Jika Mesir Tiru Indonesia

Seperti Indonesia, Mesir merupakan negara penting bagi Amerika dan sekutunya. Meski mayoritas penduduknya muslim, negaranya sama-sama sekuler, sehingga cocok untuk eksperimentasi demokrasi. Pemilu langsung yang akan segera digelar, bisa dipastikan bakal menuai banyak pujian. Apalagi, jika berlangsung damai.

Badan-badan dunia, utamanya yang merasa sebagai pengawal demokrasi sejati, pasti sudah berancang-ancang mengirim tim ahli. Mitra lokal segera dicari, tentu saja dari kalangan prodemokrasi. Tingkat partisipasi menjadi kata kunci. Siapa pemenang adalah soal nanti, walau pada prakteknya yang potensial bekerja sama amankan kepentingan yang akan disokong.

Terserah Anda mau menyebut saya sedang berhalusinasi atau mementingkan teori konspirasi. Dalam politik, pertarungan kepentingan selalu terjadi. Para ahli dan opinion leaders sudah terbiasa meneriakkan teori konspirasi sebagai teori usang. Mereka suka mengaplikasikannya secara diam-diam, tidak terang-terangan. Intinya, tak rela kalau orang lain memikirkan teori itu.

Mesir merupakan sekutu penting Amerika di Timur Tengah, sepenting posisi Indonesia di Asia Tenggara. Bedanya, Mesir sebagai kawasan basis intelektual regional bisa diharapkan turut menjaga kepentingan lewat kaum terpelajarnya yang terbuka, namun masih beraroma Islam sehingga menopang strategi.

Sementara Indonesia, selain dijadikan sekutu untuk menyebarkan virus demokratisasi, kepentingan industri dan pasar menjadi pertimbangan lebih utama. Sumberdaya alam, seperti dimaksud oleh pasal 33 UUD 1945, semua ada di Indonesia dan kawasan sekitarnya. Industriawan besar, yang butuh bahan baku apa saja, nyaris ‘hanya’ bisa leluasa mendapatkannya di Indonesia dan kawasan Asia lainnya.

Demikian pula potensi pasarnya yang luar biasa. Aneka produk massal dari perusahaan-perusahaan multinasional perlu pasar. Internasionalisasi kultur juga dianggap penting, meski lokalitas tetap akan dijadikan bahan jualan juga. Setidaknya, buat kepentingan pariwisata.

Pada strategisnya kepentingan-kepentingan itulah, maka ‘kerja sama’ dengan rezim dan kekuatan politik suatu negara menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Rezim otoriter sekalipun akan disebut mitra, seperti halnya Soeharto dan Hosni Mubarak, yang kebetulan, keduanya mengandalkan angkatan bersenjata. Amerika dan sekutunya akan tutup mata terhadap apa yang sering disebut ‘pelanggaran HAM’, sepanjang itu tak menjadi sorotan dunia dan menggoyahkan eksistensi hegemonik mereka.

***

Mubarak telah ‘tumbang’. ‘Kejatuhannya’ mirip dengan Soeharto. Perlu ada unjuk rasa massa secara besar-besaran supaya tampak ‘aspiratif’ dan ‘sesuai kehendak rakyat’. Kalau di Indonesia estafet diserahkan kepada Habibie sang wakil, di Mesir diarahkan kepada militer, yang notabene penyokong Mubarak selama 30 tahun. Soeharto dan Mubarak merupakan tokoh kunci, yang kedudukannya tak pernah goyah, lantaran sikap manis keduanya terhadap (kepentingan) barat.

Seburuk-buruknya Ikhwanul Muslimin, saya yakin ia dibutuhkan (minimal untuk penyeimbang dan keperluan pencitraan), seperti halnya keberadaan laskar-laskar Islamis di Indonesia. Ujung-ujungnya, toh akan menuju pada tahapan kompromi dan berbagi kue semata pula.

Kelak, pemilu Mesir akan membuktikan, apakah Ikhwanul Muslimin akan memiliki perolehan suara yang sama dengan partai-partai Islam di Indonesia. Siapa tahu ia bisa dijadikan sebagai Poros Tengah, seperti halnya di Indonesia, untuk bikin ontran-ontran jika Presiden Mesir kelak kurang bisa diterima Barat karena sikap keras dan konsistensinya membela kedaulatan bangsanya, seperti terjadi pada Gus Dur dulu.

Walau terasa berlebihan, saya kok curiga, di Mesir kelak akan bermunculan aneka lembaga survei dan konsultan pencitraan, yang merangkap panitia pemenangan pemilihan, yang jago mengendalikan perolehan suara seorang kandidat, entah dengan menyogok, merampok data di komisi pemilihan umum, dan lain sebagainya.

Semoga, kelak Mesir tak terlalu mirip Indonesia, yang punya presiden (yang katanya terpilih secara demokratis) namun masih tetap cengeng, suka merajuk dan gemar bersolek karena memuja pencitraan yang sangat lahiriah semata sifatnya.

Wahai rakyat Mesir, jangan ikuti jejak kami…

3 thoughts on “Jika Mesir Tiru Indonesia

  1. DV

    Sek, kok di awal dibilang Mesir seperti Indonesia, merupakan negara penting bagi AS.
    Apa kita ini bener-bener dipentingkan AS tho? Saya kok skeptis ya 🙂

    Indonesia penting bagi AS dan sekutunya, Kang. penggelontoran utang besra-besaran hingga kita ‘miskin’ dan tergantung menjadi alat supaya sumberdaya alam kita mudah mereka kuasai. mereka juga perlu pasar untuk produk-produknya supaya devisa mengalir deras ke sana…
    /blt/

Leave a Reply