Blogger (dan) Daerah

Sebelas hari lalu, belasan teman blogger berkumpul di sekretariat Bengawan. Tak cuma mendengarkan paparan cerita potensi dan ekses penggunaan perangkat teknologi informasi dari peneliti dari Manchester University, UK, Mas Yanuar Nugroho, kami juga membahas soal pentingnya networking agar komunitas blogger bisa eksis dan kehadirannya memberi manfaat bagi banyak orang.

Peserta diskusi berpose di depan Sekretariat Bengawan yang difasilitasi Mas Sapto (menggunakan tongkat penyangga) dan Yayasan Talenta

Mereka datang mewakili komunitas blogger di daerah masing-masing seperti Ponorogo, Ngawi, Malang, Madura dan Magelang. Satu lontaran menarik adalah soal keberadaan komunitas yang keberadaannya belum ‘dianggap’ oleh publik, terutama pemerintah daerah. Yang kedua, soal klasik, yakni pendanaan untuk menghidupkan dan mengembangkan komunitas.

Mereka juga heran dengan fasilitas akses internet broadband supercepat (1,2 mbps up/down) sumbangan XL untuk publik, menggenapi program akses internet untuk lima taman cerdas di Solo. Terima kasih kepada Mbak Devi, Cak Teddy Bara, Pak Deddy Fahmi, Husni, Mbak Ira, Kang Henry dan keluarga besar XL di Menara Prima.

Kang Yanuar Nugroho (paling kanan, baju putih) sedang berbagi ilmu dengan perwakilan komunitas blogger

Kami lantas sharing, berbagi informasi dan strategi, di antaranya melalui kesepakatan berjejaring. Bentuknya sederhana: mendorong setiap komunitas membuat program-rpogram ‘sederhana’ seperti pelatihan blogging dan penggunaan media sosial yang baik. Kebetulan, ICT Watch dengan program InternetSehat-nya yang dimotori Donny BU, juga turut hadir di forum itu, walaupun terlambat datang.

Khusus program pelatihan blogging, yang diutamakan adalah untuk pelajar SLTA (kelas 2 dan kelas 3) serta guru. Bagaimana memanfaatkan blog dan aneka jejaring sosial untuk menunjang pendidikan, merupakan salah satu tujuan utamanya, selain memperbanyak konten positif di internet, sehingga kelak memberi banyak manfaat.

Donny BU (berdiri) sedang berbagi mengenai InternetSehat di tengah pentas wayang

Promosi potensi daerah, misalnya, bisa diciptakan melalui kegiatan blogging. Sharing Online lan Offline yang diselenggarakan Bengawan, 5-6 Juni silam, misalnya, berbuah banyak hal. Kesadaran pelaku usaha rumahan untuk mengakrabi internet kian terbuka. Beberapa anggota Jaringan Perempuan Usaha Kecil (Jarpuk) yang kebanyakan bergerak di bidang produksi makanan kering, kerajinan, batik dan garmen, meminta Bengawan untuk melatih.

Khusus untuk pelaku usaha UMKM, misalnya, kami memfasilitasi toko online sebagai jembatan bagi mereka mengetahui dan merasakan manfaat penggunaan media online untuk menopang usaha mereka. ProdukSolo merupakan buah kerja sama kami dengan Juale.com.

Kang Yanuar Nugroho turut memeriahkan, berbagi cerita tentang hasil penelitannya mengenai pengaruh penggunaan teknologi informasi bagi komunitas

Juga komunitas difabel (penderita cacat fisik) yang minta dilatih aneka ketrampilan, seperti penggunaan komputer dasar hingga aplikasi php, jaringan dan sebagainya.

Ketika malamnya kami gelar pertunjukan wayang sebagai ‘hiburan’, hasilnya lumayan. Ki Jlitheng Suparman, dalang yang pengguna aktif Facebook (bahkan saat pentas pun tetap online dengan laptopnya) itu dilirik Donny BU untuk kapan-kapan ikut dilibatkan dalam kampanye InternetSehat. Dua orang filmmaker Jakarta yang hadir di acara itu juga tertarik menggunakan medium wayang itu sebagai penyambung alur film yang bakal dibuatnya.

Artinya, ada potensi kerja sama positif, termasuk akses manfaat ekonomis bagi seniman. Pertunjukan selama tiga jam yang kami siarkan secara live streaming itu pun memperoleh apresiasi positif dari beberapa teman di luar kota.

Salah satu kuncinya adalah sinergi kegiatan online dan offline dan kemauan berbagi yang memungkinkan itu. Kegiatan blogger di suatu daerah yang diramaikan oleh sesama blogger dari luar daerah akan memungkinkan munculnya efek promosi yang luar biasa besar, seperti yang dirasakan warga Kampung Batik Laweyan. Sungguh banyak posting mengenai Laweyan dan Solo secara umum, sebagai ‘akibat positif’ dari kunjungan para blogger.

Andai di Ponorogo, Magelang, Ngawi dan (terutama) kota-kota kecil lainnya mampu menyelenggarakan kegiatan serupa, pastilah publikasi positif mengenai potensi daerah akan kian banyak di ranah internet atau daring. Siapa yang memperoleh manfaat sudah jelas: masyarakat.

Maka, yang jadi persoalan adalah bagaimana mempertemukan beragam kepentingan bagi stakeholder: pemerintah, publik dan pelaku usaha. Tak bisa dipungkiri, peran sektor swasta juga cukup penting dalam konteks meramaikan dunia blogging di daerah. Lewat partisipasi sponsorship, maka kendala klasik komunitas blogger akan sedikit-banyak teratasi.

Pemerintah pun demikian. Walau awalnya tak paham –karena itu tak ‘mau’ memfasilitasi, lama-kelamaan akan teredukasi dengan sendirinya, sehingga peran blogger (dan komunitasnya) bisa dilihat jejaknya. Beruntung bagi Bengawan, sudah setahun terakhir ‘diakui’ keberadaannya, seperti ditunjukkan dengan hadirnya dua kali memperoleh undangan dari pemerintah untuk aktif dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.

Yang perlu dijadikan pekerjaan rumah bagi blogger adalah bagaimana menyiapkan diri menjadi mitra atau partner pemerintah daerah dalam menngawal pengembangan dan penyusunan kebijakan pemanfaatan teknologi informasi yang merupakan keniscayaan. Harus diakui, pemerintah tak bisa melakukannya sendirian. Komunitas bloggerlah yang memiliki potensi menjadi salah satu mitra strategis itu.

Karena itulah, branding komunitas menjadi penting, di antaranya melalui kesepakatan yang kami buat secara informal kala itu, yakni mendorong dan meramaikan setiap aktivitas yang dibuat komunitas blogger di berbagai daerah. Salah satunya, ya melalui perbanyakan produksi konten positif, baik melalui blog-blog pribadi, komunitas, maupun media sosial.

Di forum-forum seperti itulah, baik blogger, pemerintah, masyarakat, produsen (seperti provider, industri telekomunikasi) bisa bertemu dan bersinergi yang sama-sama bisa memperoleh manfaat dan keuntungan.

Atas capaian yang kami rasakan manfaatnya bagi geliat Bengawan, kami mengucapkan terima kasih kepada Kang Saiful dan BHI yang gerakan kambingnya sangat bikin iri dan menginspirasi kami, Mas Didi Nugrahadi, Pamantyo dan keluarga besar Komunitas Langsat yang banyak menyumbang kami, Kang Nukman dan Virtual dan Juale-nya, juga komunitas blogger dari berbagai penjuru Indonesia yang membantu mewarnai dan mensukseskan program-program kami.

Tak lupa, terima kasih kepada ICT Watch dan InternetSehat yang memberi kami dukungan moral dan material serta Donny BU yang memberikan tenaga dan waktunya yang sangat besar kepada kami. Juga Pak Jokowi yang sangat mengerti dan mengapresiasi kami, sehingga banyak fasilitas dan kemudahan membuat aneka kegiatan kami dapatkan.

Tanpa mereka, ya beliau-beliau itu, kami bukan apa-apa. Siapa-siapa, pun bukan.

10 thoughts on “Blogger (dan) Daerah

  1. we lha dalah, baru baca. tak apa. lebih baik terlambat daripada tidak samasekali: malah saya yang matur nuwun beroleh kesempatan belajar dari teman-teman RBI Bengawan dkk blogger Jatim+Madura. tanpa anda sekalian, studi yang kemarin kami lakukan tak akan pernah bisa selesai. tapi lebih penting lagi – bagi saya sendiri, pertemuan dengan rekan-rekan blogger saat itu adalah pengayaan batin. sungguh. jadi, matur nuwun sekali lagi.
    .-= yanuar nugroho´s last blog ..Masalah kota, masalah kita – rusuh kota, rusuh kita =-.

Leave a Reply