Sharing Keliling di Balekambang

Memang tak banyak orang mau datang dalam kegiatan semacam workshop atau pelatihan. Apalagi blogging. Tapi, saya senang dengan kehadiran enam puluhan teman-teman muda mau intens mengikuti workshop blogging yang digelar oleh SalingSilang bertajuk SharingKeliling, Sabtu (13/8) sore. Mengajak blogging bukan perkara enteng.

Jangankan tanpa imbalan atau iming-iming. Bahkan lomba blogging berhadiah mahal sekalipun, tak semeriah kuis lewat Twitter atau Facebook. Saya tak paham, walau masih menduganya sebagai gejala generasi instan. Kalau sudah begini, saya cenderung mencari kambing hitam.

Apa yang dilakukan SalingSilang, sebenarnya memberi manfaat kepada pbanyak orang, dan kelak, menyumbang perbaikan peradaban. Asal tahu saja, tak banyak orang mau berbagi pengetahuan, memotivasi orang, tanpa imbalan. Nyatanya, banyak selebritis blogging yang sebenarnya diam-diam dijadikan panutan banyak orang, juga tak gampang turun gunung berbagi ilmu, memotivasi.

Blogging, apapun kontennya, baik teks, foto, audio, video, atau gabungan di antaranya, pasti berguna bagi orang lain. Bahkan konten curhat sekalipun, tetap memiliki nilai bagi orang lain, sepanjang cara mengemasnya benar sehingga sajiannya menjadi menarik.

Satu pesan singkat masuk ke handphone saya dari seorang peserta. “Sayang waktunya cuma bentar, om…,” kata Friska, dari Komunitas Toelis, yang datang bersama tujuh temannya. Tiga ikut kelas menulis, selebihnya fotografi.

Bgi Friska dan teman-temannya, menulis adalah kesukaan. Selain puisi, juga esai. Malah, mereka bikin buletin, yang dikerjakan secara keroyokan, lantas diterbitkan secara patungan, yang diedarkan kepada teman-teman sekolahnya, juga ke kantong-kantong budaya. Agak mahal, memang. Tapi, ya itulah yang dinamakan keseriusan.

Mestinya, di era kini, ketika berbagi gagasan dan ceritera bisa sangat murah dan mudah karena nonkertas, pertumbuhan jumlah produsen konten kian banyak. Nyatanya? Silakan cek di mesin pencari.

Namun, workshop seharian sekalipun, belum tentu menghasilkan produsen konten. Masih banyak yang menanggap blogging, terutama yang berupa tulisan, terlalu berat diwujudkan. Banyak orang salah mengerti, menulis itu harus berstandar buku, karya jurnalistik, atau paper seminar. Bagi saya, itu terlalu muluk-muluk dan membuang energi.

Blogging cukup dimulai dari bercerita tentang diri sendiri, dan lingkungan sehari-hari. Sibuknya tetangga menjahit baju atau merajut kain perca menjadi alas kaki yang dipasarkan saat arisan pun sudah cukup. Atau, tetangga yang sakit tak kunjung sembuh lantaran tak punya duit untuk berobat, pun bisa diceritakan. Itu semua adalah fakta, yang bisa jadi membuat orang yang membaca tergerak hatinya untuk membeli alas kaki dari kain perca, atau menyumbang orang yang sedang terhimpit kesulitan.

Tak usah berpretensi muluk-muluk. Ketulusan sebuah penceritaan, bisa diapresiasi pembaca secara sepadan. Saling menanggapi lewat fasilitas komentar akan memperkaya perspektif dan referensi, sehingga konten yang kita produksi memiliki arti, bernilai, tak cuma buat kita, tapi siapa saja yang membaca.

Ngeblog ya ngeblog saja. Tak usah berharap dapat penghasilan dari sana supaya kita tak terjebak olehnya.

Tapi, harus diakui, yang menjadi beban seorang penulis pemula, adalah pergulatannya menentukan kata untuk dijalin menjadi kalimat pembuka. Orang sering terjebak pada penulisan berita yang kerap dijadikan rujukannya. Padahal, apa kata pertama yang keluar dari kepala, bisa segera dituliskan, lalu diotak-atik, dicarikan kata lainnya untuk dirangkai sehingga menjadi kalimat bermakna.

Abaikan saja, kelak akal ada yang membaca atau tidak. Sering terjadi, orang merasa malu atau minder duluan kalau tulisannya dibaca orang yang dianggap lebih jagoan. Padahal, dengan munculnya perasaan minder itu, energi seseorang terkuras habis-habisan. Tubuh keringatan, telapak tangan dingin tak karuan.

Ngeblog itu, ya santai saja. Kalau selagi di jalan lantas menjumpai rambu-rambu lalu lintas dirusak angan-tangan jahil berupa grafitti, misalnya, bisa dipotret pakai kamera yang ada di telepon genggam, atau kamera saku yang kita bawa. Bisa diunggah di blog, Facebook atau Twitter, agar orang lain tahu, dan bisa berkaca dari sana.

Terlalu banyak hal-hal menarik di sekitar kita, yang bisa dijadikan bahan postingan di blog. Kalau berminat mau lebih serius, ya boleh-boleh saja. Misalnya, mempromosikan kekayaan budaya, atau industri kerajinan di kampung kita. Apalagi, melihat tren pariwisata kini, di mana orang lebih suka mencari yang aneh-aneh. Makanan terbuat dari singkong bernama ‘gatot’ misalnya, bisa diceritakan proses pembuatannya, dijual di mana, dan sebagainya, bisa menarik orang menikmatinya. Apalahi, jika pada postingan ditampilkan fotonya. Apa adanya, suka-suka. Tak harus foto berkualitas bagus, karena kita memang tak perlu menjadi fotografer profesional untuk melakukannya. Dari telon genggam pun bisa, dan berguna.

Asal-usul nama kampung saja cukup menarik kok kalau diceritakan….. Apalagi Taman Balekambang, yang dijadikan tempat workshop Sharing Keliling, yang sudah pasti punya nilai sejarah, sekaligus eksotisme tersendiri sebagai sebuah ruang publik… Coba deh, cekidot di mesin pencari, ada apa dengan Balekambang? Dari hasil pencarian, bisa juga kok dijadikan inspirasi penulisan….

Ayo, siapa yang belum punya blog, atau sudah punya tapi malas update blog?

6 thoughts on “Sharing Keliling di Balekambang

  1. Hmm.. kenapa seminar2 blogging sepi ya om?
    mungkin mereka punya kehidupan nyata di luar sana.
    mungkin mereka punya teman2 yang asik2 di luar sana.
    tak seperti dunia maya..

    get real life –gitu katanya–

  2. aku ki pengin banget ikut. sak brayat wis tak ajak, tp kok ya ada wae halangan shg memaksaku pulang cepat. padahal, pengin anak2ku ki ketularan utk ikut memperbaiki peradaban melalui menulis lo :((

Leave a Reply