Generasi Pasar Swalayan

Di kota besar, pasar pasar swalayan punya beragam segmen, hingga ada yang eksklusif. Di kota-kota kecil, Indomaret dan Alfamart ‘menginspirasi’ pemain-pemain lokal membangun usaha serupa. Di tempat-tempat seperti itu, satu dengan yang lain tak butuh diplomasi. Pola komunikasinya sangat minimalis. Masa depan Indonesia, ditentukan oleh mereka, para pemodal yang menyederhanakan interaksi.

Kita sekarang sudah bisa melihat akibatnya. Simak ramai lalu lintas ‘percakapan’ di media-media (jejaring) sosial, seperti Facebook dan Twitter. Satu dengan lain bisa saling komentar, debat hingga berpolemik, bahkan tak jarang memaki dan menghujat ‘lawan bicara’ dengan keberanian luar biasa. Situasi berbeda akan tampak ketika di antara mereka melakukan komunikasi secara tatap muka. Belum tentu secerewet di dunia maya.

Ada beberapa ciri menonjol pada mereka yang lahir setelah pertengahan 1980-an. Sebagian cenderung berani ngeksis dan eksis di wilayah anonim, namun menjadi pemalu ketika harus kontak mata dengan lawan bicara. Pada sebagian yang lain, kelewat percaya diri karena merasa memiliki kemampuan dan pengetahuan lebih, apalagi terhadap lawan audiens yang diketahui tak mengenal teknologi informasi.

Fenomena kopdar atau pertemuan tatap muka antarnarablog, kebanyakan lebih didorong sebagai aktifitas penggenapan sisi ‘asosial’ seseorang. Bagi warga kota, kebanyakan aktivitas rutinnya hanya: rumah-sekolah/tempat kerja-tempat makan-rumah. Berangkat pagi, pulang sore/malam, dan (boleh jadi karena itu) tak ada interaksi intens dengan tetangga/lingkungan. Tentu saja, tak semua generasi internet demikian, meski yang bergaul dalam pengertian melibatkan atensi, simpati dan empati terhadap sesama, bisa disebut anomali.

Ciri umum generasi begini: mudah terkagum-kagum (gumun) pada sesuatu yang pertama kali dilihat/dialami, meski itu sudah lazim diketahui sebagian besar yang lain. Entah itu jenis makanan, pakaian, tempat rekreasi, hingga produk-produk tertentu keluaran pabrik tertentu.

Untuk kelompok ini, saya menyebutnya sebagai generasi (produk) pasar swalayan. Mereka biasa melihat, memilih sesuai keinginan tanpa perlu tanya ini-itu. Biasanya, referensinya terhadap pilihannya sudah memadai entah diperoleh dari orang terdekat atau lewat pesan yang sudah didesain sedemikian rupa oleh praktisi komunikasi alias materi iklan.

***

Di seberang generasi pasar swalayan, terdapat kelompok lain yang ‘kuno’ namun memiliki kemampuan adaptasi tinggi. Pada ‘generasi kuno’, melekat apa yang dinamakan rasa percaya diri, sehingga memiliki keberanian melakukan kontak mata dengan mitra bicara. Mereka belum tentu berasal dari orang-orang yang lahir jauh sebelum 1980-an. Saya menduga, kuncinya terletak pada pendidikan keluarga.

Keluarga beruntung adalah mereka yang masih sering menyuruh anak-anaknya berbelanja di pasar tradisional atau warung-warung/toko-toko yang tak mencantumkan label harga. Di tempat-tempat seperti itu, masih terdapat komunikasi paling minimal, seperti menanyakan harga. Mereka yang sampai melakukan tawar-menawar bakal menjadi manusia (lebih) ‘unggul’, sebab memperoleh medium belajar menumbuhkan keberanian, seni diplomasi dan negosiasi.

Para generasi pasar tradisional yang masuk ranah pergaulan nirkabel, kebanyakan memiliki keberanian ‘menghadapi’ orang lain. Apa yang terjadi di dunia maya cenderung tak jauh berbeda dengan di alam nyata, seperti saat kopdar, misalnya.

Saya teringat cerita teman, pada pagi usai bubaran shalat Ied, yang diajak ketemu untuk berdiskusi oleh orang yang akrab bertegur sapa dan debat tentang film lewat Twitter. Saat berjumpa, orang yang menggebu-gebu ingin bertemu, itu lebih banyak diam. Saat ditanya kenapa tak seramai diskusi biasanya, dijawab dengan enteng: kalau di internet saya berani, Mas. Kan tidak ngobrol langsung….

Saya pun merasakan hal sama pada suatu acara. Banyak orang hadir dari berbagai penjuru kota. Kepada orang yang baru kenal, saya memulai percakapan dengan ilmu standar: bertanya (setengah basa-basi) tentang asal daerah, hingga akhirnya menemukan satu kata kunci yang membuat kami jadi ‘dekat’. Teman baru itu asal Maluku, mengaku pernah kuliah di Jombang.

Dari sebuah nama sekolahnya di Jombang, saya lantas mengira-ira: dia orang berpikiran terbuka alias tak sektarian. Ia, barangkali kenal dengan seorang teman saya di sana, yang dulu aktif dalam kegiatan-kegiatan resolusi konflik semasa hingga pasca-kerusuhan Ambon. Perkiraan saya tepat, ia mengenal orang yang saya maksud. Dari situ, saya lantas merasa dekat.

***

Lalu, apa hubungan pasar swalayan, pasar tradisional dan proses kedekatan antarteman?

Entah. Saya tak ngerti teorinya. Intinya, saya cuma mau cerita mengenai pengalaman masa kecil yang kerap disuruh ibu untuk belanja ebi, gula, sayur-mayur dan aneka kebutuhan dapur di pasar tradisional. Di sana tak ada label harga, karena itu halal hukumnya menawar hingga muncul kesepakatan harga, ketika kedua belah pihak bersepakat.

Lega rasanya ketika bisa memperoleh harga akhir lebih murah dari yang ditawarkan. Tak ada yang menekan, tak ada pula yang merasa dirugikan. Dan, semua pihak belajar fair, bertanggung jawab atas semua ucapan dan tindakannya. Membuat penawaran kelewat mahal akan ‘diadili’ publik hingga sepi pembeli. Tapi menawar kelewat murah bisa berdampak dibentak, atau dimaki-maki kalau membuat kelewat keki.

Intinya, mari kembali ke pasar tradisional. Kita bisa belajar banyak dari sana. Termasuk, menghidupkan sektor riil, karena modal akan berputar di situ-situ juga. Tidak seperti pasar swalayan seperti Indomaret atau Alfamart, yang semua keuntungannya akan ‘lari’ ke Jakarta.

Ke mana larinya uang yang kita belanjakan ke hypermarket yang sahamnya dimiliki perusahaan asing?

Mari kita mendidik diri, keluarga dan lingkungan terdekat kita. Tak harus memusuhi yang serba asing. Kalau hanya untuk beli gula, garam dan sayur-sayuran, baiklah kita ke pasar tradisional, pedagang keliling atau di lapak-lapak di dekat rumah kita.

13 thoughts on “Generasi Pasar Swalayan

  1. Nambahi: paragraf kedua komen saya itu, adalah rokok dan sabun yang dijual di warung kampung. 🙂 Siapa pemilik saham beberapa pabrik rokok besar, siapa pula Unilever yang ragam produknya banyak dan kekuatan distribusinya diakui? 🙂
    .-= Antyo Rentjoko´s last blog ..Jebakan Polisi =-.

  2. yang lucu adalah ada swalayan yang besar, misal carrefour yang siap mengganti belanjaan konsumennya jika barang yang dibeli di tempatnya ternyata lebih mahal dibanding tempat lain. faktanya, di pasar tradisional untuk beberapa barang tertentu malah lebih murah dibanding carrefour..
    .-= bolehngeblog´s last blog ..Membenahi Angkutan Umum di Solo =-.

  3. ada sedikit pengalaman, di sekitar lingkungan saya ada toko klontong dengan kemasan mirip minimart milik perorangan, bukan sebangsa Alfamart atau Indomaret. Di kemudian hari, Alfamart berdiri tidak lebih 30 meter di sampingnya. Langganan yg biasa mampir di toko klontong berpindah ke Alfamart. Namun hal itu tak bertahan lama, karena toko klontong itu menjual bumbu pasar dan banyak hal yg tak dijual di Alfamart. Intinya, mungkin perlu mengubah kemasan agar dapat bersaing, meski bukan satu2nya solusi.
    Kasus lain, dengan adanya minimart “modern” ini mematikan sebagian besar usaha kelontong.

    suwun 😀

  4. la kalo pasar tradisionalnya jauh, dan lebih deket ke Indomaret atau Alfamart (apalagi yg buka 24 jam), la mosok kudu dibela-belain, mas? belum lagi keluhan soal kotor, bau, becek, dsb. 😀

    intinya sih, yang praktis aja. misal kalo ada pedagang sayur yg lewat di depan rumah, juga jadi lebih praktis, toh?

    e tapi, aku ndak anti sama pasar tradisional, ya.. 😀
    .-= zammy´s last blog ..Cooling Fan =-.

    suka-suka saja. setiap orang punya hak untuk memilih dan bersikap, kok… :p
    /blt/

  5. Tapi tidak bisa menyalahakan pembeli, sebab diswalayan itu nggak perlu nawar, tempat bersih, ambil sendiri… tapi yang bikin mangkel kadang pada kemayu, beli kopi sama gula saja ke swalayan, padahal ke warung juga ada, lha wong cuma kopi sama gula kok…
    Mungkin perlu terobosan baru, pasar tradisional rasa swalayan, mungkin oke juga… 😀

    Maturnuwun Pakde, nyuwun ngapunten yen wonten lepate… 🙂
    .-= Sukadi Brotoadmojo´s last blog ..Sebuah Pilihan =-.

    memang selera pembeli, Kangmas… soal terobosan, sepertinya menarik.

    nuwun, nggih. mboten wonten lepatipun..
    /blt/

  6. Sebentar, bentar. Bagi saya pasar tradisional dan modern itu komplementer. Memang masing2 membawa situasi komunikasi yang berbeda. Swalayan lebih memberi kesempatan konsumen untuk menimbang dan memilih. Itu sebabnya pengiklan pun menyesuaikan diri. Di sisi lain, miniswalayan pun berusaha lbh komunikatif, hanya saja ketika lagi ramai maka kasirnya tak sempat bicara. Kasir sebuah Alfamart menebak rumah saya di mana.

    Kekuatan ekonomi asing? Rokok dan sabun yang dijual pun dari perusahaan rokok yg dimiliki asing dan produsen consumer goods merangkap distributor asing. Bagaimana memperkuat ekonomi nasional tanpa proteksi berkepanjangan, dan tidak antiasing, itu wacana besar. Perlu posting khusus dari yang berminat. 🙂

    Perihal generasi swalayan? Secara umum saya menganggap mereka justru bisa mengatasi kekikukan di dunia “nyata” melalui internet, khususnya media sosial. Konversasi publik menjadi katup pelepas. Itu sebabnya ada yang clingus di dunia “nyata”, kurang komunikatif, kurang artikulatif, karena sekian lama mereka dibesarkan dalam unggah-ungguh sosial oleh orangtua (dari suku tertentu) yang yang tumbuh dalam keterbatasan berekspresi karena represi.

    Tentu persoalannya tak sesimpel itu. Kalai dijlentreh komen ini jadi posting tersendiri.

    Satu penitup: internet membuat sebagian orang kurang sabar, maunya serbacepat, tapi juga mudah lupa, karena semuanya serbapermukaan. 🙂

    Pegel nulis komen panjang di ponsel. Pertma kali ini… 😀

    panjang amat komentarnya, Man?
    tapi asyik, bisa melengkapi dan mengoreksi kekurangan saya.
    nuwun
    /blt/

  7. dunia internet telah membuat orang menjadi autis alias asyik dengan dunianya sendiri.
    sehingga berefak pada interaksi sosial yang tidak “genep” .
    selain itu budaya instan telah menjadi bagian dari hidup orang2 yang lahir era 90an (aku soale 80an haha)
    jelas berefek pada pola interaksinya, pengene beli barang yang instan juga bung.
    di pasar swalayan tidak perlu menawar dan harganya pasti (pasti mahal) katanya.
    .-= ciwir´s last blog ..Microsoft Office vs Open Office =-.

    memang lebih mahal… apalagi, kalau harganya aneh-aneh, pembulatannya semau kasirnya.
    /blt/

  8. Bagus mas post-nya. Salam kenal ya mas. Saya dari generasi yang lahir tahun 80an dan senaaaaaaang sekali pergi ke pasar tradisional. Naluri perempuan kayanya, lihat produknya lebih segerrr. 🙂

    makasih, Ika. salam kenal, ya…
    /blt/

Leave a Reply