116 Tahun Sepeda di Indonesia

Foto karya Mr. Hung Wan Foong koleksi KITLV yang menjadi bukti otentik keberadaan sepeda pertama di Nusantara.

 Konon, umur sepeda di Indonesia ‘baru’ 116 tahun. Bukti yang dianggap otentik berupa foto tentang tiga orang Eropa berpose dengan sepeda masing-masing di sebuah studio foto di Medan pada 1895. Fotografernya bernama Mr. Hung Wan Foong. Anehnya, keberadaan sepeda di Nusantara kalah setahun lebih cepat dengan mobil (Mercedes) Benz Phaeton.

Tak ada penjelasan merek tiga sepeda kumbang yang fotonya disimpan oleh The Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV)/ Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies itu.

Semula, saya mengira masuknya sepeda di Indonesia sudah lama, seusia misi dagang Belanda (VOC) yang menjadi cikal bakal penjajahan itu. Dan kacaunya, saya mengira usia penciptaan sepeda lebih tua dibanding kapal-kapal pengangkut rempah-rempah dari bumi Nusantara untuk diperdagangkan di Eropa.

Rupanya, cikal bakal sepeda baru diciptakan di Inggris pada 1790an, berupa rangka kayu. Penyempurnaan sepeda hingga menggunakan rantai baru terjadi di Inggris pada 1886 oleh John Kemp Starley dan digenapkan John Boyd Dunlop dengan penemuannya berupa ban yang diisi angin, dua tahu kemudian.

Klub bersepeda banyak bermunculan di Indonesia, termasuk Solo Onthel Lawas di Solo

Bangsa Indonesia ‘beruntung’ mengenal sepeda hanya sepuluh tahun berselang sejak disempurnakan oleh Kemp Stanley dan Dunlop. Sama beruntungnya, ketika Mercedes Benz pesanan Raja Surakarta ISKS Pakoeboewono X masuk ke tanah Jawa pada 1894, atau hanya berselang delapan tahun sejak Karl Benz menciptakan mobil yang diakui dunia sebagai mobil pertama. Uniknya, mobil milik Pakoeboewono X itu dua tahun lebih cepat dibanding kepemilikan mobil di Belanda.

Mungkin, begitulah takdir bangsa Indonesia, yang sejak dulu termasuk cepat beradaptasi dengan teknologi. Seperti kini, ketika BlackBerry menjamur, Facebook dan Twitter menjadi media sosial paling diminati, hingga iPad dan iPhone yang laris bagai siomay, juga gadget aneka merek yang dilahap semua lapisan masyarakat, tak miskin, tak pula yang berpunya.

Sepeda yang disewakan di kompleks Benteng Vredenburg, Yogyakarta

 Gerakan cinta bersepeda pun merebak di mana-mana, seperti halnya orang menggunakan Facebook dan Twitter. Klub-klub sepeda bermunculan, dari sepeda tua, jenis MTB, sport hingga sepeda lipat. Banyak orang menjadi gemar berorganisasi. Ada yang didorong oleh kebutuhan olahraga murah namun menyehatkan, ada yang gengsi-gengsian, ada yang pragmatis karena tak nyaman beralih ke sepeda motor karena bermobil justru bikin stress karena berhadapan dengan kemacetan, dan banyak lagi. Yang ideologis? Entah.

Yang pasti, kampanye Barat mengenai bahaya polusi knalpot kendaraan bermotor sangat menyentuh perasaan banyak orang. Lantas, menjamurlah klub atau perkumpulan bersepeda, hingga direspon banyak kalangan. Car free day atau hari bebas kendaraan bermotor dicanangkan oleh pemerintah di banyak kota.

Memang bagus gerakan cinta lingkungan dan penyelamatan masa depan dengan model demikian. Efek rumah kaca atau pemanasan global, nyatanya dipicu oleh cepatnya laju industri yang menggunakan mesin boros bahan bakar. Indonesia yang kaya minyak, misalnya, nyaris habis stoknya lantaran harus diekspor dan dikonsumsi sendiri. Hutan banyak dibabat sebab jauh di bawah akar pepohonan tersimpan cadangan energi dan bahan bakar.

Sepeda, sepertinya bakal menjadi kendaraan masa depan yang paling realistis. Entah karena alasan-alasan kesehatan, atau lantaran kelangkaan bahan bakar yang berasal dari energi yang tak mudah dibarukan seperti minyak dan gas.

Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day) bermunculan di mana-mana, termasuk rambu-rambu tempat khusus sepeda di jalan raya, seperti yang dibuat oleh Pemerintah Kota Yogyakarta

Sepertinya, 116 tahun bukanlah bilangan waktu yang lama. Kini, kita sudah dihadapkan pada kecemasan masa depan lantaran energi alternatif yang ditemukan tak kunjung bisa digunakan secara masif. Pemerintah Indonesia yang dari dulu suka klenik sekalipun, gagal membaca pertanda. Buktinya, kendaraan jenis hybrid justru dianggap barang mewah sehingga berharga mahal, tak terjangkau kaum kebanyakan.

Kebijakan bidang otomotif justru mendorong lajur pertumbuhan kendaraan bermotor yang tak sebanding dengan luas jalan (raya) yang dibangun. Bahan bakar kian boros lantaran di mana-mana sudah dilanda kemacetan lantaran populasi kendaraan bermotor yang kelewat tinggi. Minyak bumi terkuras habis, sementara hasil nyatanya hanya berupa karbon monoksida dari mesin-mesin yang bekerja, namun berjejalaan tak kunjung bergerak.

 

Jika Internet saja harus digunakan secara sehat, maka moda transportasi yang ramah kesehatan pun dibutuhkan. Pertu membuncit bisa diakibatkan timpangnya konsumsi makanan dan pembakaran kalori lewat olahraga.

Peringatan 116 tahun budaya bersepeda di Indonesia yang dirancang Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) yang bakal singgah di Solo, 23-24 Juli besok adalah sinyal. Sebuah pertanda agar kita mulai becermin, untuk lebih berhati-hati mengonsumsi energi.

5 thoughts on “116 Tahun Sepeda di Indonesia

  1. DV

    Wah, terimakasih infonya, Lik.
    Sepeda sepertinya semakin mendapat tempat di hati kita ya karena selain menyehatkan juga ramah energi. Tapi memang perlu dipikirkan juga faktor luar dari itu yaitu bagaimana supaya pemerintah dan masyarakat juga mewujudkan udara yg bersih sehingga orang tidak enggan bersepeda.

    Pengalaman dulu njajal bersepeda di Jogja itu agak rekoso soalnya selain panas (pada akhirnya soalan ini bisa kumaklumi sih) tantangan terberat adalah kalau harus menghirup udara buangan gas knalpot.

    Aturan pembatasan emisi pada kendaraan harusnya ya ditegakkan meski ini bakal jadi retoris karena jangan emisi, lha wong orang naik motor tanpa helm dengan alasan apapun jarang kena tilang 🙂

    Ya apa iya…:)
    .-= DV´s last blog ..Vakansi ke Canberra: Diguncang Gempa di Questacon! (7) =-.

    aku punya dua sepeda, tapi masih jarang-jarang pakai. kapan-kapan pit-pitan bareng ya, Om?
    /blt/

  2. Kita patut bersyukur Pakdhe, bahwa sepeda sudah mulai menjamur lagi di masyarakat, yah… walaupun masih sebatas gaya hidup, belum sampai ke taraf sebagai kendaraan alternatif.

    Saya percaya, apabila bersepeda kian nyaman akan banyak orang yang beralih ke sepeda. Namun perlu juga ditumbuhkan kesadaran untuk bersepeda dan tata-tertib bersepeda. Semoga peringatan 116 tahun budaya bersepeda di Solo, kelak akan membawa dampak positif. 🙂

    Salam sepeda dari Jogja, hehehe 😀
    .-= mawi wijna´s last blog ..Video Bubarnya SPSS di Candi Ijo =-.

    yes. kalau sepeda kembali mewabah dan transportasi massal kian membaik di mana-mana, udara pasti segar dan sehat…
    /blt/

Leave a Reply