Boikot Nonton Final AFF

Sejak Jumat siang, saya menyerukan ajakan boikot nonton pertandingan final Piala AFF di Gelora Bung Karno. Latar kebencian hanya sekian persen. Masih jauh lebih besar kecintaan saya terhadap olahraga bernama sepakbola ini. Walau harus jujur saya sampaikan di sini, kemuakan akan gosip suap (dengan uang dan teman tidur) juga memberi kontribusi sikap anti terhadap PSSI.

Semasa perserikatan berjaya, sepakbola memang bukan sekadar permainan olahraga. Saya menyebutnya sebagai olahraga prestasi karena para pemimpin perserikatan adalah orang-orang penting di bidang kemiliteran, yang akan dicatat prestasinya bila berhasil meredam suhu politik, termasuk lewat sepakbola.

Dulu, saya senang memprediksi kemenangan sebuah klub sepakbola dalam sebuah kompetisi dengan pendekatan politis. Daerah di mana sedang memiliki suhu politik tinggi, bisa dipastikan akan memperoleh kemenangan. Wasit dan pemain bisa diarahkan. Skor bisa diatur. Sehingga, wajar sebuah kesebelasan ‘tanpa track record’ memadai bisa menggunduli kesebelasan tangguh dengan skor mencengangkan: 12-0!!!

Ketika era ‘swastanisasi’ sepakbola muncul seiring dengan mengendornya dominasi politik oleh militer dan Orde Baru dalam persepakbolaan, berubah pula pola permainannya. Suap-menyuap bergeser di antara pemodal. Boleh jadi, sepakbola jadi arena judi, baik dalam arti konotatif maupun yang sesungguhnya.

Lalu, datanglah era di mana politisi berbondong-bondong menguasai jagad persepakbolaan Indonesia. Kebutuhan latihan, seragam, kesehatan, makan dan tempat latihan yang mahal, dijadikan alasan untuk menggerogoti dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Dengan dalih tim sepakbola sebagai aset daerah, ditambah posisi politisi yang umumnya kepala daerah, maka menggelontorlah sejumlah anggaran untuk pembinaan sepakbola. Korupsi, pun seperti menjadi ‘konsekwensi logis’.

***

Tim sepakbola selalu memiliki pendukung. Puluhan hingga ratusan ribu supporter bisa bersatu, bahu-membahu mendukung setiap tim kesayangannya berlaga. Mendatangi tempat pertandingan dengan membeli tiket. Duit yang terkumpul dari penjualan tiket itu pula yang bisa mengisi pundi-pundi klub, yang memang padat modal.

Di mana posisi PSSI?

Sejak dulu hingg kini, PSSI tak lebih seperti tempat mejeng orang-orang yang merasa penting, atau dipentingkan oleh berbagai sebab. Konon (maaf, saya tak tahu soal ini), anggaran pembinaan sepakbola dari negara (APBN) berangka dengan satuan triliun. Angka yang wajar andai ada bukti melahirkan pemain dan klub-klub hebat. Nyatanya, pemilik/pengurus klub juga banyak yang misuh-misuh alias memaki-maki pengurus PSSI, meski hanya dalam hati.

Ketidaksukaan pengurus klub umumnya, ya cuma sebatas di bibir doang. Kekurangan pengurus PSSI juga jadi ‘peluang’ untuk melakukan deal-deal kemenangan atau selisih gol, sebab supporter harus dikelola untuk kepentingan ganda. Penggerak/pengumpul massa bisa dijadikan tokoh kunci pendulang suara dalam pemilihan umum (legislatif maupun kepala daerah), sekaligus ‘penyedia nyawa’ karena akan menonton klub kesayangan dengan merogoh kocek untuk memperoleh selembar kertas untuk masuk ke area pertandingan.

Permainan bisa diteruskan, deal kemenangan juga bisa dilakukan antarklub, dan suap ke pengurus PSSI yang membawahi Komisi Disiplin, harus dijalankan untuk ‘mengawal’ rancangan. Jadi, kedua pihak sama-sama membutuhkan, dan supporter hanya sekadar dijadikan penonton dan sekaligus sapi perahan.

***

Kenapa boikot menonton partai final Piala AFF?

Menurut saya, ini hanya sekadar memanfaatkan momentum saja. Tim Nasional arahan Riedl sungguh-sungguh menunjukkan prestasi gemilang dan bermain bagus. Tidak seperti yang kita saksikan di banyak pertandingan, dimana pemain sepakbola melakukan atraksi bak atlet pencak silat, di mana tangan dan kaki digunakan untuk menjatuhkan lawan. Merebut dan menguasai bola bukan dijadikan ajang kepiawaian permainan.

Satu-satunya cara memberi ‘pelajaran’ kepada PSSI, ya dengan cara memboikot nonton laga final di Gelora Bung Karno dan menggantinya dengan menonton siaran televisi dari rumah atau nonton ramai-ramai atau yang populeer dengan sebutan nonton bareng alias nobar! Dengan cara itu, tiket tak laku.

Tak usah kuatir pemain kendor semangatnya. Media massa, internet dan social media akan menjadi sarana efektif untuk memberitahukan kepada para pemain dan pelatih, bahwa kita, rakyat, sedang marah dan muak dengan PSSI. Toh, para pemain itu juga tahu, seperti permainan apa yang terjadi dan mereka alami sehari-hari. Tanpa menghadiri nonton laga di GBK, tak akan surutkan nyali dan semangat pemain TimNas saat menghadapi Malaysia. Apalagi, Bambang Pamungkas, Arif Suyono, Irfan Bachdim dan banyak pemain sudah aktif di twitter dan media jejaring sosial lainnya.

Dengan gerakan tak menonton di GBK, PSSI akan bisa mawas diri, sehingga tak jumawa seperti yang ditunjukkannya selama ini. Lagi pula, dengan nonton di rumah atau nonton bareng/nobar, uang bisa dihemat, dan bisa melariskan pedagang asongan atau pedagang kakilima di sekitar lokasi nobar. Jadi, duitnya akan lebih berkah dibanding hanya memperkaya oknum pengurus PSSI dan preman-preman bayaran yang konon dikerahkan Nurdin Halid untuk sweeping spanduk-spanduk supporter.

Coba kita hitung, berapa keuntungan yang bisa diraih dari penjualan tiket yang mencapai Rp 8 milyar setiap kali pertandingan pada babak penyisihan, dan melonjak hingga Rp 14 milyar pada pertandingan semifinal, tempo hari. Itu belum termasuk pendapatan dari sponsor dan fee hak siar stasiun televisi.

Jadi, membeli tiket sama saja dengan memberi dukungan kepada PSSI dan memberi kesempatan korupsi kepada oknum-oknum pengurusnya. Bila Anda belum telanjur membelinya, urungkan saja niat menonton di GBK. Kumpulkan saja alokasi belanja tiket sejumlah teman Anda untuk menggelar acara nonton bareng di rumah atau di lapangan bulutangkis di kampung Anda. Pasti lebih seru!

Saya percaya, walau tak datang menyaksikan langsung di gelanggang olahraga saat TimNas berlaga, Garuda akan tetap bersemayam di dada. Para pemain TimNas juga akan memahami perasaan pendukung yang kecewa. Siapa tahu, protes kita justru disambut positif oleh Bambang Pamungkas, Christian Gonzales dan kawan-kawan, sehingga menjadikannya sebagai semangat untuk melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan PSSI selama ini.

Pada diri mereka, saya percaya, pingin menjadi pemain-pemain terbaik. Hanya kesempatan yang tak memungkinkan, sebab PSSI dan pengurus klub telanjur dalam terlibat dalam patgulipat.

Simak saja semua berita, antusiasme menonton ditunjukkan dengan antrian panjang demi selembar tiket, padahal sampai kehujanan dan kepanasan selama berjam-jam dengan menahan perut lapar. Kalau semua balik kanan, bertekad menonton dari rumah, saya yakin para pencoleng akan nangis darah.

Gerakan sosial alias #socialmovement bisa dimulai dari peristiwa yang tampaknya hanya ‘sederhana’ ini.

Silakan Anda timbang sendiri. Saya yakin, TimNas tetap bisa menang tanpa riuh-rendah sorak penonton di tribun. Dan aksi boikot nonton yang saya usulkan, bukan demi keburukan, melinkan karena kelewat sayang akan potensi-potensi prestasi yang dipupus oleh para pengurus yang seharusnya berjihad untuk kemajuan persepakbolaan Indonesia.

12 thoughts on “Boikot Nonton Final AFF

  1. Saya setuju dengan Jenengan, Pakde.
    Alasan yang pertama karena memang saya tidak mempunyai tiket untuk nonton langsung ke senayan. Alasan yang kedua adalah perlakuan oleh PSSI/panitia yang dirasa kurang adil dan kurang profesional kepada mereka yang “tidak punya pangkat dan kedudukan” yang rela mengantri hanya untuk selembar tiket pertandingan….
    .-= Sukadi´s last blog ..Tiket Final Piala AFF- Perjuangan dan Harapan =-.

Leave a Reply