Amal dan Tumbal

Menjelang Idul Fitri, selain berita kecelakaan orang mudik, saya selalu cemas terhadap satu hal: orang beramal namun makan tumbal. Entah mau disebut sedekah atau apa, meski sejatinya terkait dengan zakat harta orang berpunya, selalu saja melibatkan orang-orang kecil sebagai korban. Ada yang terluka hingga kehilangan nyawa, semua lantaran berharap rejeki yang (mungkin) tak seberapa.

Metro Malam MetroTV pada Jumat (26/8) dinihari memberitakan antrian ribuan warga miskin di Kabupaten Nganjuk berdesak-desakan dan saling injak. Mereka antri mendapat beras sebanyak 2,6 kilogram dan uang tunai Rp 5.000. Ironisnya, peristiwa itu terjadi di halaman rumah dinas Bupati, dan sang bupati pulalah yang diberitakan membagikan uang sebanyak 'cuma' Rp 6 juta. (Update: 26 Agt 2011 pukul 01.57 WIB)

Bertahun-tahun, televisi selalu ramai-ramai menyiarkan peristiwa ironis, tentang orang bedesak-desakan lalu terinjak-injak saat antri mendapat jatah sedekah. Anehnya, selalu saja berulang. Peristiwanya serupa, tempatnya saja yang berbeda. Seperti tak mau berkaca pada tragedi yang sudah berlalu, masih saja ada orang melakukan sedekah dengan pengaturan yang lemah.

Sering diberitakan, minim aparat kepolisian terlibat. Hansip pun demikian. Yang bersedekah juga mesti diposisikan sebagai pihak yang salah, sebab sudah pasti, kerumunan akan diikuti potensi bolongnya antisipasi.

Bagi pesedekah beriman dan ngerti agama, mestinya memperhitungkan berbagai kemungkinan, hingga ang terburuk sekalipun. Aparat kepolisian, wajib hukumnya dilibatkan untuk pengaturan kelancaran dan keamanan, agar pelaksanaan berlangsung tertib dan aman. Lagi pula, bersedekah dengan cara dipertontonkan sama saja dengan riya’, satu sifat yang dilarang Tuhan.

Di negeri kacau seperti Indonesia, pada statistik kemiskinan yang disembunyikan demi pujian dari lembaga semacam Bank Dunia, titik lengah berserakan. Jangankan orang miskin yang benar-benar membutuhkan, pengemis ‘profesional’ pun selalu punya jadwal. Mereka punya jadwal, ke mana harus menyerbu penderma, lengkap dengan jadwalnya. Persis seperti banyak aparatur negara, yang selalu merasa miskin sehingga menggarong uang rakyat pada setiap kesempatan.

Lupakan celotehan tak berguna Marzuki Alie yang meminta kita memaafkan para koruptor. Di sekitar kita, masih banyak orang menderita, yang pingin mengecap kenyamanan hidup, kesetaraan penampilan di hari raya. Soal puasa mereka, jangan lagi ditanya. Tahunan mereka berlapar dahaga, memeras tenaga dan akal untuk bisa memperbaiki kehidupan.

Metro Malam MetroTV pada Jumat (26/8) dinihari memberitakan antrian ribuan warga miskin di Kabupaten Nganjuk berdesak-desakan dan saling injak. Mereka antri mendapat beras sebanyak 2,6 kilogram dan uang tunai Rp 5.000. Ironisnya, peristiwa itu terjadi di halaman rumah dinas Bupati, dan sang bupati pulalah yang diberitakan membagikan uang sebanyak 'cuma' Rp 6 juta. (Update: 26 Agt 2011 pukul 01.57 WIB)

Mereka selalu mengabaikan statistik kemiskinan, karena kesulitan dirasakan dan dihayati sedemikian mendalam, intens, dalam tempo yang tak bisa digolongkan singkat. Terlalu banyak orang lemah, tak berdaya bersaing pada beragam kesempatan. Human Development Index, istilah yang keren itu, yang selalu meningkat saat dilaporkan ke ndoro funding, tak pernah nyata dirasakan orang-orang yang disensus.

Kesejahteraan hanya dihitung matematis, akumulasi uang seluruh rakyat Indonesia dibagi dengan jumlah penduduk. Sesimpel itu, tanpa pernah menelisik lebih jauh, berapa jumlah uang yang dimililiki segelintir koruptor, penjarah hak kaum miskin Nusantara.

Pemerintah hanya sibuk mengimbau agar orang yang hendak membagi harta sedekah kepada kaum miskin, tanpa pernah mau membuat regulasinya yang baku. Itu pun, biasanya, setelah petaka terjadi, ketika korban banyak berjatuhan.

Kita bisa mengerti niat baik para dermawan, yang merasa perlu menyucikan harta yang diperoleh dengan jerih payahnya selama setahun. Tapi andai nafsu untuk ‘dilihat’ saat berderma bisa disembunyikan, tentu tak ada pernah ada cerita dan berita, ada orang mati atau celaka karena rebutan sedekah kaum dermawan. Kita bisa mengacungi jempol pada kejujurannya membagi harta yang sebagiannya memang tidak bisa disebut menjadi haknya secara tuntunan agama. Tapi kita hanya bisa (meniru kebiasaan SBY) menghimbau agar mereka melakukan sedekahnya dengan baik.

Andai bisa dilakukan sambil jalan, misalnya harta fakir miskin disingkirkan, lantas dikelola dalam bentuk usaha bersama yang melibatkan kaum dhuafa di sekitar tempat mereka tinggal, pasti kesejahteraan bisa terwujud, dan merata. Lambat laun, hasilnya bisa disebarluaskan dalam bentuk yang serupa, ke luar wilayah dengan lingkaran yang kian membesar.

Islam, begitu juga agama-agama lain, pasti mengajarkan kebajikan kepada penganutnya. Tapi sayang, para penganutnya sering lupa ajaran, yang ketika berbuat baik pun, tak perlu ada anggota tubuhnya yang mengetahui perbuatan itu. Apalagi, jika dipertontonkan, hingga menjadi sebentuk kesombongan. Semoga Allah melaknat orang-orang ang sombong.

Ada baiknya, kita semua berkaca kepada aneka peristiwa yang memalukan, seperti yang sering kita saksikan di media massa. Percayalah, malaikat akan mencatat dan melaporkan setiap kebaikan ang kita perbuat. Mari kita menjadi makhluk yang benar-benar lebih mulia dari para koruptor yang hina.

Para koruptor, pasti sudah berpaling dari agama dan Tuhan mereka. Saya bertaruh, pada momentum puasa dan hari raya Idul Fitri sekalipun, mereka tak akan berani bersedekah terbuka. Secara sembunyi-sembunyi pun saya juga meragukannya. Tetangga dan kerabatnya pasti bisa menduga, seberapa besar harta yang bisa dikumpulkannya jika hanya menilik pada gaji rutin dan wajar yang diterimanya. Tapi korupsi adalah tindakan yang dilakukan secara diam-diam, yang kalau pun terpaksa melaporkan harta yang dimilikinya, pasti sudah dimanipulasi sedemikian rupa.

Lihat saja rumah-rumah mewah dan mobil-mobil mahal yang dimilikinya, dan sudah dilaporkan kepada penyelenggara negara. Akankah zakat hartanya sebanding dengan kekayaannya yang kasat mata dilihat tetangga dan khalayak lebih luas di luar keluarganya?

Saya yakin, Anda semua juga prihatin (meminjam kata favorit Presiden SBY) terhadap petaka dan ironi bangsa kita. Para penyelenggara, nyatanya masih saja mempercayai tumbal untuk mewujudkan kemakmuran. Terbukti, selalu diam dan tak kunjung berbuat, menyiapkan langkah antisipasi agar aneka tragedi yang merenggut nyawa orang-orang tak berpunya, segera sirna dari bumi superkaya, Nusantara. Sekian…..

Catatan: tulisan ini dibuat pada 7 Agustus 2011, dengan update penambahan gambar dilakukan pada Jumat (26/8) pukul 01.57 WIB.

2 thoughts on “Amal dan Tumbal

  1. Kunjungan balik nih Pakde, mencermati tulisan Pakde diatas sepertinya memang itulah fakta yang terjadi di lapangan. Intinya pemerintah kita tidak pernah belajar dari sebuah pengalaman, buktinya setiap tahun kasus-kasus serupa selalu terjadi. Alasan yang dibuat juga merupakan alasan2 klasik dari tahun2 sebelumnya. Sebenarnya kalau mau ngomong soal pemerintah, tidak bakalan ada juntrungannya. Ujung2nya paling kita capek sendiri, bener ngga Pakde?. Trims…
    .-= Dwi Wahyudi┬┤s last blog ..Rumah Mimpi Rumah Semua Komunitas di Pontianak =-.

Leave a Reply