Atlet Bersarung Tangan Butut

Rabu (10/8) sore, saya dan Andre menunggui Donny latihan sprint. Kerabat kami, Blogger Bengawan ini adalah atlet Pelatnas, peraih beberapa medali emas dan perak, dan menjadi andalan Jawa Tengah. Ia jagoan di kelas sprint lari (pakai kursi roda). Pertengahan Desember nanti, ia mewakili Indonesia, bertanding di ASEAN Paragames di Solo.

Donny, atlet Paragames yang selalu optimis...

Saat ngobrol santai di Sekretariat Bengawan (sejatinya kami nebeng di Yayasan Talenta, organisasi yang mengkhususkan pada advokasi hak-hak kaum difabel), Donny selalu optimis, mampu mengalahkan rival tangguhnya dari Thailand. “Kita cuma kalah alat,” ujarnya.

Alat dimaksud adalah kursi roda yang harus dipacunya di lintasan ‘lari’. Di Thailand, konon atlet-atlet Paragames atau Paralympic benar-benar dipelihara raja. Kursi rodanya dibelikan oleh kerajaan, dan dipilihkan yang terbaik. “Kita cuma punya yang kelas dua. Itu sudah yang terbaik, dan yang punya hanya Jawa Tengah, dan adanya ya cuma di Solo,” ujar Donny sambil terkekeh.

Gigih berlatih di Stadion Manahan demi medali emas dalam ASEAN Paragames di Solo, Desember mendatang...

Kini, ia banyak berlatih di lintasan lari karena harus mempersiapkan diri untuk memperoleh posisi terbaik dalam ajang ASEAN Games-nya kaum difabel yang dipusatkan di Solo, pertengahann Desember nanti. Sebelum masuk pemusatan latihan, ia saban hari nge-net di Sekretariat Talenta/Bengawan. Kini, hanya dilakukannya di sela-sela latihan.

Saat latihan Rabu sore itu, ia bersama sepuluh temannya, empat di antaranya perempuan. Sepintas, memang Donny tampak paling menonjol dibanding rekan-rekannya. Tak nampak kelelahan, dan mereka sungguh-sungguh memacu kursi rodanya, walau tanpa pelatih yang menungguinya. Kata Donny, sang pelatih sedang ada kesibukan lain.

Sejujurnya, saya miris melihat fasilitas yang digunakannya. Kursi roda balap yang dikendarai Donny sudah yang terbaik dibanding yang digunakan rekan-rekannya. Katanya, kursi rodanya itu seharusnya berbobot hanya lima kilogram, tapi menjadi tujuh kilogram karena roda asli yang lebih ringan disimpan, untuk digunakan saat bertanding sungguhan, kelak.

Saya lihat sarung tangan yang digunakannya lusuh, bahkan sudah compang-camping. Padahal, sarung tangan itu memiliki fungsi penting untuk menggerakkan roda supaya bisa dipacu kencang. “Tanpa sarung tangan, telapak akan berdarah-darah…,” ujarnya.

Ring warna hitam merupakan tempat atlet lari para atlet Paragames mendaratkan telapak tangan agar bisa dipacu kencang. Dibutuhkan pelindung tangan memadai agar tak melukai diri atlet...

Seharusnya, sarung tangan yang digunakan berbahan kulit dan agak keras. Pasalnya, sistem kerjanya hanya menekan dan mendorong, bukan mencengkeram.

***

Saya kira, tak banyak teman-teman yang tahu, bahwa Solo merupakan kota rehabilitasi sehingga ada rumah sakit rujukan nasional, RS Orthopedi Prof. DR. Soeharso. Nama inisiator pusat rehabilitasi (dulu bernama rehabilitasi centrum, sehingga orang menyebutnya RC) itu diabadikan sebagai nama rumah sakit. Konon, dr. Tundjung, putra Soeharso, termasuk kampiun, ahli bedah tulang berkaliber internasional, yang mewarisi ilmu serupa dari ayahnya.

Walau bersarung tangan butut, semangat Donny tak pernah berkerut. Ia tetap mampu mengoleksi aneka medali tingkat nasional...

Dulu, RC didirikan untuk membantu mengembalikan rasa percaya diri para korban perang yang mengalami kecacatan permanen. Maka, aneka ketrampilan pun diajarkan dan lantas dibakukan menjadi bahan pembekalan orang-orang yang mengalami kecacatan. Termasuk di dalamnya adalah penanggulangan trauma akibat perang (juga kecelakaan dan sebagainya).

Bahwa pada perkembangannya, kebijakan pemerintah kurang tepat bagi orang-orang yang lantas disebut memiliki perbedaan kemampuan dengan sesamanya, seperti hadirnya sekolah-sekolah luar biasa (SLB), dan sebagainya, itu soal lain lagi. (Akan saya tulis terpisah di kemudian hari). 

Satu yang pasti, ironi dunia olahraga kaum difabel sama ironisnya dengan penanganan orang-orang yang mengalami aneka kecacatan di Solo, dan kota-kota lain di Indonesia. Padahal, Kota Solo termasuk pionir, lebih maju dibanding pemerintah daerah lain, yang memiliki Peraturan Daerah tentang Kesetaraan Difabel, yang salah satu inisiatornya adalah Sapto Nugroho, induk semang kami di sekretariat. Dialah yang memberi ruang kepada Komunitas Blogger Bengawan untuk beraktivitas bersama.

Tempat umum, termasuk sebuah hotel baru di Solo, masih menempatkan ramp sebagai asesoris pemanis. Tak mengerti fungsi, sehingga tak membantu kaum difabel mengakses gedung. Saya yakin, saat Bu Shinta Nuriyah singgah di hotel, Selasa (9/8) sore menggunakan fasilitas itu. Siapapun pasti celaka jika melintasi fasilitas asesoris itu...

Apakah kantor-kantor pemerintah, tempat-tempat fasilitas umum di Solo dan kota-kota lain di Indonesia, sudah ramah untuk difabel? Mohon sabar menanti postingan saya, atau teman-teman Bengawan, esok hari…..

Fasilitas aksesibilitas untuk difabel yang pernah ada semasa Gus Dur jadi presiden saja, kini tak nampak lagi di mana-mana. Apalagi bagi atlet paragames seperti Donny dan kawan-kawannya…

Referensi tambahan, silakan simak tulisan sedulur lanang saya ini

12 thoughts on “Atlet Bersarung Tangan Butut

  1. iwul gumulya

    semoga kesabaran dan keikhlasan membuahkan hasil yang menyenangkan..
    tetap semangaat!..
    maju terus atlit Indonesia di Paragames 2011.. (^_^)9

  2. owh hotel baru tiga hurup itu ta Pakdheee…..
    yuang ownernya sama dengan owner pabrik kompeksi n garmen itu taa..? 😛 #melet

    betul, Kang… menyedihkan banget. masih banyak hotel ya g begitu je… btw, kok ngerti tiga huruf? jangan-jangan sempat arep pindah….
    /blt/

  3. inspiring pakdhe

    aku tadi di angkot ketemu saya anak difabel yang berangkat ke sekolah SLB setingkat SD. anak ini difabel kesulitan berbicara. si pak sopir rupanya lupa kalau dia bawa penumpang yg difabel ini sehingga dia lupa berhenti di depan sekolah SLB. Si difabel dengan segala kesulitanya berusaha menyuruh pak sopir menghentikan angkot. sopir baru berhenti setelah melewati lebih jauh pemberhentian terdekat SLB

    kasian sekali siswi difabel itu. ia kelihatan kecewa 🙁
    .-= jarwadi´s last blog ..Account Corporate di g+, Pertaruhkan Kredibilitas =-.

Leave a Reply