Surat untuk Pak Sus

tulisan ini merupakan versi Bahasa Indonesia dari tulisan berbahasa Jawa: Serat Kagem Pak Sus

Kepada Yth.

Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

di kediaman

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Semoga Allah ta’ala selalu melimpahkan ampunan untuk panjenengan sekeluarga.

Pak Sus, mohon diluberkan maaf seluas samudera jika saya terlalu berani menyampaikan pernyataan kepada panjengengan. Jangan salah mengerti, bahwa tidak ada niat lain, kecuali ingin mengungkapkan uneg-uneg saya, terkait tangisan dan rasa haru panjenengan.

Pak Sus, saya percaya, panjenengan tidak membaca Twitter, Facebook dan sebagainya. Padahal, banyak saudara yang membicarakan panjenengan, dan ada pula yang sepertinya malah mencibir, tidak percaya kepada panjenengan. Bahwa tangisan dan rasa sesak panjenengan ketika di Bogor tidak lebih seperti kanak-kanak yang cengeng, merajuk lantas mengadu kepada ibunya, dengan harapan memperoleh belas kasihan.

Sungguh, saya termasuk golongan dari orang-orang yang berprasangka terhadap tangisan panjenengan. Menangis tanpa air mata itu bukan tangis sembarangan sembarangan. Apalagi bagi lelaku atau orang tua seperti panjenengan.

Tentang nasib orang miskin, sudah bertahun-tahu, sejak Bung karno hingga guru panjenengan, Pak Harto, selalu bannyak jumlahnya. Panjenengan tidak perlu sedih untuk hal itu.

Seumpama tangis panjenengan karena memperoleh kabar dari Sidoarjo, bahwa masih ada ribuan saudara, bayi atau dewasa, yang masih belum memperoleh ganti kerugian yang pantas, dari Grup Bakrie karena lumpur Lapindo yang telah menenggelamkan sawah, ladang dan mengubur ternak, saya bisa ikut merasakan tangisan Anda yang disorot kamera televisi.

Atau, kalau Anda kecewa karena tidak bisa bertindak seperti yang dilakukan Presiden chile, yang rela menunggui buruh tambang yang terpendam dua bulan lamanya. Andai demikian, mungkin saya dan saudara-saudara senusantara juga bakal ikut menangis haru, kalau perlu meraung-raung supada pada tahu, betapa sakitnya hati pemimpin karena melihat rakyatnya sedang celaka.

Padahal, untuk meninjau korban banjir bandang di Wasior saja, Anda seperti tergantung hari baik, sehingga telat berhari-hari. Padahal, ibarat sabda pandhita ratu, sekali Anda bertitah, semua akan dilayani. Garuda tersedia, Hercules untuk mengangkut bantuan juga sudah siaga.

Coba Anda renungkan, seperti apa kecewanya saudara-saudara kita di Wasior seandainya bisa nonton siaran televisi, tentang halus budi dan besarnya tanggung jawab Presidennya.

Sekarang Anda menangis. Dulu, Anda sudah berulangkali mengadu kepada rakyat Anda, padahal Anda tahu, seorang bocah seperti saya tidak bisa bertindak apa-apa demi membantu Anda yang berkedudukan sebagai Presiden. Kalau sedikit-sedikit mengadu, menangis, apa tidak sayang jika Anda dijuluki besar tubuhnya semata, namun tak memiliki kekuatan apa-apa.

Orang agung, lelaki atau perempuan, akan memperoleh julukan cengeng manakala murah tangis, terlalu sering mengadu.

Sungguh, saya tidak terima jika mendengar Anda ditertawakan, apalagi oleh seorang pengayuh becak  atau pedagang kakilima. Keinginan saya, itu semua hanya ada di alam mimpi semata. Apalagi, Anda telah digembleng dalam dunia ilmu keprajuritan dan kanuragan, karena Anda dinantikan sebagai pagar bangsa dan negara.

Pak Sus, rasanya saya tidak terimaa kalau Anda meenangis seperti itu. Saya malu jika para duta besar atau turis lantas cerita kepada orang sebangsanya, jika lelaaki Indonesia itu murah tangis, gampang terharu terhadap kenyataan, padahal belum pernah mencoba mengubah keadaan supaya lebih baik dan selayaknya.

Pak Sus, saya harap Anda segera menyingsingkan lengan baju, memperbaiki keadaan, jangan sampai telanjur berantakan. Coba tunjukkan kepada saya dan bangsa Indonesia, bahwa Anda lebih baik, cerdas dan jeli menata keadaan dibanding Gus Dur dan Bu Megawati, yang Anda tinggalkan karena tak mampu memperbaiki negeri.

Mari Pak Sus, saya bantu bertapa mbisu. Tidak menghiraukan siapa saja, tidak tolah-toleh kiri-kanan, yakin menggunakan sisa waktu untuk berbenah, hitung-hitung untuk melunasi utang. Tak usah mikir Bank Century daripada bikin risi di hati. Begitu juga, tak perlu mengingat-ingat keberanian Kapolri Bambang Hendarso Danuri yang memilih meninggalkan sidang kabinet, daripada bikin sakit kepala.

Sungguh, mari mengingat, menyebut dan mengadu hanya kepada Tuhan Sang pencipta Alam, semoga masih dikaruniakan kekuatan dan waktu untuk menggenapkan waktu hingga 2014. Sungguh memalukan jika mengadu dan menangis menjadi kebiasaan. Bikin malu kaum lelaki, sungguh tak baik.

Mari, silakan marah kepada saya, tapi jangan sampai seperti ketika Pak Harto memimpin, menangkap dan menyiksa orang yang tak sepaham atau tak suka yang teriak-teriak seperti saya sekarang ini.

Selamat malam, Pak Sus. Semoga tidur Anda pulas malam ini, supaya besok memperoleh pencerahan, lantas bersama-sama membangun negeri. Belum terlambat bagi Anda untuk menyemai kebajikan.

Seumpama ingin tetangisan, cukup sekali lagi saja. Menurut hemmat saya, tangis terakhir silakan dilakukan di Tanggulangin, Sidoarjo sana. Anda cukup menyebut minta maaf kepada Tuhan, karena gagal menuntaskan perkara. Supaya ringan beban, coba sebut saja, siapa yang harus bertanggung jawab.

Insya Allah mujarab. Rakyat akan gembira. Selanjutnya, saya yakin bila seketika bakal ada tangisan saudara-saudara senusantara. Bedanya, tangis bersama yang menunjukkan tangis haru sukacita…..

Mohon maaf, Pak Sus, jika kata-kata saya berbusa-busa, seperti seorang bocah mengigau atau sedang tak waras. Dianggap demikian, pun saya ikhlas, rela, asal Indonesia kian maju dan makmur, tenteram lahir dan batin seluruh rakyat. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sala, 21 Oktober 2010

Hormat saya,

Blontank Poer

Rumah Blogger Indonesia

Jl. Apel III No. 27, Jajar, Sala

9 thoughts on “Surat untuk Pak Sus

Leave a Reply