Jangan Rebut Jokowi

Perubahan drastis wajah Kota Solo sejak seorang Joko Widodo menjabat walikota membuat khalayak terpesona. Pemindahan seribuan pedagang kakilima yang populer dengan sebutan Pasar Klithikan membuat banyak orang tercengang. Apalagi prosesnya berlangsung damai, dilakukan secara manusiawi, disediakan tempat pengganti yang layak, bahkan diberi insentif modal usaha dan perijinan.

Di media sosial, beberapa teman di Semarang berujar minta tukar walikota untuk membenahi kota. Kini, di Jakarta mulai muncul keinginan serius dari individu-individu yang beraneka macam latar belakang, yang lantas sering menyebar gagasan mencalonkan Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI melalui media sosial dan Internet.

Saya bisa mengerti dan memahami keinginan tersebut. Pada kondisi kejengkelan akut seperti warga Jakarta, di mana kemacetan ada di mana-mana dan kapan saja, ancaman banjir yang tak kunjung beres meski ‘sudah di tangan ahlinya’, maka seorang Jokowi diharapkan kehadirannya. Ia diposisikan bak ratu adil, yang sanggup membebaskan penderitaan warga kota dengan tempo sesingkat-singkatnya.

Banyak faktor yang dilupakan teman-teman, seperti apa sejatinya rimba Jakarta. Di kota sekecil Solo yang perputaran duitnya ‘tak seberapa’ saja Pak Jokowi tak sanggup ‘membereskan’ aparatur birokrasinya, apalagi Jakarta, tempat di mana nyaris seluruh perputaran uang republik terkonsentrasi di sana.

Watak birokrasi yang korup dan tak efisien dipadu dengan premanisme yang telanjur mapan seperti di Jakarta, tentu bukan merupakan soal yang gampang dipecahkan. Kompromi di sana-sini, bisa-bisa malah menjerumuskannya ke balik jeruji besi. Saya yakin, sekuat dan sebersih apapun seorang Jokowi, andai masuk Jakarta, tetaplah beliau hanya menjadi sosok yang ‘culun’, yang akan sangat mudah dipermainkan mafia hukum dan mafia bisnis yang dikelola dengan meliibatkan preman jalanan yang terkesan ‘sengaja dilegalkan’.

Apa yang bisa dilakukan seorang Jokowi? Apalagi jika kita semua mau tahu dan jujur mengakui, bagaimana perilaku politisi, baik yang di DPRD maupun pengurus dan elit partai-partai, seperti ditunjukkan selama ini, yang begitu gampang menelikung eksekutif jika tak bisa diajak kompromi alias cincay.

Menurut hemat saya, yang bisa menyelamatkan Jakarta hanyalah orang kuat, pemberani dan mau menjalankan pemerintahan dengan tangan besi. Saya pesimis seorang Gubernur DKI bisa mengharap dukungan publik yang nyata ketika ia jadi bulan-bulanan preman ekonomi-politik atau lawan-lawan politiknya, betapapun bersihnya dia. Warganya telanjur individualis akibat renggangnya relasi dan solidaritas sosial akibat tekanan ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik.

Andai warganya benar-benar peduli perubahan dan kecewa dengan pemerintahan, saya yakin mereka tak segan berhimpun turun ke jalan menuntut reformasi. Siapakah yang selama ini mau mengekspresikan kekecewaan mereka? Seberapa besar ‘tingkat partisipasi’ mereka dalam menuntut perubahan? Dalam tataran paling ‘mudah’ dilakukan saja, misalnya melakukan boikot atas sebuah kebijakan yang tak berpihak kepada publlik saja tak pernah ditunjukkan, apalagi lebih dari itu…

Saya justru berharap teman-teman yang menyuarakan ‘Jokowi for DKI’ bisa mengerti, bahwa daerah pun perlu kehadiran orang seperti dia. Andaikan bersedia dicalonkan sebagai gubernur, barangkali Pak Jokowi biar di Jawa Tengah saja. Lebih mudah menata wilayah ‘Jawa’ sehingga pemerataan pembangunan merata di seluruh kabupaten/kota. Warga di semua provinsi berhak memperoleh kehidupan yang lebih baik, andai Pak Jokowi dianggap sanggup membenahi.

Toh, sejarah sudah membuktikan. Tak selamanya orang baik bisa survive di Jakarta. Orang jujur bisa ditelikung dan difitnah, dan orang rapuh mudah tergelincir jadi koruptor penuh gairah. Lihat, seperti apa perilaku politisi-politisi yang dulu dikenal baik di daerah tapi begitu cepat dan mudahnya beradaptasi dengan kebiasaan buruk hidup pragmatis, lantas hedonis.

Mungkin, saya lebih tertarik menjadi petarung dengan mengajak sebanyak mungkin teman dan kerabat untuk menghentikan atau menghambat gerakan ‘men-Jakarta-kan’ Jokowi. Masih banyak daerah miskin yang masyarakatnya tertinggal karena laju pembangunan tak jalan beriringan dengan daerah-daerah lain.

Akankah kita rela seorang Jokowi dijagal di Jakarta? Atau sebaliknya, mendukung usaha-usaha ‘kecil’-nya membenahi lingkungan sekitarnya, tempat di mana kini ia mengabdi untuk publik dan turut membangun peradaban masyarakat baru yang lebih baik, walau ‘hanya di desa’, di Jawa Tengah?

Pada kesadaran akan pernghormatan terhadap hak warga negara (walau tinggal di desa) itulah, saya berharap teman-teman di Jakarta mau mengerti.

Updated (30:04:2011 16) :

Catatan atas komentar beberapa teman:

Bahkan dicalonkan sebagai RI-1 alias Presiden sekalipun, andai terpilih, seorang Jokowi tidak akan mudah dan nyaman bekerja, ketika budaya politik masih seperti saat ini, di mana politisi dan pejabat berintegritas moral bagus dan santun masih merupakan anomali. Nyaris tak ada yang pantas dipercaya, apalagi diberi mandat.

Andai terpilih sekalipun, seorang Jokowi akan dipaksa kompromi sana-sini, karena jabatan menteri,  pejabat tinggi dan pimpinan BUMN harus ditentukan lewat mekanisme tawar-menawar yang pragmatis. Jika tidak, bisa-bisa ia tak bisa bekerja karena lawan-lawan politik yang kecewa akan menyandera dengan banyak cara, aneka perkara.

Orang sebaik apapun, kayaknya bakal rusak karena kebusukan sudah menjadi default jabatan. Belum lagi kalau menyinggung kwalitas birokrasi. Seorang teman, yang kebetulan menjabat bupati, bercerita betapa tak mudah menata dan memilih orang-orang dari kalangan birokrasi. Teman itu bahkan menyebut birokrasi sebagai ‘partai terkuat’ di republik ini, sebab hanya mereka-merekalah yang menetukan suukses-tidaknya sebuah kebijakan dieksekusi. Jika sebuah kebijakan merugikan mereka, ya bakal dilakukan sabotase secara sistemik.

Terus, apa yang bisa diharapkan dari seorang Jokowi, jika kelak sampai Jakarta ia dipecundangi bawahannyaa sendiri? Relakah Anda menyaksikannya?

42 thoughts on “Jangan Rebut Jokowi

  1. yoyok

    malem pakdhe….menurutku bener artikel panjenengan padhe, mungkin saya masih tergolong baru di jakarta (baru 6thn merantau ke jakarta dari kota tersayang solo). Dari tahun ketahun lebaran mudik ke solo,,,solo makin rapi bersih indah, bener2 semboyan BERSERI terwujud sejak pak Jokowi naik tahta walikota.
    Rasane tambah kangen sama solo dan berharap pak Jokowi tetep mimpin kota solo saja daripada mimpin jakarta.

    kota solo lebih banyak dihuni kaum damai dari pada jakarta yang lebih banyak kaum egois, anarkis, trus banyak “bajindul-bajindul” berkeliaran dikota jakarta. Bukan nya meragukan kepemimpinan pak Jokowi, tapi mengatur kaum damai dengan mengatur kaum yang seperti di JKT itu beda.

    Biarlah pak Jokowi memimpin kota solo, syukur2 jawa tengah.
    Biarlar kepemimpinan pak Jokowi menjadi panutan para pemimpin di indonesia ini.
    Janganlah ambil pak Jokowi ku dari solo,,,,MESAKE MBAH2 SENG WES TRESNO KALIYAN PAK JOKOWI.

  2. Endy

    Betul…………..apa tidak terjebak nanti seorang Joko Wi di pertarungan politik di DKI Jakarta ?………..Karakter orang-orang nya ?…….. Temperamental ?……..Mudah disulut api amarah ketidak puasan……..Orang nomer satu di DKI Jakarta ada masalah kecil atau besar selalu dikambing hitamkan …………Sering tejadi perang antar kampung………perang antar suku……….tawuran pelajar………..Warga nya terdiri bebagai macam suku……Kerukunan warga nya. kurang……….Meskipun tidak semuanya………….Di daerah Solo sendiri masih banyak PR (pekerjaan rurmah) dan program-program lainnya yang belum terselesaikan. Dantaranya rencana jaringan transportasi massal berbasis rel didalam kota Solo untuk mengurangi kendaraan pribadi yang menimbulkan kemacetan dimana-mana………Masalah banjir yang disalahkan gubernur nya……….katanya tidak becus………..sebetulnya banjir di DKI Jakarta karena adanya penurunan permukaan tanah hingga 1 meter sejak sepuluh tahun terakhir………karena beban berat hutan-hutan beton di seluruh DKI Jakarta.

  3. Menarik, posting Mas Blontankpoer ini. Saya sempat mengira Mas setuju/legowo dgn perjalanan Pak Jokowi ke panggung sebelah/nasional.
    Saya sepakat dgn pendapat Mas, dan ini pendapat yg tdk berhubungan dgn pendapat saya ttg kandidat yg pas utk DKI-1 skrg, parpol pengusung Jokowi, atau sistem Pilkada.
    Saya selalu percaya dgn jenjang tahap & jam terbang, dan sadar betul betapa sedikitnya pejabat publik yg kompeten & berintegritas. Sbg orang yg cukup mengenal & merasa memiliki Solo, saya salut dgn pencapaian Jokowi. Belum sempurna, tapi term ke-2 ini adalah kesempatan emas utk menuntaskan trajektori Solo. Langkah berikutnya yg masuk akal adalah Gub Jateng, tunjukkan kemampuan memperbaiki wilayah yg lbh berwarna drpd Solo (walau msh ada tali merahnya), dan bila sukses, akan menambah kredibilitas utk bermain di panggung sebelah yg lbh besar, bising & penuh kepentingan (mis: DKI) dan/atau nasional di masa depan. Langkah skrg ini, kalaupun Jokowi menang, terang2an pengkarbitan — bukan soal culun, tapi soal tiadanya kredibilitas yg dibangun dari jejak rekam. Bila gagal, bisa habis modal politik & reputasi yg telah terpupuk. Sayang, bukan hanya utk Solo/Jateng, tapi utk Indonesia.
    Waktu yg akan menunjukkan akhir cerita ini. Semoga warga Solo tak patah arang di hari2 mendatang.

    — Lynda, anak Jkt, putune wong Laweyan

  4. bee

    Terdengar agak pesimistis. Pak Jokowi saya pikir bukan org bodoh walaupun tampak “culun”. Saya percaya beliau sudah mempelajari “medan” dan pasti punya strategi tertentu. Menurut saya, biarkan saja, beri kesempatan beliau bertarung di Jakarta. Setidaknya kita bisa lihat nanti seberapa kapasitas seorang Jokowi. Kalau beliau mampu, bagus buat DKI. Jika beliau gagal, DKI gak akan jadi lebih buruk, dan kembalikan saja beliau ke Solo atau Jateng utk melanjutkan pengabdiannya di sana. Saya pikir itu lebih fair. 🙂

  5. Tadinya saya setuju kalo pak Jokowi maju jadi DKI 1 tapi setelah mbaca artikel ini hmmmm 🙂 bener juga kata Pakdhe. Jokowi untuk Solo lalu Jateng 1 aja dulu. 🙂

  6. Tri Hartoko

    Sebagai orang kelahiran Solo walaupun kini aku tinggal di Jakarta, saya sangat tidak setuju Pak Joko menjadi DKI1, alasan saya selama saya tinggal di Jakarta orang2 DKI1 tidak pernah publik merasa puas selalu saja ada kurangnya, kecuali Pak Ali Sadikin (hampir semua berlatar belakang ABRI). Untuk itu Pak Jokowi ga usah deh jadi DKI1 lebih baik di Solo atau orang Jateng 1

  7. Kasihan Pak JokoWi kalo jadi DKI 1, pasti banyak yang tidak suka lebih baik di solo saja, atau JATENG 1 kalo Jateng maju, daerah maju melebihi Jakarta, pasti happy 🙂

  8. Saya cah Pati.mending Jokowi maju untuk Jateng 1. Rasah ning Jakarta. Lek Jateng maju, PAD meningkat maka gak perlu lagi setiap lebaran orang ajak ajak ke Jakarta untuk golek duit lan urip. itu pemikiran sederhannya..

  9. chiko

    udah solo kyk jogja aja..jangan pemilihan tp penetapan..biar apa yg pak jokowi rencanakan dapat terealisasikan semua…..hidup jokowiii

  10. yusuf

    betul pakdhe….mending tetep di jateng…..
    pertama yg hrs dilakukan….geser Bibit Waluyo…selanjutnya sejahterakan Jateng…

    Pilkada jateng tinggal 2 tahun lagi kok…

    saya org solo yg skrg tinggal di jakarta pakdhe….walaupun saya kangen kepemimpinan Pak Jokowi di Jakarta..tapi saya nggak rela beliau “dihabisi” disini…..
    Karena disini yg dibutuhkan oleh petinggi politik bukan pemimpin yg mumpuni tapi yg bisa “cingcay”…

  11. kenu kaskuser

    JOKOWI utk pemimpin di mana saja ngga masalah!!
    Gubernur Jakarta?kalo ga dicoba mau tau hasilnya dari mana??

  12. bayu

    jokowi kan terkenal dengan ciri khas wong solonya yang halus, sopan, tegas tapi tetap merendah, mungkin dia adalah karakter pemimpin yang cocok, ya semoga saja Tuhan memberikan jalan yang tebaik buat beliau

  13. 145

    saya setuju, biar saja pak Jokowi memajukan daerah entah solo atau jateng. potensi jateng cukup bagus, tenaga kerja relatif murah, sehingga bisa bikin produk yang harganya bersaing. mudah2an bisa mengurangi kemiskinan. ayo pak Jokowi, teruskan memajukan kesejahteraan rakyat jateng.

  14. Asyik banget baca argumen Pakde.. Dan benar sih, akan lebih baik kalau Jokowi membangun di daerah. Mulai dari Jawa Tengah.
    Jakarta sudah terlalu rimba, dan saya pun gak akan tega kalau Jokowi sampai “terjebak” di dalamnya. Biarkan beliau melakukan perubahan besar di daerah. Biarkan daerah lain tumbuh besar, rapih, indah, sehingga akhirnya Pemda Jakarta malu sendiri, dan akhirnya mau nggak mau ikut berubah.

  15. ratna ariani

    Setuju untuk Jokowi, kalau sudah 2 periode lebih baik maju 2013 menjadi gubernur jateng. Hidup Jokowi! Hidup Jateng!

  16. @tjiwir,
    setiap person pasti punya kekurangan dan kelebihan.. seorang pemimpin yang default manusiawi mempunyai dua tangan, tak lantas semua aspek bisa dikerjakan, perlu proses yang lebih matang, bukan sekadar dari pemimpin saja tapi bagaimana dengan bawahannya.
    paling tidak apa yang dilakukan jokowi sekarang udah membuat kemajuan daripada pemimpin sebelumnya, kalo saya sendiri daripada mengkritik dan menggali kekurangan seseorang mendingan ikut berpartisipasi bagaimana caranya mendukung dan membangun daerah kita dengan gaya kita sendiri dan semua akan bersinergi.

    cmiiw

  17. pertanyaannya, setelah walikota solo, Pak Jokowi mau ke mana? tentu boleh kalau beliau undur diri dari politik dan jadi pengusaha lagi, tapi orang akan tetap banyak berharap beliau melanjutkan karier politiknya. entah sbg gubernur jawa tengah, atau yang lainnya. 🙂

  18. jokowi saja di Solo masih belum sesukses cerita yang beredar seantero jagad nusantara. masih banyak yang belum dapat dilakukan oleh Jokowi di Solo.

  19. DV

    Aku lebih setuju JokoWi dijadikan raja wae, Paklik 🙂
    Pripun? Raja Solo yang terlepas dari kerajaan apapun… biar beliau agak lebih lama bolehnya mengabdi pada masyarakat Solo 🙂

  20. Jokowi harus tetap di Solo. Kalo orang Jakarta mau merasakan “hasil karya” Jokowi silahkan tinggal dan berinvestasi di Solo 🙂

  21. saya kagum dengan sepak terjang bapak yang satu ini…
    dan kini saya aakui, beliau memang sosok revolusi sebenarnya…
    rakyat Indonesia, terutama menengah kebawah merindukan pemimpin seperti beliau lebih banyak…

  22. Pasca-PD 1, Jerman ambruk bak Somalia, Mark ketika gajian pekerja dibagikan bundelan dilempar-lempar dari lori.
    Yg bisa mengubah bukan ahli ekonomi atau ahli apapun, melainkan: HITLER.

Leave a Reply