Tusuk Konde

Rama membunuh Sinta dengan tusuk konde...

Judul Tusuk Konde membuat saya kaget. Hingga gladi kotor beberapa hari menjelang keberangkatan rombongan ke Tropenmuseum, Amsterdam, seingat saya belum diumumkan judulnya. Kebetulan, saya beberapa kali nungguin latihan, sekadar menonton. Rupanya, judul itu diambil dari adegan terakhir, ketika Rama membunuh Sinta dengan menghunjamkan tusuk konde.

Adegan membunuh Sinta dengan tusuk konde, pun saya kira datang kemudian. Sebab pada latihan-latihan sebelumnya, ending cerita tak sekalipun menyinggung ‘kunci’ gelungan rambut itu sebagai properti yang bisa dipakai untuk menikam hingga membuat Sinta mati. Ujungnya yang lancip dan bahan yang lazimnya tanduk kerbau memang kuat dan tajam. Masuk akal dijadikan senjata.

Tapi, ya di situ itulah kelebihan, sekaligus keunikan dan keanehan seorang Garin Nugroho. Improvisasinya kuat, imajinasinya tak pernah mati. Ia dikenal biasa menabrak naskah, skenario atau plot yang sudah dirancang. Keliarannya menjadi kata kunci dalam mewujudkan gagasan menjadi ekspresi, visual, auditif, maupun gabungan keduanya. Orang-orang yang pernah terlibat bersamanya dalam sebuah produksi pasti sangat hafal dengan ‘kelakuan’ seperti itu.

Terhadap cerita sendiri, Garin mengabaikan persepsi kebanyakan orang Jawa (dan Indonesia) yang menempatkan Sinta sebagai sosok suci. Rama yang halus-lembut pun dijadikan sosok gamang, lelaki yang tak tegas, bahkan yang bisa memahami what woman want. Sehingga, kehadiran Rahwana yang liar, ekspresif dan pemberani bisa mengisi kekosongan yang dihadapi Sinta sebagai istri dan perempuan.

Terhadap keberanian Garin menyodorkan tafsir baru terhadap cinta segitiga Rama-Sinta-Rahwana, saya angkat topi. Ia menampilkan ketiganya secara manusiawi dalam pengertian denotatif.

Beberapa catatan yang saya punya, yang paling mengganggu hanya penempatan kain putih yang difungsikan sebagai layar lebar untuk menembakkan gambar-gambar patung karya Heri Dono dan menampilkan visualisasi ‘hati yang terbakar’. Andai layar itu hingga menyentuh lantai panggung di bagian belakang, rasanya akan lebih menyempurnakan gagasan yang hendak diusungnya.

Simak foto-foto yang saya buat. Andai kamera saya sejajar dengan lantai panggung, pun tak akan banyak membantu. Aktor dan properti pemanggungan tak mampu tampil menonjol lantaran terganggu oleh garis gelap-terang yang diakibatkan oleh penempatan layar yang kurang jeli. Mungkin itu kesalahan Iskandar K. Loedin sebagai desainer artistik dan tata cahaya.

Pada sisi itulah saya kecewa. Seorang Garin yang biasa menggeluti detil-detil artistik seperti terlena dengan adegan demi adegan cantik dari tata gerak yang disusun Eko Supriyanto. Ekspresi sensualitasnya memang memukau dan menggoda. Begitu juga pemanfaatan kukusan sebagai simbol organ-organ vital perempuan.

Sisi lain yang menurut saya masih kurang, adalah masih kuatnya unsur filmis pada ‘langendriyan multimedia’ ini. Adegan perang antara Rama dan Rahwana misalnya, ditampilkan ala slow motion. Alurnya juga terasa linear dan cenderung lambat, bisa menjemukan jika seseorang tak terbiasa menonton film drama.

Saya kira, cukup segitu saja catatan saya untuk Anda. Mumpung masih ada kesempatan, silakan menyaksikan pentas terakhirnya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, malam nanti. Tusuk Konde masih layak dinikmati, meski menurut saya, tak sekuat Opera Jawa seri pertama, The Iron Bed.

Oh, iya, sebelum saya lupa. Tusuk Konde disebut sebagai bagian yang kedua dari Trilogi Opera Jawa. Walau pemeran Sinta bukan penari yang sama, jangan dianggap mengurangi bobot karya. Sooal judul yang semula berbahasa Inggris lalu berganti bahasa Indonesia, juga tak usah disoal. Mungkin sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Inggris karena tak ada orang barat yang berkonde.

Tapi asli, Anda akan menjadi orang yang merugi bila tak menyaksikan pertunjukan ini. Layak apresiasi, dan banyak bahan renungan yang bisa didapat.

Yang penting, jangan tanya saya soal embel-embel Dua dari Trilogi Opera Jawa. Soal itu, saya menyebutnya sebagai improvisasi khas Garin. Setidaknya, begitulah pemahaman saya terhadap sosok berpendidikan ilmu hukum, yang sebelumnya lebih lama malang-melintang sebagai penulis opini itu di sejumlah media massa, sebelum akhirnya banting setir menjadi sineas itu.

Soal ‘improvisasi’ embel-embel, biarlah itu menjadi bahan ledek-ledekan saya dengan sang sutradara saja. Selamat dan sukses ya, Mas Garin…..

Daktunggu sing kaping telu….

One thought on “Tusuk Konde

Leave a Reply