Gedung Kesenian Solo

Saya merasa terganggu dengan twit seperti terpampang di postingan ini. Mau disebut membela Pak Jokowi atau apa, terserah saja. Saya tak peduli soal begituan. Concern saya hanya pada potensi fitnah, atau setidaknya bisa mendiskreditkan Pak Jokowi, yang selama ini dikenal memiliki kepedulian pada pengembangan budaya dan pemberdayaan warga melalui sejumlah kebijakannya selama menjabat Walikota Surakarta.

Makna kalimat ini yang saya kuatirkan berdampak negatif karena menyangkut nama baik seseorang...

Kalau merunut twit dan retweet, saya kok menduga Swastika hanya melemparkan wacana untuk mencari bukti konsistensi seorang Jokowi. Saya yakin tak ada tendensi negatif pada diri Swastika. Masih dengan modal dugaan, mungkin Swastika mendapat informasi sepihak dari teman-teman yang selama ini memanfaatkan bangunan mangkrak yang kini dinamai Gedung Kesenian Solo, bahwa di tempat tersebut akan dibangun mall, atau setidaknya berubah peruntukan.

Kata ‘kesenian’ memang seksi, apalagi jika dilekatkan dengan kata ‘gedung’ dan sebagainya. Sebagai manusia setengah seniman, yang separuh lebih dari usia saya, banyak bersinggungan dengan seni, seniman dan pusat kesenian, maka saya ingin memberi gambaran sekadarnya, sepanjang yang saya ketahui.

Gedung kesenian di Solo, dalam arti tempat dilangsungkannya beragam aktivitas kesenian, yang saya kenal adalah Taman Budaya Jawa Tengah atau dikenal dengan Taman Budaya Surakarta (TBS). Sebelum era otonomi daerah, TBS berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan alias pemerintah pusat. Hampir semua provinsi memiliki taman budaya. Kebetulan, untuk Jawa Tengah terletak di Solo.

Sebelum terpusat di Kentingan, dulu ‘markas’ seniman berada di Kamandungan, kompleks Kraton Surakarta dan kampus Mesen, dengan nama Pusat Kesenian Jawa Tengah. Baru pada awal 1980an (kalau tak salah) PKJT dipecah menjadi dua, yang bergerak di pendidikan kesenian bernama Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) lantas berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Untuk ‘showroom’ produk seni, ya di TBS itu.

Selain itu, ada Taman Balekambang yang pernah jadi markas Srimulat dan grup kesenian ketoprak. Kini, setelah penataan kawasan, gedung ketoprak dipindah dan dibuatkan bangunan baru yang dikelola Dinas Pariwisata Kota Solo, dengan penampilan rutin grup Kelompok Ketoprak Seniman Muda Surakarta.

Di kawasan Sriwedari, ada gedung Wayang Orang Sriwedari yang masih beroperasi hingga kini. Sekadar mengingatkan, Sriwedari dulu dikenal sebagai Kebon Raja, yakni taman milik Kraton Surakarta. Dulu, kebun binatang juga di situ sebelum dipindah di Jurug, pinggir Bengawan Solo.

Di kompleks Sriwedari ada Museum Radya Pustaka yang beberapa tahun silam ketahuan kehilangan banyak asetnya. Ada juga THR alias Taman Hiburan Rakyat. Orang luar sering rancu, menyebut Taman Sriwedari sebagai Taman Budaya Surakarta. Padahal, jelas beda. Sriwedari, tentu saja masuk kawasan cagar budaya karena peran sejarahnya. Di THR, kini rutin untuk pentas musik dangdut, lagu-lagu Koes Plus dan tembang kenangan, selain ada aneka permainan anak-anak seperti bom-bom car dan sejenisnya.

Ini lho, bekas gedung bioskop, yang diberi label Gedung Kesenian Solo itu...

Di antara Museum Radyapustaka dan THR ada gedung pertemuan bernama Graha Wisata Niaga. Dan tepat di belakang gedung pertemuan itulah, dulu terdapat Solo Theatre, yakni gedung film yang masuk jaringan Cineplex 21-nya Sudwikatmono. Kalau tak salah ingat, dulu manajemen usaha bioskop itu dimiliki keluarga SJS, Solo Jasa Sarana, sebuah biro iklan di Solo.

Sejak awal 2000an, gedung Solo Theatre mangkrak karena usaha bioskop tak sekinclong dulu. Soal kepemilikan tanah, saya kurang tahu persisnya. Yang pasti, beberapa  tahun silam disengketakan para ahli waris (kerabat Kraton Surakarta) dengan Pemerintah Kota Surakarta. Bisa jadi, manajemen bioskop hanya menyewa atau memiliki hak guna saja.

Karena mangkrak itulah, tempat itu pernah digunakan untuk aneka kegiatan, termasuk sebuah komunitas (pembuat dan apresian) film MataKaca membersihkan dan memanfaatkan tempat itu sepengetahuan Kepala Dinas Pariwisata setempat. Beberapa kali digunakan untuk pemutaaran film alternatif, juga beberapa kegiatan seni lainnya. Yang pasti, tidak ada kegiatan seni rutin atau periodik. Jangan membayangkan ada ruang pertunjukan teater, musik dan sebagainya dengan fasilitas tata cahaya dan tata suara memadai layaknya gedung-gedung kesenian seperti yang diketahui umum.

Saya mengenal Yayok, pekerja iklan berlatar belakang senirupa. Ia termasuk salah satu fasilitator kegiatan anak-anak muda Solo yang sering menggunakan dan berkumpul di sana. Nama Gedung Kesenian Solo, kok saya yakini diberikan oleh teman-teman yang suka kumpul di sana, dan kini sedang berjuang menjadikan tempat itu sebagai gedung kesenian (maaf) beneran.

Asal tahu saja, tempat semacam itu memang langka di Solo. Berbeda dengan Yogya atau Bandung dan Jakarta yang memiliki ruang-ruang publik untuk mengekspresikan citarasa seni dan sebagainya, di Solo nyaris tak ada. Seniman tengah dan arus utama banyak berekspresi di Taman Budaya, ISI dan beberapa tempat lain, sementara yang di Sriwedari masuk kategori ‘pinggiran’.

Bukan melecehkan, ‘pinggiran’ yang saya maksud di sini adalah teman-teman yang sedang berjuang akan hadirnya ruang-ruang publik, tempat di mana segala macam ekspresi kesenian bisa dikomunikasikan kepada publik. Seperti kita tahu, awam masih merasa ‘berjarak’ untuk nonton pertunjukan atau karya seni di pusat-pusat kesenian yang sudah mapan. Sehingga, apa yang dirintis teman-teman di Sriwedari, untuk menghadirkan ‘gedung kesenian’ di tengah publik awam, sehingga semua melek kesenian.

Perlu Anda ketahui juga, di sekitar ‘Gedung Kesenian Solo’ ini, setiap hari Minggu atau libur selalu penuh sesak manusia dan mobil-mobil tertata rapi, karena di situlah seni hidup sesungguhnya sedang dipertontonkan dan melibatkan banyak orang. Ya, di situlah pusat bursa aneka mobil bekas!

Soal kenapa saya harus memberi penjelasan sepanjang ini, jujur saya kuatir twit Swastika dan retweet teman-teman lain bisa berakibat fatal, seolah seorang Jokowi tidak paham budaya, tidak peduli kesenian dan sejenisnya, dus tak ngerti komunikasi.

Hingga dua tahun awal pemerintahannya, Pak Jokowi melakukan survei potensi seni-budaya hingga tercatat 400-an kelompok dan sanggar tari, musik, teater dan senirupa. Ia lantas menyimpulkan kuatnya Solo pada seni pertunjukan (performing arts) dibanding Yogyakarta yang kuat di senirupa dan industri kreatif lainnya.

Jelek-jelek, saya juga pernah menginsiasi obrolan serius untuk merancang aneka festival seni pertunjukan di Solo. Saya menjadi pihak pengundang, dengan menghadirkan Mas Goenawan Mohamad, Mbak Sari Madjid, Kang Sitok Srengenge, sastrawan Triyanto Triwikromo, dan almarhum komponis I Wayan Sadra. Malam dan siang hari kami diskusi intensif di rumah dinas walikota, dan Pak Jokowi membawa bukut notes kecil, menyimak, tanka sedetik pun meninggalkan forum.

Saya pula yang pernah mengantar Pak Jokowi main ke Salihara hingga beliau ingin membangun pusat kesenian terpadu. Pada masa itu, beliau mewacanakan perlunya Solo memiliki opera house seperti di Sydney atau Esplanade, Singapura, sehingga ditentang ramai-ramai oleh seniman karena dianggap ambisius. Padahal, semua baru wacana, karena komitmen Pak Jokowi pada seni budaya (dan senimannya), selain sebagai prestise kota untuk menjadi daya tarik wisata budaya.

Kembali soal bekas gedung film itu mau jadi mal atau apa, saya kira bukan urusan saya menyoalnya. Sepanjang tak merusak kawasan cagar budaya atau menyalahi peruntukan, ya boleh-boleh saja. Namun kalau dengan yang dikembangkan adalah isu mal untuk menggusur eksistensi gedung kesenian, saya kira itu sudah berlebihan. Kita hatrus proporsional dalam menilai dan menyikapi sesuatu, apalagi jika hany sebatas rumor.

Sekian saja, semoga teman-teman paham apa yang terjadi sesungguhnya, syukur bisa memberi gambaran gedung kesenian yang ideal itu seperti apa…

15 thoughts on “Gedung Kesenian Solo

  1. arif purnama

    kalo soal begitu biar aja mas mereka berkata kata toh nantinya bakalan ada realita yang menjawab semuanya. yang jelas masyarakat solo pasti menolak wacana adanya alih fungsi GKS menjadi mall.
    wah mas poer blontank gmana tehnya ??? hahaha

  2. yayok aryoseno

    « Yeah, Free Trade….
    GKS

    May 21, 2011 by toha a dog

    Pertama-tama, aku gak akan ngasih gambaran seperti apa gedung kesenian yang ideal (untuk apa? Dan apa gunanya?).

    Tapi sejujurnya, penamaan Gedung Kesenian Solo (GKS) untuk sebuah tempat yang mangkrak itu adalah sesuatu yang asik, It’s a fucking great joke !!! Gedung mangkrak ala kadarnya, yang terjepit di antara bursa mobil bekas yang riuh, dengan dana mandiri yang empot-empotan tapi berhasil melakukan banyak acara dan didatangi banyak anak muda.

    Penamaan itu (GKS) aku bayangkan adalah sebagai sebuah olok-olok atau tantangan untuk sebuah sistem kesenian mapan yang semakin lama semakin memuakkan dan bikin mules (ini seperti kesengajaan Warhol yang menamakan studionya sebagai Factory (pabrik), atau beberapa seniman muda yang menamakan ruang kerjanya sebagai museum). Selain itu, penamaan GKS juga bisa dianggap sebagi tantangan dan olok-olok bagi politik dan perspektif kebudayaan yang gigantis.

    Di GKS, setiap orang atau komunitas bisa menyelenggarakan kegiatan tanpa membayar. Tinggal saling menyesuaikan jadwal dan koordinasi. Tak ada administrasi yang ruwet. Hari ini telpon, dan kalu gak ada benturan acara, besok bisa langsung pake.

    Jadi kalau perbincangan ini hanya berdasarkan tentang bayangan mengenai Gedung Kesenian (yang agung dan ideal, ehem..) maka ini jelas salah sasaran. Kelak, bahkan ketika kami hanya menyelenggarakan acara di pinggir jalan atau berpindah-pindah menumpang di tempat orang lain, maka kami pun akan tetap menamakan seluruh acara itu sebagai acara Gedung Kesenian Solo, demikian kata Joko Narimo, programer GKS, kepadaku pada suatu waktu. Asik bukan?

    Jadi dengan keadaan dan kesadaran itu, tentu saja GKS tak seperti gedung kesenian yang umum dibayangkan, yang punya lighting mahal, sound bagus, peralatan canggih dll (dan oleh karena itu jelas tak seperti TBS, atau Salihara, atau opera house di Sydney atau Singapura,…maap bapak-bapak dan ibu-ibu). Meski demikian, setahuku GKS tetap punya program rutin. Pemutaran film dan diskusi rutin. Pameran rutin. Pengajian rutin yang dilakukan masyarakat sekitar. Acara musik rutin. Dan sebagainya. Dan setahuku, ia telah berhasil menarik banyak komunitas anak muda untuk berdatangan dan terlibat (ini memang tujuan utama mereka, dan memiliki lighting bagus dan apalagi mesin cuci adalah tujuan yang entah ke berapa). Bagiku, pada banyak titik, GKS telah cukup berhasil hadir sebagai ruang alternatif dan sekaligus ruang publik bagi sebagian anak muda Solo.

    Dan kini, setelah beberapa saat berlalu, GKS telah siap berkemas. Tanah dan bangunan itu memang bukan milik mereka. Tanah itu milik negara (aku gak tahu pasti, tapi konon masih bersengketa dengan pihak tertentu yang juga merasa memiliki lahan tersebut).

    Ah.. biarlah. Tapi jujur saja saya tak akan lega ngomong seperti itu. Saya sebenarnya tak tahu akan di bangun menjadi apa tempat itu kelak. Beberapa orang bilang mall, hotel, dan beberapa yang lain bilang sebagai tempat pertunjukan yang besar nan megah atau sesuatu yang seperti itu. Rencana untuk akan jadi apa tempat itu memang masih sayup-sayup (tapi apapun itu menarik untuk kita maknai sebagai sesuatu).

    Dan lalu, sebagai orang yang tinggal di kota ini, tentu saja saya tak akan dengan gampang ngomong “saya kira bukan urusan saya” ketika ada wacana bahwa tempat itu akan dibangun mall atau tempat-tempat sejenis. Namun demikian, pada kesempatan ini saya juga tak akan menambahkan satu lagi kalimat klise yang bermaksud membela ruang publik dari terkaman ruang modal. Kalimat–kalimat itu telah terlalu banyak. Bejibun. Seluruh orang telah lelah meneriakkannya.
    Tapi jujur saja, memang ada sebuah alasan kenapa ruang hidup di Indonesia terasa semakin gerah.

    —-

    Toha a dog

    Kang, kayaknya sampeyan terlalu bersemangat. atau aku yang keliru merangkai kalimat sehingga tak bisa dipahami? silakan saja mau dinilai seperti apa. toh, aku setuju dengan model-model perlawanan kultural, namun tidak mutlak-mutlakan. justru dalam konteks upaya mendobrak hegemoni itulah saya salut dengan teman-teman di GKS… begitu lho, Kang Yayok.
    /blt/

  3. tapi ini adalah benturan yang dinamis antara individu dan masyarakat, konten sosial selalu tetap sekunder pada nasib individu, estetika “asimilasi” di mana dinamika sosial dan membuatnya kisah individu yang mewakili kebudayaan. selalu faktor manusia, nasib pribadi, sosial dan pribadi (sering diabaikan saat bekerja) tapi sangat penting.

    jempol dua! aku suka dengan komentar sampeyan…
    /blt/

  4. Yang pasti, tidak ada kegiatan seni rutin atau periodik. Jangan membayangkan ada ruang pertunjukan teater, musik dan sebagainya dengan fasilitas tata cahaya dan tata suara memadai layaknya gedung-gedung kesenian seperti yang diketahui umum.

    monggo pak blontankpoer, katuran pinarak wonten http://gedungkeseniansolo.org/
    Dalam setahun perjalanan Gedung Kesenian Solo (GKS), sudah ada 60an acara yang berlangsung; pameran seni rupa dan desain, fotografi, pemutaran film, pentas musik bahkan setiap sebulan sekali setiap hari Sabtu juga ada acara pengajian yang diikuti warga sekitar yang semakin lama jamaahnya semakin banyak…
    Yang pasti, kalau sudah ada sekitar 60an acara yang berlangsung dalam kurun satu tahun ini, masak sih bisa dikatakan tidak ada kegiatan seni rutin atau periodik di GKS ?

    siap. pan-kapan saya dolan… salam buat Kang Joko, ya… beliau ditunggu di Bengawan juga. kongkow-kongkow bareng, ramaikan Solo dengan aktivitas warga…
    /blt/

  5. 190511

    – Biarkan pemilik tanah dan gedung tersebut saja yang memfungsikannya
    – Kalau mau jadi Mall atau apapun, ya biarkan saja, toh itu hak milik mereka (pihak yang belum jelas)
    – Cukup ahli waris dan Pemkot saja yang bersengketa, tidak perlu ditambah lagi.
    – SEMOGA, event-event kesenian dan pelaku-pelaku kesenian yang pernah ada dan tumbuh di GEDUNG tersebut tidak luput dari perhatian pak Jokowi.
    – SEMOGA, event-event kesenian dan pelaku-pelaku kesenian di Solo mendapat dukungan lebih oleh pemkot Solo.
    – SEMOGA, akan ada galeri-galeri, gedung pertunjukan, art space, atau wadah kesenian yang lebih SEHAT.
    – SEMOGA, Taman Budaya dan para PENGURUSnya bisa lebih terbuka

    Kalau SEMOGA-SEMOGA tadi tidak terwujud, ya sudah, tidak perlu diapa2in, mari berkarya dengan segala kemungkinan

    sepakat sepenuhnya. kerap muncul ‘rezim’ kesenian dan raja-raja kecil di ranah kebudayaan. semua memang hanya pantas dilawan dengan produk yang dihasilkan individu-individu seniman, bersama publik di sekitarnya. seni tak bermakna jika tak bisa dinikmati orang di sekelilingnya.
    /blt/

  6. sahabatku mas blontank poer,aku jadi kawatir dengan tulisanmu yang ini akan bikin “fitnah” yg baru.
    karena seingat aku dan teman2 pendiri Gedung Kesenian Solo (GKS) belum pernah sekalipun anda berkunjung dan ikut sekedar melihat kegiatan kami, kalo datang saja blum pernah mengapa bisa menulis ttg GKS panjang lebar begini??
    saranku mas,kunjungilah dahulu seni pinggiran itu dan jangan berhalakan jokowi berlebihan ternyata masih banyakl kok kebijakannya ttg “kesenian” yang terlupa…
    salam..

    suwun Kang atas masukannya. semoga bisa aku tak membuat keruh suasana. rasanya cukup jelas, aku tak memojokkan teman-teman. Solo butuh banyak ruang berekspresi bagi publik. tentu, jika bekas gedung film itu bisa bermanfaat menjadi ruang bagi bertemunya siapa saja, pasti lebih bagus.

    aku bukan memberhalakan Pak Jokowi, lho… tapi definisi ‘gedung kesenian’ yang sudah menjadi pemahaman umum kan seperti di TBS, ISI, Societet, TIM dan sebagainya itu. seniman juga tidak mengenal kelas… walau aku belum pernah bersama teman-teman Sriwedari menyaksikan aktivitasnya secara utuh, aku juga punya kabar mengenai aktivitas dan dinamika perjalanan kreatif teman-teman di situ, kok. semoga aku tak memfitnah siapa-siapa.

    aku sadar dan bertanggung jawab atas seluruh isi tulisan yang kubuat di sini. jadi, justru aku berterima kasih memperoleh masukan saka sampeyan. sejujurnya, aku salut lho dengan konsistensimu ‘merawat’ bakat-bakat yang tak terakomodasi di gedung-gedung kesenian ‘mapan’. tak banyak orang yang intens dan telaten seperti sampeyan.

    suwun tanggapannya.

    salam,
    /blt/

  7. yayok aryoseno

    sahabatku blontankpoer,aku malah kawatir dgn tulisanmu ini menimbulkan “fitnah” yg baru, karena saya baca2 berulang aku semakin paham bahwa mas blontank blum pernah ke gedung kesenian solo(GKS) kalo datang dan melihat kegiatannya saja blum pernah mengapa bisa bicara panjang lebar begini???
    saranku,mas kunjungilah kesenian pinggiran itu. dan pahamilah sebuah pergerakan yg terlupa oleh seorang jokowi….salam…

  8. Ijin Ikut nimbrung 🙂

    Rencana perobohan solo theater (yang sekarang jadi Gedung Kesenian Solo) di sriwedari sebenarnya sudah akan dilakukan tahun lalu. tapi karena kawan2 yang ada di GKS mencoba mempertahankan ruang tersebut untuk kegiatan kesenian dan pemberdayaan komunitas seni berbasis anak muda akhirnya pada saat itu bangunan tidak jadi dirobohkan.

    Rencana perobohan GKS kembali bergulir pada tanggal 6 Mei 2011 saat diskusi “Ruang Berkesenian di Solo” pada acara Festival Film Solo 2011. Pada saat itu Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Purnomo Subagyo sebagai narasumber menyatakan bahwa tahun 2011 GKS positif harus sudah di robohkan, dan tidak ada pernyataan yang mengatakan akan dibangun mall.

    Ada banyak reaksi dari kawan2 saat itu, ditengah2 acara festival selama 4 hari banyak orang yang berasumsi tentang rencana alih fungsi GKS setelah digusur, termasuk mereka yang datang dari luar Solo. menurut KABAR-KABUR yang saya dengar memang kawasan sriwedari akan dijadikan sebagai taman kota seperti balekambang, itupun kalau kasus sengketa tanah dimenangkan Pemkot.

    Sebagai salah satu pengelola GKS, saya pribadi legowo jikalau memang akan digusur, setidaknya selama setahun saya dan kawan2 muda sudah berbuat sesuatu untuk kota Solo, bikin program yang dikelola secara mandiri tanpa ketergantungan sama pemerintah. GKS akan tetap berjalan meski akan mengalami banyak kendala. Mendengar kabar akan digusur, saat ini sudah melakukan pemetaan kembali, kira2 tempat mana yang dapat difungsikan untuk kegiatan kesenian secara gratis dan dapat diakses oleh siapapun.

    Nuwun

    Joko Narimo
    http://www.gedungkeseniansolo.org

    salut, Kang. mau dilihat dengan menggunakan kacamata apapun, yang sapeyan lakukan bersama teman-teman sudah turut mewarnai dan memberi kontribusi bagi Solo. Festival Film Solo kemarin, misalnya, cukup menunjukkan geliat aktivis-aktivis muda yang selama ini ‘diremehkan’ dan termarginalkan.

    soal perobohan gedung, aku tak paham duduk soalnya. yang kudengar, seluruh area Sriwedari masih berstatus sengketa. apapun hasilnya, rasanya tak bijak jika mengabaikan talenta-talenta yang luar biasa begitu saja. aku yakin bakal ada solusi terbaik untuk teman-teman. sebagai warga kota, tak ada salahnya berjuang, menuntut perlakuan manusiawi dan sepadan karena teman-teman sudah memberi kontribusi besar untuk pengembangan dan dinamika budaya Surakarta.
    /blt/

  9. wah, alus tenan tulisane kang !
    sip, naratif yang informatif, membuka penafsiran-penafsiran baru, tetap kelihatan keberpihakannya, tanpa menyakiti yang lain.

    Salam dari Yogya !
    ATMO


    Kang Frater, kami rindu dirimu, lho. Kapan dolan Solo maneh?
    /blt/

  10. twitter memang tempatnya fitnah memfitnah..
    pak jokowi jalan terus saja..
    orang yg tukang nuduh, nyinyir, fitnah..biasanya bisanya memang cuma ngomong..
    biarkanlah..bisanya cuma begitu masak kita larang.. kita kasihani saja mas hehehehe…

    gak, kok. saya yakin itu bukan dalam konteks melakukan fitnah. saya hanya mencoba menjelaskan duduk perkara, sebab twit seperti tertera di atas, dibikin bermaksud mempertanyakan kebenaran informasi yang dimiliki, semacam isu bahwa akan dibangun mal di ‘gedung kesenian itu’.

    yang membuat saya khawatir adalah kata Gedung Kesenian Solo yang memungkinkan dipahami pembaca sebagaimana konstruksi umum tentang sebuah gedung kesenian. jadi, hanya sebatas itu saja saya menjelaskan lewta postingan ini, lantaran tak ada twit lanjutan yang berisi klarifikasi atas minimnya informasi.

    /blt/

  11. saya yang bukan seniman, tp pernah mampir ke sana, kurang merasakan asiknya ruang publik itu.

    barangkali karena terlalu steril. cuma ruang/gedung berkesenian saja. lebih menarik kalau fungsi2 ruang publik juga dihadirkan. jadi tempat nongkrong juga. sehingga warga dan wisatawan juga bisa ikut melebur di sana, tidak hanya pada saat2 ada pagelaran kesenian. makin banyak aktivitas warga (tetap mempertimbangkan tata guna lahan), mungkin akan makin mendekatkan seni budaya pada masyarakat umum.

    sekeliling gedung yang tertutup itu, mungkin masih bisa difungsikan menjadi semacam warung seni. t4 makan minum santai. workshop seni budaya (lukis, tari, matung, sketsa, mbuat topeng, dll).

    betul, Kang Yu Sing. sepertinya Solo butuh ruang publik lebih banyak lagi…
    /blt/

  12. sayang tulisanmu belum menjawab, apakah benar gedung itu akan diratakan lalu dibangun mall, mas. yg kudengar dari ricas tadi, justru ahli waris Sriwedari yg ingin menjual tanah mereka yang kemudian dijadikan mall. justru yang saya dengar, pak jokowi hendak mempertahankan sriwedari sbg kawasan publik. jadi kalaupun gedung yang sekarang jadi GKS itu akan dijadikan mall, saya kira itu bukan karena kebijakan Jokowi, tapi mungkin keinginan ahli waris. entah benar atau tidak, masih perlu diluruskan 🙂

    yup. yang kudengar, memang yang berinisiatif menjual dan mungkin dijadikan mal, kabarnya pihak ahli waris yang hingga kini statusnya masih sengketa dengan Pemerintah Kota Solo dan belum ada keputusan hukum tetap.

    intinya, twit tadi bisa mengesankan seolah-olah Pak Jokowi atau pemerintah setempat yang ‘membiarkan’ tempat itu menjadi mal. begitu, Ris… suwun

    /blt/

Leave a Reply