Tentang Anak Kembar

Andai tak punya saudara kembar, mungkin saya tak bakal detil menyimak Twin Town, sebuah film dokumenter di National Geographic Channel. Cerita tentang misteri Desa Kodinhi di India, yang populasi penduduk kembarnya cukup tinggi. Uniknya, banyak sapi pun lahir kembar di kampung berpenduduk mayoritas muslim itu.

Yang menggoda agar mata terus melotot, antara lain dugaan bukan semata faktor genetik yang membuat angka kehamilan kembar relatif tinggi. Beberapa pasangan pendatang, kebetulan juga menurunkan generasi kembar sehingga mendorong Sribiju, seorang dokter, untuk meneliti kemungkinan adanya faktor lain, termasuk air.

Maka, ia mengambil sampel air dari sumur-sumur penduduk dan air sawah (yang ternyata tak terkontaminasi pestisida dan herbisida anorganik), untuk diteliti unsur-unsur kimianya. Jangan-jangan, begitu asumsi Pak Dokter itu, kandungan air turut memengaruhi kehamilan kembar selain faktor perkawinan yang masih memiliki pertalian darah.

Semula, tak terbayang di benak saya, ada (kalau tak salah ingat) belasan pasangan kembar identik dari 100 siswa sebuah sekolah di desa itu, sehingga seorang guru kerap salah menyebut nama anak didik. Apalagi, para anak kembar juga suka mempermainkan guru dengan bertukar nama pada satu pasangan kembar.

Apakah perilaku mempermainkan orang lain yang tak mudah mengenali menjadi ciri anak kembar, saya kurang tahu persis. Yang jelas, dua adik bungsu saya yang kembar kerap bertukar nama ketika ada saudara yang menyapa asal-asalan lantaran sulit membedakan ciri dan wajah di antara keduanya.

Pada hari lebaran atau saat ada hajjatan keluarga, di mana banyak saudara jauh berkumpul, biasanya menjadi momentum adik-adik saya untuk ngerjain mereka. Dan saudara-saudara saya akan sadar sedang dipermainkan ketika kedua adik saya terbahak-bahak menertawakan kekeliruan itu.

Rupanya, Kodinhi merupakan ‘kota’ berpopulasi kembar terbesar kedua setelah sebuah kota di Brasil bagian selatan. Betapa riuhnya ketika Twin Town memperbandingkan adegan kumpul bersama orang kembar sekampung di masing-masing daerah itu. Uniknya, orang Kodinhi merasa, merekalah yang terbesar di dunia.

Yang tak kalah menariknya, justru dari film itulah saya baru tahu kalau nenek moyang manusia, yakni Adam dan Hawa, ternyata memiliki 14 pasang anak kembar, yang lantas kawin di antara mereka bersaudara sehingga beranak-pinak sampai memenuhi jagad raya. (Alangkah piciknya pengetahuan agama saya, hingga terhadap sebagian sejarah penting keluarga Nabi Adam pun harus saya dapatkan dari National Geographic).

Bagaimana soal faktor unsur kimia air memang tidak terjawab hingga film berakhir. Kata sang peneliti, mungkin baru sepuluh tahun kemudian bisa diperoleh petunjuk, apakah di luar genetika, seperti ‘dibakukan’ dengan Hukum Mendel, ada faktor lain yang berpengaruh bagi kehamilan kembar. Sebab, bukan cuma pada manusia, sejumlah sapi pun melahirkan yunior-yunior kembar pula.

Omong-omong soal orang kembar, apakah Anda punya cerita?

Kalau saya, jelas punya. Adik bungsu saya kembar, seperti Nakula-Sadewa dalam kisah Mahabharata. Kami Pandawa Lima. Lima besaudara, lelaki semua. Bedanya dengan cerita wayang, kami dilahirkan dari ayah-ibu yang sama. Wajahnya mirip bagi menurut banyak orang, meski bagi kami sekeluarga tampak nyata bedanya.

Uniknya, orang kembar memiliki naluri unik. Jika satu sakit (tak enak badan, misalnya), yang satunya menyusul sakit yang nyaris sama. Dalam banyak hal juga seperti punya kontak batin. Malah, anak-anak dari kedua adik saya itu memanggil pamannya dengan bapak semua.

Soal mana yang lebih tua, ada keunikannya pula. Status ‘nomor urut’ tidak ditentukan oleh waktu kelahiran. Sehingga, seturut kultur Jawa, anak yang lahir lebih awal dianggap lebih muda karena ‘orang/jiwa tua’ akan mengalah. Maka, ia lahir belakangan, mengawal sang adik.

Kembali menyinggung Pandawa Lima, karenaa saya yang tertua, maka saya sejajar dengan Puntadewa atau Prabu Yudistira. Anehnya, saya tidak memiliki sifat sabar seperti Puntadewa yang memiliki getih putih, berdarah putih alias orang baik-baik dan sabar. Hingga sekarang, saya masih brangasan, mudah tersinggung dan marah, tidak bisa ngemong atau membimbing orang yang lebih muda.

Eh, kok malah ngelantur, sih… Yang pasti, saya punya adik kembar karena ‘kutukan’ genetik. Buktinya, kakak perempuan ayah saya juga punya anak kembar. Sepupuku yang usianya sekitar dua-tiga tahun di atasku, kembar dampit, lelaki dan perempuan.

7 thoughts on “Tentang Anak Kembar

  1. Joell

    Dan ternyata si Gayus juga punya sodara kembar kan, mukanya persis plek, cuma yg mbedain satunya pake kacamata dan punya rambut yang wagu laksana wig..salam hangat..

Leave a Reply