SRI

Ia memang simbol harapan. Dialah yang didambakan petani, representasi orang-orang kecil, yang pikiran dan cita-citanya sederhana. Menyemai benih, menanam, menyiangi hanyalah rutinitas sambil menunggu musim panen tiba. Hasil panen dibagi sejumlah alokasi: dibelikan kambing atau sapi, biaya pendidikan keluarga, dan persediaan makanan pokok semusim, dan tak lupa sedikit untuk dijadikan benih lagi.

Dewi Sri hadir agar petani setia menggauli alam agar memperoleh manfaat bercocok tanam. Dewi Sri selalu diharapkan bisa mulyani atau memberi kemuliaan menurut orang Jawa. Maka, kearifan pun muncul agar tatanan tak timpang. Kotoran ternak dan sisa jerami dihumuskan menjadi pupuk alamiah, yang ‘harganya’ murah meriah. Sapi atau kerbau dijadikan ‘mesin’ pembajak. Terus-menerus, menjadi siklus yang selalu berulang.

Di pedalaman Jawa, dulu ada tradisi sesaji untuk Sri, sang dewi padi: nedhuni pada awal bercocok tanam, dan wiwit pada menjelang panen. Tetangga terlibat, gotong-royong memetik padi dengan upah berupa padi yang dipetik secara beramai-ramai. Tidak ada bayaran berupa uang.

Tapi, dunia pertanian terus berubah. Ilmu pengetahuan melahirkan pupuk buatan, hingga berdampak rusaknya keseimbangan kimia tanah. Aneka jenis tanaman menjadi manja, tak kebal lagi terhadap hama. Ongkos produksi menjadi mahal karena pupuk harus dibeli, disusul dengan kebijakan penyeragaman komoditi. Jenis padi atau tanaman yang ditanam, diintervensi kaum cendekia.

Lantas pupuk pabrikan ditawarkan sebagai booster, begitu pula jenis padi berusia pendek dengan hasil melimpah. Petani tergiur jalan pintas, kearifan runtuh. Lalu, pusinglah para petani ketika tanaman mereka ‘cengeng-cengeng’, mudah terserang penyakit, yang hanya bisa diatasi dengan pestisida. Jeratan demi jeratan hadir karena keterpaksaan.

Sri tak lagi perkasa. Ia kian menjauh lantaran frustrasi ketika petani mulai berpaling darinya, lupa ternak dan kompos yang ditawarkannya sejak dahulu kala. Ketika pupuk dan pestisida kian mahal, petani yang masih (dan hanya bisa bertani) lantas menggadaikan atau menjual sebagian tanahnya. Berharap mendapat solusi, siapa tahu panen berlipat bisa digunakan untuk menebusnya kembali.

Pada saat petani bimbang (dan sebagiannya linglung), datanglah SRI. Ya, si S-R-I dengan huruf kapital, yang datang membawa modal. Ia menawarkan bantuan, membeli hasil panen dengan harga yang ditentukannya sendiri, dengan sistem taksiran orang kota, yang sejatinya tak mengerti (atau pura-pura tak mengerti) sama sekali nilai-nilai dan kebutuhan orang desa.

Sri Kapital alias Bu SRI hadir dengan wujud aneka regulasi, termasuk mengatur tata niaga, agar nilai/harga tetap terjaga. Agar petani sejahtera, katanya. Dan, ketika para petani mengangguk-angguk menaruh harapan ke pundaknya, Mbak SRI menganjurkan impor komoditi serupa dari mancanegara.

Bantuan untuk petani, diatasnamakan sebagai budi baik negara. Sementara para pengelola negara, yang memperoleh mandat dari rakyat –yang sebagian besarnya petani pula, berutang ke rentenir kelas dunia, dengan bunga yang dijelaskan kepada rakyat, berapa besar bunganya. Lantas, panen melimpah yang yang sekali-dua dijadikan ukuran keberhasilan pertanian, yang diandaikan sudah mengubah kesejahteraan.

Atas keberhasilan itu, Mbak SRI lantas memuji pengelola republik sudah berhasil. Tepuk tangan membahana, lantas disiarkan secara mendunia lewat semua saluran media massa. Foto presiden pura-pura ikut panen raya ditampilkan di koran-koran pada halaman pertama, juga di televisi dan radio. Keberhasilan membahana, seolah kesejahteraan sudah di depan mata.

Lalu, pusat-pusat perbelanjaan moderen dihadirkan hingga pelosok desa, agar petani yang sukacita karena hasil panennya tak usah belanja ke kota. Mereka yang biasanya belanja ke warung-warung tetangga, masuk mal sekaligus untuk wisata, memanjakan mata dan membangun citra.

Panen raya, rupanya hanya berlangsung beberapa periode saja. Pupuk dan pestisida menghancurkan tanahnya, hingga tak bisa diharapkan produkstivitasnya. Sedikit demi sedikit, tanah dijual lantas berubah jadi areal pabrik. Para ‘pensiunan’ petani dan keluarganya ditampung di pabrik-pabrik. Kian maju saja menurut hasil pencitraannya.

Mbak SRI yang pintar dan cerdas mendesak negara pelan-pelan mengurangi untuk kelak menghapus bantuan, subsidi negara untuk rakyatnya. Rakyat yang berpendapatan tunai dianggap mampu secara ekonomi. Sementara utang dengan bunga berbunga terus membubung, sehingga pengelola negara pusing menutupnya. Lantas, pajak digalakkan. Kalau tak dinaikkan besarannya, ya diperluas jenis barang dan jasa yang dipajaki.

Mbak SRI yang dulu mulyani, mampu memberi harapan memuliakan, kini hadir dengan wajah raksasa ganas yang siap sedia: kapan saja, di mana saja, memangsa siapa saja yang dijumpainya. Petani yang kian hari tak lagi menggarap tanahnya sendiri, gigit jari.

Kelak, para petani dan keluarganya, akan memperoleh rejeki lima tahunan. Ditebari janji dan iming-iming, plus bonus sesaat: sembako dan sejumlah uang untuk membeli sayur mayur agar bisa makan sambil tersenyum. Mbak SRI selalu hadir mengajak rakyat hidup mandiri. Slogan-slogan heroik ala Gandhi dan Soekarno akan dipinjam, demi rakyat mau berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri. Soal mampu atau tidak, itu soal lain lagi.

Mbak SRI akan tampial memimpin negeri, ketika rakyat dianggap mampu berdikari. Makanya, tak boleh lagi ada subsidi. Layanan kesehatan dan pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara, dikembalikan kepada yang MEMBUTUHKAN. Jika rakyat tak mau mandiri, artinya mereka tak mau maju. Tidak mau mandiri.

Mbak SRI memang hebat. Apakah kehadirannya bisa mulyani, menghasilkan kemuliaan bagi orang lain, jelas itu soal lain. Mbak SRI jelas berbeda dengan Dewi Sri. Mereka lahir beda masa, beda budaya. Mbak SRI besar di jaman traktor yang melihat kerbau bajak sebagai atraksi wisata, untuk refreshing otak, katanya.

 

3 thoughts on “SRI

  1. selain manja, padi sekarang juga kesulitan pengairan, sawah 4 petak depan rumah terpaksa dialiri air limbah rumah tangga, yg efeknya sang padi bereproduksi dengan jelek sekali, hasil panen jauh turun.

    yg menyedihkan adalah ketika musim membajak, sapi sudah tidak ada petani penggarap pun sudah ogah2an dan menentukan tarif tinggi karena mereka lebih memilih menjadi buruh bangunan yg dibangun diatas sawah dikeringkan dan di jadikan perumahan dgn sistem KPR yg jelas mencekik.

    sungguh negeri ironi…
    .-= dobelden´s last blog ..Sehat dan bermanfaat dengan mengkonsumsi Kefir =-.

  2. Maka sepakat dengan sony jozz, untuk SRI jaman modern: Sri Minggat…, tapi minggatnya nggak perlu diharap kembalinya. Sekarang lebih suka cara yang instan, negara agraris tapi beras ambil dari negara lain.. 🙁
    Wolak-waliking jaman, yang semoga saja bisa diwalik lagi kemakmuran petaninya, seperti dulu…
    .-= Sukadi´s last blog ..Menunggu Waktu Berbuka Puasa =-.

Leave a Reply