Topeng Si Bongsor

Berbilang tahun, saya tak pernah melihat wajah Si Bongsor tersenyum. Sekalipun. Dibilang sedih juga belum. Tapi kalau menebak-nebak, apalagi mengamini gosip, barulah saya akan bisa maklum. Tapi gosip cenderung mudah berubah jadi fitnah, apalagi tak bisa merunut sejarah, apalagi mengurai apa yang sejatinya pantas disebut kisah.

Saya berjarak dengannya. Kenal tidak, tapi mengenali. Setidaknya, ya dari raut mukanya yang khas: tanpa senyum, dan kadang-kadang tampak jelas wajahnya berhiaskan semacam kantung air yang menggantung di bawah kedua matanya. Kantung itu sewarna dengan seluruh kulit muka, sehingga saya tak bisa menyebutnya sebagai sejenis luka, seperti wajah petinju kalahan yang mudah kalah knock out.

Seperti julukannya, Si Bongsor sangat mudah dikenali. Di pasar atau di kerumunan penonton sepakbola sekalipun, ia selalu menarik perhatian. Besar dan tinggi badannya, jauh di atas rata-rata manusia ras Melanesia. Tapi wajahnya sangat Jawa, meski posturnya sangat Eropa. Mungkin, itulah takdirnya.

Bentuk tubuhnya, jangan-jangan juga sebagai penanda, bahwa dialah orang terpilih, sehingga harus berbeda dengan yang lainnya. Sejarah hidupnya, konon penuh keberuntungan: diberi kecerdasan lebih dibanding teman-teman sekolahnya, bahkan sejak SMA hingga jenjang tinggi di masa dewasanya.

Kalau kemudian ia naik derajad jadi bangsawan, sejatinya itu konsekwensi logis dari takdir semata. Sebab Tuhan punya tiga hal yang tak bisa diupayakan, diikhtiarkan oleh manusia, dengan cara apapun: jodoh, rejeki, dan usia. Nah, pada bagian jodoh itulah, ia dikukup atau diambil jadi menantu orang besar. Maka, wajar kalau Si Bongsor lantas terdongkrak kastanya, bukan lagi anak petani desa.

Tapi, Si Bongsor tahu dan sadar betul akan sebuah risiko lompatan kasta itu. Maka, ia perlu merancang eksistensi baru, agar dirinya tak tenggelam. Jadi, ­branding menjadi penting dan pilihannya ia akan total memasuki dunia seni peran. Keyakinannya, hanya itulah satu-satunya pintu masuk untuk mendongkrak popularitas, agar eksistensinya tak tenggelam.

Alasannya sederhana, tapi masuk akal. Sebagai menantu orang besar tapi tak milih berbisnis seperti kebanyakan orang, bakal menarik perhatian. Pilihan itu bisa menarik perhatian wartawan, juga pekerja infotainment.

Faktor obyektif lainnya, televisi yang lagi booming tak sebanding dengan ketersediaan pelakon, baik untuk mengisi acara banyolan konyol, lawakan yang dikesankan cerdas lantas dibalut talkshow, atau pemandu reality show. Semua dianggapnya buruk dan murahan. Capaian terbesar acara-acara televisi, toh masih berkisar bagaimana bisa mewarnai bangku-bangku audiens dengan identitas perguruan-perguruan tinggi bergengsi. Mahasiswa-mahasiswi cuma dipinjam tubuhnya, untuk memajang jaket almamater, plus diminta aktif bersorak atau tepuk tangan sesuai arahan kru siaran.

Singkat cerita, perhitungan Si Bongsor terbukti benar-benar jitu. Ia pun laris manis, sering tampil di sejumlah stasiun televisi. Perannya yang antagonis, selalu memancing tawa penonton: mahal senyum, bahkan ketika harus tepuk tangan pun, mimiknya tetap dingin. Pelawak sekaliber Bolot sekalipun jiper kalau tampil sepanggung. Begitu pula eks-Srimulat.

Si Bongsor memang konsisten menjaga penampilannya. Konon, ia murah senyum kalau di rumah atau berada di kalangan terbatas. Tapi ketika tampil di muka umum, ia menggunakan wajah default-nya. Ia tak peduli banyaknya lensa foto atau kamera televisi diarahkan kepadanya sebagai figur publik. Pokoknya tampil masam!

Bahkan, pernah suatu ketika Si Bongsor bersama keluarga besarnya menonton pertandingan sepakbola tingkat dunia tanpa sukacita sama sekali. Ketika itu, tim senegaranya tampil memukau hingga mampu menjebol gawang lawan, yang merupakan negara dengan reputasi sepakbola kelas dunia. Saat gol terjadi, ia hanya berdiri, bertepuk tangan mekanis, seperti hanya menirukan penonton di kiri-kanan dan seberangnya. Wajahnya konsisten: tanpa ekspresi.

Ia seperti tak peduli bahwa pertandingan itu disiarkan secara live yang disaksikan puluhan juta penonton. Hingga berakhirnya pertandingan, ketika semua penonton bersorak-sorai, ia turut berjingkrak-jingkrak kegirangan, tapi dengan raut muka yang sama. Dingin. Ia tak sadar, ketika itu jutaan orang tercengang. Kaget. Ternyata, orang bisa melihat langsung raut mukanya tertawa lepas. Rupanya, topeng yang dikenakannya terjatuh akibat karet pengikatnya putus.

Seperti jutaan pemirsa, saya kaget. Tapi senang…..

8 thoughts on “Topeng Si Bongsor

Leave a Reply