Dua Bus Baru di Solo

Menandai peringatan ulang tahun ke-266 berdirinya kota, Pemerintah Surakarta meluncurkan dua bus sekaligus: bus tingkat (doubledecker) dan bus yang berjalan di atas rel, sejenis kereta api (railbus). Keduanya merupakan fasilitas penunjang bagi hidup dan berkembangnya pariwisata. Jadi, bukan bus umum atau angkutan massal untuk publik.

Bus Tingkat (doubledecker) baru, akan segera menghiasai jalanan utama Kota Solo. Berbeda dengan bus tingkat yang dioperasikan Perum Damri beberapa tahu silam, bus ini hanya untuk keperluan turisme, sehingga rute-rute yang dipilih pun akan menghubungkan satu dengan lain obyek wisata kota.

Keduanya hadir melengkapi pilihan sarana plesiran bagi pelancong, setelah sebelumnya ada sepur kluthuk Jaladara atau kereta tua bertenaga uap. Begitulah, pelancong memang tamu. Mereka harus diperlakukan mulia selayaknya raja. Mereka datang ke Surakarta atau Solo karena pesona kota, yang meliputi apa saja: kuliner, atraksi dan warisan budaya, serta keramahan dan halus budi warganya.

Kian nyaman plesiran di Solo, kian banyak harta  yang dibelanjakan. Untuk menginap, urusan memanjakan lidah dan mengurus perut, hingga tanda mata yang mereka pikir harus dibawa sekembalinya ke tempat asal mereka.

Semua tahu, orang berkelana juga mengejar sensasi dan pengalaman rohaniah. Itulah yang kelak akan dituturkan kepada sanak, kerabat, teman dan kolega. Efeknya, bisa jadi akan banyak orang yang perlu membuktikan kebenaran sebuah cerita, testimoni orang-orang yang telah berkeliling Kota Surakarta.

Seperti bus, angkutan wisata ini kelak akan dioperasikan untuk wisata dalam kota juga. Pemerintah Kota Surakarta sedang merancang rel baru yang menghubungkan Stasiun Sangkrah dengan Stasiun Jebres, yang dulunya terhubung, namun bekas jalurnya sudah jadi kawasan permukiman. Kelak, jika itu terwujud, maka railbus bisa mengitari dalam kota, menghubungkan empat stasiun, termasuk Balapan dan Purwosari.

Jadi, andai masih ada yang menganggap pembelian/pengadaan ketiga sarana transportasi wisata sebagai kemewahan dan menghambur-hamburkan uang rakyat, saya  kok kurang sependapat. Alasan mahalnya tiket alias tingginya biaya untuk menikmati yang tak terjangkau rakyatnya, rasanya juga kelewat mengada-ada. Ketiganya, sekali lagi, bukanlah angkutan umum massal untuk publik.

Soal banyak warga ingin merasakannya namun ada keterbatasan biaya, saya kira masih bisa dicarikan jalan keluarnya. Bisa saja Dinas Pariwisata atau Pemerintah Kota menyediakan paket wisata khusus, dengan beban pembiayaan ditanggung pemerintah. Semua itu hanya soal cara dan strategi mengkomunikasikan dengan pihak-pihak terkait, sehingga warga kebanyakan bisa mengaksesnya, tidak cuma mèlèt atau ngiler karena ingin pula menikmati keindahan kota dari ketiga sarana wisata tadi.

Kehadiran wisatawan, lokal maupun asing, sudah pasti membawa berkah bagi warga Kota Solo. Ada multiplier effects yang bisa dinikmati banyak orang, seberapapun kecilnya. Mereka butuh makan, perlu jalan-jalan sehingga butuh becak, taksi, atau mobil sewaan, dan sebagainya. Oleh-oleh pun perlu mereka bawa pulang.

Siapa yang untung?

20 thoughts on “Dua Bus Baru di Solo

  1. yogis

    etuju mas Blontank, Pak Jokowi memang memperuntukkan hal-hal itu untuk pariwisata, dan kalo pariwisata berjalan dengan baik, maka rejeki nya juga akan melimpah ke rakyat. cuba lihat CFD dan city walk saja sudah bisa mendatangkan banyak wisatawan dan meningkatkan okupansi hotel-hotel di solo, yang kemudian meningkatkan pajak dan membuka lapangan kerja . . saya salut dengan pemikiran pak Jokowi ini, andai saja semua masyarakat bisa memahami hubungan ekonomi ini ya mas Blontank . .

  2. Wah manteb tenan iki mas. Ijin unduh gambarnya buat tak review di situsku dalam bahasa Inggris ya. Rasane pengen ndang numpak bis tingkat

    dipersilahkeun….. sapa tahu dapat sedekah backlink…
    /blt/

  3. DV

    Woh menarik..
    Yang rail bus apa menggunakan rel yang menuju Wonogiri dan ada di pinggiran Slamet Riyadi, Lik?

    betul, kang… jangan lupa kalau kondur nJawa, mampir Sala
    /blt/

Leave a Reply