Freelance

Saya dan mungkin banyak orang menerjemahkannya dengan lepas, tidak terikat. Seperti pada sebutan freelance photographer/writer/journalist, maka fotografer/penulis/pewarta tersebut tidak terikat dalam sebuah hubungan industrial. Tidak gampang untuk mencapainya, karena seseorang akan dituntut bagusnya rekam jejak. Portofolio menjadi penting.

Saya memiliki banyak teman yang bekerja secara freelance. Kesehariannya sering membingungkan orang lain, terutama jika seseorang itu hidup di lingkungan tradisional atau feodal, yang melihat jenis pekerjaan sebagai status. Waktu keluar rumahnya tak menentu, bisa berlama-lama di rumah atau sebaliknya pergi lama sekali, seperti Bang Toyib dalam sebuah tembang.

Sebut saja Si Ganteng, teman saya yang berprofesi sebagai fotografer jurnalistik. Setahu saya, ia hanya memperoleh satu-dua assignment dari media asing dalam sebulan, kadang tidak satu pun. Namun dari pekerjaan itu, ia bisa memperoleh pendapatan bersih hingga ribuan dollar Amerika. Kebutuhan harian selama waktu pengerjaan sebuah proyek cukup mahal: hotel bintang empat, penerbangan dengan Garuda, fasilitas mobil.

Di luar waktunya bekerja, ia mempekerjakan dirinya sendiri. Ia menyisihkan pendapatannya untuk membuat proyek-proyek pribadi, dalam arti melakukan kerja jurnalistik untuk disimpan di harddisk. Berbagai tema dipilihnya dengan seleksi ketat, namun memperhitungkan news value dan rentang waktu kebaruan alias timeless.

Sebagai contoh, sebuah informasi mengenai adanya dugaan flu burung di suatu daerah, akan diverifikasi sedemikian rupa, seperti menelisik gejalanya, dampak hingga penelusuran apakah daerah tersebut termasuk endemi, ada/tidaknya korban dan seterusnya.

Tapi perlu dicermati, ia menjadi freelancer tidak secara tiba-tiba. Ia membangun portofolio dengan banyak cara. Ia pernah menjadi fotografer kantor berita foto inteernasional. Selama di sana, karya-karyanya terpublikasi mendunia sehingga dunia internasional mengenal namanya, tentu lewat karyanya. Ia pun sesekali menggelar pameran foto atas karya-karyanya sendiri, yang dikerjakannya sebagai sebuah proyek pribadi.

Di dunia fotografi, karya-karyanya punya ciri. Dan itu yang membedakan karya Si Ganteng dengan fotografer lainnya. Kesadaran akan kualitas karya dan keyakinan fotonya memiliki diferensiasi itulah yang membuat ia percaya diri memilih jalan hidup sebagai freelancer, apalagi memiliki kemampuan menawarkan diri ke berbagai media (internasional).

Tak berbeda jauh dengan fotografer lepas, kini banyak teman saya memilih menjadi jurnalis lepas (freelance journalist). Umumnya, mereka pernah bekerja di media-media mapan dan membangun reputasi (serta jaringan) dari sana. Asal tahu saja, jalur pertemanan (tepatnya networking) yang sejatinya banyak mempengaruhi kesuksesan seorang freelancer setelah portofolio dimiliki seseorang. Pada portofolio, tentu saja melekat reputasi yang lantas memunculkan trust.

Pada bidang terkait jurnalisme, saya pernah pula mengalami nikmatnya jadi pemandu freelance. Pasca-Bom Bali I, puluhan jurnalis asing datang berbondong-bondong ke Ngruki, untuk bisa membuat reportase utuh karena beberapa pelaku terkait dengan pondok pesantren yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir itu. Hampir tiga bulan lamanya, nyaris tiada henti saya menemani para jurnalis asing dengan honor bersih ‘hanya’ US$50 per hari.

Tugas saya hanya memastikan jadwal wawancara atau si jurnalis bisa melakukan reportase di dalam pondok. Kebetulan, tidak semua orang bisa mengakses dan dipercaya manajemen pondok, dan saya beruntung berhasil membangun trust itu. Andai saya memiliki kecakapan bahasa asing, pendapatan minimal saya bisa empat kali lipatnya karena si jurnalis tak perlu membawa penerjemah (yang rata-rata juga seorang freelancer).

Keuntungan lainnya, saya juga bisa mendapatkan informasi untuk dibuat berita, juga foto-foto yang bisa saya jual pula secara umumnya freelancer.

Terkait dengan dunia freelance ini, saya pernah ‘sakit hati’ ketika membantu media terkemuka asal Amerika. Selama setengah bulan lebih, saya memperoleh jatah menginap di  Hotel Hyatt Yogyakarta yang tarifnya lebih mahal dari honor harian saya. Makan pun demikian. Saya bisa order apa saja dengan bill masuk rekening kamar, termasuk mengonsumsi isi minibar. Padahal, menu paling murah Rp 200 ribu sekali makan. Coba kalau saya dikasih mentahan, pasti dapat banyak sisa uang makan. Hehehe…

Oh iya, di media asing, semua anggota tim reportase mendapat jatah kamar sendiri-sendiri. Tidak seperti kebanyakan media lokal, yang bahkan perusahaannya tidak memberi bujet memadai untuk sebuah reportase. Bisa dibayangkan, liputan seperti apa yang dihasilkan ketika dukungan dana tak memadai? Bandingkan saja dengan tim dari Amerika itu, yang terdiri tujuh orang, masing-masing berhak satu kamar dengan standar yang sama, selain produser. Bahkan, satu mobil hanya untuk maksimal tiga orang, dan sopir pun disewakan kamar hotel melati, tak jauh dari kami menginap.

Kembali ke soal pilihan profesi sebagai freelancer, saya kira ke depan kian menantang saja. Apalagi di dunia digital. Seorang developer website, programmer dan desainer pun bisa bekerja secara mandiri, tanpa terikat waktu dan status kepegawaian. Namun, harap dibedakan dengan freelancer yang mengandalkan hidup dari twit berbayar. Untuk jenis pekerjaan yang satu ini, saya malas berkomentar.

Saya pun sampai sekarang masih menyukai jalan hidup sebagai seorang pekerja freelance. Memang hasilnya tak menentu. Kadang ada sedikit, kadang lumayan banyak. Dan saya menerimanya dengan sukacita. Nikmat kok, sebagai freelancer. Soal bidangnya apa, anggap saja ‘Palugada’, apa yang lu mau, gua ada. Hahahaha….

Selama saya masih mau menulis, dan kebetulan dikit-dikit bisa motret (malah pernah beberapa kali pameran tunggal, termasuk di Amsterdam),  saya  yakin bisa hidup bahagia dan nyaman dengan istri saya. Apalagi, saya punya cadangan pendapatan dari berjualan teh oplosan bernama #blontea atau #tehpokil. Pokoknya, jangan pernah takut jadi freelancer.

 

15 thoughts on “Freelance

  1. meskpun secara income memang naik turun, tp ane sangat suka freelance. Karena tidak terikat waktu. Target kita sendiri yang menentukan. Jadi kl kerja keras, juga hasilnya akan lebih-lebih begitu pula sebaliknya..

    Salam
    Pengusaha obat herbal

  2. Saya jadi ingat tulisan di sebuah kaos Pakdhe:

    “Wirausaha: Berpenghasilan tidak tetap tapi tetap berpenghasilan” 😀

    Untuk mendapat upah setara UMR pun mesti benar2 kerja keras…wew >.<

  3. aku lagi belajar jadi freelancer juga nih Kang..tapi gak pede euy, ngeblog aja aku “telat” hehe.. enak jadi freelancer kayaknya,”gajinya” gak akan diperiksa BPK hahaha…. 5 taun “dikarantina”,bikin otak jadi “lelet” euy, seperti mulai dari nol lagi… jangan berhenti menebar semangat utk para pemula seperti saya …

  4. Artikel menarik, secara (bahasa gaul) saya kan juga freelancer.

    Pengalaman saya, Begitu memutuskan jadi freelancer — setelah bekerja di beberapa media utama — saya mem-posisikan diri sebagai ‘WriterPreneur’, karena pekerjaan tidak lagi sebagai jurnalis atau kontributor untuk sejumlah media (salah satunya The Jakarta Post), tapi bidang pekerjaan yang lebih luas, meski tidak jauh-jauh dari dunia kewartawanan, kepenulisan, dan lebih jauh komunikasi. Semua saya kerjakan dengan ‘passion’ — ternyata belakangan saya ketahui dari Rene Suhardono, career coach, itulah intinya.

    Passion bukan satu, tapi terdiri dari beberapa. Tidak sekadar pekerjaan kewartawanan, tapi saya mendalami media secara keseluruhan, yang menyangkut bisnisnya, sehingga orang menyebut ‘media consultant’. Saya juga terlibat dalam ‘media relations’, sehingga ada yang menyebut sebabagi PR consultant, dan seterusnya. Belakangan ada embel-embel lagi, sebagai wine taster, pengamat gaya hidup, pecinta kuliner, dan seterusnya.

    Jadi, saya juga tidak heran jika Mas Blontank yang jurnalis itu adalah seorang peracik teh yang mumpuni — bahkan menjadi bisnis.

    asiikk…tambah referensi dari senior yang dulu suka nulis SUPLEMENT di Jak-Post… lama mengagumi tulisannya, berkawan di Twitter, tapi belum pernah bersua. suwun, Kang…
    /blt/

    Yeahhhh…

  5. DV

    Paklik, menurutku tantangan terbesar untuk jadi freelancer itu adalah disiplin diri… saya sih mending jadi startup daripada freelancer.. Alasan saya simple, kalau jadi startup, kemungkinan untuk jalan-jalan ke luar negeri banyak dan pulang-pulang sapa tau jadi chairman atau deputy nya acara besar semacam On dan Off itu 😀
    .-= DV´s last blog ..Salam damai =-.

    ooo…dasar!
    /blt/

  6. Intinya:
    1. Kita harus punya portfolio oke
    2. Kita harus punya networking
    3. Kita harus pinter memanajemen keuangan
    4. Kita harus pinter memanajemen kesehatan

    Kalo udah ada 4 basic tadi, SELAMAT BERFREELANCER 🙂

    poin 3 dan poin 4 sangat penting. mutlak dimiliki. jeleknya, saya kacau urusan itu. untuk aku punya istri pinter dan baik hati. jadi, ada yang back up…. 🙂 *lirik Enthong*
    /blt/

  7. jadi inget tweet @bepitulas tentang #FreelancerMudik, harus jawab apa ketika muncul pertanyaan “kerjaanmu apa?” padahal pulang uda bawa gadget. klo di kira ngepet kan gak lucu. 😐

    kalau tidak dituduh penipu, bisa-bisa dianggap punya pesugihan…
    /blt/

  8. dalam segi “Perjodohan” saya ini termasuk freelancer lho.. *ngombe baigon*

    yakinlah, statusmu itu masuk kategori ‘nasib’, bisa diikhtiarkan. semoga bukan takdir ya, Tong….. :p
    /blt/

Leave a Reply