Jangan Mau Kaos Usil

Saya sedang merancang sebuah pembalasan (dendam) kepada guru saya yang satu ini. Usilnya kelewatan, tapi tak pernah bikin marah. Kepada semua orang, dia mengajarkan kebaikan, lewat perilaku. Tak penah menggurui, selalu rendah hati. Memang dia pandu sejati, seorang praja muda karana sejak siaga hingga penegak, namun tak pernah melewati status penggalang, apalagi pembina. Ya, memang dia bukan Pak Bina.

Silakan cermati baik-baik gambar-gambar yang menyertai tulisan ini. Saya, misalnya, disebutnya dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Jelas tidak sah, sebab sang pemberi gelar bukan seorang susuhunan, the sinuwun.

Ya, jika Anda seorang blogger –entah nyubi atau kawakan, pasti mengenal Paman Tyo. Sebagai guru fak SemestaMaya, cukup banyak blog bikinannya. Ia memang peternak blog. Semua usil, seperti janganmau.com yang khusus untuk ‘umuk’ desain-desain distro-nya. Eh, bukan distro, ding. Doi tidak berjualan kaos. Tapi hanya untuk pamer desain, sambil ngerjain. Ya, ibaratkan saja sebagai teroris. Tapi teroris nonideologis, apalagi bercita-cita bak separatis.

Dia jelas bukan tukang tabok atau orang yang suka mukul. Tapi sudah terbukti ringan tangan, dan suka berbagi jinjingan ketika orang lain menganggapnya berat, lantas menawarkan diri berbagi. Ketika dibutuhkan teman-teman blogger dari kota kecil seperti Ponorogo, Sang Paman mau datang, menyisihkan kesibukannya melotot di depan layar monitor apel sisa codot yang tipis. Padahal, dari pagi hingga pagi lagi, ia biasa begadang.

Kalau sudah patrap atau bertindak, ia seperti patung. Hingga berjam-jam sanggup duduk sambil utak-utik karena otaknya tak pernah hang. Andai bisa jégang, pastilah ia memilih dhingklik, bangku kayu flat tanpa sandaran. Sayang, perutnya telanjur menjulang. Bahkan rutinitasnya bersepeda pun hanya sanggup membuat kulitnya kian kencang, namun dimensi perut tak kunjung menyusut. Untung, sarung ndhésa yang selalu menemani malamnya bisa membantu mengaburkan bentuk tubuhnya.

Ada satu kebiasaan Paman Guru yang bisa mengecoh maling. Walau jendela kamar gelapnya di Langsat I/3 selalu menganga dan ditinggal tidur, tak ada satu pun maling berani beraksi. Padahal, pada suatu pagi, rumah sebelah tempat ia bekerja baru saja kemalingan: sepeda motor amblas, padahal pekerja rumah itu baru saja kelar mencuci mobil, di samping sepeda motor yang hilang diembat maling.

Ya, Paman Kita ini biasa tidur dalam posisi duduk bersedekap tegap, selama berjam-jam lamanya. Saya sesekali menemani tidurnya, dan bisa datang tiba-tiba di tengah jeda obrolan kami. Dari kejauhan, maling mungkin mengiranya sedang menimbang bagus-tidaknya hasil kerja visualnya, hanya dengan mengamati posisi duduknya yag mirip orang bekerja.

Sebenarnya, saya masih punya banyak persediaan cerita tentangnya. Soal apa saja, termasuk sikap hidupnya yang apa adanya, bijak bagai pengadil, dan tak pernah memelihara permusuhan. Hmmm…jangankan memelihara, wong setiap ada potensi konflik, buru-buru ia mencairkan dan meninggalkan sifat buruk demikian, kok…… Bahwa dia jahil, suka usil, sudah terbukti. Tapi, ya itu tadi, keusilannya tak pernah bikin marah.

Semoga simbol sepatu lars buka merupakan kenangan pahitnya terhadap rezim otoriter yang menyertai masa mudanya dulu... xixixix...

Entah apa dosa saya sehingga Paman Tyo mengingat saya sebagai orang Jawa. Setidaknya, jika menyimak pesan pada desain kaos yang dibuatnya, khusus untuk saya.

Lakoné

Amenangi Jaman Internet

sesrawungan ora ana watesé. Tlatah adoh utawa cedhak ora ane bedané. Mulané ya kebangeten yèn panjenengan ora wanuh marang priyagung siji iki, kang kondhang kawentar-wentar. Amané Dèn Bèi Blontankpoer Loring Protelon Panata Narablog Bengawan.

Hahaha….. Kaos yang unik dan pasti akan saya suka selamanya, walau ada typo beberapa. Itulah Paman, sosok manusia lumrah, yang tak mungkin sempurna. Soal ana ditulis ane, itu jelas menunjukkan kesalahan yang manusiawi sepenuhnya. Juga, kata bédané yang ditulisnya dengan bedané. Itulah perbedaan manusia dengan Tuhan, pemilik kesempurnaan sejati.

Selain saya, sudah banyak orang yang diusilinya dengan kaos yang cuma dibuat satu untuk orang yang ditujunya. Saya jelas tersanjung, sebab berada di antara ‘orang-orang pilihan’ yang dijadikannya sebagai ‘korban keisengan’. Ada Wicaksono alias Ndorokakung, ada Enda Nasution sang Bapak Blogger Indonesia, ada pula pemilik blog heritage yang juga seorangpelukis gagal lantas banting setir jadi tukang lomografi, bernama Happy, juga Om Yusro sang pengonthèl, penunggang pit, sepeda.

Ada satu tokoh yang belum dijahilinya. Namanya Didi Nugrahadi, juragan hosting blog dan peternak situs namun belum mau ngeblog hingga detik ini. Saya menduga-duga, sok tahu alasannya, tapi tak berani menyebutnya di sini. Saya dan Mas Antyo Rentjoko sama takutnya terhadapnya….. Hahahahaaaa…..

Saya berbahagia telah diusili guru saya. Semoga, kelak bakal tiba giliran Anda…. Doakan beliau tak kehabisan rejeki untuk dibagi-bagi. Desain-desain eksklufinya ada di sini

10 thoughts on “Jangan Mau Kaos Usil

  1. Sae sanget, Pakde 😀
    Saya saja suka lihatnya, desain yang kreatif. Meski tak kenal secara langsung sama beliau, melihat “peternekkan” blog Paman Tyo menggambarkan daya imajinasi dan kreatifitas yang luar biasa he.he..

Leave a Reply