Karnaval Malam Hari

Sabtu, 25 Juni 2011 akan menjadi catatan sejarah, kiat Pemerintah Kota Surakarta menyuguhkan peristiwa wisata. Solo Batik Carnival keempat akan dilangsungkan pada malam hari. Kalau tak salah, Festival Rio de Janeiro-lah yang dijadikan rujukan, lantas dibumikan, dengan rasa Solo yang kental. Ya dengan batiknya itulah, Solo dihadirkan.

Dari segi kenyamanan, publik memang dimanjakan. Setidaknya, tidak kepanasan seperti karnaval batik yang sudah digelar tiga kali sebelumnya. Peserta karnaval, yang tahun ini terdiri dari 500 orang, pun tidak kuatir dengan rusaknya riasan akibat gerusan peluh yang mengucur akibat kegerahan.

Soal apakah tata lampu akan mampu memuaskan rasa ingin tahu publik, sudah barang tentu menjadi tantangan tersendiri. Catwalk aspal sepanjang tiga kilometer perlu daya ratusan kilowatt jika kualitas penerangan hendak disamakan dengan tata cahaya panggung peragaan busana seperti digelar para perancang busana ibukota.

Menjadi catatan menarik ketika banyak industriawan lokal mau terlibat dengan membangun sejumlah panggung di sejumlah titik di sepanjang Jl. Slamet Riyadi. Menjual tempat duduk juga bisa disikapi sebagai upaya mendidik publik untuk mengapresiasi sebuah kerja kesenian, selain untuk mengongkosi produksi.

Bahwa akan ada yang nyinyir, menyebut Solo Batik Carnival sebagai kegiatan hura-hura dan hanya menjadi forumnya kaum kaya, biarlah itu ditepis dengan fakta. Bahwa industri batik menggeliat lantas membuat sejumlah pengusaha kian kaya, itu sebuah konsekwensi logis dalam sebuah hukum ekonomi.

Toh, kian banyak orang yang turut menikmati geliat batik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ada buruh batik yang kian terjamin pendapatannya, ada sopir mobil carteran yang mendapat tambahan komisi, ada pengayuh becak yang kian sering mendapat tamu, dan masih banyak lagi. Terutama orang-orang dekat para buruh batik, sopir taksi, pengayuh becak, seperti anak, suami/istri dan anggota keluarga lainnya.

Tentu, itu belum termasuk pemilik dan anggota keluarga pemilik warung-warung yang disinggahi wisatawan, pekerja hotel dan penginapan, pedagang sayur-mayur, dan banyak lagi. Sangat panjang mata rantai dan efek dari geliat industri batik. Semua saling menopang, saling memperoleh manfaat.

Partisipasi publik, termasuk industriawan yang turut meramaikan dan menjadi sponsor aneka event pendukung Solo Batik Carnival pun bisa dilihat sebagai jalan keluar mengatasi keterbatasan dana pemerintah untuk sebuah perhelatan akbar semacam itu. Sangat keliru jika beranggapan Pemerintah Kota Surakarta harus menanggung semuanya, sebab dengan begitu berarti mengurangi porsi anggaran untuk memenuhi hak warga kota, seperti sektor kesehatan, pendidikan, dan banyak lagi yang juga sama pentingnya.

Yang perlu disadari banyak pihak justru bagaimana warga Kota Solo bisa memanfaatkan momentum keramaian Solo Batik Carnival sebagai sarana mempromosikan apa saja. Para pelukis bisa menggelar karya-karyanya melalui pameran atau bazar, begitu pula produsen aneka kerajinan dan aneka kuliner.

Bahwa penyelenggaraan Solo Batik Carnival pada malam hari kali ini masih diragukan kesuksesannya, dalam arti sepanjang Jl. Slamet Riyadi akan benderang bagai catwalk sebagaimana diangankan banyaak orang, biarlah waktu yang membuktikan. Toh, karnaval batik juga mengundang kontroversi pada awalnya, namun diakui dan dinanti adanya di kemudian hari.

Kita tak bisa melihat dan menilainya hanya pada satu sisi semata. Ada banyak hal dan beragam faktor yang bisa dan akan menjadi catatan untuk perbaikan pada penyelenggaraan kemudian. Saya optimis, walaupun di beberapa spot akan tampak temaram lantaran karya-karya kreatif peserta hanya kena terpaan lampu merkuri yang cenderung meniadakan warna asli, publik masih akan bisa menyadari kekurangan ini.

Namun, dari situlah akan muncul gagasan perbaikan di kemudian hari. Mari kita sambut Solo Batik Carnival keempat nanti dengan lapang hati. Tema legenda pasti akan menghadirkan sensasi baru, setelah tema topeng pada karnaval lalu. Welcome The Legends, selamat datang Solo Batik Carnival…

17 thoughts on “Karnaval Malam Hari

  1. duh, lama di solo, dan sekarang beda kota dan selama diselenggarakan SBC belum pernah hadir, tahun depan deh hadir sambil mampir ke pak blontang sambil ngeteh pokil…. biar gak dipokili hehe

  2. Nah, soal karya batik yang menguntungkan pengusaha itukan memang salah satu roda ekonomi. Ada yang iri dan seneng, itu juga biasa. Kalau semua adem ayem, baru kita bertanya “ini ada apa?”

  3. Meski terkesan meniru suksesnya Jember Fashion Carnival, Solo Batik Carnival memang harus dilakukan secara rutin dengan diiringi perbaikan di segala sisi..
    Apalagi sekarang Solo sedang bergairah karena Pakdhe Jokowi :)

Leave a Reply