pikir ada yang lebih serius dari sekedar itu.

    zaman boleh maju dengan teknologi tapi budaya-budaya tinggi seperti membaca-menulis dan diskusi harus tetap ada biar orang sadar sungguh apa yang di hadapinya. sekali lagi generasi muda khususnya.

    pakde maaf kepanjangan. semacam anakan postingan jadinya. hhe, salam 🙂

  3. Jika Anda masih optimis, tunjukkan cerita-cerita baikmu lewat blog. Begitu juga sebaliknya, supaya kita semua bisa berkaca, lalu menyusun strategi untuk mengantisipasi dan mengubahnya.

    Semoga temen2 blogger maluku menulis hari ini tentang 66 tahun kemerdekaan di blog dan menjadi sebuah cerita “kemerdekaan ala blogger maluku”.. aminnn
    .-= almascatie´s last blog ..Tutuplah Pintu RumahMu. =-.

  4. Dhe, saya tadi nulis tentang pemakaian hastag yg divisualisasikan sebagai bendera itu. Daripada galau berlanjut ditengah derasnya pemakaian hastag itu di timeline. Ya, mending kuposting saja. Tak habis pikir, mengisi kemerdekaan kok cuma dengan “Gerakan Tanpa Wujud”.. :((.

Leave a Reply