Reklame Norak

Cat itu berguna untuk membuat benda yang dilapisinya menjadi lebih indah. Warna-warninya menghadirkan pesona. Sesuatu yang semula biasa bisa jadi luar biasa. Cat tak ubahnya kosmetik, berfungsi mempercantik. Dan, hal yang serba cantik dan menarik, sering bikin kerut kening praktisi periklanan dan konsultan pencitraan.

Karena ingin membuat kota cantik menawan pula, Pemerintah Kota Solo yang terus berbenah. Tempat-tempat yang semula kotor terus dibersihkan, taman dibuat di mana-mana, dan bangunan kusam dipermak supaya melahirkan pesona. Intinya, supaya warga kota dan pendatang merasa nyaman. Intinya, ya harus memanjakan mata. Dan rasa.

Silakan simak keindahan Tugu Jam di depan Pasar Gede ini...

Persoalan ada sebagian warganya yang tak tahu cara memelihara dan menunjukkan keindahan hasil kerja keras pemerintah setempat, anggaplah itu sebagai kecelakaan saja. Maklumi pula, jika tidak semua orang bisa mengimbangi visi Walikota Jokowi dalam menata kota, meskipun itu sebuah lembaga usaha, apapun namanya.

Seperti Indaco, misalnya, yang pingin memamerkan hasil kerjanya dalam rangka ikut mempercantik kota. Di tugu jam, seberang Pasar Gede, ia memasang materi reklame, dengan menonjolkan pesan bahwa indahnya tugu itu adalah hasil dari ‘kerja’ merek cat untuk melapisi. Bahwa indahnya tugu tertutup materi reklame, ya sekali lagi, itu perkara yang berbeda. Toh, semua yang melihatnya masih punya kemampuan mengira-ira keindahannya. Setidaknya, itulah yang ada di benak pemasang reklame. Manusiawi, bukan?

***

Entah siapa pemilik Indaco dan apa pula perannya dalam proses permak wajah kota. Beberapa bulan silam, saya jumpai beberapa gapura kampung, terutama sekitar Turisari, digantungi tulisan Indaco dengan ukuran besar dan mencolok. Bahkan, ukurannya ada yang menenggelamkan identitas jalan atau gang, sehingga orang bisa salah duga bahwa ia sedang memasuki Jl. Indaco atau Gg. Indaco.

Reklame pamer peran, yang menurut saya, justru mengganggu, bahkan menjatuhkan nama baik pemasangnya.

Sejatinya, saya risih dengan gaya Indaco main nebeng beken di kampung-kampung itu. Syukur, kali ini bisa kesampaian menuliskan catatan atas kerisauan saya. Lazimnya, jika Indaco merupakan kontraktor yang memperoleh pekerjaan perbaikan gapura dan sejenisnya, cukup membuat pengumuman nama proyek dan jumlah biayanya. Dan, andai gratisan sekalipun, reklame dengan cara semacam itu, menurut saya, tetaplah norak.

Bahasa halusnya, sih, kurang pantas. Apalagi, seperti yang saya lihat di tugu dekat Pasar Gede itu, Indaco membawa brand cat. Gratisan atau sumbangan pun tak pantas, apalagi jika dibiayai dengan dana pemerintah. Asli, payah!!!

Asal tahu saja, reklame norak itu ada di beberapa tempat. Di atas jembatan, tepat di belakang Pura Mangkunegaran, juga terpasang reklame serupa, bermedia akrilik sepanjang 2 meter dengan lebar hampir semeter, hanya dikerangkai bilah bambu. Reklame yang sama pun dipasang di atas jembatan samping RRI, seberang Stasiun Balapan. Disebutkan di reklame itu, jembatan telah dicat dengan Envitex/Envolux!

Penempatan reklame yang asal-asalan semacam itu, menunjukkan sang pemasang sama sekali tak memiliki selera estetika memadai. Jangan jauh-jauh membicarakan soal filosofi keindahan, saya kuatir mereka tak nyambung. Apalagi kalau sampai disodori konsep-konsep komunikasi……kasihan mereka nanti.

16 thoughts on “Reklame Norak

  1. nien

    haduhhhh yang buat bloging nich agak kurang pengetahuan jadinya nulisnya sembarangan aja tuhhh bukan masalah bang yang penting laku syirik tanda tak mampu huuuuu

  2. ndari

    km ga tau ya klo tulisan indaco d gapura gapura itu karena sedang ada lomba gapura yg disponsori indaco. hadiahnya aja ga tanggung2. silahkan tanya dengan yang empunya gapura.
    sayang sekali saya baru baca artikel ini sekarang. hmm..

  3. Joyo Plencing

    Hi..aku gak komen kok cm pgn mohon ijin ngucapin salam kenal ya..salam dari blogger jogja..buat temen2 yg mbaca ini,salam kenal jg ya..salingberkunjung yuk,klo berkunjung pasti aku buatkan kopi wes,gmn..?ditunggu ya..
    http://jogjakunyaman.co.cc

  4. DV

    Si empunya produk itu pasti berujar, “Nggak butuh estetika, Mas.. sing penting pemerintahmu tunduk karo aku owk” :))
    Semoga mereka dipermalukan dengan postingan ini, Paklik…. (kalo mereka masih memiliki rasa malu)

Leave a Reply