101010 – 10:10

Deretan angka (huruf) kembar bisa ditafsir dan dimaknai macam-macam. Angka cantik juga bisa jadi penanda, atau kode seperti halnya pengulangan huruf ke-24 dalam abjad. Sebagian menganggap satu atau dua huruf lebih akomodatif terhadap ruang imajinasi, tapi ada juga yang suka hurufnya banyak lantaran maka suka yang to the point!

Kode X, XX, XXX memang beda makna dengan, misalnya, 6-6-6 yang dulu dipilih Happy sebagai tanggal pengakhiran masa membujang, pada 6 Juni 2006. Besok, 10 Oktober 2010 juga dianggap kombinasi kode-kode unik, menjadi angka cantik, di mana tanggal, bulan dan tahun, berunsur 10, sehingga kombinasinya mudah diingat: 101010.

Mas Didi Nugrahadi daan Mbak Tutik tersenyum, sudah berhasil 'netepi darmaning asepuh', menikahkan sang putri tercinta.

Boleh jadi, pemilihan tanggal perkawinan Anindita ini sama dengan alasan yang dibikin Happy, atau Mas Didi Nugrahadi. Kesannya sederhana, sepele. Padahal, banyak orang mengincar tanggal itu, dengan beragam alasan, sehingga tidak aneh jika restoran, hotel, gedung pertemuan penuh terisi sebab sudah banyak orang booking sejak jauh-jauh hari.

Pada urusan angka cantik, dengan tujuan kemudahan mengingat, sekaligus turut menandai tanggal unik dan sebagainya, tak ada yang aneh bagi saya. Orang merancang tanggal pernikahan bahkan lima atau sepuluh tahun sebelum 10-10-10 pun tidak mengagetkan, wong setiap manusia pasti punya harapan, keinginan dan optimisme serta cara menandai peristiwa istimewa dalam sejarah hidup.

Yang justru aneh, menurut saya, adalah ketika ada pemujaan berlebihan atau sakralisasi terhadap masa atau peristiwa. Bayi yang belum takdirnya lahir, misalnya, dipaksa keluar lewat bedah cesar demi tanggal keramat atau hari pasaran supaya weton-nya bagus. Walau ‘memenuhi syarat’ secara medis dan dokter bisa melakukannya kapan saja, namun keputusan melahirkan bayi demi kemudahan mengingat tanggal ulang tahun, tetap tak bisa diterima akal sehat saya.

Terhadap orang-orang demikian, saya anggap sebagai pemberani yang kelewatan. Mungkin percaya kleniknya kelewat berlebihan, sehingga tak peduli keputusannya itu seperti membuat takdir tandingan, memutuskan sesuatu yang belum tentu sesuai kehendak Sang Pemilik Waktu dan Pencipta Kehidupan.

Tapi, berhubung sekarang jamannya orang mengedepankan toleransi, penghargaan akan perbedaan pendapat dan keyakinan, ya saya hanya harus membiarkan, tidak akan mengganggu, apalagi menghakimi, lantas menyebut mereka kafir lantaran percaya pada takhayul terhadap waktu atau kombinasi angka keberuntungan.

Percaya hoki boleh dan sah-sah saja, menganggap keramat sebuah angka pun tak mengapa. Di NU saja, kiai-kiainya juga sering membuat keputusan, pernyataan atau himbauan dengan menggunakan 9 sebagai kebiasaan. Mungkin, itu hanya demi mencocok-cocokkan dengan bintang sembilan yang menjadi simbolnya. Atau boleh jadi cuma tiruan dengan alasan yang disesuaikan, seperti halnya angka 99 yang merupakan jumlah sifat Tuhan, asma’ul husna.

Peranakan Cina juga banyak yang menyukai 9 (dan kombinasinya, bahkan jumlah dari sekian angka) karena merupakan bilangan tertinggi sebelum kembali ke nol lagi, sehingga membawa hoki. Orde Baru, pun pernah menjadikaan 5 sebagai angka keramat.

Lagi-lagi, menganggap sesuatu sebagai keramat atau tidak, menjadi urusan orang-perorang. Tak boleh kita mengusiknya, seperti halnya kalau saya meminta Anda menghormati keyakinan dan prinsip saya.

Misalkan saja saya harus membatalkan sejumlah rencana bepergian karena hari pasaran atau arah mata angin yang saya tuju, tidak sesuai dengan weton, hari kelahiran saya sesuai penanggalan Jawa, maka hormati itu sebagai hak saya. Persoalan Anda memilih menggunakan kalender Masehi atau almanak Islam, ya silakan saja, asal jangan mengganggu pemegang teguh isi kitab primbon Betaljemur Adammakna, seperti saya.

Untuk urusan cari makan demi kesejahteraan rumah tangga, misalnya, jika ternyata saya tak boleh memilih kota-kota arah barat dari tanah kelahiran saya, mau apa? Atau untuk perkara menengok saudara yang sedang tertimpa celaka, ternyata primbon dhawuh, memerintahkan, agar saya menghindari perjalanan ke Timur pada pasaran Kliwon dan Legi, mau gimana lagi?

Terserah Anda, mau percaya atau tidak soal klenik-klenikan angka.

Tapi ada satu hal, yang sepertinya saya harus setengah memaksa Anda, agar meluangkan waktu beberapa menit saja untuk mengira-ira bagaimana nasib Mbak Sri, pedagang kakilima di Pasar Klewer. Kabarnya, pendapatannya kian menyusut setelah batik printing murah bikinan Cina mulai membanjiri pasar lokal, ya celakanya disukai masyarakat yang beerpendapatan pas-pasan dan sungguh cinta batik, tak peduli itu batik betulan atau batik look alias batik-batikan.

Jangan pula bertanya bagaimana kabar Mas Mulyono, yang ternak kambingnya mulai kesulitan merumput karena sawah-sawah sudah dikeringkan, lalu di atasnya berdiri pabrik-pabrik megah, serta sebagiannya dikapling untuk tower-tower BTS yang gagah menjulang menggantikan pohon-pohon randu turus jalan.

Selamat datang Srimulyono, Mbak Sri dan Mas Mulyono, yang katanya akan memperkenalkan keluarga barunya, pada 10 Oktober 2010 pukul 10:10 WIB.

7 thoughts on “101010 – 10:10

Leave a Reply