Naik Becak dari Simpang Lima

Capek jalan kaki dari Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) hingga Simoang Lima, Semarang, bertiga bersama Andre dan Dafhy, kami meneruskan sisa perjalanan dengan naik becak. Sepuluh ribu tawaran saya minta turun di perempatan Kranggan, dan segera diiyakan.

Seperti kebanyakan pekerja sektor informal beginian di Jawa, si pengayuh becak ini segera menyerahkan jika calon penumpang menanyakan harga jasanya. Ukurannya relatif. Kitalah yang harus bisa menakar kepantasannya. Jarak dan berat muatan menjadi bahan pertimbangan utama.

Tapi, sering terjadi, ada saja sebagian pengayuh becak yang melihat profil calon penumpang untuk mengukur tarifnya. Orang yang mudah dikenali sedang pakansi akan dikenai tarif relatif lebih mahal. Apalagi jika tak mengenal jarak tujuan.

Begitu pun kami, yang butuh jasa antaran hingga hotel. Jika menyebut nama hotel, apalagi hotel mewah, bisa-bisa dipaksa oleh asumsi. Menuju hotel mewah, apalagi kerap disinggahi pejabat tinggi, pebisnis atau ekspatriat, maka kita akan ‘didongkrak’ statusnya, disamakan dengan mereka.

Sejak tawar-menawar, feeling saya sudah menuntun pada kesimpulan, bahwa ia seorang abang becak yang baik. Tapi, standar ganda tetap saja ada di benak, sehingga saya tak mau menyebut tujuan antara adalah Hotel Gumaya. Ada kekuatiran dimahalkan tarifnya.

Lalu, demi sama-sama enaknya, saya bilang minta diturunkan di perempatan Kranggan, supaya tak dipersepsikan sebagai siapa-siapa. Hingga akhirnya kami turun di perempatan Kranggan, si abang becak mengangguk santun ketika selembar uang sepluh ribuan kuserahkan kepadanya. Ia menyampaikan ucapan terima kasih, walau saya yakin dia bingung, karena tempat kami minta turun, tak ada gang atau jalan masuk kampung.

Tak soal bagi saya. Hanya itulah kompromi yang bisa saya lakukan. Begitu becak berbalik arah untuk meninggalkan, kami pura-pura motret apa saja di sekeliling kami. Begitu becak sudah jauh, kami pun berbalik arah pula, menuju hotel. Saya yakin, ongkos yang kami tawarkan sudah sepadan: hanya satu kilometeran, tapi dijejali tiga orang.

Andai jalan yang kami lalui ada tanjakan, atau melewati polisi tidur, pastilah saya tak tega menawarkan jasa sewa segitu. Menghadapi polisi tidur, laju becak harus dikurangi, dan harus keluar tenaga ekstra untuk melaju kembali. Kian banyak polisi tidur, kian banyak tenaga ekstra dikeluarkan, yang energinya bisa melebihi sebuah tanjakan konstan. Karena itu, harus dipertimbangkan sebagai faktor penawaran jasa.

Kita tahu, becak di Solo atau Semarang masih dikayuh. Kaki-kaki pengayuhnya harus kuat, tenaga harus perkasa. Beda dengan bentor atau becak bermotor yang jamak di Medan, yang belakangan ditiru tukang-tukang becak di Ngawi, sebuah kota kecil kecil paling barat di Jawa Timur. Di sana, becak digerakkan dengan mesin penggilingan beras menjadi tepung yang dimodifikasi sedemikian rupa.

Terhadap becak-becak yang digerakkan dengan tenaga manusia, kita mesti menyikapinya secara berbeda. Apalagi, jasa becak selalu kalah bersaing dengan mobil angkutan umum. Sebaiknya, kita harus berbagi dengan mereka, minimal menakar jasa dengan tidak mengabaikan rasa.

11 thoughts on “Naik Becak dari Simpang Lima

  1. Betul pak, setuju.. kadang memang untuk naik becak harga akan di tentukan dengan cara berpakaian dan tempat yang di tuju.. itu kebanyakan, tapi kadang juga tukang becak ada yang sangat santun dan mengerti kewajiban dan hak-hak yang dia butuhkan..
    .-= sibair´s last blog ..Jember Fashion Carnaval =-.

  2. Ketika masih klayapan n nggembel di Jogja justru dnegan para tukang becak ini hati saya trenyuh, otak saya pun terasah…
    Hati trenyuh karena dengan hidup yang sederhana mereka masih menerapkan rasa asih dan asuh, tak kemaruk untuk merebut jatah “tarikan” orang/temen lain. Bergiliran sayuk rukun dan tak jarang uangpun saling share demi teman n rekan seprofesi.
    Otak terasah karena jangan anggap mereka itu tak tahu apa-apa, keadaan “tidak punya” tak lantas mereka menutup mata, buktinya sewaktu mBak Mega dikuya-kiya jaman orba mereka masih melek suasana perpolitikan negeri ini…

    Tapi paling njengkelke ya kelakuane nek nang ndalan je…
    Kalo dijakarta adalah Bajaj yang memiliki slogan “Hanya sopir bajaj dan Tuhan yang tahu bakal kemana bajaj ini berhenti dan berbelok, maka Tukang becakpun tak jarang juga memberlakukan demikian, nek wis tangane ngawe munggah, rak peduli ana kendaraan kenceng utawa pelan seka arah lain. Pokmen luwehhh…
    edyan ik 🙂

  3. Ketika masih klayapan n nggembel di Jogja justru dnegan para tukang becak ini hati saya trenyuh, otak saya pun terasah…
    Hati trenyuh karena dengan hidup yang sederhana mereka masih menerapkan rasa asih dan asuh, tak kemaruk untuk merebut jatah “tarikan” orang/temen lain. Bergiliran sayuk rukun dan tak jarang uangpun saling share demi teman n rekan seprofesi.
    Otak terasah karena jangan anggap mereka itu tak tahu apa-apa, keadaan “tidak punya” tak lantas mereka menutup mata, buktinya sewaktu mBak Mega dikuya-kiya jaman orba mereka masih melek suasana perpolitikan negeri ini…

    Tapi paling njengkelke ya kelakuane nek nang ndalan je…
    Kalo dijakarta adalah Bajaj yang memiliki slogan “Hanya sopir bajaj dan Tuhan yang tahu bakal kemana bajaj ini berhenti dan berbelok, maka Tukang becakpun tak jarang juga memberlakukan demikian, nek wis tangane ngawe munggah, rak peduli ana kendaraan kenceng utawa pelan seka arah lain. Pokmen luwehhh…
    edyan ik 🙂

  4. DV

    Saya pernah punya pengalaman diapusi tukang becak, jalan cuma 600m disuruh bayar sekitar 1000 rupiah (hitungan harga tahun 90-an awal).

    Tapi pernah juga punya cerita lucu, suatu waktu aku minta diantar naik becak ke rumah pacar yang rumahnya di Bantul padahal aku dari sekitar Galeria Mall Jogja. Ketika kusebut nama daerah (Brengosan), si tukang becak dengan yakin bilang “10 ribu!”

    Wah kupikir murah sekali.. akupun langsung deal!
    Rupanya si tukang becak salah taksir. Dia tak menyangka jarak ke Brengosan Bantul sejauh itu. Di tengah jalan dengan sopan dia minta tambahan uang, ya kukasih lha wong selain karena kasihan, dia telah menyadari salahnya dan meminta dengan sopan.

    Kupikir kita memang perlu respek ke tukang becak. Kalaupun mereka jadi terkesan ‘ambil untung berlebih’ atau ‘galak’ anggaplah itu efek perut yang lapar dan susahnya mencari order-an sekarang ini.
    .-= DV´s last blog ..Vakansi ke Canberra: Diguncang Gempa di Questacon! (7) =-.

  5. Saya dulu pernah posting soal becak, suatu profesi yang sebenarnya ngga bisa kita pandang sebelah mata. Mereka giat dan kebanyakan sudah berusia renta, setidaknya menggugah kita untuk memberikan tarif sesuai tanpa harus merendahkan.

  6. sepertinya regenerasi Abang Tukang Becak (kayuh) akan semakin menurun, seiring dengan perkembangan jaman.
    Hal ini dapat saya lihat di Ponorogo, hampir 80% (survey kilat) Tukang Becak berusia 50 tahun lebih.
    Sisanya campur, antara 30-45 tahunan.
    Mungkin anak dari sang tukang becak pun, telah dipikirkan masa depannya untuk menjadi lebih baik oleh orang tuannya.
    .-= pardi´s last blog ..MAU DIBAWA KEMANA? =-.

Leave a Reply