Yusril

Saya menyambar retweet Alvin atas kicauan @karniilyas: Saksikan Hendarman vs Yusril sekarang di TV One dengan tanggapan demikian: Adu mulut, perang nasib :p. Jujur, saya tak ngerti apa yang sebenarnya terjadi antara kedua bekas petinggi itu. Kesan saya, Yusril Ihsa Mahendra kurang berkenan lengser keprabon alias tanggal jabatan di kabinet bentukan SBY.

Saya bisa menerima dan mengamini kebenaran apa yang dia lakukan, menggugat keabsahan jabatan Jaksa Agung bagi Hendarman Supandji. Pada point itu, dia mengajarkan pentingnya taat hukum dan penghormatan pada sistem administrasi dan tata negara. Itu penting, supaya jangan sampai terjadi seperti cerita Gus Dur, bahwa SBY dan Wapres Jusuf Kalla berada di luar ibukota negara pada waktu bersamaan, yang dilarang oleh konstitusi.

Namun, yang saya rasakan, tindakan mengajukan uji materi soal keabsahan Hendarman Supandji menduduki jabatan Jaksa Agung  pada periode kedua kepemimpinan SBY, itu lebih merupakan upaya mengerem perkara korupsi Sisminbakum yang menyeret dirinya pada pusaran perkara.

Dan, entah kenapa, prasangka saya masih ditambah rasa terganggu dengan bahasa tubuh Yusril. Menurut saya, ia nyaris tak pernah kontak mata dengan lawan bicaranya, termasuk yang diwakili oleh kamera televisi. Selain tak menghargai lawan bicara (bisa juga dibaca sebagai bentuk kesombongan), saya menduga ada sesuatu pada dirinya sehingga tidak pede terhadap lawan bicara. Tapi, ya embuh

Ngototnya ia memerkarakan Hendarman saya anggap sebagai bentuk perlawanannya terhadap SBY yang sudah tak memakainya lagi. Ketika dalam debat di tvOne bersama Hendarman, juga ia lontarkan pernyataan yang menyebut ia dikuya-kuya (dianiaya), partainya dihabisi, dan sebagainya. Sebuah kalimat yang tak relevan, namun menunjukkan adanya persoalan yang (barangkali) mengendap hingga ke alam bawah sadarnya.

Prestasi akademik Yusril tak bisa disepelekan, sehingga bobot gelar profesornya tidak seperti kebanyakan guru besar yang mendapat SK Presiden lantaran golongan kepangkatannya sudah mentok IV/E, atau karena ia berada di perguruan tinggi yang perlu didongkrak akreditasinya. Bukan. Kalau Yusril tidak cemerlang, tak mungkin Soeharto merekrutnya sebagai penulis naskah pidato resminya.

Andai ia tulus ingin membuat negeri ini lebih baik secara adminsitrasi negara, sudah semestinya ia menyampaikan koreksinya kepada SBY. Nyatanya, ia memilih menyimpan kelalaian SBY terhadap tertib hukum tata negara sebagai senjata, yang lantas ia tembakkan kemudian, ketika ia tersisih lalu terpojok karena sebuah perkara.

Bagi saya, kenegarawanan seseorang akan ditentukan oleh sikap dan perilakunya. Dan Yusril, nyatanya memilih menyikapi sebuah perkara seperti kebanyakan pengacara, yang berpikir demi kemenangan kliennya semata, tak peduli dengan caranya. Ya, sebuah caya yang oleh orang-orang di desa saya, menyebutnya dengan istilah pokrol bambu.

Tulisan Yusril di  selebor becak itu, mungkin saja salah satu pertanda ada orang yang memujanya. Mungkin juga, yang dimaksud adalah Yusril yang lain, yang tidak pakai Ihza apalagi Mahendra, entah siapa…..

8 thoughts on “Yusril

  1. ikhwan

    Apa ga malu ya yg punya tulisan ini sekarang, setelah melihat bukti2 kebenaran yang mulai terungkap 1/1?…makanya mikirnya yg bener dulu baru bikin tulisan…sampai skrg aja kejagung plintat-plintut mau ngajukan kasus yusril ke pengadilan krn apa????menurut sy krn jaksa agungnya masih punya nurani untuk tdk membawa k pengadilan setelah mempelajari secara mendalam thd kasus tsb…tapi????akan tetapi tekanan yg diA TERIMA begitu kuat: apapun alasannya Yusril harus dipengadilankan….menangkalah urusan belakang….kalau menang (mungkin berat) ya syukur krn itu targetnya spy Yusril tereliminasi di 2014…kalau kalah lagi seperti yg sudah2,….ya silakan kejagung menahan malu lagi dan lagi…

  2. Den Mas, komentar sampeyan kok lebih banyak ngawurnya daripada benernya. Sampeyan sudah lihat sendiri kan, bagaimana MK mengabulkan sebagian gugatan saya, sampe hendarman dilengserkan. Sejak itu saya jawab semua pertanyaan Kejaksaan Agung. Hendarman lengser urusan lain. Sisminbakum tetap saya hadapi, sampai kapanpun.

    Kalau ingin diskusi dan debat, silahkan saya undang melalui http://www.yusril.ihzamahendra.com

    Salam hormat

    terima kasih, Pak Yusril mau singgah di sini.
    berhubung, menurut Anda, tulisan saya banyak salahnya, dipersilakan meluruskannya di sini, supaya saya dan pembaca lebih tahu.

    salut, kalau Anda akan menghadapi perkara Sisminbakum.
    kalau sampai Solo, kita ngobrol di rumah Amak ya, Pak…

    salam hormat kembali,
    /blt/

  3. jelas eneng kepentingan….
    tapi sakjane, kasus Yusril kok ditangani kejaksaan kenapa bukan KPK???
    inilah tumpang tindih kewenangan di negeri ini…
    KPK, Kejaksaan, Pulisi semua punya kewenangan dan tupoksi untuk mengusut kasus korupsi.
    kalo 2 instansi itu sudah punya kewenangan dan tupoksi tsb kenapa dibentuk KPK???
    atau kalo sudah ada KPK mengapa 2 instansi itu masih diberikan tupoksi yang sama??
    .-= ciwir´s last blog ..nyebrang kali numpak prahu =-.

  4. Hukum tergantung pada yang membuat selama bukan hukum Allah yang diterapkan

    lha kok tekan hukum Gusti Allah? apa gunanya Gusti Allah ngasih akal dan kesempatan ijtihad kepada manusia?
    /blt/

Leave a Reply