Excuse Moi, Grebeg Cina

Grebeg Cina sengaja saya pilih untuk menyebut Grebeg Sudira di Solo, yang tahun ini menginjak tahun keempat diselenggarakan. Wujudnya karnaval, dengan mengusung simbol budaya dan tradisi Cina peranakan yang kental. Spirit event yang digagas Walikota Jokowi itu yang saya suka: menyemai benih persaudaraan, mengikis stereotip yang merugikan nilai dan praktik kebersaman.

Dua bocah peranakan turut memeriahkan karnaval

Nama Sudira lekat dengan Sudiraprajan, nama kampung padat di belakang Pasar Gede, tempat di mana kebanyakan kaum peranakan Cina kebanyakan, bermukim. Turun-temurun, mereka menyatu bersama etnis Jawa, yang berdesak-desakan pula dengan pendatang lainnya: Madura, Sunda, dan banyak lagi.

Meski secara resmi-administratif bernama Sudiraprajan, namun nama itu kalah populer dengan kampung Balong, dua kampung utama tempat peranakan Cina tinggal berjejalan. Stereotip yang melekat lebih seru, bahkan memunculkan olok-olok sebutan Cina Balong, untuk menyebut peranakan yang tidak kaya, tak seberuntung yang dipersepsikan kebanyakan orang, bahwa Cina di Jawa pasti berpunya.

Seingat saya, peranakan Cina yang bermukim di Balong tak seburuk nasibnya dibanding mereka yang tinggal di daerah-daerah lain, termasuk kompleks-kompleks perumahan mewah. Di Balong dan sekitarnya, kebersamaan sudah nyata, meski mungkin status sosial-ekonominya ‘sederajad’. Kebanyakan mereka bukan pengusaha, pemilik toko atau pabrik. Kebanyakan mereka hanyalah kelas pekerja, sama dengan yang Jawa dan sebagainya.

Karena senasib-sepenanggungan, ikatan solidaritas mereka lebih kuat dibanding kaum peranakan yang berpunya. Mereka yang ‘biasa-biasa saja’ sudah sering saya jumpai, terlibat atau dilibatkan dalam kegiatan apa saja, yang dimotori oleh mereka yang lebih berada.

Gunungan terbuat dari kue keranjang, mengadopsi sesaji utama dua grebeg yang digelar Kraton Surakarta

Sejujurnyaa, sejak lima tahun terakhir, saya sangat kuatir dengan masa depan hubungan antaretnis, utamanya peranakan Cina dengan yang selebihnya. Pasca-kerusuhan Mei 1998 yang membuat kota mencekam dan porak-poranda, muncul gejala menarik. Kebanyakan peranakan Cina yang berpunya banyak terlibat dalam kegiatan sosial, sebuah interaksi yang melibatkan aktivitas fisik. Tidak cuma dana semata. Itu yang menurut saya menggembirakan, sebab kebersamaan antaretnis, suasana guyub, pernah lama sirna.

Belakangan, saya melihat gejala ‘tangan di atas’ lebih mengemuka. Partisipasi dalam kegiatan sosial sehari-hari, kian menjauh digantikan pendekatan ‘pola bantuan’. Entah berupa kegiatan bagi-bagi sembako atau bazar murah, yang menurut saya, lebih menonjolkan kekuatan ekonomi dibanding partisipasi yang mencerminkan watak ajur-ajèr, atau involve dalam aneka aktivitas sosial-budaya.

Dengan spirit ajur-ajèr, semua atribut akan ditanggalkan. Tak ada perbedaan dalam segi apapun. Dalam gotong-royong bersih-bersih lingkungan kampung, misalnya, semua akan mengambil peran sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Toh, melihat lingkungan kotor, semua akan melihatnya dengan mata memicing.

***

Tahun Baru Imlek memang dijadikan sebagai momentum untuk menggelar peristiwa kultural semacam Grebeg Sudira. Ada gunungan terbuat dari kue keranjang atau dodol Cina yang disusun menyerupai gunungan nasi dan aneka sayuran seperti halnya Grebeg Mulud atau Grebeg Besar yang digelar Kraton Surakarta. Bentuk dan namanya memang hasil adaptasi dari sana.

Naga adalah jenis binatang yang identik dengan kultur Cina. Yang ini, dibuat dari susunan sampah plastik kemasan air mineral.

Pawai budaya diikuti semua unsur masyarakat, meski sesuai namanya, sajian bercirikan warisan budaya Cina terasa mendominasi. Atraksi barongsai menjadi tontonan utama, sebab itu yang lazim ditonjolkan oleh kaum peranakan Cina di manapun mereka merantau, termasuk seperti sering disajikan oleh film-film Hollywood, meski sejatinya tak hanya itu.

Pastinya (ini seperti kata default reporter televisi), gelaran itu bertujuan mulia, sehingga semua orang pantas menyambut dan merayakannya. Tak hanya orang Jawa, Sunda atau etnis-etnis lain yang turut menyuarakan kebersamaan (dan persamaan hak dan kewajiban), kaum peranakan Cina Indonesia juga harus mau dan berani menyuarakan hak-haknya, tanpa kuatir dibebani pikiran-pikiran tak perlu.

Ramai warga Solo memadati jalur karnaval, menyaksikan dan mengabadikan berbagai atraksi.

Di Jakarta, saya kenal banyak teman peranakan Cina yang getol menyuarakan banyak hal. Tapi, di kota yang hiruk-pikuk dan kebanyakan sudah individualistis, suara kebanyakan mereka tak terasakan getarannya. Meski demikian, bukan lantas kita pantas menyebutnya tak berguna. Itu tetap penting dilakukan. Sayangnya pula, mereka kelewat ‘tua’ untuk tampil sebagai pejuang kesetaraan.

Saya justru berharap muncul anak-anak muda seperti Margareta Astaman yang sudah melakukan rintisan, yang meski tampak sederhana, namun bisa menginspirasi siapa saja, tak cuma terbatas pada anak-anak muda dan remaja peranakan Cina saja. Sayang, ia tinggal di Jakarta, sehingga tak mudah menunjukkan komitmen dan mewujudkan mimpinya, sebuah Indonesia yang setara, tanpa membedakan atribut sosial-ekonomi-budaya, termasuk ras atau unsur darah yang mengalir di setiap tubuh warga negara Indonesia.

Seorang kakek anggota Solo Onthel Lawas turut memeriahkan karnaval, membuktikan perayaan untuk kebersamaan.

Melalui empat karya tulisnya, termasuk Excuse Moi yang baru saja diterbitkan, ia menyodorkan kepada siapa saja yang membacanya, bahwa problem etnisitas masih nyata di Indonesia. Ia berhasil menuliskan kisah hidupnya dan keseharian kita sebagai bangsa, yang ternyata masih suka mengeksploitasi perbedaan. Syukurnya, ia menuliskannya tanpa pretensi mengolok-olok siapa saja, meski menyodorkan beberapa kekurangan kaum peranakan Cina, yang sejatinya bisa diterima apa adanya.

Di negeri yang katanya menjunjung tinggi hak asasi ini, nyatanya masih ada dominasi dan tirani di sana-sini. Gereja dibakar sudah menjadi cerita sehari-hari, seperti juga pengusiran dan penganiayaan terhadap jamaah Ahmadiyah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia, yang dengan lantang mengingkari spirit dan nilai suci keberagamaannya, dengan menjauhkan Islam dari semangat persaudaraan dan menjadi rahmat dan berkah untuk seluruh penghuni planet bumi.

Empat buku yang menyemaikan benih kebersamaan, karya perempuan muda, seroang Katholik, peranakan Cina.

Grebeg Sudira, saya kira bukan kegiatan hura-hura. Ia mengingatkan kita semua, betapa kerukunan dan kebersamaan sudah saatnya dirayakan beramai-ramai. Oleh siapapun juga, demi Indonesia.

Kelak, saya tak ingin mendengar lagi ucapan spontan seorang ibu paruh baya yang duduk di depan saya saat kami sama-sama menyantap Mie Gajah Mas di atas jembatan Pasar Gede sesaat menjelang peserta karnaval Grebeg Sudiro diberangkatkan. Sang ibu nyeletuk dengan enteng, tanpa pretensi ketika dari pengeras suara terdengar aba-aba menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Katanya, “Éh, kaé Cinané ya bisa nyanyi (itu, orang Cina bisa nyanyi juga).”

7 thoughts on “Excuse Moi, Grebeg Cina

  1. Nyonyaku arab, mbak Ipeku Tionghoa, Mas ipeku sing sijine Sunda, Adik ipeku Mbekonang, sing sijine maneh malah Australia, yen pas bakdo kuomplit pakdhe…

    oh…alangkah indahnya keluarga panjenengan… pasti bakdane seru selalu…
    /blt/

  2. DV

    Hahahaha, saya selalu ada di posisi yang serba salah terkait dengan soal cina-cinaan, Paklik.
    Saya ini Jawa tapi entah kenapa banyak sekali orang bilang bahwa aku Cina meski pada akhirnya memang istriku Cina dan otomatis anakku ya separuh Cina :)

    Opo yo kulitane aku sing kuning opo yo? :)
    Btw ini postingan yang sangat menarik.. kutunggu postingan senada waktu prosesi Imlek-an di Solo nanti.. Pasti rame, Solo kan cinanya banyak 😉

    postinganku soal beginian kan wis akeh, lik… salam kanggo nyonyah, ya…
    /blt/

  3. Etna Sugana (ETnis ciNA SUdah GANti NAma)

    Salut atas pandangan dan tulisan Anda yang selalu mengangkat semangat PERSATUAN dan KEBERAGAMAN – Bhinneka Tunggal Ika > Kita adalah satu INDONESIA!!

    Tularkan dan sebarkan semangat itu pada sekeliling kita… ayoooo berlomba berbuat KEBAJIKAN pada sesama anak bangsa!! Fastabiqul Khairat!!
    Suwun….
    Gong Xi Fa Chai,
    Salam Saudaraku,
    Etna Sugana (ETnis ciNA SUdah GANti NAma)

    suwun, Tik…. eh, Mblung…. eh, Etna…. ngapain sih sembunyi mulu?
    /blt/

Leave a Reply