Promosi Aksi Peduli

Kalau dalam bahasa agama, tangan sebelah pun tak perlu tahu kebaikan tangan yang lain. Apalagi kalau perbuatan baik diberitahukan orang lain, atau ditunjuk-tunjukkan. Kalau tanpa bahasa agama, pun masih ada etika dan rasa. Semua bermuara pada pantas dan tidak pantas. Bagaimana pamer peduli kepada orang-orang yang sedang menderita?

 

Bagi saya, yang begitu akan saya sebut tak elok. Ketika masih rajin liputan, dulu, saya selalu berusaha menghindari membuat foto situasi bencana di mana di dalamnya terdapat atribut, bendera atau simbol-simbol produk. Bukan cuma saya, umumnya media massa juga sensitif terhadap munculnya atribut-atribut tak penting dalam sebuah foto.

 

Yang begini, sekilas hanya persoalan sepele. Remeh. Bolehlah kalau orang lain menganggapnya begitu. Namun, bagi saya, persoalan demikian sangat serius. Beberapa kali meliput peristiwa bencana alam, selalu saja saya  menjumpai perkara-perkara menyebalkan.

 

Ketika terjadi longsor sebuah bukit di Banjarnegara, beberapa tahun silam, misalnya, saya sangat terganggu dengan banyaknya bendera Partai Keadilan Sejahtera yang tersebar hampir di seluruh lokasi longsor dan tempat-tempat pengungsian. Partai itu termasuk paling ‘tanggap’ bencana. Datang duluan, termasuk menerjunkan ratusan Pandu Keadilan, yakni relawan kemanusiaannya. Namun, sembari menolong, mereka datang nge-branding.

 

Tak lama kemudian, atribut partai-partai lain bertebaran dengan posko-posko didirikan secara dadakan. Terkesan ingin eksis lewat atribut, walau banyak yang tak membantu secara memadai secara fisik. Pada hari kedua, giliran aneka media promosi sejumlah perusahaan.

 

Kejadian longsor di Tawangmangu dan banjir yang melanda Kota Solo, pun setali tiga uang. Bendera partai datang duluan, dan ketika prediksi penanganan belangsung berhari-hari, barulah produsen barang/jasa datang berbondong-bondong.

 

Saya tak menafikan peran bantuan material mereka terhadap para korban bencana. Aneka mi instan, air mineral dan pakaian dan obat-obatan memang terdistribusi dengan baik. Mereka pun membuka posko-posko bantuan, dengan atribut institusi besar-besaran. Namun, mengenai posko, bagi saya tak jadi soal. Anggap saja itu sebagai identitas penunjuk keberadaan mereka. Tapi kalau memasang spanduk dan umbul-umbul di sepanjang jalan atau sekitar lokasi bencana?

 

Hingga kini, memang belum ada larangan partai politik, organisasi kemasyarakatan atau perusahaan memasang spanduk, umbul-umbul dan sebagainya di lokasi bencana. Tidak mudah menghindari godaan ‘ngeksis’, pamer di keramaian. Walau tak elok, nyatanya masih banyak pihak yang berbondong-bondong datang ‘menyerang’, melakukan proses menyantelkan pesan di benak khalayak, pada sebuah keramaian.

 

Jujur, di tengah keriuhan pemberitaan peristiwa dan dampak bencana, saya menolak membantu sebuah brand besar untuk mengunjungi lokasi pengungsian. Bukan karena tak ada deal bayaran karena memang ini bukan soal transaksional. Namun, saya memilih menghindari karena tak yakin, orang-orang marketing dan humas perusahaan yang memberi posisi kunci salah satu teman baik saya itu, bisa disarankan untuk lebih halus berlaku saat berada di tengah pengungsian.

 

Berat bagi saya mengarahkan teman-teman pers untuk meliput kegiatan pencitraan yang menurut saya tak tepat waktu dan tidak berada pada situasi yang pas. Okelah, kehadiran mereka bisa menghibur, sekaligus membantu kekurangan mereka. Namun bagi saya, tanpa atribut yang ditonjol-tonjolkan, pun, tindakan mereka akan dikenang di benak penerima ekspresi kepedulian itu.

 

Yang jadi soal, sering orang merasa tak cukup hanya dikenang. Inginnya ada publikasi besar-besaran. Massif.

 

Pada beberapa kali ‘kesempatan’, saya sering mengindar. Bahkan, ketika melakukan pekerjaan reportase pun saya memilih dan memilah. Bahasa dan pernyataannya, biasanya standar: simpati, peduli, himbauan bagi yang lain, dan sebagainya. Pokoknya serba baik, dan bisa ditebak.

 

Kehadiran Dik Doang menghibur anak-anak di lokasi pengungsian, misalnya, tetap akan dirasakan dan dicatat mereka yang ada bersamanya. Diiringi beberapa orang beratribut perusahaan yang membawanya sudah cukup memberi sinyal kepada publik, tanpa harus ditampilkan mencolok.

 

Mestinya, semua paham batasan elok-tak elok atau pantas-tak pantas. Tak perlu orang ramai menyoal, hingga Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan seruan menurunkan atribut partai politik dan perusahaan. Kalau mau membantu, ya  bantu saja. Kalau ngaku peduli, ya wujudkan dengan tindakan. Publik akan mencatat dengan hati, siapa saja orang-orang yang sudah berbaik hati, dan peduli.

Jangan terlewat, baca artikel menarik ini: Gunung Merapi dan Promosi

4 thoughts on “Promosi Aksi Peduli

  1. didit

    Alhamdulillah..masih ada manusia seperti bapak, yang peduli hal-hal yg sebagian dianggap remeh, jadi kalau ada komentar sinis: “perlu banyak bencana yanmg dapat menyediakan lahan promosi tanpa pajak and murah meriha”

  2. ketulusan manusia sejatinya sulit di dapat, hingga mereka tak sadar akan esensi keikhlasan,,,,,,

    dipkir-pikir iya instansi atau partai2 itu memang selalu ada udang dibalik batu….
    .-= rizal´s last blog ..Kick-Ass =-.

  3. mr.bambang

    Setuju pakde. Bahkan sekarang aksi yang sok peduli itu mulai merambah ke ranah dunia maya, khususnya Twitter. Bagaimanapun, kita tidak akan mengetahui seperti apa niat yang tersembunyi di hati mereka. Tapi mbok ya kalau emang mau nyumbang itu yang elok, jangan sampai malah bikin jengah.

Leave a Reply