Irfan dan Arifinto

Kalau tak hati-hati, rencana pemanggilan jurnalis foto Media Indonesia, Mohamad Irfan bisa jadi salah arah. Hukum dan politik Indonesia yang sudah biasa dicampur aduk, bisa-bisa menjerumuskan Irfan ke posisi sulit. Apalagi, dari awal, legislator Partai Keadilan Sejahtera Arifinto, sudah melontarkan tuduhan adanya konspirasi untuk menjatuhkan diri dan organisasinya.

Hasil foto M. Irfan yang tersebar di Internet, terutama Twitter.

Saya kuatir keinginan polisi memanggil Irfan sebagai saksi perkara Arifinto karena polisi tak mau repot dalam mencari alat bukti. Padahal, terkait jurnalisme, pemberitaan pers sudah cukup menunjukkan adanya ‘kesaksian’ seorang jurnalis, ya melalui produk-produk jurnalistiknya. Sejatinya, saya kuatir jika pemanggilan Irfan sebagai saksi justru akan membelokkan arah, misalnya, menanyakan motivasinya merekam Arifinto yang saat itu, ternyata, sedang membuka-buka gambar porno.

Di sini, saya ingin bercerita, tentang posisi seorang jurnalis foto dalam sebuah alur kerja industri pers.

Pada industri pers (cetak), jumlah fotografer jauh lebih sedikit dibanding reporter tulis. Sebuah media besar yang memiliki awak redaksi 100-an orang, paling banyak hanya memiliki sepuluh orang yang mengurusi fotografi. Yang stand by di kantor umumnya terdiri redaktur dan periset foto, dan sisanya bekerja di lapangan sebagai pencari berita foto.

Karena jumlah fotografer atau jurnalis foto tak sebanding dengan jumlah bidang/desk, maka seorang fotografer bisa bekerja rangkap bidang, dalam arti mencari berita foto untuk sejumlah bidang. Hampir mustahil menempatkan seorang fotografer pada pos atau tempat tertentu dalam jangka waktu lama. Singkatnya, Irfan yang memotret insiden ‘tablet bokep’ belum tentu ia ngepos di gedung DPR. Berjaga seharian pun, belum tentu.

Karena sedikitnya jumlah fotografer, bisa jadi ia harus setor beberapa peristiwa dari tempat/bidang berbeda dalam sehari. Jumlahnya bisa banyak, sebab nantinya akan dipilih sebagiannya oleh redaktur foto untuk dibawa dalam rapat perencanaan. Artinya, pada Jumat itu, Irfan harus menyetor berita foto Sidang Paripurna DPR, foto lepas, dan harus mengabadikan beberapa peristiwa lainnya.

Oleh karena itu, gugur sudah asumsi atau tuduhan bahwa Irfan terlibat dalam sebuah kerja konspiratif. Apalagi, sepengetahuan saya, banyak jurnalis foto itu asal jepret, mencari momen yang paling bermakna dan memiliki nilai berita. Soal data apa dan siapa untuk keterangan (caption) menjadi urusan kemudian. Naluri akan mendahului pertimbangan lain-lain. Itu pun andai sempat mikir. Makanya, kebanyakan jurnalis foto memiliki kemampuan lebih dalam membuat foto candid.

Asal tahu saja, tak mudah bagi seorang fotografer main konspirasi-konspirasian, apalagi untuk menjatuhkan nama baik seorang Arifianto. Saya yakin, Irfan bahkan tak mengenali siapa Arifianto. Ia bukan sosok legislator yang popularitasnya setara dengan Anis Matta, Fahrihamzah, Pramono Anung, Ruhut Sitompul, Roy Suryo dan sejumlah kecil nama lainnya. Kalau asal fraksinya, bisa jadi ia ketahui dari pengelompokan meja dan nomor keanggotaan di DPR.

Kabarnya, tak cuma Arifianto yang tertangkap basah kamera Irfan. Legislator yang sedang main catur lewat tablet dan legislator yang asyik buka-buka tabloid bergambar seronok pun sempat direkamnya pada peristiwa yang sama, saat sidang paripurna. Sebagai orang yang tahu jurnalistik (walau sedikit) dan bisa motret (juga ala kadarnya), saya juga akan enggan merekam peristiwa legislator tidur saat sidang, atau bangku kosong.

Dua bad news itu sudah bukan good news. Politisi adu jotos saja sudah tak menarik untuk ditampilkan karena terlalu sering dipertontonkan. Apalagi, cacai maki ala Ruhut Sitompul di forum sidang. Paling banter, cuma saya rekam lalu menyimpan untuk bahan tertawaan. Tapi ketika untuk disajikan kepada publik, pemilik hak untuk memperoleh informasi yang benar dan berimbang sekaligus berhak mengontrol mereka yang mengatasnamakan wakil rakyat, ya saya akan menampilkan keganjilan-keganjilan atau sesuatu yang menyimpang dari yang seharusnya.

Andai saya seorang Irfan pun, saya pasti akan memilih foto-foto human interest sebagai tambahan ‘foto wajib’, terkait dengan penugasan merekam peristiwa sidang paripurna. Hampir pasti, foto-foto seremonial ‘yang begitu-begitu saja’ pun pasti dimilikikan, meskipuan ‘Cuma’ adegan Ketua DPR Marzuki Alie sedang mengetukkan palu, misalnya.

Kenapa saya (andai bertindak sebagai Irfan) lebih memilih orang-orang bertablet dibanding yang menggunakan perangkat lain seperti iPhone atau BlackBerry? Sebab secara gambar, akan lebih enak dilihat. Ketika sebagian orang memilih tidur atau meninggalkan ruang sidang, dugaan saya, pasti akan ada yang asyik bermain gadget, utamanya jenis-jenis tablet yang lebih memberi banyak pilihan, baik bekerja (baca/tulis e-mail) hingga refreshing seperti bermain game, nonton live streaming, YouTube-an, atau buka-buka koleksi apa saja di foldernya.

Tablet, entah itu iPad atau Galaxi Tab dan sejenisnya, untuk ukuran masa kini masih pantas disebut sebagai paduan perangkat penunjang kerja yang penting sekaligus memiliki simbol gaya hidup. Lihat saja, Presiden Yudhoyono sering tampil dalam pidato resmi dengan menempatkan iPad mencolok di podium, walau kemudian simbol apel digigit-nya ditutup stiker burung Garuda.

Bisa jadi, Irfan tak menduga jika yang sedang dibuka-buka Arifinto ternyata mengandung unsur pornografi. Bisa jadi, bokep-bokepan itu baru ketahuan ketika ia melakukan zoom in hasil jepretannya. Sementara yang membuat peristiwa itu jadi gempar, lantaran ternyata si pembuka adalah legislator wakil partai yang mengklaim diri sebagai paling bersih dan religius.

Buktinya jelas. UU tentang Pornografi dimotori oleh kader-kader dan teman separtai Arifinto. UU ITE yang menyerempet konten porno, pun diusung oleh kementrian yang dipimpin oleh kader partai yang sama. Bumbu tambahan tentu lebih seru ketika kemudian diketahui, Arifinto merupakan tokoh penting di balik majalah Sabili yang dinilai publik sebagai majalah Islam keras.

Klop! Hasil kerja jurnalistik Irfan menemukan momentum yang pas. Partai itu sedang digoyang dari dalam, juga dari koalisi besar. Sementara sebagian publik banyak yang geram dan bahkan menyimpan bara dendam, lantaran partai itu dianggap selalu mengusung ideologi dan garis perjuangan Islam yang ‘tak ramah’ terhadap perbedaan latar belakang dan sikap keagamaan.

Karena kontroversi politiknya terlalu banyak, maka saya kuatir jika pemanggilan Irfan oleh polisi, dengan dalih apapun, justru akan menjadi preseden kurang baik. Foto yang dipublikasikan oleh media di mana Irfan bekerja, sudah cukup mewakili kesaksiannya. Saya tak bisa membayangkan, jika apapun jawaban Irfan atas pertanyaan penyidik (yang mungkin-mungkin saja muncul) mengenai motivasi Irfan memotret Arifinto justru akan melahirkan cerita baru di luar substansi persoalan sesungguhnya.
Catatan: foto diambil dari sini

8 thoughts on “Irfan dan Arifinto

  1. Ho oh kuwi mas, malah sing diributke perkara migrasi milis ke web.. Haduh… Sepertinya karena disibukkan dengan proyek-proyek monumental jadi lupa sama fungsinya yang esensial.

Leave a Reply