Garis Waktu dan Kerumunan

Sekadar catatan tentang Linimas(s)a

Pengguna Twitter pasti mengenal istilah garis waktu atau linimasa sebagai terjemahan timeline, yang merujuk pada kicauan pengguna media sosial. Media sosial yang lahir setelah Facebook itu, kini sedang ‘ditakuti’ banyak rezim, menyusul efektifnya media sosial menyulut krisis politik seperti terjadi di Tunisia dan Mesir. Moammar Qaddafi pun bahkan memblokir akses internet di seluruh Benghazi, kota pusat perlawanan disusun.

Indonesia pun sempat geger, ketika akun Twitter @benny_israel banyak berkicau soal informasi intelijen, juga ‘mengungkap’ berbagai skandal yang menyebut nama-nama tokoh penting di republik ini. Tak ada yang tahu siapa sejatinya pemilik akun @benny_israel. Seorang intelijenkah?

Atau politisi yang menyaru, atau siapapun dia, yang mencitrakan diri sebagai sosok yang tahu banyak tentang hal-hal atau aib yang tersembunyi atau disembunyikan, sehingga secara psikologis membuat orang lebih gampang memercayai kicauannya? Yang pasti, situasinya tepat. Ketika @benny_israel ‘mengungkap’ banyak skandal, informasi resmi tentang skandal tersebut selalu memancing tanya. Tak ada yang tuntas, gamblang, benderang.

Dari sisi kepentingan publik Tunisia, Mesir, atau kini Libya yang merasa terintimidasi penguasa, keberadaan akses internet dan social media sangat membantu sebagai sarana komunikasi untuk mewujudkan perubahan, demi kebaikan mereka. Tapi dalam konteks Indonesia, kicauan @benny_israel segera tenggelam oleh gemuruh perseteruan antarpolitisi, apalagi kemudian mulai ramai kicauan yang meragukan sosok yang mengaku bernama Benjamin Israel itu.

Apakah media sosial hanya cocok untuk hal-hal yang berbau politik? Jawaban YA akan muncul jika yang ditanya adalah orang-orang semacam saya, yang mulai kehilangan tempat dan mitra ngerumpi, ditambah skeptis yang berlebihan terhadap akurasi dan keberpihakan informasi dari semua media massa, apalagi yang lebih suka mem-branding diri sebagai media kompor-kompor, provokasi semata.

***

Di tengah silang kata dan perang informasi antarpihak, sungguh menarik menyimak peran-peran sosial-kemanusiaan yang dilakukan komunitas dan kerumunan online dalam menggunakan media sosial, baik Twitter, Facebook, blog, dan telepon bergerak. Mbak Silly di Jakarta, misalnya, menginisiasi gerakan kemanusiaan yang berfokus pada berbagi informasi mengenai darah.

Dengan tagar #BFL di Twitter, Mbak Silly menyebarkan informasi mengenai seseorang yang sedang membutuhkan darah sesegera mungkin. Ia biasa menyebutkan kondisi pasien, kontak person, jenis penyakit dan lokasi perawatan. Terbukti, gerakan Blood for Life sangat efektif mendatangkaan donor dalam waktu cepat, padahal ada jenis-jenis/golongan darah tertentu yang tak tersedia di PMI.

Tak hanya di Jakarta, #BFL berlaku secara nasional. Pernah ada pasien butuh darah di RS dr. Oen, Solo, ada pula dari beberapa rumah sakit di Yogyakarta, Semarang, Bandung, dan banyak lagi.

Penggalangan dukungan sekaligus perlawanan terhadap arogansi manajemen rumah sakit dalam kasus Prita Mulyasari juga terbukti ampuh lewat internet. Lantaran menulis email pribadi  yang lantas tersebar luas oleh orang lain, Prita digugat karena dianggap telah secara sengaja mencemarkan nama baik rumah sakit yang pelayanannya belum lama dikeluhkannya.

Jenis penggalangan dukungan juga efektif dalam kasus Bibit-Chandra, dua komisioner KPK, yang getol menyelidiki dan mengadili para koruptor. Arogansi orang beperkara justru menjebloskan kedua orang itu dalam ancaman pidana. Alhasil, keduanya bebas.

Kisah-kisah sukses (success stories) penggunaan internet untuk kemaslahatan publik itulah yang ‘dirangkum’ Dandhy Laksono, salah satu jurnalis televisi Indonesia yang intens menggeluti dunia investigasi, ke dalam sebuah video dokumenter bertajuk Linimas(s)a.

Diproduksi ICT Watch, Jakarta, Linimas(s)a sengaja didedikasikan untuk bangsa Indonesia, yang dalam lima tahun terakhir, terasa betul gairahnya dalam menggunakan telepon bergerak, internet dan media sosial. Seperti catatan ICT Watch, pada November 2010 saja, dari 34 juta pengguna internet di Indonesia, terdapat 30,1 juta pengguna Facebook (nomor dua terbanyak di dunia) dan 6,2 juta pengguna Twitter, urutan ketiga besar se-Asia.

ICT Watch yang lebih terkenal dengan brand InternetSehat-nya, telah dikenal intens merawat pengguna Internet di Indonesia sejak 2002. Bagaimana kehadiran Internet tidak membawa kerusakan/kerugian bagi penggunanya, bagaimana kebebasan berekspresi perlu diperjuangkan, hingga di mana seharusnya negara berperan dalam membuat kebijakan dan menyiapkan perangkat regulasinya. Itu adalah beberapa misi yang terus diperjuangkan teman-teman seperti Donny BU, Mas Onno W Purbo dan lain-lain.

Kasus erupsi Merapi 2010 adalah contoh paling konkret dan menarik, betapa kekuatan media sosial dan onliner mampu ‘menyelamatkan’ ratusan ribu manusia di sekeliling Gunung Merapi. Distribusi bantuan, relawan, informasi kebutuhan pengungsi dan sebagainya tersaji di linimasa atau timeline Twitter, hingga melampaui batas-batas kerumunan atau linimassa, ketika kepedulian orang dari berbagai pelosok negeri hingga mancanegara, terwujud lewat pengumpulan bantuan dan bertemunya ribuan relawan.

Organisasi masyarakat sipil Combine Yogyakarta dengan akun @jalinmerapi-nya, begitu cekatan merespon kebutuhan korban dan relawan. Ia menjadi semacam lembaga penjamin, bukan sosok anonim, sehingga kepercayaan relawan dan para penyumbang bantuan tidak bertepuk sebelah tangan.

Rasanya, itulah yang menurut saya, kerja ICT Watch dan Dandhy Laksono melahirkan Linimas(s)a menjadi penting. Video dokumenter itu, saya yakin bisa menginspirasi banyak orang dan komunitas (terutama komunitas blogger yang kini bermunculan di beragai kota) untuk lebih banyak berbuat untuk diri dan publik dan lingkungan sekitarnya.

7 thoughts on “Garis Waktu dan Kerumunan

  1. Tetap memberikan dukungan sebesar2nya terhadap Internet Sehat di Indonesia. Tidak akan terjadi perubahan disuatu negara jika bukan rakyatnya sendiri yang mengubahnya, bener ngga mas??? Trims…

Leave a Reply