Pemuda 2.0 Bersumpah

Bagi Indonesia kini, bahasa menjadi problem terbesar. Tak terkecuali, di dalamnya terdapat para pemoeda dan pemoedi generasi 2.0. Bahkan, saya berani menyebut generasi pemoeda-pemoedi 2.0 memiliki andil besar menghancurkan masa depan Bahasa Indonesia, meski sejatinya punya potensi besar untuk menyelamatkan.

Simak saja praktek berbahasa para narablog, baik secara lisan maupun tulisan. Kesan saya, seseorang cenderung takut disebut tidak gaul ketika tak mengikuti lingkungannya. Semoga, teman-teman blogger yang hadir di acara Soempah Pemoeda 2.0 yang diselenggarakan XL di Gedung Stovia, Jakarta, 28 Oktober 2010, terhindar dari problem kebahasaan ini. Setidaknya, saya dan 13 narablog atau blogger yang mewakili 14 komunitas di Indonesia, yang mengucapkan kembali Sumpah Pemuda.

Saya berharap, teman-teman yang bersumpah ‘menjunjung bahasa persatuan’ tidak mengutamakan bahasa pergaulan semata. Tak ada salahnya ‘gaul’, tapi tertib berbahasa seharusnya tidak diabaikan, supaya tak ada kata lalai sebagai alasan pembenaran.

Dari bahasa, kendati dalam teks Sumpah Pemuda ditempatkan di posisi terakhir, kita bisa mewujudkan mimpi para pendahulu kita, agar Indonesia benar-benar dihayati karena darah telah tertumpah untuk menyatukan kebangsaan. Seperti dituturkan Pak Anhar Gonggong, ada kata penting yang dilalaikan para guru sejarah, bahwa ada kata ‘kemauan’ yang menyertai naskah Sumpah Pemuda sebagai penegasan pentingnya tindakan. Action nyata.

Diceritakan Pak Anhar, walau Mohamad Yamin menginginkan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, ia bisa menerima ketika mayoritas pemoeda-pemoedi yang hadir dalam rapat penggodokan naskah memilih Bahasa Indonesia. Padahal, dialah yang menyusun draf awal naskah Sumpah Pemuda. Kemauan untuk bersatu, menghilangkan sekat-sekat etnisitas, keagamaan, kedaerahan dan perbedaan-perbedaan lainnya, itulah kata kuncinya.

Sah dan boleh saja kita menggunakan bahasa pergaulan yang efektif. Memang di situlah hakekat berkomunikasi. Tanpa kesadaran dan kemauan, juga kerelaan, tak akan pernah ada dialog. Tanpa (kemauan) dialog, kita sudah tahu eksesnya: FPI merusak di mana-mana, menyerang siapa saja. Padahal, itu juga menyangkut ‘problem bahasa’. Mereka tak menjunjung bahasa persatuan, karena ‘kemauan’ mereka hanya bahasa kekerasan.

Apakah berbahasa dengan baik dan benar lantas membuat kaku? Tidak juga. Setiap kata mengandung rasa. Diksi penting. Tanda baca juga perlu. Dan tata bahasa menjadi wajib diperhatikan dalam menulis, walau ‘sekadar’ di blog. Dari sana, ‘martabat’ blog juga terangkat.

Kita bisa menulis dengan aneka gaya sesuai cita rasa dan selera menulis. Kata atau istilah tak lazim bisa ditandai dengan cetak miring atau italic, sehingga dengan begitu, kita masih bisa mengekspresikan tanpa sesuai dengan apa yang kita mau. Dan tanpa perlu takut kehilangan makna dan gaya menyapa pembaca.

Setiap ada kemauan, di situ ada jalan. Tinggal punya atau tidak keberanian untuk mencobanya. Nyali, kadang diperlukan untuk menopang kukuhnya jati diri, entah untuk diri sendiri atau dalam rangka merengkuh persatuan dan mengukuhkan kebangsaan. Identitas serinng tecermin lewat bahasa.

Omong-omong, eh… nulis-nulis, tulisan saya kelewat serius dan bikin tegang, ya?

Ya ampyuunnn…., ternyata iya, ya? Maafin saya, deh.

Gini aja deh, ayo kita perhatikan hal-hal ‘kecil’ dulu saja. Misalnya,  apakah kita atau teman-teman kita masih ada yang salah namun ‘konsisten’ dengan ketidaktahuannya akan beda awalan dan kata depan? Ayo, siapa yang masih suka menulis di yang diikuti kata kerja (verb) masih dipisah, dan menuliskan di yang diikuti keterangan tempat masih digabung?

Ingat ya, terutama bagi teman-teman blogger yang kemarin mengucapkan Soempah Pemoeda 2.0. Dengan mengucapkan kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoenjoeng bahasa pesatuan, Bahasa Indonesia, berarti kita sudah bersumpah akan menggunakan Bahasa Indonesia secara baik, benar dan tepat. Mau?

Yuukkk, mareee…… (kita mulai dari diri sendiri). Ingat: ingkar sumpah bisa kenal tulah. Apalagi, bersumpah di tempat bersejarah, tempat mahasiswa-mahasiswa STOVIA merancang Sumpah Pemuda, 82 tahun silam.

Eh, sedikit pertanyaan tambahan: apakah Anda masih suka memperhatikan kesalahan orang mengucapkan kata tahun dengan h dilafalkan dengan jelas dan penuh tekanan seperti h pada kata Tuhan? Semoga teman-teman sudah terbiasa melafalkan taun setiap ketemu kata t.a.h.u.n. Jangan mengulang kesalahan kayak yang dilakukan penyiar-penyiar televisi itu, ya?

13 thoughts on “Pemuda 2.0 Bersumpah

  1. Wah jangankan blogger, wartawan juga masih banyak yang salah pake bahasa pak dhe.. seperti pake akhiran -ir (minimalisir, politisir dll) atau seperti pak dhe tulis, imbuhan &kata depan
    😀

  2. DV

    Saya prihatin dengan banyak pelaku socmed yang cenderung memilih menggunakan Bahasa Inggris dengan alasan “sok gaya dan sok eksis” 🙂

    Bagiku, Bahasa Indonesia tetap seksi dan tetap membuat gaya dan harus dieksiskan.

    Salam Sumpah Pemuda, Paklik!
    .-= DV´s last blog ..Moral dan bencana =-.

  3. bahasa indonesia itu sebenarnya bahasa yang cukup sulit jika kita pelajari secara seksama. bahasa indonesia yang ada saat ini adalah bahasa yang sudah tercampur dengan aroma bahasa inggris dan jawa. bagaimana tidak? Bahasa Indonesia itu selalu berbentuk kalimat aktif dengan SPO, selalu DM. sementara bahasa lisan kita karena justru membalik itu menjadi MD dan itu diterapkan juga dalam bahasa tulis.
    Pengaruh MD adalah pengaruh bahasa lisan Inggris dan Jawa.
    .-= ciwir´s last blog ..Kayana Putri Az-Zahirul Haq =-.

  4. Ya…. Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, berarti menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Terima kasih atas tegurannya. Sebagai orang yang pernah belajar bahasa dan sastra Indonesia, saya jadi malu, he…he…he…
    Kebiasaan berbahasa yang baik, benar, dan indah memang perlu dikembangkan di kalangan narablog. Mari kita kampanyekan!

Leave a Reply