Welcome to ASEAN Blogger

Hari ini, saya menghadiri undangan pengurus Pondok Pesantren Al Muayyad, Solo, menyambut kunjungan Duta Besar Amerika Scot Alan Marciel. Walau terlambat, saya tetap datang mewakili Komunitas Blogger Bengawan karena kunjungan itu menarik dan memiliki arti penting bagi sebuah kerjasama antarbangsa, juga mengenai upaya peningkatan saling pengertian mengenai pendidikan Islam.

Pengamanan kunjungan diplomatik Dubes Amerika Scot Marciel di Ponpes Al Muayyad Solo

Islam menjadi kata kunci dalam kunjungan itu. Amerika yang diidentikkan dengan ‘negeri Kristen’ sering dianggap sedang memusuhi ‘dunia Islam’ terkait dengan tata keseimbangan global yang baru pasca perang dingin, yang hanya mengenal blok barat yang dianggap sebagai representasi demokrasi dan blok timur yang sosialis-komunis.

Sebagian komunitas Islam dunia pun memusuhi Amerika, apalagi bagi mereka yang bersimpati atau bahkan mendukung perlawanan Osama bin Ladin terhadap barat. Pada sisi lain, sebagian dari bangsa dan Pemerintah Amerika pun belum tuntas memahami dinamika masyarakat Islam. Pada situasi semacam itulah lantas dibutuhkan dialog, saling sapa, agar sama-sama mengerti dunia yang berbeda.

Satu hal menarik selain pernyataan Dubes Marciel bahwa pihaknya bukan memusuhi Islam, adalah cara rombongan orang-orang penting Amerika itu menjalankan sebuah etika depilomatik. Dubes dan seluruh stafnya mengenakan baju batik, bukan jas. Pasukan pengamanan yang dibawanya pun berpakaian batik dan kostum sipil lainnya. Tidak tampak garang, tidak menunjukkan ketegangan.

Sebaliknya, justru aparat keamanan dari Polda Jateng yang tampak berlebihan, walau sebenarnya bisa disebut wajar. Duta besar dan korps diplomatik adalah representasi negara yang menugaskannya. Keselamatannya harus dijaga, sehingga dengan demikian bisa menimbulkan dampak berlebihan.

Ketika aparat Polda hendak membawa anjing pelacak ke dalam kompleks pondok pesantren untuk misi pengamanan, petugas Kedutaan Amerika yang justru melarangnya. Padahal, pengelola pondok sudah mengijinkan, asal anjing pelacak tidak mendekati masjid. Ini menarik karena menunjukkan betapa mereka yang sering ‘dikafirkan’ oleh sebagian umat muslim, pun mengerti bahwa anjing merupakan binatang yang air liurnya diharamkan dalam hukum Islam.

***

Dua hari sebelum menghadiri kunjungan Dubes Amerika ke pondok pesantren di Solo itu, saya diundang Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Kementrian Luar Negeri Indonesia, untuk turut serta dalam deklarasi Blogger ASEAN di Jakarta. Bersama sejumlah individu blogger yang berasal dari sejumlah komunitas di Jabodetabek, hadir pula Cak Gempur, blogger senior dari Surabaya, yang merupakan anggota komunitas blogger Tugu Pahlawan, Surabaya.

Dirjen Kerjasama ASEAN Kemlu RI, Djauhari Oratmangun sedang menceritakan perlunya menggunakan jejaring sosial untuk membangun saling pengertian antarbangsa, khususnya kawasan ASEAN

Ada wacana menarik di forum deklarasi yang dilanjutkan dengan bincang-bincang mengenai perlu (tidaknya) blogger berhimpun dalam komunitas yang lebih besar, dalam ruang lingkup ASEAN, misalnya. Ada juga pertanyaan, apakah komunitas itu kelak harus menjadi kepanjangan tangan Kementerian Luar Negeri alias komunitas blogger pelat merah.

Bagi saya, berkomunitas seperti dalam ASEAN Blogger Community pun bakal memberi manfaat. Mungkin kita bisa menjadi penutur yang baik akan kekayaan budaya, wisata dan potensi industri kreatif dari sekitar kita, karena informasi semacam itu pun dibutuhkan warga dari bangsa-bangsa tetangga. Melalui postingan, entah berupa tulisan maupun gabungan dengan foto, media audio atau audiovisual, mungkin kita bisa mendatangkan wisatawan asing ke Indonesia, perdagangan antarbangsa, dan sebagainya.

Penandatanganan naskah deklarasi ASEAN Blogger Community chapter Indonesia

Pada sisi lain, blogger juga bisa melakukan kerja-kerja advokasi bagi sekitarnya melalui postingan serupa, bilamana negara, dalam hal ini para diplomat di Kementrian Luar Negeri, kurang maksimal atau bahkan abai terhadap berbagai persoalan bersama, apalagi terkait dengan warga negara kita yang berada di luar negeri.

Jika saya bersedia menjadi deklarator Blogger ASEAN chapter Indonesia, semata-mata karena alasan ideal, bahwa sebagai blogger pun saya bisa memberi kontribusi terhadap perbaikan negeri ini. Menceritakan korupsi aparatur birokrasi atau hamba hukum sekalipun, saya yakini mampu membuat jera pelakunya, walau tidak seketika.

Siapapun yang ingin berhimpun dalam ASEAN Blogger Community,  saya harap berangkat dari kesadaran dan niat tulus untuk menyumbang gagasan bagi perbaikan negeri dan kesetaraan berbangsa.

Kalangan Islam di Indonesia, misalnya, bisa bercerita tentang anatomi Islam yang sesungguhnya, sehingga bermanfaat bagi sebagian umat Islam di Pattani, Thailand Selatan atau warga Mindanau di Filipina Selatan yang masing-masing merasa masih bermasalah, kurang diperlakukan secara adil oleh pemerintah pusat di Bangkok dan Manila.

Pemerataan kesejahteraan ekonomi dan politik, penghormatan terhadap kultur lokal  dan hak-hak dasar warga negara lainnya, bisa menjadi solusi bagi upaya menurunkan kadar radikalisme di Pattani maupun Mindanau. Mirip dengan gejala radikalisasi sebagian warga Aceh atau Papua, yang merasa kurang diperlakukan adil oleh Jakarta.

Blogger bisa turut mengabarkan bentuk-bentuk ketimpangan, atau menyuarakan isi hati warga bangsa yang masih merasa ditindas oleh negara, seperti mewujud pada kurangnya kesejahteraan mereka, padahal wilayahnya sangat kaya sumberdaya, baik yang hayati maupun yang terkandung di dalam perut bumi.

Blogger adalah pewarta warga. Yang semestinya tak bisa diam saja jika melihat kekurangan di sekitarnya. Sebaliknya, banyak hal-hal baik, capaian-capaian bagus dari sebuah kinerja pemerintahan, atau inisiatif warga negara, yang perlu dijembatani sehingga kian banyak orang yang bisa mengetahui dan memetik manfaat dari sana.

Sungguh, saya tak kuatir terkooptasi dengan keterlibatan saya dalam ASEAN Blogger Community yang baru saja dideklarasikan. Saya masih dan akan tetap otonom terhadap diri saya, begitu juga dengan kemampuan nalar yang saya miliki. Saya kelewat mencintai negeri ini, betapapun masih banyak keburukan yang ditunjukkan oleh para legislator dan aparat pemerintah, yang keberlangsungan hidupnya ditopang oleh pajak rakyat dan kekayaan alam Indonesia.

Jika menyimpang dari misi awal sebagai jembatan warga negara Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri serta upaya menciptaan tata regional baru yang setara dan bermartabat, seketika itu juga saya akan memutuskan keluar dari komunitas dan mencabut status saya sebagai deklarator.

Mubarika Damayanti dari IdBlogNetwork sedang menandatangani naskah Deklarasi Blogger ASEAN

Saya yakin terhadap niat baik Mas Aris Heru Utomo dan Pak Hazairin Pohan sebagai dua inisiator lahirnya ASEAN Blogger Community. Keduanya juga blogger, yang rajin update blog masing-masing di tengah kesibukan menjalani rutinitas kerja-kerja diplomatik. Soal komunitas ini mau dibawa ke mana, saya yakin sangat butuh masukan dan keterlibatan lebih banyak blogger, baik secara individual maupun institusional yang mewakili komunitas blogger.

Sebagai komunitas, tentu dibutuhkan syarat penting berupa kelenturan dan kemerdekaan untuk mengawal keberhasilan dan eksistensinya. Semoga IdBlogNetwork sebagai organizer peristiwa deklarasi  dan mitra utama Kementerian Luar Negeri, bisa menerjemahkan misi suci ini. Saya masih menangkap ketulusan Mbak Rika, Mas Kukuh TW dan kawan-kawan IdBlogNetwork untuk turut membesarkan komunitas baru ini. Karena itu, saya berharap kedua lembaga ini bisa menjembatani banyak individu dan komunitas blogger di Indonesia, yang masih memiliki perbedaan sikap dan orientasi berhimpun dalam sebuah kerja sama secara nasional.

Selamat datang ASEAN Blogger Community

16 thoughts on “Welcome to ASEAN Blogger

  1. Baru baca.
    Lucu juga kejadian di Pondok Pesantren Al Muayyad.
    Masih belum bisa menerima, sebuah lembaga, atau komunitas yang dibentuk oleh pemerintah, bisa independen terhadap pemerintah.

  2. Salam.

    Akhirnya bisa berkomentar di blognya mas Blontank.
    Bukan karena tidak kebagian teh terus lambat main ke sini lho dab.

    Memang panjenengan pantas dieret-eret ke Jakarta, Solo dan kemana-mana, lha wong nek nggawe reportase iso komplit tur ora kakehan pretingsing.

    Salam sehati

  3. hmm .. kl komunitas sih kita lihat saja sejauh mana bs berkembang 🙂 .. krn smkn cair sbh komunitas akan smkn bertahan lama lbh lama (keknya) *mrenges* … eh tp kmrn ada blogger luar ID yang datang kah?

    waduh, saya tak tahu mana yang ID dan mana yang ‘luar ID’. saya datang karena diundang, tanpa pikiran macam-macam, selain saya suka semangatnya. kebetulan, saya sering ngobrol intensif dengan Mas Aris dan Pak Hazpohan yang orang-orang Kemlu. saya jadi anggota ID pun justru sepulang dari acara itu karena saya tertarik setelah menyimak beberapa saat. dan saya senang dengan pilihan ID pada sistem paid review-nya, sebab saya termasuk orang yang risih dengan twit berbayar.

    so, bagiku tak relevan mengklasifikasikan siapa ‘orang dalam’ dan siapa pula ‘orang luar’. kesan saya, justru kemarin tak ada blok-blokan, makanya saya nyaman-nyaman saja selamaa acara berlangsung.
    /blt/

  4. blogger bisa diibaratkan jadi warga negara, ada banyak macamnya, dan semuanya sebaiknya berkumpul atas nama blogger Indonesia, kan kita mau jadi ketua blogger ASEAN..

  5. menarik mas saya kira blogger indonesia memiliki ksempata yang luas untuk tampil mendunia. karena selama ini sepengamtan saya jarang blogger indonesia yang menginternasional. mudahan saja dengan gagasan yang disampaikan pada asean blog mampu merubah bangsa………..semngat…

  6. DV

    Nek menurutku, apapun bentuk komunitasnya, tidak akan terjadi “Crah” kalau tak ada unsur uangnya. So, selamat untuk ASEAN Blogger community dan biarkan waktu yang membuktikan 🙂

Leave a Reply