Berisik Tahunan

Inilah penyakit tahunan: berisik menyuarakan hal, yang bagi sebagian orang, tak ada gunanya. Biar. Saya telanjur menikmati peran abnormal ini, ketika sebagian yang lainnya memilih memberi dukungan secara diam-diam. Perhelatan tahunan para blogger selalu menggoda saya untuk menyanyikan tembang sumbang, supaya kian banyak orang ikut mewarnai proses perubahan.

Perubahan? Ya!

Bangsa ini tak akan pernah beranjak dari keterpurukan bila produsen konten tak kunjung bertambah. Dari 30 jutaan pengguna internet, konon hanya ada tiga juta blog. Dari sebanyak itu, boleh jadi bloggernya, yakni produsen konten, cuma sepertiganya atau kurang, sebab satu blogger aktif bisa mengelola tiga atau bahkan lima blog sekaligus.

Ngeblog yang ngeblog saja. Tak usah membeda-bedakan mana tampilan yang bagus atau buruk, begitu juga isi blognya. Tak terlalu penting bagi saya, sebab yang perlu didorong adalah agar orang mau ngeblog dulu, lalu keasyikan. Semua pakai proses, sehingga lama-lama juga akan membaik secara alamiah.

Ngeblog pun tak perlu muluk-muluk, apalagi berpretensi melahirkan perubahan segera. Tak ada baiknya sama sekali jika sebuah akibat muncul tapi hanya berklasifikasi instan.

Mari kita main tebak-tebakan, apa sebab Kedutaan Amerika di Jakarta selalu mau menjadi sponsor utama Pesta Blogger?

Menurut saya, ada banyak alasan. Pertama, Amerika berkepentingan meneguhkan hegemoninya sebagai pionir dan pengawal kebebasan berekspresi, termasuk menyuarakan pendapat. Demokrasi memerlukan yang satu ini. Dan Pesta Blogger merupakan ‘satu-satunnya’ forum paling besar di Indonesia yang mengklaim ajang pertemuan para produsen konten.

Yang kedua, Amerika ingin menakar kadar kesadaran bangsa Indonesia akan kebebasan bersuara dan partisipasi publik dalam praktik demokrasi. Blogger, menilik prasyarat yang harus dimilikinya (seperti tingkat pendidikan, kepemilikan perangkat keras dan punya akses internet), adalah kelompok kelas menengah (dan elit). Dan, saya lupa kata siapa, kaum menengahlah yang cukup berperan membuah perubahan.

Logika konspiratif? Terserah mau dinilai apa. Banyak orang pintar mencitrakan teori konspirasi sudah usang agar orang yang berpikir begitu dianggap katrok, out of date, kampungan. Padahal mereka bersekutu dengan politisi, dan menerapkannya secara diam-diam.

Sebaiknya jangan lupa, penerbitan sederhana Al Manar punya peran besar dalam mewarnai dinamika politik internasional, hingga kini. Kaum pergerakan Indonesia pun menggunakan newsletter yang kelak dilabeli sebagai cikal bakal pers nasional. Bagaimana dengan blog? Saya yakin, blog punya potensi mendorong perubahan, seperti halnya SMS pernah turut ‘menjatuhkan’ Joseph Estrada dari kursi Malacanang, juga kicauan di Twitter membuat SBY sering menggelar konperensi pers.

Tentu saja, blogging tak melulu ‘berguna’ untuk menyingkirkan rezim. Pada skala kecil-kecilan, postingan foto dan/atau tulisan di blog, terbukti cukup membantu mengenalkan potensi (wisata, kerajinan, kekayaan kuliner, dll) suatu daerah. Kesadaran menjaga lingkungan, budaya dan sebagainya pun bisa dilakukan lewat postingan.

Kenapa Amerika yang katanya penyokong kebebasan berekspresi diam saja saat ada Pasal 27 ayat 3 UU ITE yang memasung kebebasan berekspresi, diam saja?

Kalau soal itu, ya jangan tanya saya. Seingat saya, ada yang namanya tata krama diplomatik, di mana haram hukumnya suatu negara turut campur urusan rumah tangga negara lain. Bisanya, ya nyrempet-nyrempet begitu, mau masuk kawasan blogosphere Indonesia, lalu membonceng momentum seperti Pesta Blogger itu. Ya, mirip-mirip cara Kapiten Mallaby dulu itu, lo…(Kalau ke organisasi-organisasi masyarakat sipil kan sudah lama…)

Lagi pula, itu kan urusan internal kaum netizen di Indonesia. Soal peduli atau tidak pada kebebasan berekspresi, ya itu kembali kepada masing-masing Individunya. Gampangannya, bagi yang suka kapitalisme, maka sikapnya jelas: ada itung-itungan nilai pasarnya. Bagi yang ultra kiri, maunya ngeblog bisa mengubah keadaan, bahkan revolusi. Ilusi, selalu membayangi kelompok kedua ini.

Terus, enaknya gimana? Ya, terserah Anda. Ngeblog itu suka-suka, kok. Yang penting rajin update. Titik.

5 thoughts on “Berisik Tahunan

  1. Kalimat terakhir, “Ya, terserah Anda. Ngeblog itu suka-suka, kok”
    Tapi kok lanjutannya, “Yang penting rajin update”

    padahal “males apdet” adalah ke-suka-an saya ketika ngeblog.. :mrgreen:

Leave a Reply