Blogging yang Mengering

Artikel Kang Nukman mengingatkan kegelisahan saya akan prasangka terhadap banyak blogger yang kian jauh dari aktivitas blogging. Twitter saya anggap sebagai faktor ‘pengganggu’ utama gairah blogging. Meski cuma dibatasi 140 karakter, tapi Twitter lebih menggiurkan, apalagi sejak ramai twit berbayar.

Saya tak menolak keberadaan twit komersil, walau sampai sekarang saya masih berjanji pada diri sendiri, untuk tidak masuk ke ranah ini. Kalaupun kicauan saya pernah menyinggung brand, produk atau kegiatan tertentu, saya jamin tak ada udang di baliknya, dalam arti saya memperoleh imbalan tertentu. Saya ngetwit suka rela. Merdeka.

Terhadap kicauan yang saya anggap memiliki nilai manfaat bagi orang lain, maka saya rela me-retweet, dan kalau perlu saya tambahkan seperlunya. Istilahnya, ikut nge-buzz. Tak jarang, dari ‘perdebatan’ di linimasa yang saya baca, lantas menginspirasi untuk ‘menyatakan sikap’ dengan membuat postingan di blog.

Di Twitter, saya berprinsip akan me-retwet kicauan teman yang menyebutkan adanya posting baru di blognya. Saya yakin, dari sekian penyimak (maaf, saya kurang sreg dengan istilah pengikut atau follower) timeline saya, pasti ada yang membutuhkan, seraya berharap, siapa tahu bisa memberi dampak peningkatan jumlah kunjungan ke blog teman-teman saya.

Di Twitter pula, saya akan mem-follow akun-akun baru, yang jumlah penyimaknya kurang dari 10. Kenal atau tidak, saya akan lakukan follback dengan niat membuat seseorang itu bergairah pula dalam menggunakan social media. Meski tak sedikit yang membuat kicauan (maaf) sampah, saya meyakini jenis media baru ini memiliki kekuatannya sendiri, sehingga jika disikapi secara benar dan bijak, akan memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

Dengan keterbatasan hanya 140 karakter di Twitter, pelan-pelan seseorang akan terbiasa menyusun kalimat efektif. Jika berhasil membuatnya, maka saya meyakini seseorang akan suka merangkai kata lebih panjang dan bermakna. Dan blog masih merupakan satu-satunya media penampung tulisan panjang, sehingga seseorang akan lebih leluasa menyatakan pendapatnya, dibanding status atau catatan di Facebook.

Update blog bukan soal gampang bagi banyak orang. Sama dengan mengelola blog, banyak orang selalu terganggu dengan anggapan, bahwa ngeblog harus bisa menulis dengan standar tertentu. Padahal, untuk blogging, tak ada keharusan ini-itu, apalagi berpretensi menjadikan blog seperti layaknya jurnal atau situs media massa. Pingin ngeblog, ya ngeblog saja. Bahasa dan isinya suka-suka. Mau berupa tulisan, foto, audio, video atau paduan di antaranya, tak ada beda.

Kalau mau kritis terhadap sesuatu atau menyinggung seseorang atau lembaga, memang sebaiknya berhati-hati akan risiko atau dampak hukumnya. Tapi kalau bercerita yang happy-happy saja, atau good story, jelas tak perlu takut risiko ini-itu. Konsumen blog pasti sudah mampu memilih dan memilah mana yang disuka atau dibutuhkannya, sehingga kita tak perlu risau terhadap konten yang kita bikin.

***

Kembali ke masalah sepinya minat blogging, saya termasuk salah seorang yang mencemaskannya. Komunitas blogger ada di mana-mana, tapi pertumbuhannya masih begitu-begitu saja. Tak tumbuh besar secara kwantitas, tapi yang meningkat secara kwalitatif justru surut.

Twitter masih saja ‘mengganggu’. Tak sedikit malah selalu berpikir memperbanyak jumlah follower karena bercita-cita memperoleh keuntungan material dari sana. Semacam metamorfosa dari monetized blogging, lantaran Google Adsense tak lagi bisa diandalkan lantaran kian ketat bikin aturan, sementara ‘harga’ pay per click dan sejenisnya kian rendah. Fenomena twit berbayar begitu menggoda mereka.

Hingga di sini, saya masih belum paham, mengapa banyak orang terobsesi monetize lewat Twitter. Sama dengan ketidakpahaman saya dengan tren konsultan pemasaran dan komunikasi yang menempatkan Twitter seolah-olah menjadi media paling efektif untuk beriklan. Lebih tak paham lagi, jika ada yang percaya bahwa penyimak linimasa (ya para follower itu) akan selalu mempercayai nilai pesan berupa kicauan.

Jujur, saya kian tak paham dengan adanya event baru bernama ON|OFF, yang menempatkan forum Pesta Blogger sebagai bagiannya. Pengguna social media seolah-olah berada setingkat di atas blogger. Sementara, kicauan di Twitter sejatinya menjadi kian bermakna jika mengarahkan pada pesan ditampilkan secara lebih utuh dan memadai di blog atau website. Pesan melalui kicauan serial, menurut saya, masih potensial menemukan kegagalan lantaran masih banyaknya pengguna socmed yang masih awam, sehingga tak memiliki tradisi merunut pesan yang saling berbalas/bersahutan.

Saya justru menjadi bingung, mengapa para blogger penggagas ON|OFF menjadi kurang pede dengan menempatkan blogger hanya sebagai bagian dari pekicau dan pengguna jenis jejaring sosial lainnya. Kenapa tidak dibalik, misalnya, justru menempatkan pertemuan para aktivis dan pengguna socmed sebagai bagian dari blogosphere, terlebih jika Twitter, Facebook dan sejenisnya disebut sebagai microblogging. Lantas, siapa yang ada di posisi ‘makro’-nya?

 ***

Sejujurnya, saya tertarik dengan gagasan Idblognetwork terang-terangan menawarkan review produk lewat aktivitas blogging. Saya pun merasa lebih nyaman melakukan ‘monetize’ lewat cara ini dibanding kicauan komersial di Twitter. Saya merasa tidak ada beban membuat postingan komersil, karena pembaca blog saya bisa meresponnya sesuka hati. Bisa memaki jika tak setuju melalui fasilitas komentar yang tak saya moderasi, atau merespon positif jika berkenan.

Sementara di Twitter, saya akan merasa sangat bersalah jika menyebarkan pesan-pesan terselubung padahal bernilai komersil. Andai ada kejelasan berupa tagar semacam (misalnya) #iklan atau #komersil pada sebuah twit berbayar, mungkin baru saya mau menerima tawaran demikian. Intinya, ‘pembaca’ harus tahu dan bisa membedakan mana yang komersial dan mana yang bukan, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat.

Saya termasuk orang yang meyakini konten blog akan memiliki peran strategis, kini maupun kelak. Promosi sebuah daerah, produk kreatif masyarakatnya, dan masih banyak lagi, bisa dilakukan melalui blog. Sifat subyektif dan testimonial justru menjadi kekuatan, karena kejujuran isi pesan akan bisa dirasakan dan dinilai pembaca.

Kalau boleh berharap, saya ingin pemasar dan produsen bidang apapun turut menyemarakkan gairah blogging melalui aneka lomba, walau tak harus menyingkirkan kuis atau lomba ngetwit dan sejenisnya. Award untuk blogger juga penting, supaya InternetSehat tidak ‘kesepian’ menjadi penyelenggara tunggal.

Perlunya award atau penghargaan tahunan, juga lomba, adalah memacu gairah blogger untuk memproduksi sebanyak mungkin konten-konten bermutu dan bermanfaat untuk apa saja dan siapa saja. Tema bisa dibuat dan keragamannya pun bisa diperhitungkan sesuai keperluan. Yang pasti, konten-konten dari jutaan blog akan memiliki arti dan kontribusinya sendiri.

Contoh paling sederhananya begini: sebuah perusahaan mengurangi satu kali tayang iklannya di televisi yang tarifnya puluhan juta, dan dikonversi sebagai hadiah lomba. Jika perusahaan-perusahaan lain pun melakukan hal serupa, maka akan terdapat banyak lomba, sehingga dengan sendirinya akan terdapat banyak postingan, yang artinya kian banyak tersedia referensi digital di Internet.

Yang jadi persoalan, maukah agensi atau konsultan komunikasi menjadikan hal demikian sebagai salah satu butir rekomendasi kepada kliennya? Ya, hitung-hitung biar dunia blogging tidak kering….

 

 

26 thoughts on “Blogging yang Mengering

  1. udah hampir 2 taun sejak post ini published. ga berubaaah! ((=
    btw, keknya orang sini doang yg apa2 bikin komunitas online terus sering nongkrong kopdar. ngopo to? gak wani nek dewean po piye?

    salam dari tukang onani belagu yg mempergunakan blog sebagai tisyu basah.

    *njuk disantet Pakdhe*

  2. kl menurut Paman Tyo, kl sempet ya update kl gak sempey gak update ya gpp =)))) … semoga di hari blogger besok makin banyak yg bs ngeblog apapun isinya (asal gak konten ‘sampah’ ala kata kunci SEO)
    .-= didut´s last blog ..Clazziquai Project =-.

  3. Pak Blontank mengatakan: Jujur, saya kian tak paham dengan adanya event baru bernama ON|OFF, yang menempatkan forum Pesta Blogger sebagai bagiannya… Mengapa para blogger penggagas ON|OFF menjadi kurang pede dengan menempatkan blogger hanya sebagai bagian dari pekicau dan pengguna jenis jejaring sosial lainnya…

    Menurut saya, mereka memang sudah tidak pede dengan predikat sebagai narablog. Mungkin juga karena takut diprotes kalau masih mengaku sebagai blogger padahal tidak lagi aktif menulis blognya.

    Maka jalan paling aman adalah “menempatkan blogger hanya sebagai bagian dari pekicau” — meminjam istilah Pak Blontank — karena faktanya mereka (sangat) aktif berkicau di Twitter, Facebook, Google Plus, dll, walaupun banyak isinya berupa “status gak penting” semacam “sudah tahu kalau bla-bla-bla?” lalu diberi tautan pesanan sponsor.

    Saya menduga, tidak sedikit (mantan) narablog yang lebih memilih menggunakan situs media-sosial ketimbang blog karena menganggap media sosial sebagai “cara paling mudah mencari uang.”

    Tulisan di blog “harus” merupakan sebuah artikel utuh, bukan satu kalimat pendek atau beberapa frasa seperti biasanya mereka terbitkan di media sosial. Menulis di blog jauh lebih sulit daripada menulis untuk media sosial.

    Saya setuju dengan sikap Pak Blontank yang tidak tega menipu teman-temannya di media sosial Twitter dan sejenisnya dengan cara menyelipkan iklan terselubung lewat status. Bagi saya, kicauan seperti itu adalah PENIPUAN!

    Kita tidak bisa melarang jika seseorang ingin (dan tega) membisniskan atau “menjual” daftar ribuan temannya kepada pemasang iklan. Tapi kalau dia tahu etika, apalagi mengaku juga sebagai (mantan) narablog, maka di awal setiap status-berbayar dia mesti mengingatkan pembacanya bahwa status itu adalah pesanan sponsor. “Ini #IklanTelkomsel lho, temans…, bla-bla-bla.”

    Menurut saya, saat ini ada segelintir perusahaan di Indonesia yang mau memasang iklan lewat kicauan dan status adalah karena mereka belum sadar bahwa sesungguhnya status-status itu “tidak dibaca.” Berapa banyak, sih, dari kita yang mau mengeklik “More” untuk melihat kicauan dua hari lalu dari ratusan atau ribuan teman kita di Twitter atau Facebook? Dan mari kita jawab dengan jujur, apakah kita senang ketika melihat status terbaru dari teman berisi tautan promosi?

    Mungkin dua-tiga tahun mendatang orang-orang akan semakin cerdas menggunakan media sosial. Mereka akan menghapus dan memblokir para “pengicau pengacau” yang saban hari menerbitkan status gak penting berisi iklan. Sekarang belum, karena masih dalam fase euforia memakai media sosial.

    Saya hanya aktif di Google Plus, dan pada halaman profil saya menulis: Apabila anda melihat saya satu kali saja menulis status berisi tautan pesanan sponsor, maka segera hapus dan blokir akun saya dari Lingkaran Google+ anda.

    Itu karena saya masih mendengarkan hati nurani, seperti halnya Pak Blontank, sehingga saya tidak tega menggadaikan teman untuk keuntungan pribadi!
    .-= Jarar Siahaan´s last blog ..Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Proklamasi, bukan Deklarasi =-.

  4. Ada gula ada semut *eh
    Saya setuju dengan tulisan ini, tapi ya gitu ada gula ada semut. Ada api ada laron.
    Ketika blog lagi trend semua lari ke blog. Ketika twitter lagi trend, semua lari ke twitter.
    Latah
    Paadhal blog dan twitter itu ya melengkapi. Ibaratnya twitter itu hiasannya, blog itu makanannya.
    Makanan dihias atau enggak ya tetap bisa dimakan
    Hiasan itu harus ada makanannya. Gak ada ya apa yang mau dimakan
    *lah malah ngalor ngidul
    .-= bukik´s last blog ..Bercerita, Kemampuan Abad ke-21 (Bagian 1) =-.

  5. hemm…
    pokok bahasan yang menarik Pakdhe…

    Saya setuju dengan pakdhe untuk “tidak setuju” dengan adanya twit komersil. Sedari awal pandangan saya tentang blog adalah journal yang isinya murni dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Meski lebih mengarah kepada SUBYEKTIFITAS pribadi, akan tetapi saya tetap memandang disinilah terjadinya media yang benar-benar mandiri.

    Hal yang tak bisa dipungkiri bahwa memang setiap blogger (penulis blog) juga memiliki batasan pun pesan-pesan tersendiri-sendiri.
    Namun, lebih dari itu inilah yang saya sebut benar-benar MURNI as a Citizen Journalisme..! dimana walau ada pesan pun batasan dari masing2 penulis (blogger) akan tetapi tiada lagi satu pesan pun batasan yang datangnya langsung dari kepentingan owner sebuah perusahaan atau satu media, padahal bukankah sang owner satu media di negeri ini biasanya juga berkepentingan terhadap orang(rakyat) banyak..?

    Memfungsikan socmed seperti twitter, facebook, (dan lain-lain) sebagai media relationship masih lumayan berguna, namun untuk menulis uneg-uneg yang agak panjang (menurut saya) bukan disana tempatnya.

    ~ngapurane nek basane rada mbulet ki Pakdhe~
    .-= maztrie™´s last blog ..posisi, kondisi, dan keberadaan “SAYA” =-.

  6. ini menampar saya *plak!
    sungguh…
    tidak ngeblog membuat saya sadar, selama ini saya tidak memperhatikan sekeliling saya seintens dulu. jadinya nggak banyak bahan tulisan yang bisa dituangkan

  7. Salam kenal Pak bloentank… sy termasuk yg “terbuai” media sosial Facebook sehingga kemudian meninggalkan blog. Tp seminggu lalu sy sdh mulai ngeblok lagi Pak dan sekarang lg semangat2nya. Mudah2an semangat ini ga pudar2… 🙂

  8. lhooo pakdhe, mari kita uri uri kabudayan ngeblog, saya kawatir orang yang dulu bilang “blog hanya tren sesaat” suatu saat akan bertepuk dada melihat kenyataan blogging di Indonesia kian mengering 🙂
    .-= jarwadi´s last blog ..The Morning Sound =-.

  9. Saya tetap bangga jadi blogger mas hehehe Blog is my diary online supposed to be
    Blog is my voice of soul gimana mau berhenti

    sebaik-baik manusia adalah yang ngeblog tak pernah berhenti…
    /blt/

  10. perhatian perusahaan memang ke social media, tapi tak melulu ke kicauan di Twitter dan Facebook. Yang sudah paham, pasti memadukannya dengan blog. Jadi “lombanya” diramaikan via Twitter, diarsipkan via blog. Ada satu brand yang sudah piawai dengan hal itu. Semoga yang lain menyusul
    .-= Nukman Luthfie´s last blog ..Jika Nyala Api Ngeblogmu Mulai Mengecil =-.
    sip. semoga demikian. intinya bukan pada nilai materialnya, namun kesadaran menempatkan konten dalam posisi paling atas. pada penyusunan konten itulah terdapat ruang kreatif, sejak menggali gagasan hingga menuangkannya ke dalam postingan. dari situlah bisa muncul blogger-blogger berkualitas. S
    semoga…
    /blt/

  11. Tulisan yg inspiratif Pakde, mari kita “pupuk dan sirami” aktifitas blog agar tumbuh subur lagi di negeri ini. Yuuk kita ngeblog
    mari, Daeng…kita piara blogging…
    /blt/

  12. udah banyak blogger yang jadi artis dan selebritis, jadi buat apa updated toh setiap ada acara juga terundang dan terabsensi dengan status “blogger” wakakakkakakakakakak #mdrcct

  13. salam kenal dari blogger kalimantan, salam hangat jabat erat dari Pontianak…

    Menarik sekali pembahasan yg saudara kemukakan di sini. Buat saya sendiri media social adalah t4 buat membagikan postingan di blog saya… Hehe

  14. Salam mas, eh pak ya 🙂
    (Bingung, hehehe)

    Saya salah seorang blogger yg juga cukup mengkhawatirkan ttg perkembangan blog yg semakin kering ( minjam istilah mas Bloentank)

    Selain serangan social media, serangan blog berbayar (khususnya yg bermain ad sense) terasa mengganggu buat saya. Ada beberapa org yg terjun ke dunia blogging semata-mata hanya buat nyari duit tanpa peduli ttg konten dan spirit blogging.

    Tidak bisa dilarang sih, toh itu hak mereka. Hanya saja kow rasanya buat saya agak mengganggu, apalagi kemudian banyak yg melakukan black hat SEO dan menjebak orang utk masuk ke blog mereka yg gak ada isinya.

    Yah, mudah-mudahan kekhawatiran kita tidak akan bertambah buruk, semoga blogger Indonesia bisa makin berkualitas di bawah serangan banyak kepentingan.

    Semoga juga blogger Indonesia tidak sampai dipecah-belah oleh pesta ini-itu..

    Salam dari Makassar 🙂

Leave a Reply