Sahuleka Plus Yok & Yon

Tiada kegembiraan yang layak diceritakan kecuali seorang penggemar dicari artis yang diseganinya. Ya, itulah pengalaman yang mau saya ceritakan di sini, ketika seusai pertunjukan di The Sunan Hotel, Daniel Sahuleka bercerita mencari-cari saya. Katanya, saya termasuk ‘orang lain’ yang menyambut kedatangannya, dan ikut memeriahkan acara makan siangnya, beberapa menit setelah ia menginjakkan kakinya di Solo.

“Saya cari-cari kamu tadi… Mana orang yang kemarin sudah menyambut ramah kedatangan saya?” ujar Daniel. Asal tahu saja, ia bercerita begitu dengan tulusnya. Bahasa tubuhnya dan kontak matanya menegaskan keramahan dan sifat rendah hatinya. Lebih dari tiga puluh menit, kami mengobrol sambil berdiri, hingga ia bercerita betapa malamnya ia tidur sangat pulas dan bangun bugar.

Ketika saya menyahut bahwa itu disebabkan kelelahan karena setengah hari di Bandara Soekarno-Hatta akibat jadwal penerbangannya yang delayed, ia sontak menolaknya. “No! Bukan karena itu atau lelah… Tapi saya benar-benar merasa comfort dengan suasana hotel juga kamar sehingga tidur saya enak sekali,” ujarnya.

Daniel tak hanya ngobrol sambil berdiri tentang pertunjukannya, yang menurut dia, kurang memuaskan penonton akibat kekuatan sound system yang tak cukup menjangkau penonton di bagian belakang. Ia juga mengeluarkan banyak sanjungan tentang keramahan orang Solo dan banyak penggemarnya, yang menurutnya, sangat membahagiakan.

Seperti tak puas ngobrol, ia pun melanjutkan obrolan dengan beberapa teman yang duduk semeja dengan saya. Daniel terus bertukar cerita, masih sambil berdiri, hingga lebih dari setengah jam lamanya. Kami heran, ia tak memiliki sindrom popularitas, seperti sebagian artis, apalagi debutan yang tiba-tiba melejit nama dan nilai kontraknya.

Dari pengamatan selama pertunjukan, Daniel tampak menikmati berada di tengah-tengah penggemarnya. Vokalnya yang khas, kepiawaian memetik gitar dan dipadu dengan kemampuannya menjadikan mulut sebagai sumber bunyi, sungguh memukau audiens. Sayang, banyak tuturan cerita menarik di sela-sela pergantian repertoar, tak direspon memadai oleh penonton akibat kesulitan menyimak kata demi kata yang terucap, lagi-lagi karena tata suara yang boleh disebut buruk, dan noise-nya sering muncul tiba-tiba.

“Saya senang bisa menyanyi di tengah-tengah saudara kita, tapi kasihan kepada penonton yang tak bisa menikmati dengan baik. Yang seperti itu akan sulit dilupakan,” tutur Daniel dengan santun, tanpa pretensi marah atau menyalahkan siapapun. Dan, sikap itulah yang membangkitkan respek dan kagum saya kepadanya, yang meski baru kenal tak genap setengah hari, namun serasa sudah berkawan tahunan lamanya.

Beberapa lagunya memang tak saya kenali, namun seluruh pertunjukannya sangat bisa saya nikmati. Hanya You Make My World So Colorful dan Don’t Sleep Away The Night yang sudah saya dengar sejak 25 tahun silam, seakrab ingatan saya terhadap My Way yang dilantunkan Nat King Cole, atau Ciquitita atau Fernando (ABBA), Word dan Stayin’ Alive-nya Bee Gees.

***

Kegembiraan lain malam itu, selain menikmati tembang-tembang Daniel Sahuleka, adalah penampilan Koes Plus edisi ‘lengkap’ karena Yok Koeswoyo tampil bareng saudaranya, Yon Koeswoyo. Selama ini, selain versi mp3 bajakan, tembang-tembang Koes Plus hanya saya nikmati sesekali di THR Sriwedari, pada jadwal rutin setiap Kamis malam.

Dua dedengkot Koes Plus, Yok (kiri) dan Yon Koeswoyo

Ketika saya mengunggah foto Yok dan Yon di Twitter, seorang teman merespon dengan menunjukkan kekagetannya. Rupanya, dua sosok kakak-beradik musisi legendaris itu sudah lama purik alias tak akur. Pada malam menjelang ulang tahun grup musiknya, yang pada 19 Januari ini genap 40 tahun, keduanya kompak tampil bersama, bahkan saling ledek dan bercanda di atas panggung. Bahkan, menjelang berakhirnya pertunjukan, Yok Koeswoyo sempat ‘melantai’, berjoged di tengah-tengah penonton.

Penonton riang, Yok dan Yon Koeswoyo juga girang. Artis dan penonton nyanyi bersahutan, hingga suasana ballroom hangat penuh keakraban. Andai Nomo Koeswoyo dan Murry masih bersama, pasti akan menggenapkan kemeriahan. Apalagi, Solo dikenal sebagai gudang fans Koes Plus, juga penggemar lagu-lagu yang populer pada era 1970 hingga 1980-an, yang kini dilabeli publik sebagai tembang kenangan.

Penggemar lagu-lagu Panbers, misalnya, juga punya wadah seperti halnya penyuka lagu country dan fans Koes Plus. Di kalangan muda, banyak Slankers, yakni para pengidola Slank, dan ada pula Orang Indonesia (OI) yang menjadi organisasi cair pengikut Iwan Fals. Semua punya forum, dalam arti ruang apresiasi berupa pertunjukan terjadwal atau insidental namun sering, di beberapa tempat di Kota Solo.

Malam itu, dua legenda Indonesia bertemu dan memuaskan publik yang kebetulan ‘beririsan’ atau bisa bersanding dan menyatu. Penggemar Daniel Sahuleka, kebanyakan juga penyuka lagu-lagu Koes Plus. Sebaliknya, para fans berat Koes Plus juga akan fasih menembangkan Don’t Sleep Away Tonight-nya Daniel. Klop!

Penampilan kedua legenda Indonesia, walau yang satu sudah berkebangsaan Belanda, benar-benar menyemarakkan dan turut memperkuat citra Solo sebagai kota seni pertunjukan. Selamat ulang tahun Koes Plus, selamat datang Daniel Sahuleka. Kalian sama-sama membangkitkan gairah seni, juga turut mengawal citra kultur warga Solo, yang hendak mewujudkan Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu. Solo Future is Past Solo.

***

Terkait future dan past pada pertunjukan duo-mestro itu, saya ingin memberikan sedikit catatan. Bahkan, tanpa cerita Daniel sekalipun, saya sudah merasakan adanya kekurangan pada peristiwa yang semestinya sangat layak dinamakan konser akbar itu.

Pertama, Daniel dan Koes Plus memiliki karakter penggemar yang hampir sama: berkepribadian matang atau dewasa. Pada audiens jenis ini, kecil kemungkinan ada keributan, atau histeria pada penampilan idola. Karena itu, pola festival kurang cocok sebab membuat artis dengan audiens terasa berjarak. Bentuk arena, di mana penonton mengelilingi artis, rasanya lebih pas karena suasana intim lebih dibutuhkan.

Kedua, dari segi tata suara juga kurang memadai. Di deretan sepertiga bagian belakang, saya yakin penonton tinggal mendengar suara (musik dan vokal) Daniel secara sayup-sayup. Penuturannya tentang latar belakang penciptaan lagu atau upayanya membangun dialog dengan penonton, gagal karena faktor ‘pesan’ yang hilang ‘dicuri’ sound system yang diletakkan hanya di kanan-kiri panggung.

Ketiga, tata panggung dengan pencahayaan yang monoton. Yang tampak hanya sepuluh lampu, masing-masing lima buah di kanan dan kiri atas panggung. Masing-masing tiga lampu dengan filter netral di kedua sisi back drop mengarah ke panggung, yang celakanya, justru membuat silau penonton. Suasana panggung tak terbangun, sebab lampu seperti sengaja dibiarkan rata atau flat. Andai ada lampu follow, ia akan membantu penonton untuk fokus pada satu titik.

Yon Koeswoyo (tengah) disalami Walikota Solo, Joko Widodo (kanan)

Keempat, dua layar lebar yang diletakkan mengapit panggung utama terasa sia-sia karena pasokan gambarnya kurang memadai. Sayang saya lupa jenis kamera yang dipakai, yang seingat saya, hanya ada satu dengan posisi center. Saya menduga yang digunakan hanya jenis kamera biasa-biasa saja, terbukti pantulan di screen tak tajam, seperti out of focus, sehingga tak sanggup menolong penonton di bagian belakang menyimak aktivitas di atas panggung.

Alhasil, jika penonton di bagian belakang lantas gaduh, banyak mengeluh, menurut saya sangatlah wajar. Karena mereka membayar, maka lumrah menuntut ‘imbalan’ sepadan. Jadi, cerita sedih Daniel juga wajar semata. Untungnya, ia dan Koes Plus sama-sama sabar, sehingga tak perlu mengeluh, apalagi menampakkan kemarahan.

5 thoughts on “Sahuleka Plus Yok & Yon

  1. Matur suwun Photo-Photone PakDhe… .meskipun ga bisa pulang kampung minggu ini…ada sesuatu yang bisa dinikmati selama di perantauan…muantep pokoke… .PakDhe ikutan nyanyi ga?
    .-= Johar Manik´s last blog ..Malam di Sheraton =-.

    walau akhlaq fals, aku tetap nyanyi… kalau pulang kampung, mampir sekretariat Bengawan, ya….
    /blt/

  2. DV

    Wah aku pengen banget nonton Mr Sahuleka, Paklik.
    Kalo Koes Plus aku pernah sekali nonton live di Kridosono beberapa tahun silam.
    Penampilannya pasti menyenangkan ya…
    .-= DV´s last blog ..Perlukah diterjemahkan =-.

    penampilan mereka sangat menyenangkan… Daniel memang dahsyat. begitu juga Om Yon dan Om Yok…
    /blt/

  3. Selamat Pakde atas kenikmatan pertunjukannya…
    Saya juga sudah bertahun-tahun tidak menikmati lagu-lagu Koes Plus di Sriwedari, terakhir tahun 2007, jadi kangen pengen Koes Plus-an lagi.. 😀
    Nyanyi keroncong cincin tidak, Pakde? 🙂
    .-= Sukadi´s last blog ..Operator Seluler Yang Semakin Ngawur =-.

    kapan kalau ke Solo, kita nonton Koes Plus-an di Sriwedari, ya… saya juga sudah lama tak tengok-tengok THR
    /blt/

Leave a Reply