Menggauli Teknologi Komunikasi

Sejatinya, saya bukan orang yang melek-melek amat terhadap teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Tapi, dari dulu saya penasaran dengan perkembangan teknologi, yang nyatanya memiliki dampak positif, minimal secara subyektif. Semasa radio panggil (pager) berjaya, saya sudah menggunakannya. Begitu pula ketika telepon bergerak teknologi Advanced Mobile Phone System (AMPS) yang biaya roaming-nya mahal, saya mencoba mengakrabinya.

Pelatihan komputer untuk siswa-siswi SLTP penyandang tuna netra untuk menghadapi era internet.

Sebelum komunikasi nirkabel, saya berlangganan faksimili. Ketika itu, awal 1990-an, saya adalah pengangguran yang malu dicap lontang-lantung. Maka, di Taman Budaya Surakarta (TBS) tempat saya sembunyi dari status penganggur itu, saya menekuni fotografi sebagai ‘proyek pribadi’ pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan yang hampir ada setiap pekan. Sambil motret, saya mendirikan Kine Klub, yang rutin memutar film-film format 16 mm dua kali dalam sebulan.

Faksimili merupakan teknologi paling murah dan efektif saat itu, dibanding telepon interlokal, guna berkirim surat untuk memesan judul-judul film yang ingin kami putar ke Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta. Korespondensi atau proses komunikasi nyaris tak mungkin lewat telepon karena mahal, sementara Taman Budaya Surakarta belum memiliki mesin faksimili. Karena itu, saya berlangganan ke Kantor Telkom Solo, di mana setiap ada faksimili datang, maka akan diantar petugas Telkom dengan biaya Rp 600 per lembar. Murah, efektif, kredibel, dan keren! Karena itu, saya bangga mencantumkannya di kartu nama.

Pada 1997, saya berkenalan dengan teknologi internet lantaran Happy, seorang teman kuliah, sedang memulai usaha internet, mengajari saya mengenai penggunaan internet. Ia pula yang saya kenal sebagai pencetus adanya warung internet di Solo. Rupanya, dengan internet, kehidupan saya berubah drastis. Tiba-tiba saya merasa menjadi ‘elit’ atau orang terpilih karena memiliki akun email, yang ketika itu baru beberapa yang populer, seperti mailcity dan usa.net.  Pemilik email di Indonesia saat itu, ibarat bisa dihitung dengan jari. Beberapa fasilitas chatting juga baru ada beberapa, di mana mIRC dan ICQ termasuk yang paling populer.

Ketika itu, belum banyak tokoh publik memiliki akun email. Saya mulai berkenalan dengan Mas Goenawan Mohammad dan Ayu Utami pun, juga karena saya memiliki akun email. Keduanya masih menggunakan akun berbayar dengan alamat Amerika, yakni AOL.com dan attglobal.net. Pada sistem politik tertutup dan serba terkontrol, kehadiran internet lantas membawa perubahan besar, setelah mailing list apakabar menjadi saluran komunikasi aktivis dan publik yang menghendaki perubahan.

Saya merasakan betul manfaat kehadiran internet di Indonesia, juga di Solo waktu itu. Pada saat-saat genting menjelang dan pasca-kerusuhan politik berbau rasial pada Mei 1998, saya termasuk rajin update perkembangan Solo lewat internet, khususnya menyebarkan pesan-pesan perdamaian. Memperoleh pekerjaan sebagai koresponden sebuah majalah pun lantaran saya melamar lewat email. Begitu pula ketika menawarkan diri sebagai kontributor detikcom, pun lewat akun alamat elektronik.

Dengan email, misalnya, kita juga bisa berkomunikasi langsung dengan pihak yang kita tuju. Pada akhir 1998, misalnya, saya berhasil menawarkan gagasan mengenai upaya pendokumentasian peristiwa kesenian lewat foto ke Ford Foundation, sebuah lembaga asing yang memiliki perhatian pada (salah satunya) bidang kesenian dan kebudayaan. Dari gagasan ‘kecil’ tersebut, Ford lantas tertarik untuk memberi hibah ke Taman Budaya Surakarta untuk upaya pendokumentasian beberapa maestro seni di Jawa Tengah yang sudah tua dan langka, serta remastering dan penggandaan beberapa dokumentasi video dan audio yang dimiliki lembaga tersebut.

Siswi-siswi SLTP tuna netra sedang mengenali flashdisk dalam sebuah pelatihan komputer di Rumah Blogger Bengawan

Secara pribadi, terdapat banyak perubahan dalam diri saya terkait dengan proses adaptasi terhadap perkembangan teknologi komunikasi. Banyak urusan bisa dipersingkat, efektif, dan murah. Eksistensi pribadi, pun turut terbangun lewat penyikapan terhadap teknologi. Kirim foto hasil scan atau tulisan ke sejumlah media pun jadi mudah dibanding sebelumnya yang masih lewat faksimili atau jasa pos kilat khusus. So, komunikasi seperti menjadi pintu hadirnya rejeki.

***

Belakangan, akses internet berubah menjadi kebutuhan, bahkan jauh lebih penting dibanding komunikasi telepon seluler. Jaringan pertemanan dan akses pekerjaan, pun kian meluas, bahkan ketika orang tua dan kebanyakan anggota keluarga masih menggunakan telepon kabel di kantor.

Tak hanya antarkota, komunikasi lintas negara dan benua pun bisa dilakukan dalam sekejap. Mudah dan murah. Efisien!

Tapi, kian hari mengakrabi teknologi, kian terasa kesenjangan akses terhadap teknologi komunikasi terasa kian mengancam, seperti ramalan Alvin Toffler yang populer semasa saya kuliah, bahwa kelak, penguasa jagad raya adalah orang-orang yang menguasai informasi.

Dengan software khusus, kaum tuna netra bisa menggunakan komputer untuk berbagai keperluan. Headphone menjadi sarana kunci karena semua fitur bisa dikenali lewat pendengaran.

Kini, ramalan itu terbukti. Ketika sebagian besar penduduk Indonesia masih jarang membaca koran atau majalah, sebagian kecil lainnya sudah bisa melihat perkembangan dunia lewat telepon genggam. Bila kemarin-kemarin pesan singkat (SMS) berantai bisa dianggap sebagai kebenaran informasi, kini tidak lagi. Istilah hoax akan disematkan bila sebuah informasi tak didukung bukti-bukti memadai, seperti menunjukkan foto atau video, atau koordinat yang fasilitasnya sudah disediakan oleh produsen perangkat keras yang didukung akses internet broadband.

Pengguna internet seperti blogger, misalnya, kini bisa dengan mudah membuat toko di internet. Produk-produk yang dijual bisa comotan dari perajin atau produsen rumahan. Ia cukup memiliki modal membeli domain dan hosting serta pengetahuan marketing, plus paham peta dan potensi pasar bisa mengubah orang biasa menjadi ‘pengusaha’ di ranah maya, meski ia tak memiliki workshop dan sebagainya. Miskinnya informasi akibat ketiadaan akses di kalangan perajin, bisa menjadi keuntungan mereka yang lebih melek informasi dan teknologi.

Kira-kira, bagaimana nasib perajin tembaga di pedalaman Boyolali atau pembuat wayang kulit di pelosok Wonogiri yang untuk proses pembuatan butuh waktu berhari-hari, lantas menjualnya secara berkeliling namun hanya laku satu-dua dengan keuntungan tak seberapa?

Lantas, bagaimana Anda menilai, ketika (katakanlah) seorang blogger yang membeli dari pedagang lalu memotret barang dan mengunggahnya di internet, yang bahkan dalam waktu sekejap bisa laku berpuluh-puluh barang dengan harga berlipat, sebab ia paham cara menjual, tahu pasar dengan cukup membumbui keterangan yang memikat?

***

Sukses berbisnis lewat internet bukan cerita kosong belaka. Dari kesukaan meramu teh dari berbagai merek yang ada di pasaran, saya pun merasa sudah menjadi ‘pengusaha’. Padahal, itu hanya kebiasaan lama sebagai anak kos ketika mahasiswa, yang dipengaruhi oleh lingkungan, sebab orang Solo sangat biasa mencampur beberapa merek teh untuk menghasilkan satu rasa dan aroma baru yang tidak ‘didikte’ produsen.

Berawal dari oplosan teh sebagai buah tangan untuk teman-teman, lantas beredar banyak penilaian dan sanjungan lewat media sosial dari mereka-mereka yang pernah menyecapnya. Pelan tapi pasti, teh itu memancing rasa penasaran karena menjadi terkenal di Twitter. Hasilnya, pemesan berdatangan, baik secara individual maupun dari pengelola kafe dan rumah makan.

Pelatihan penggunaan internet untuk keperluan membuat toko online. Pelaku usaha mikro-kecil dan menengah (UMKM) bisa memanfaatkan teknologi untuk pengembangan usaha.

Bagi saya, pengalaman itu merupakan kejutan, meski jika dinalar, sejatinya sama saja orang memperbincangkan jenis kuliner atau nama warung, sehingga kemudian diburu banyak orang! Bedanya, dengan teknologi, batas-batas wilayah bisa terlewati¸ kendala waktu bisa teratasi

Dari situlah, saya berpikir untuk berbagi, mempertemukan orang ‘tradisional’ yang belum bersentuhan dengan teknologi (saya menyebutnya kaum offline) dengan kaum online yang sudah mengakrabi perangkat teknologi komunikasi. Hingga kemudian, muncul gagasan mengelola ‘kopdar’ atau pertemuan secara offline antara pengguna internet dari berbagai kota.

Hasilnya menggembirakan. Dengan berkumpul di Solo, misalnya, para onliner atau populer dengan sebutan blogger dari Surabaya, Jakarta, Ponorogo, Semarang, Yogyakarta dan berbagai kota itu akan mengunggah catatan berupa tulisan dan foto-foto selama perjalanan dan lokasi tujuan. Kekayaan potensi (ekonomi, wisata dan budaya) sebuah daerah menjadi terpublikasi di ranah maya.

Saling kunjung ke komunitas-komunitas blogger di kota lain berarti potensi publikasi, atau penyebaran informasi. Nyatanya, itu penting dan bermanfaat, seperti banyak teman berkumpul di Ngawi, Ponorogo, Surabaya, Wonosobo atau kota-kota lain.

***

Jika kemudian saya bergabung dengan teman-teman blogger Bengawan yang mengadakan pelatihan komputer, internet, blogging dan mencoba membuat toko online bersama para pelaku usaha rumahan (sektor usaha mikro-kecil dan menengah/UMKM), tak lain adalah dalam rangka mengikis kesenjangaan informasi dan aksesibilitas demi peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan.

Begitu pula ketika menggelar pelatihan serupa untuk orang-orang difabel, baik tuna daksa maupun tuna netra, tak lain karena kami meyakini, mereka akan tersingkir dari pertarungan ekonomi yang kian sengit, kini dan kelak. Setiap warga negara berhak untuk memperoleh akses informasi dan meningkatkan kemampuannya dalam berbagai bidang secara bersama-sama dengan prinsip berbagi dan tumbuh bersama, tanpa harus merengek-rengek kepada negara yang masih gagal menjalankan fungsi dan perannya.

Kaum tuna daksa, tuna netra atau penyandang jenis cacat lainnya, misalnya, justru memiliki potensi mengembangkan diri yang luar biasa. Keterbatasan mobilitas justru menjadi potensi sumberdaya manusia yang luar biasa besar. Mereka akan lebih fokus pada sebuah kegiatan dibanding individu yang tidak memiliki keterbatasan fisik. Saya termasuk yang meyakini, pelatihan dan penyediaan aksesibilitas perangkat teknologi untuk mereka akan memunculkan individu dan produk-produk yang digarap secara sangat serius.

Kita tahu, penetrasi penggunaan internet untuk publik di Indonesia termasuk cukup lambat jika ditilik dari maraknya usaha jasa layanan akses internet sejak paruh pertama 1990-an. Dari 250-an juta lebih penduduk Indonesia, baru 34 juta orang yang memiliki akses internet. Tercatat, ada sekitar 30 juta pengguna aktif mobile internet, yang boleh jadi, sebagian besar dari mereka termasuk ke dalam kelompok 34 juta yang terhubung dengan internet untuk berbagai aktivitas, baik di rumah maupun kantor/sekolah.

Jumlah pengguna telepon seluler pun hanya sekitar 150 juta, yang bisa jadi riilnya hanya di bawah 70 juta orang, sebab statistik hanya merujuk pada jumlah barang, tanpa melihat satu orang bisa memiliki dua hingga enam telepon sekaligus!

Memang, tanpa teknologi orang tidak lantas mati atau miskin secara ekonomi. Tapi bahwa dengan teknologi, setiap individu berpotensi mampu memangkas pengeluaran dan meningkatkan pendapatan, saya yakini kebenarannya, sehingga cakupan atau penetrasi perlu digalakkan. Bahwa ekses masih saja muncul di sana-sini, rasanya masih bisa ditekan dengan jalan edukasi.

***

Tantangannya kemudian adalah bagaimana soal pemerataan aksesibilitas masyarakat terhadap teknologi, baik jenis telepon seluler maupun koneksi internet yang bisa menjangkau pedesaan hingga wilayah pedalaman.

Hingga kini, pemerintah sudah menginisiasi program masuknya teknologi hingga tingkat kecamatan di seluruh Indonesia. Empat konsorsium terlibat dalam pengadaan sarana dan prasarana internet merambah pelosok negeri. Seorang teman yang terlibat dalam program itu di wilayah Nusa Tenggara Timur memastikan, seluruh kecamatan sudah terhubung internet, meski satu kecamatan hanya disediakan satu rumah dengan lima unit komputer yang terhubung internet dengan sistem voucher.

Komputer dan internet juga diperlukan oleh kaum difabel. Isu-isu difabilitas bisa dibagi untuk banyak orang tanpa mengenal batas-batas geografis.

Memang masih jauh dari memadai, meski itu harus diapresiasi sebagai cikal bakal hadirnya teknologi sebagai bukti keseriusan pemerintah mengatasi kesenjangan. Tinggal bagaimana kemudian cara merawat dan mengembangkan, termasuk memperbanyak pelatihan sebagai sarana edukasi mengakrabi, memanfaatkan, sekaligus memangkas potensi dampak negatif penggunaan teknologi.

Pemerintah, badan usaha swasta, termasuk operator seluler seperti PT. XL-Axiata, publik dan komunitas online tinggal membentuk kerjasama sinergis untuk memajukan pendidikan dan perekonomian rakyat Indonesia.

Apalagi, kesenjangan akibat aksesibilitas terhadap teknologi informasi, rasanya akan kian terasa tahun-tahun mendatang. Kebijakan ICT di tingkat kabupaten/kota belum sepenuhnya berorientasi kepada optimalisasi pemanfaatan teknologi untuk peningkatan kesejahteraan publik. Apalagi yang terkait dengan misi besar mencerdaskan bangsa atau untuk menciptakan kemudahan birokrasi dan akuntabilitas lembaga-lembaga pelayan publik. Pada tingkatan pemanfaatan aplikasi standar –semisal word, excel, dan powerpoint, untuk menopang kerja-kerja administratif saja, belum merata di kalangan pegawai pemerintahan, bahkan di kota seperti Solo atau Surakarta.

11 thoughts on “Menggauli Teknologi Komunikasi

  1. Perkembangan teknologi semakin canggih, terutama untuk mobile device, orang bisa ngenet di mana aja dan kapan aja..hal ini membawa dampak positif semakin banyaknya pengguna internet di indonesia. Kalau semakin banyak pengguna, arus informasi samakin lancar, bisnis di internet juga semakin maju
    .-= Budy´s last blog ..The Global Burden of Chronic Diseases =-.

  2. Maju terus RBI! Acaarane mantep-mantep

    Selebihnya saya sepakat sama yg ini PakDhe, “Saling kunjung ke komunitas-komunitas blogger di kota lain berarti potensi publikasi, atau penyebaran informasi. Nyatanya, itu penting dan bermanfaat,”

Leave a Reply