Merdeka 65

Rakyat Indonesia memperingati kemerdekaannya yang ke-66. Bendera merah-putih berkibar di mana-mana, hingga pelosok desa, puncak-puncak bukit. Rakyat bersuka cita melakukannya, tanpa peduli siapa presidennya. Negara dan pemerintahan adalah dua soal berbeda. Mungkin banyak orang seperti saya, lebih memilih negara jika disodorkan pertanyaan mana yang harus didukung.

Pemerintahan atau rezim bisa berganti setiap saat. Tapi negara, adalah tumpuan harapan masa depan, sehingga kita tak mudah berpaling darinya, segampang berpaling dari manajer pemerintahan. Ya, manajer pasti ada yang cakap, pandai, dan pandir. Beda dengan pemimpin, yang dijamin jauh lebih baik dibanding seorang manajer. Singkatnya, manajer belum tentu pantas disebut sebagai pemimpin, dan sebaliknya, seorang pemimpin pasti mampu me-manage.

Pemimpin pasti punya wisdom. Dia selalu berpikir dan bertindak untuk orang banyak, bukan kelompok, kerabat, apalagi motif-motif pribadi.

Semerdeka apakah kita, kini?

Saya, hanya merasa merdeka saat blogging. Menulis untuk media sepertinya sia-sia belaka. Tak ada kepuasan karena sering bertabrakan dengan kepentingan. Selengkap dan seseimbang apapun sebuah berita dibuat, belum tentu lolos seleksi redaksi. Dalam perkara-perkara terkait tindakan terorisme, misalnya.

Entah kenapa, pemerintah merasa lebih baik menuruti selera Barat untuk soal yang satu itu. Anehnya pula, media massa lebih banyak mengamini sikap pemerintah yang sedang berkuasa, dibanding menyodorkan petunjuk-petunjuk yang bisa diyakini kebenarannya. Terlalu banyak pihak yang voiceless tidak diadvokasi media. Pernyataan resmi lebih mudah dikutip, dijadikan judul berita utama, tanpa verifikasi lapangan.

Pada perkara korupsi, pun sama saja. Kutipan pernyataan resmi diposisikan sebagai kebenaran, kontroversi dikedepankan, demi tiras, popularitas, rating, yang ujung-ujungnya hanya berhenti pada ‘nafas’ survival dari pemasukan iklan.

Berita-berita tentang adanya kelompok sipil bersenjata, yang kerap melukai atau bahkan menewaskan aparat kepolisian atau militer di Papua, misalnya, tak pernah gamblang dibuka. Sejujurnya, saya tak pernah yakin pelakunya adalah orang-orang yang disebut sebagai gerakan separatis, gerombolan bersenjata, dan sebagainya. Ini bukan soal pro ata kontra siapa, tapi hanya ingin paham duduk perkara.

Terkait dengan kekerasan terhadap (awak) media, misalnya, saya juga kian pesimis. Pemerintah, yang diwakili aparatur bidang hukumnya, tak pernah berpihak kepada kebenaran, apalagi demi keadilan. Kongkalikong terlalu sering dipertontonkan secara telanjang, tanpa rasa malu. Media-media yang selalu cari perkara, misalnya memproduksi dan menyebarluaskan informasi palsu, juga kerap dibiarkan. Kalau perlu, malah dipiara demi kepentingan apa saja.

Industri media terlalu mudah didikte orang yang sedang beperkara. Dibuatkan demo bayaran, entah sedikit orang atau sangat kolosal, pun diberitakan panjang lebar, lengkap dengan foto atau videonya. Hak publik akan informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan, pun dilanggar dengan tanpa rasa bersalah.

Jika institusi media massa yang ‘diperhitungkan’ banyak pihak saja bisa diremehkan sebegitu rupa, apalagi nasib pewarta warga?

Prita Mulyasari yang bercerita tentang haknya terlanggar saja bisa diperkarakan secara perdata dan pidana. Dukungan publik yang meluas terhadap Prita justru dijadikan pertimbangan hakim dibanding pertimbangan akan rasa keadilan dan menempatkan hak hukum seorang warga negara.

Mestinya, 65 tahun kemerdekaan Indonesia yang sudah dilalui (menjelang 66 tahun dua hari lagi) dijadikan bahan introspeksi para penerima mandat negara, yang tak lain adalah manifestasi rakyat Indonesia. Kata ‘tahun’ yang dilekatkan pada angka 65 memiliki makna berbeda, tergantung penempatannya, namun bisa dikaitkan demi refleksi perjalanan sebuah bangsa.

Agar 65 tahun Kemerdekaan Indonesia lebih bermakna, tak ada salahnya kita berkaca pada apa yan terjadi pada tahun 65. Pengabaian hak asasi warga negara dimulai dari sana. Politik menjadi panglima, prasangka menjadi modal berseteru, saling meniadakan. Banyak orang tak tahu, apa yang kita rasakan saat ini, sebagiannya, adalah dampak peristiwa tahun 65 itu. Juga angka 66 tahun kemerdekaan pada 17 Agustus nanti, sebagai tonggak, yang diklaim sebagai Orde Baru, atau masa yang lebih baru, lebih baik dari sebelumnya.

Membanjirnya donasi negara-negara Barat ke Indonesia sebagai hadiah atas ‘keseriusan’ mencegah komunisme di Asia, lantas bermetamorfosa menjadi gelontoran utang luar negeri yan tak pernah berhenti. Kini, kita menjadi miskin meski hidup di negeri yang kaya raya sumber daya alamnya. Ke mana larinya kekayaan bumi kita?

Mari kita renungkan bersama, mau kita jadikan seperti apa masa depan Indonesia. Akankah kita rela menggadaikannya kepada agen-agen Barat, yang menjejali kita dengan hibah dan hutang, hingga kita dibuat tak berdaya lantas dimiskinkan sedemikian rupa?

Seorang teman, misalnya, pernah bercerita mengenai kesulitannya menyebarluaskan referensi-referensi bermutu lewat internet secara gratis. Anehnya, niat teman saya itu bisa diterima dan didukung, jika materi yang dia punya disebarluaskan hanya dengan menggunakan sistem operasi komputer berbayar, bukan gratisan alias open source.

Berpikir ulanglah kelak, jika hendak memilih partai, apalagi calon presiden, legislator, dan seterusnya. Carilah informasi sebanyak-banyaknya, karena di sekitar kita, terlalu banyak orang menyamar sebagai pahlawan, sebagai orang baik-baik. Kemerdekaan, masih harus kita perjuangkan…

4 thoughts on “Merdeka 65

  1. Menulis untuk media sepertinya sia-sia belaka. Tak ada kepuasan karena sering bertabrakan dengan kepentingan. Selengkap dan seseimbang apapun sebuah berita dibuat, belum tentu lolos seleksi redaksi.

    Kepentingan teramat sangat dominan bermain saat ini, contoh realnya bisa dibedakan aja langsung saat Karni Ilyas (sengaja nunjuk merk) memanage escetepe dengan saat ini dia memanage Tipi o’on itu…

    Kemerdekaannnn..?
    Hemmmm, siapa sih yang sudah merdeka…? Pakdhe Blontank n temen2 yang giat ngeblog ini sudah merdekakah…? Trus anak-anak yang ada dipedalaman sonoooo. sekolah aja susah lhoo, gimana nanti masa depan negeri ini, bukankah mereka para anak2 itu juga bagian dari generasi harapan bangsa ini…? dimana hak kemerdekaan itu…? #capedeeeee… šŸ™

    ~kata nyazarudin ==> #abaikan
    .-= maztrieā„¢Ā“s last blog ..pesta ON|OFF =-.

Leave a Reply