Blogger & Komunitas

Komunitas blogger, boleh jadi hanyalah kumpulan orang-orang ‘rindu kopdar’. Keakraban karena komunikasi virtual yang mewujud lewat chatting, komentar saat blogwalking, nge-Plurk, Twitteran dan sebagainya dirasa tidak cukup, sehingga memerlukan tatap muka. Dan, kegiatan semacam kopdarlah yang lantas menuntaskan kerinduan dan hasrat pertemanan. Lambat laun, keberadaan komunitas tak bisa dipandang sebelah mata.

Dan, komunitas blogger memiliki karakter unik. Ikatan persaudaraannya kian terasa menguat, meski jumlah keanggotaan tak lantas membuat kopdar sangat ramai. Di Bengawan, misalnya, banyak orang yang merasa memiliki ikatan emosional dengan kultur Solo bergabung. Di mailing list, komunikasi terjalin, padahal anggota tersebar di berbagai kota: Solo dan sekitarnya, Bandung! Jakarta, dan berbagai kota lainnya.

Di Jabodetabek, teman-teman menggelar kopdar sendiri. Semacam kangen-kangenan meski kontak virtual intensif dilakukan. Pada musim ‘mudik’, biasanya menjadi ajang pertemuan. Pertemuan perdana sekalipun akan terasa keakrabannya karena sudah terbangun sebelumnya, lewat mayantara.

***

Ketika saya diundang pertemuan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK) di Bogor, awal Juli lalu, terasa betul bedanya. Dari 50 lebih peserta, ang memiliki blog hanya beberapa, tak sampai sepuluh orang. Ironisnya, semua merupakan pengguna teknologi komunikasi dan informasi yang aktif.

Rupanya, sebagian besar dari mereka adalah pelaku di bidang infrastruktur. Ada programmer dan orang-orang sangat akrab dengan hardware.

Seorang pembicara dari Kementrian Komunikasi dan Informatika bercerita dengan gagahnya, bahwa nyaris seluruh Indonesia sudah terhubung dengan jaringan internet. Saat dia bertanya kepada peserta, mana lebih penting jalan raya, truk pengangkut atau barang yang diangkut, nyaris semua menjawab, bahwa jalan lebih penting, apalagi jalan tol.

Saya menjadi minoritas karena menyebut konten lebih penting, sebagai jawaban atas analogi yang disebut pejabat Kemkominfo tadi. Sebagus apapun infrastruktur tak akan berarti apa-apa jika tak dimanfaatkan. Blogger (dan komunitas) merupakan salah satu pilar penting dari kehadiran perangkat ( keras dan lunak) TIK.

Kopdar, kopdar akbar, atau apapun labelnya, hanyalah sebuah kiat, cara untuk ‘memobilisasi’ pertumbuhan konten. Puluhan hingga ribuan produsen konten (termasuk blogger) yang berkumpul, biasanya tak cuma saling mengakrabkan satu dengan yang lain. Lebih dari itu, mereka akan memproduksi konten secara sukarela, baik berupa tulisan dan/atau foto dan video, untuk diunggah di blog masing-masing.

Mulai keragaman kuliner, suasana daerah/kota, produk budayanya, semua akan ‘diembat’, dijadikan bahan blogging. Siapa yang untung? Tentu saja, masyarakat dalam arti yang luas. Sebuah warung ang menyajikan makanan enak, biasanya akan dijadikan sasaran untuk update blog, bahkan lengkap dengan foto makanan, ruangan atau lingkungannya.

Dari postingan seseorang, pembaca blog (yang tak jarang menemukan sebuah postingan karena berselancar di mesin pencari) akan dibuat penasaran, lantas ingin membuktikan, mendatang empat jajan dimaksud. Begitu pula obyek-obyek wisata, pusat-pusat kerajinan, akan diburu pencari informasi. Bisa ditebak, yang diuntungkan adalah publik akibat dipublikasikan lewat Internet, karena tansaksi bisa dimulai dari sana, karena orang lain memiliki awareness yan emmadai terhadap sesuatu.

Di Solo, misalnya, Komunijtas Blogger Bengawan pernah mengelar event kopdar, Sharing Online lan Offline 2010. Sebanyak 250an blogger dari 22 komunitas se-Indonesia kumpul-kumpul. Ada yang menyusur Bengawan Solo karena panitia menyediakan dua perahu karet milik Badan SAR Nasional Kantor Semarang, ada pula yang blusukan ke Kampung Laweyan. Sebagian yang lain, berpencar sesuai minat dan keinginannya untuk lebih banyak tahu tentang Kota Solo.

Semua fun, senang bisa jalan-jalan dan bertemu banyak teman dari berbagai kota. Yang sudah kenal jadi akrab, yang belum kenal menjadi bertambah banyak jumlah temannya. Di sisi lain, puluhan ibu-ibu perajin yang belum akrab dengan dunia Internet, bisa belajar dari paparan beberapa teman, dan sebaliknya, blogger menjadi lebih mengenal seluk-beluk dan liku-liku usaha kaum perempuan di Solo itu.

***

Meski blogger sudah dikenali sebagai produsen konten, anehnya masih banyak kalangan yang mengabaikan keberadaan mereka. Sebagian, malah melihat eksistensi blogger sebagai pekicau sebagai posisi lebih penting dibanding aktivitas mereka di dunia blogging. Ironis? Biarin saja!

Padahal ada satu karakter khas seorang blogger, yakni mandiri. Akses Internet diperoleh dan dibiayai sendiri, oleh karenanya mereka merasa memilikimotonomi terhadap diri mereka sendiri. Salah, jika ada yang beranggapan bisa men-drive, menyuruh untuk atau tidak berbuat ini-itu kepada seorang blogger.

Satu kekhasan lainnya, dari komunitas blogger muncul semangat untuk mempromosikan lingkungan terdekat mereka kepada dunia di luar mereka, yang mahaluas tak terhingga. Bahwa masih ada sebagian yang merasa diri sebagai blogger sementara aktivitasnya hanya copy sana-sini lantas di-paste di blog-nya demi mengejar rupiah atau dollar Amerika, anggap saja itu sebagai jembatan mereka mengakrabi fasilitas blogging. Kelak, mereka akan tahu blog yang mereka kelola tak bernilai apa-apa bagi orang di luar dirinya.

Terhadap blogger yang memilih absen memperbarui isi blog mereka karena sedang tergoda mencari harta lewat twit berbayar dan semacamnya, percayalah itu pun tak akan kekal. Kelak, ketika masyarakat pengguna Internet kian melek dan maju, hanya blog dengan konten-konten bermutulah yang akan dikunjungi untuk dijadikan rujukan pencarian informasi.

Konsultan komunikasi dan pemasar yang pastinya juga kian cerdas, kelak akan lebih selektif memilih ‘media’. Pada blog-blog dengan konten bermutulah, kelak mereka bersandar untuk melakukan kegiatan promosi, bersanding dengan media-media tradisional yang lain, seperti media cetak, radio, televisi, juga website resmi milik industri media.

Kata kuncinya, kredibilitas. Dan kredibilitas media, termasuk media baru seperti blog, akan sangat ditentukan oleh kwalitas isi, juga desainnya. Dan, informasi-informasi tentang lokalitas, tentunya akan muncul jika dikelola oleh orang-orang lokal pula. Maka, menjadi blogger tak usah minder. Disebut orang daerah pun tak usah gerah. Kini tinggal menunggu waktu, orang-orang kota akan berbondong-bondong datang ke daerah karena di kota, persaingan sangat keras dan sewaktu-waktu bisa menjungkalkan posisi dan eksistensi mereka.

9 thoughts on “Blogger & Komunitas

  1. Mulai keragaman kuliner, suasana daerah/kota, produk budayanya, semua akan ‘diembat’, dijadikan bahan blogging.
    menurut saya pernyataan diatas sangat tepat, blogger punya peran penting dalam mempromosikan daerahnya masing-masing.
    tapi sayangnya komunitas di kota saya masih kurang bergairah ;(
    .-= Din Afriansyah´s last blog ..Warung Kopi Tempat Untuk Ngompol =-.

  2. Keren kang postingnya! Blog memang harus mendapat tempat sebagai media alternatif buat masyarakat. Kunci: kredibilitas dan lokalitas. Dari pada media konvensional yang sudah terlalu negatif dan elitis

  3. Senada dengan Jensen, Pak De tapi disini pun jadi dobel deh ini masalah, saat konten ingin di galakkan.. eh trend di “sana” udah bergeser ke arah lain, akhirnya puyeng juga disini *curhat*
    😀

    @Jensen
    Jens, Papua gimana? Blogger Papua digalakkan lagi. biar ada teman yang ditimur nih.
    :

  4. Saya bergabung dengan komunitas blogger, tapi baru sebatas bergabung, jarang aktif di milis, belum pernah ikutan kopdar, walau sebenarnya saya kepingin bisa aktif dan bisa ikutan kopdar. Semua terkendala pada sebuah alasan: domisili dan waktu… 🙁

    tenang saja, Mas… kapan-kapan pasti ada kesempatan. yang penting akrab virtual dulu…
    /blt/

  5. Senengnya kalo tinggal di jawa ya, pakde, gampang berkomunitas, gampang kopdar. Di pinggir negara sini sering melongo kalo liat kawan2 kumpul2. Yah setidaknya saya dah pernah kopdar ama pakde blontank. Haha~ 😛
    .-= jensen99´s last blog ..Timnas Papua =-.

    tinggal di mana saja menyenangkan, asal tidak di Jakarta yang ribet-ramai seperti itu…
    /blt/

Leave a Reply