Sayuti Buaya Kroncong

Kami memanggilnya Eyang. Ada pula yang menyapanya dengan Mbah, kepada lelaki berusia 70-an tahun itu. Ia masih menekuni profesi sebagai peniup flute, yang salah satu cengkoknya belum tergantikan. Tua usia, muda dalam gaya. Pada tengah malam, ia suka menirukan Tarzan versi film untuk menyapa siapa saja…. Aauu..oooowwww……………..

Eyang Yuti dan flute kesayangannya...

Bagi yang belum mengenal, bisa saja menyebutnya sebagai lelaki tua gila. Ia kerap teriak-teriak memecah keheningan malam, dari atas sepeda motor yang ditungganginya. “Aauu..oooowwww…………….. Mangga, Dhi…,” begitu ia menyapa duluan orang yang dikenalnya. Ia selalu menggunakan panggil dhi, yang berasal adhi, atau adik, orang yang lebih muda. Yang belum akrab, akan dipanggilnya dengan Nak.

Pada usianya yang sepuh, ia masih hafal 8.000 judul dari buku-buku koleksi lagu di Restoran Diamon, Solo, tempat ia bekerja kini. Ada dangdut, pop, Mandarin, kroncong, dan banyak lagi. Walau stand by setiap malam, belum tentu ia meniup Amstrong, flute kesayangannya, pemberian seorang konglomerat Malaysia, yang merupakan salah satu pengagumnya.

Eyang Yuti atau Mbah Yuti adalah pria ramah. Ia selalu berbahasa Jawa halus, kepada siapapun. Bahkan, kepada para anggota OK Swastika, yang sepekan sekali berlatih bersamanya, pun ia bersikap demikian. Tak pernah marah, suka membanyol merupakan wataknya.

Pengalaman hidup Eyang Yuti sungguh komplet.  Pernah jadi tukang urus kabel tata suara pentas, menjadi pengiring Waldjinah di awal karirnya, juga bermusik bersama almarhum Gesang. Padahal, pada masa mudanya, ia hanya jadi tukang ngintip latihan grupnya Gesang. Sejumlah maestro musisi dan penyanyi kroncong Indonesia, adalah karibnya, dan senang bermain sepanggung dengannya.

Mbak Asti (kiri), cucu keponakan alm. Gesang turut berlatih sebagai penyanyi. Ia termasuk kesayangan Eyang Yuti.

Ia juga akrab dengan Bu Srimulat, istri Pak Teguh, perintis grup lawak legendaris di tanah air. Tanpa banyak diketahui orang, ia bahkan turut memperkenalkan Gambyongan sebagai tarian pembuka sebelum pertunjukan lawak Srimulat. Ceritanya, alm. Teguh mengajaknya diskusi mengenai bentuk sajian seperti apa yang cocok untuk mengisi waktu sebelum pertunjukan utama dimulai, sembari menanti kedatangan para pengunjung tobong.

Kini, Eyang Yuti masih senang ngancani latihan musisi OK Swastika. Usai menjalani kerja rutin di restoran, menjelang pukul 00.00, ia bergabung bersama musisi 30-an tahun, hingga menjelang pukul 03.00. Latihan…..

Merokoknya kuat, tiupannya juga dahsyat... Satu cengkok flute kroncongnya, belum tertandingi hingga kini.

Eyang Yuti adalah teman bagi siapa saja. Tak ada jarak dengan siapa saja. Padahal, di Restoran Diamon, ia bertugas ganda, meng-handle tamu-tamu khusus, yang kebanyakan perwira menengah/tinggi polisi atau militer, juga pengusaha ternama.

Ia juga karib seorang taipan Malaysia, yang berulang kali mengundangnya manggung di negeri jiran. Flute merek Amstrong yang kini dimilikinya, adalah pemberian sang taipan. Ceritanya, flute yang ia bawa patah beberapa jam menjelang pentas. Ia mencari tukang patri untuk memperbaiki. Mendengar masalah itu, sang taipan mendatangi Eyang Yuti dan menyerahkan bungkusan berisi flute. Rupanya, sang taipan lama memendam keinginan memberi hadiah sebuah flute bermerek idaman Eyang Yuti.

Eyang Yuti, termasuk musisi kroncong idola sang konglomerat setelah alm. Gesang. Sebelum bertemu Gesang, pun ia lebih dulu berkenalan dengan Eyang Yuti yang lantas mengantar si taipan mendatangi Gesang ke rumahnya semasa tinggal di Palur. Satu cita-cita sang taipan yang belum kesampaian hingga sekarang, adalah membawa Eyang Yuti memainkan kroncong di depan Yang Dipertuan Agong Malaysia.

Mbak Henidar Amroe asyik menyimak latihan OK Swastika

Di Malaysia pula, Eyang Yuti dibawa ke Radio Televisi Malaysia (RTM) untuk rekaman, juga ditayangkan melalui sebuah program stasiun penyiaran milik negara itu.

Kini, buaya kroncong tua di Solo tinggal beberapa. Tapi hanya Eyang Yuti yang masih ‘keluyuran’ ke mana-mana, termasuk mengakrabi musisi-musisi kroncong muda usia. Di masa tua sekalipun, ia masih merasa belia. Cengengesan adalah hobi dan ciri khasnya. Bahkan, ketika kami lagi asyik main biliar di halaman rumah teman, Eyang Yuti mengiringi kami dengan tembang-tembang, yang bahkan bisa kami pesan.

Mas Deddy Mizwar pun terpesona dengan kepiawaian awak OK Swastika memainkan kroncong.

Hobinya cengengesan, misalnya, pernah dilakukan dengan melantunkan sejumlah tembang kroncong lewat flute Amstrong kesayangannya. Tiba-tiba, ia menyisipkan You Raise Me Up-nya Josh Groban. Setengah asyiknya teman-teman ikut bersenandung, ia memotong lagunya, dan meneruskannya dengan lagu anak-anak: Satu..satu…, aku sayang ibu…/dua..dua..juga sayang bapak……//

Kami dongkol sebab senandung terganggu. Tapi terpingkal-pingkal atas kenakalan pak tua….

7 thoughts on “Sayuti Buaya Kroncong

  1. Tua-tua buaya kroncong, makin tua makin bisa jadi panutan 😀
    Saya memang tidak mengenal beliau secara langsung, namun membaca cerita disini membuat saya sedikit menyimpulkan bahwa beliau adalah sosok yang luar biasa, seperti air, beliau seperti bisa menempati ruang. Pokoknya, salut buat Mbah Yuti.. 🙂

  2. Pak Sayuti adalah pribadi terbuka, benar saya setuju dengan apa yang ditulis mas blontank tentang sifat-sifat spesial Pak Yuti. Saya salah satu pengagum Pak Yuti, tapi setahu saya juga masih banyak seniman-seniman keroncong yang ‘pernah punya nama’ dalam musik keroncong (terutama di kota Solo), yang masih setia mengais kehidupan dengan musik keroncong, misalnya: Pak Kaswadi, Pak Anton DS, Pak Salimi, Pak Dul Manan, Mbak Mini Satria, dll., ada banyak sisi menarik jika mereka juga diungkap eksistensinya di blantika musik keroncong, nuwun.

Leave a Reply