Matematika Peminum Tolak Angin

Sepekan lagi, Budhe Musinah akan pergi haji. Saya tak bisa membayangkan betapa menderitanya kakak ibu saya itu jika tak bisa menyantap nasi, makanan pokok yang dikonsumsinya selama 70 tahun lebih. Apalagi ketika penyakit rindu rumah (homesick) menyergap. Jangankan nasi, sambel dan teh saja bisa jadi persoalan serius untuk kesehatan dan kejiwaan Budhe yang sudah sepuh, yang berjalan tak seberapa jauh pun kelelahan.

Budhe, saya dan dua ratusan juta penduduk Indonesia yang mengonsumsi beras sebagai makanan pokok, pasti kaget mendengar himbauan untuk mengurangi konsumsi beras, demi mendorong percepatan keanekaragaman konsumsi. Artinya, ada niat untuk secara perlahan-lahan mengganti makanan pokok.

Kami yang hidup di pedesaan, di mana rumah-rumah dan desa kami masih dikelilingi sawah dengan hamparan padi, tentu akan heran dengan himbauan pemerintah. Mereka kelewat berani dengan mencanangkan One Day No Rice pada peringatan Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober.

Lalu, ratusan juta rakyat Indonesia akan diminta mengganti makanan pokoknya seperti apa? Dengan roti bekal perang tentara, yang tak cuma bikin kenyang namun penuh kandungan gizi, vitamin, dan seabreg zat kimia yang dibutuhkan tubuh itu? Gandum bahan pembuat roti (yang kerasnya bisa membuat gigi berderit itu) didapat dari mana?

Sebagai orang desa, yang masih mengalami masa kecil dengan aktivitas menyiangi rumput di sawah sepulang sekolah, orang seperti saya, Mbak Sri, Mas Mul, dan Budhe Musinah pasti bingung. Iki pemimpin cap apaaa?? Ini pemimpin macam apa? Kok berani-beraninya nyaingi Gusti Allah, menyuruh manusia ganti makanan pokok.

Tanah luas nan subur, yang tongkat dan batu pun bisa menyediakan konsumsi –seperti syair Koes Plus,  masih saya yakini kebenarannya. Masih sangat cukup tersedia lahan untuk menanam padi, yang konon produksinya mencapai 38 juta ton. Kalau memakai hitung-hitungan para peminum tolak angin, bahwa konsumsi per kepala penduduk Indonesia ‘hanya’ kurang dari empat ons atau 139,15 kilo beras per tahun, maka total kebutuhan hanya 34,875 juta. Artinya, masih ada banyak sisa yang bisa dijadikan stok.

Kalau masih ada sisa tiga juta ton lebih, kenapa harus impor beras hingga ratusan ribu ton?

Mbuh! Bingung saya kalau harus mengikuti nalar orang-orang pintar itu. Sama bingungnya, jika saya, Mbak Sri, Mas Mul, dan Budhe Musinah, yang katanya punya pendapatan US$ 3.000 per tahun, yang disebut income per capita itu. Dengan duit sebanyak itu, artinya tiap kepada punya duit Rp 2 juta lebih per bulan, yang jika dibelanjakan beras empat ons per hari, maksimal cuma  Rp 7.500 untuk jenis beras Raja Lele yang mewah itu.

Mbuh, bingung tenan saya! Apalagi, kalau pendapatan per kapita yang hanya asumsi itu, ternyata hanya hasil hitung-hitungan jumlah uang se-Indonesia, dibagi jumlah penduduk, tak peduli dengan Mbak Sri yang hanya memperoleh untung Rp 20 ribu dari berdagang seharian di Pasar Klewer, dan harus dikonsumsi untuk suami dan dua anaknya.

Eh, ternyata pendapatan rata-rata itu berasal dari Si Susno, Si Gayus atau Bung Senturi, yang simpanan kekayaannya mencapai angka milyaran hingga trilyunan…

Pak SBY, gimana sih cara berpikir Mentri pilihanmu yang meminta kami mengurangi konsumsi beras? Apakah dengan mengonsumsi roti dan gandum impor lantas kami bisa berbahasa Inggris dengan fasih, sehingga bisa menyekolahkan keluarga kami di sekolah-sekolah berstandar internasional yang mahal, berbekal modal US$ 3.000 itu?

Cobi mang pikir sing wening, Mas Presiden….. Coba dipikir yang jernih, ya, Mas Presiden…

Eh, Budhe Musinah, jangan lupa minta makan pakai nasi selama berhaji, nggih. ONH-nya sudah mahal, dan itu hak Budhe untuk nagih ke pemerintah, lho… Semoga mabrur, nggih. Amin.

6 thoughts on “Matematika Peminum Tolak Angin

  1. hahaa… cen rodo wagu, mosok makanan pokok diganti? lama2 ntar kita makannya pake infus…cepet mak nyus…hahha
    btw, seng penting ora one day no ciu weh =p

  2. Fe

    Kenapa Kementan menanggapi gagal panen tahun ini dengan menaikkan harga beras,pengurangan konsumsi beras,dan “one day no rice”??
    Ga ada cara lain kah??
    Alangkah manisnya jikalau gagal panen ini ditanggapi dgn pencanangan beberapa kota sebagai “lumbung padi baru”.
    Kenapa lebih memilih import beras yang cuma menguntungkan pihak tertentu??
    *sedih*

  3. Menurutku, One day no rice itu takhayul,
    orang udah biasa makanan pokoknya nasi koq suruh cari alternatif lain, itu wagu..
    seperti hal nya para bule yang di Indonesia, mereka udah terbiasa makanan pokoknya gandum, makanannya model hamburger, pizza,dsb. dan ketika mereka di Solo udah makan Nasi Liwet satu porsi yang mengenyangkan menurutku, tapi mereka tetep ingin makan burger karena yang menurut dia itu makanan pokok yang mengenyangkan perut yang sebenar-benarnya. Nasi liwet itu mereka anggap cemilan..

  4. sayur asem

    sungguh lucu-lucuan yang wagu sangad !
    lagian, warga negri ini pun sudah banyak yang bukan cuma One Day.. tapi More.. more.. more Days No Rice !

Leave a Reply