Pensiunan Monyet

Seorang sarjana, anak tunggal duda yang baru saja pensiun gagal memperoleh pekerjaan. Ia putar haluan, mengadu nasib jadi seniman. Hanya ‘audisi’ untuk sebuah grup ketoprak dan wayang orang yang memberinya harapan. Singkat cerita, ia bergabung pada grup wayang orang yang akan pentas di luar negeri. Sang sarjana bungah. Happy

Sang ayah lega, anaknya akan memulai debutnya dalam event bergengsi, sehingga ia ceritakan kepada sahabatnya yang lama tak bersua. Kebetulan, keduanya bertemu saat sedang sama-sama antri mengambil uang pensiunan pertamanya di Kantor Pos. Nostalgia saling dipertukarkan, lantas menceritakan kesuksesan masing-masing.

Proses syuting hari pertama di Jajar

Marzuki (diperankan Zainal Abidin Domba) menceritakan Thoriq (Agus Ringgo), yang akan berpentas wayang orang bersama grup ternama dan memperoleh peran penting sebagai Rama. Tak mau kalah, Darmanto (Marwoto) memamerkan anak perempuannya yang jadi eksekutif perusahaan terkenal di luar negeri.

***

Di gedung Wayang Orang Sriwedari, Thoriq rajin mengikuti latihan. Ia bangga dengan perannya, bahkan kemudian jadi modal persemaian asmaranya dengan Retno (Ririn Dwi Ariani Ekawati). Thoriq yang polos menggetarkan hati Retno. Apalagi, ketika awal pindahan dari rumah dinas ke kontrakannya yang sederhana, mobil yang ditumpangi ayah-anak itu mogok, persis di depan pintu garasi Retno, yang saat itu hendak mengeluarkan mobil untuk bepergian.

Hutan kota Taman Balekambang menjadi salah satu ikon penting yang ditampilkan

Thoriq tidak malu dengan keadaannya, bahkan tampak bangga memperkenalkan diri, dan menunjukkan rumah kontrakannya yang ternyata berseberangan dengan tempat tinggal Retno.

Suasana proses pengambilan gambar di kantor Harian SOLOPOS

Pada awal kerisauannya tak kunjung memperoleh pekerjaan, Thoriq kerap mondar-mandir di jalanan. Ia sering melewatkan waktunya dengan kongkow di wedangan, sebutan tempat penjaja aneka minuman dan makanan ringan khas Kota Solo. Bertemu beberapa temannya, termasuk curhat tentang peran yang dijalaninya dalam sebuah grup wayang orang.

***

Ya, dalam komedi satir arahan sutradara Herwin Novianto, dengan cerita garapan Armantono yang didukung penuh Mas Deddy Mizwar ini, Pensiunan Monyet sengaja ingin menjual pesona Kota Solo dengan segenap kekayaan budaya yang dimilikinya. Ada seni pertunjukan, situs kerajaan, kampung batik Laweyan, taman kota Balekambang, dan masih banyak lagi.

Batik merupakan unggulan kekayaan budaya Kota Solo. Syuting di Batik Putra Laweyan

Menonton FTV unggulan SCV ini, pemirsa seperti disuguhi aneka hidangan, diajak berwisata secara visual, namun tidak kehilangan aura kulturnya yang kental. Justru, FTV ini membuat orang terpikat, lantas ingin membuktikan Solo yang senyatanya. Artinya, pemirsa seperti diprovokasi untuk mengunjungi kota peninggalan dinasti Mataram baru itu. Seperti Mas Deddy Mizwar ceritakan kepada saya, bahwa film ini harus memberi manfaat bagi warga kota dan masyarakat dari daerah sekitarnya.

Apakah Pensiunan Monyet akan tampil seperti iklan yang serba indah? Rasanya tidak ada pretensi ke sana. Keindahan gambar-gambar yang dihasilkan dari mata seorang director of photography seperti Enggong, mungkin tak lepas dari latar belakang Herwin yang banyak membuat film-film iklan. Dan itu sah-sah saja. Sebagus apapun citra visual, ia akan sia-sia jika bangunan cerita gagal diramu oleh sang sutradara, termasuk tim kreatif yang bekerja di dalamnya, seperti Gunawan Rahardjo dan teman-teman, juga pemilihan aktor-aktornya.

Adegan pertemuan pertama antara Thoriq dengan Retno...

Akan seperti apa hasilnya, silakan simak penayangannya di SCTV, Sabtu, 18 Juni malam.

Siapa tahu, Anda akan menemukan kejutan-kejutan, seperti misalnya citra sosok Rama dalam alam pikir kaum feodal dan moderen Jawa. Peran Rama yang kostumnya tidak menenggelamkan wajah asli pemeran, bisa jadi akan berbeda dengan peran Anoman, yang walau masuk kategori hero dan memainan peran dominan, namun wajahnya total dibalut kostum. Belum lagi stratifikasi monyet dalam cerita Ramayana. Ada banyak ‘kasta’ di sana: ada Anoman yang putih perwira dan saudaranya yang warna-warni seperti Anila dan Anggada, juga ada monyet jelata yang tentunya lebih colorful, tapi cuma ‘rakyat’.

Sutradara Herwin Novianto (kiri) bercanda dengan Agus Ringgo saat jeda syuting..

Berperan jadi apakah Agus Ringgo: Rama, Anoman, Anggada, monyet jelata, atau siapa? Juga, siapa sesungguhnya sang ayah? Apakah ia juga pernah menjadi pemain wayang orang? Silakan saksikan sendiri. Kalau sudah menyaksikan, silakan komentar di bawah tulisan ini.

Harap jangan kaget kalau saya nongol sekilas, numpang nampang pamer iPad di film ini. Semoga hastag #linimas(s)a dan #MDRCCT tampak jelas juga. Itu ‘identitas kultural’ teman-teman blogger saya di dunia microblogging. Asal tahu saja, iPad itu pemberian dari XL karena menang lomba nulis blog. Jadi, bukan karena saya kaya dan mau bergaya.

Toh, saya hanya setara pula dengan monyet jelata dalam dunia blogging. Saya itu monyet hitam. Jadi bukan ksatria seperi Anoman….

19 thoughts on “Pensiunan Monyet

  1. arif

    mas…di film pensinan monyet itu kan ada lagu jawa nya (diadegan sewaktu ringgo dengan mbak ririn kalo gak salah) itu judul lagunya apa ya mas??dalm film itu yang nyanyi sambil maen gitar kecil orang nya gemuk..saya sudah beberapa hari ini nyari hudul lagu nya apa tapi belum juga ketemu…
    mohon dibantu ya mas..
    suwun..

  2. DV

    Woh.. ber iPad sak niki Paklik.. ampuh ahahaha…
    Salah satu obat kangenku ke Jogja adalah nonton FTV SCTV yg kerap ambil setting Jogja dan sekitarnya…
    Sayang FTV Pensiunan Monyet ini kok ya Sabtu, pas aku lagi keluar rumah untuk acara keluarga jadi ya ketinggalan nonton…

    Ngga ada re-run nya ya, Lik?

  3. Mas Poer,
    aku nggoleki tanggal postinge kok gak ketemu. sajake njenengan penganut every day is the same day nggih … he he he .

    wah … apik ki …. arepa arang nonton tivi mengke tak nyelakake .
    nuwun nuwun … salam kagem dulur ing sala sedaya mas.

Leave a Reply