Baca Sebaliknya Saja

karena situasi Indonesia kini mirip jaman OrBa, maka berlakukan rumus ini: terhadap pernyataan resmi, baca sebaliknya

Spontan saja saya menuliskan kicauan di Twitter, sesaat usai menyaksikan pejabat Humas Mabes Polri membuat pernyataan resmi bahwa Briptu Norman tak jadi dikenai sanksi. Ekspresi goyang Norman mengikuti dendang tembang India sempat menuai kontroversi, termasuk ancaman sanksi. Sebagai polisi, ia dianggap tak pantas mempertontonkan gayanya saat berdinas.

Mungkin, petinggi kepolisian bingung menghadapi kritik dan cercaan publik di semua situs jejaring sosial. Ibaratnya, semua pengguna internet tahu bahwa kemarahan Jakarta lantaran ekspresi pribadi yang diunggah di YouTube. Malah, detikcom sempat melansir berita, bahwa Kapolri menyebut Norman layak jadi duta keseniannya polisi. Katanya, tak akan ada sanksi.

***

Secara pribadi, saya menduga petinggi Polri perlu bersolek diri. Menjatuhkan sanksi kepada Norman bisa berarti menggali kuburannya sendiri. Publik akan kian agresif mencerca institusi yang seharusnya menjadi sandaran bagi upaya penegakan demokrasi alias kedaulatan sipil itu, apalagi ketika kinerja polisi tak kunjung mencatatkan prestasi.

Sigapnya polisi mengungkap perkara dugaan pencurian duit nasabah premium Citibank oleh Malinda Dee, nyatanya sempat menyerempet nama seorang perwira tinggi Polri. Menyimak nilai yang ‘dicuri’ Malinda Dee (ada yang menyebut cuma Rp 17 milyar, ada pula yang menduga Rp 90 milyar), sejatinya masih masuk dalam kategori ‘kecil’. Bandingkan dengan KECILnya jumlah uang Bank Century yang dicuri, namun hingga kini tak jelas juntrungannya.

Publik dikacaukan dengan simbol-simbol kemewahan yang dipertontonkan Malinda, seperti koleksi dua mobil Ferrari, Hummer dan beberapa mobil mewah lainnya, serta kapasitas isi kutang sang pelaku. Meninggalnya seorang debitor Citibank yang disebabkan oleh tekanan debt collector yang dipekerjakan bank asing itu pun hanya dijadkan bumbu. Teka-teki siapa saja pemilik rekening yang dananya telah dibobol Malinda, tak ada yang benderang.

Majalah TEMPO yang mengutip sumber anonim menyebut ada sejumlah petinggi Polri jadi korban Malinda, pun dibantah Kapolri dengan menyebut sebagai berita tidak benar karena tak ada konfirmasi kepada yang bersangkutan. Sebuah pernyataan tergesa-gesa, menurut saya. Apalagi, dalam laporan itu (hal. 79), TEMPO sudah melengkapi dengan konfirmasi (dan sudah dijawab) oleh Irjen Anton Bachrul Alam, Kepala Divisi Humas Mabes Polri.

Jawaban bijak yang diharapkan orang seperti saya, tentu saja pernyataan bahwa Polri akan menyelidiki kebenaran informasi tersebut. Bukan sebaliknya, menyatakan tak ada polisi yang jadi korban pencurian dana nasabah oleh Malinda.

Polisi, juga politisi dan pejabat pemerintahan kini, cenderung memberi jawaban asal-asalan. Terasa benar, mereka tak memiliki sisa kepedulian terhadap nama baik institusi, bahkan harga diri. Sulit bagi saya menerima pembelaan bahwa politisi di Senayan itu bersih dan baik-baik saja, jika menyimak empati atau kepedulian mereka terhadap orang miskin sulit berobat atau bersekolah.

Ketika bencana datang beruntun dan silih berganti di berbagai penjuru negeri sehingga ribuan orang mengungsi tanpa bekal memadai, mereka menyerukan perlunya segera membangun gedung baru DPR, yang belum tentu sepekan sekali disinggahi. Sudah bukan rahasia lagi, tanda tangan kehadiran rapat atau sidang selalu penuh terisi, padahal suasana lengang di sana-sini, seperti kerap disiarkan langsung di televisi. Banyak yang bolos, banyak yang tidur.

Apa yang dipertontonkan politisi dan pejabat publik, begitu pula yang dikatakannya, tak lagi memiliki kadar layak dipercaya. Banyak teori, banyak mimpi. Sangat kontras dengan yang sesungguhnya terjadi dan dialami ratusan juta manusia di seantero negeri.

Begitulah kenapa, saya lebih suka mengajak Anda semua membaca sebaliknya saja. Kalau mereka bilang benar, berarti ada yang salah. Pokoknya, baca kebalikannya saja! Supaya kita awet muda, sebab tak pernah memakan waktu lama, kita akan segera dibuat kecewa…. Fakta, sangat kontras dengan gaya dan nada bicara mereka.

4 thoughts on “Baca Sebaliknya Saja

  1. Kabeh do plintat plintut ora cetha, jani sing beres nang Endonesia keni ki apa ta? seneng maca tulisane pakdhe iki, cerdas lan tepat sasaran, tulisane dak koleksai ya pakdhe… .

    sumangga… bikin bombong hati saya saja, sampeyan itu…
    /blt/

  2. Kalau memang briptu norman di hukum hanya gara-gara videonya itu mungkin keputusan itu sepertinya akan lebih lucu dibandingkan dgn video goyang india-nya briptu norman… 😀 *baca sebaliknya saja

Leave a Reply