Blogger Bodrex

Soal blogger dikasih amplop berisi sejumlah uang, saya peroleh informasi dari twit Kang Iman Brotoseno. Saya tak paham konteksnya. Karena menggelitik, maka saya meneruskan (retweet) kicauan itu. Baru siang harinya, saya mengerti duduk perkaranya, melalui postingan Nena.

Tak butuh waktu lama untuk menuai tanggapan beragam. Hingga ada seorang pembaca membuat komentar menggelitik pula.

Apa ya salahnya blogger nerima amplop? Blogger kan tidak punya kode etik jurnalistik seperti jurnalis. Dimana jurnalis memang tidak boleh nerima amplop.

Menanggapi pertanyaan tersebut, saya hanya bisa mengembalikan kepada nurani masing-masing blogger. Kode etik hanya panduan. Boleh diikuti, boleh pula diabaikan. Tak ada kekuatan pemaksa harus begini atau begitu. Persoalannya cuma pada pantas dan tak pantas, subyektif pula sifatnya.

Dalam dunia jurnalistik pun, banyak yang ‘patuh’ sehingga tidak mau menerima pemberian narasumber demi independensi. Sikap demikian dipegang teguh, agar berita yang dibuatnya benar-benar memenuhi kebutuhan publik akan informasi yang benar, berimbang (cover both sides). Pemberian (uang, barang, fasilitas) dari narasumber diangap bisa mempengaruhi obyektifitas.

Tapi, wartawan juga manusia. Ada yang butuh menumpuk harta, ada juga yang ingin hidup lebih layak, oleh karena itu, mereka menganggap pemberian narasumber sebagai hal yang sah-sah saja. Alasan pembenarnya seringkali begini: apa salahnya saya menerima pemberian, sepanjang saya bisa menulis apa adanya, obyektif?

Sumangga kersa, terserah saja. Suka-suka. Yang sudah pasti tidak bisa dibenarkan adalah memeras narasumber. Toh, tak sedikit pula jurnalis yang nolak amplop terang-terangan, tapi juga happy kalau dikirim via rekening. Intinya, orang sering malu serah-terima terbuka, tapi kalau pakai model kedipan mata, mereka girang luar biasa.

Ya, apa mau dikata. Semua kembali ke diri kita. Blogger ngamplop juga banyak, walau tak sedang pusing sehingga butuh bodrex sebagai pereda sakit di kepalanya. Mereka punya julukan beragam: influencer, endorser, buzzer dan banyak lagi. Tapi jangan salah, tak semua influencer dan sejenisnya itu, asal ‘ngembat’ atau asal nerima bayaran. Mereka punya banyak pertimbangan untuk menerima atau menolak tawaran.

Namun, ada pula orang-orang yang (mungkin) tak menerima bayaran, namun rela bertarung di wilayah social media atau blogging, demi ‘mengajak’ orang lain seperti pembaca dan followers mendukung agendanya. Ketika skandal Bank Century ramai dibicarakan, misalnya, ada yang berusaha mati-matian ‘melindungi’ Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Mantan menteri itu, mungkin tak bersalah. Namun, skandal itu bisa jadi berdampak pada citra dan reputasi Mbak Ani (untuk membedakan dengan Bu Ani), sehingga oleh karenanya, para pendukung Bu Menteri (ketika itu) berjuang bahu-membahu membentuk opini. Sah-sah saja, meski saya tak suka.

Namun kembali pada tulisan Nena, terkait dengan acara IndonesiaSetara-nya Sandiaga Uno, saya hanya menyesalkan kecerobohan konsultan komunikasi atau event organizer-nya. Mungkin mereka tidak tahu hakekat komunikasi, atau memang keburu mengambil jalan pintas, mengingat kekuatan netizen (entah ia nara blog atau aktivis pekicau) yang memang sedang luar biasa. Yang jelas, akibat tindakan bagi-bagi amplop itu, Sandiaga Uno justru seperti dibawa ke tubir jurang.

(Tak terbayang biaya material/nonmaterial yang harus dikeluarkan Sandiaga untuk memperbaiki nama baiknya atas kecerobohan EO atau konsultan komunikasi politiknya)

Setahu saya, tindakan bagi-bagi uang seperti itu, sudah usang dilakukan secara terang-terangan. Banyak PR Agency di Jakarta meninggalkan praktek bagi-bagi amplop dan menggantinya dengan cinderamata. Ya, seperti goodybag yang isinya aneka jenis merchandise itu.

Kalaupun masih ada yang ngasih uang, biasanya staf PR Agency sudah memilah-milah. Mereka tahu mana yang suka amplop (beserta isinya), mana pula yang tidak. Maka, demi amannya, mereka memilih memberi cinderamata.

Nah, soal blogger mau menambaah julukan ‘bodrex’ pada namanya atau tidak, kembali kepada masing-masing individu. Membuat kode etik blogger juga tak gampang. Dan, menurut saya, tak perlu. Blogger adalah potret masyarakat. Karena banyaknya media massa yang berpihak kepada penguasa (politik atau ekonomi) telah melahirkan semangat orang untuk ngeblog secara bebas, tak terikat kepada siapapun, termasuk sikap/afiliasi politik si pemilik modal.

Karena itulah, blogger yang memproduksi informasi atau opini bernas dan bermutu lantas dijuluki pewarta warga atau citizen journalist.

Berikut adalah kode etik jurnalistik versi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang menyatakan sebagai organisasi antiamplop.

  1. Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
  2. Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.
  3. Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.
  4. Jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya.
  5. Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat.
  6. Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto dan dokumen.
  7. Jurnalis menghormati hak nara sumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record, dan embargo.
  8. Jurnalis segera meralat setiap pemberitaan yang diketahuinya tidak akurat.
  9. Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas korban kejahatan seksual, dan pelaku tindak pidana di bawah umur.
  10. Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental atau latar belakang sosial lainnya.
  11. Jurnalis menghormati privasi, kecuali hal-hal itu bisa merugikan masyarakat.
  12. Jurnalis tidak menyajikan berita dengan mengumbar kecabulan, kekejaman kekerasan fisik dan seksual.
  13. Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi.
  14. Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan. (Catatan: yang dimaksud dengan sogokan adalah semua bentuk pemberian berupa uang, barang dan atau fasilitas lain, yang secara langsung atau tidak langsung, dapat mempengaruhi jurnalis dalam membuat kerja jurnalistik.)
  15. Jurnalis tidak dibenarkan menjiplak.
  16. Jurnalis menghindari fitnah dan pencemaran nama baik.
  17. Jurnalis menghindari setiap campur tangan pihak-pihak lain yang menghambat pelaksanaan prinsip-prinsip di atas.
  18. Kasus-kasus yang berhubungan dengan kode etik akan diselesaikan oleh Majelis Kode Etik.

23 thoughts on “Blogger Bodrex

  1. wah, berselancar di internet sampe saya kesasar ke sini. hehehe.
    kalo buat saya sih, (masih dalam konteks jurnalisme) kenapa amplop dilarang untuk diterima, karena wartawan ketika meliput sesuatu tidak berada dalam posisi untuk mendapatkan amplop itu. banyak sekali wartawan memberitakan kasus korupsi dan lain hal yang intinya adalah masalah penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan posisi. makanya, amplop gak bisa diterima karena itu bentuk penyalahgunaan posisi sebagai wartawan. amplop sering dimaknai si pemberi amplop agar wartawan mengangkat citra pemberi amplop dalam arti menulis berita yang bagus demi peningkatan citra.
    nah, untuk blogger, gak tau deh posisi blogger ketika datang ke satu acara itu untuk apa. apa buat cari amplop?

  2. Wah, saya malah baru tahu ada istilah blogger bodrex. Saya kira memang ada hubungannya dengan obat sakit kepala yang terkenal itu.hehe.. Terima kasih sudah berbagi, ini sangat bermanfaat bagi saya yang baru menyukai jurnalisme.
    Salam kenal. 🙂
    .-= Tamba Budiarsana´s last blog ..Turut Berduka Cita =-.

  3. setelah kita menerima amplop maka HARGA DIRI kita senilai dengan isi amplop tersebut.
    sebetulnya EOnya juga salah karena seolah-olah menggiring blogger untuk mendukung kadin-1, hal ini membuat blogger yg datang merasa tertipu …
    salam kenal, pakdhe …
    ’91
    .-= sangasiji´s last blog ..Ikut Pesta Blogger 2010 =-.

  4. Tidak ada blogger bodrex kl tdk ada kode etik yg melarangnya
    Tak ada kode etik kl tak ada asosiasi profesinya
    Nah
    Kapan bikin ABBI
    Asosiasi blogger dan buzzer indonesia
    *mringis

  5. mazbagonk

    Waduh….kacau bener. Knapa?
    1. Dunia pers udah cedera berat dengan para bodrex tulen alias yang gak punya media dan wartawan yang sengaja mbodrex meski jelas media dan gajinya. KIni rupanya para blogger dalam ranah media gayabaru juga banyak yang pingin mbodrex.
    2. Setelah bergawul dengan berbagai rupa blogger, aku jadi ambil kesimpulan bahwa di antara para blogger yang bermisi untuk menjadi pewarta yang lebih bebas (baik regulasi maupun haluan politik dan kebijakan redaksi), ada juga blogger yang ngeblog sekadar pingin terkenal sehingga isi blognya pun “ngoyoworo” alias gak jelas dan gak bermakna dan gak ada manfaatnya bagi kemaslahatan umat, meski itu hak asasinya dia untuk nulis apa saja.

    wah, maap lho, Mas Bagong. blog-ku juga abal-abal, ngayawara…..
    /blt/

  6. setuju, dhe. ini soal hati nurani.. 😀

    menurutku, blogger yg postingan/twitnya berbayar, itu bisa dibilang “profesional”. sejak awal memang ada pembicaraan, dan menurutku ini sah-sah saja.. kalo perlu, sekalian saja ngaku “blogger komersil” (eh, kayaknya istilah ini bisa bikin ribut juga.. :D), blogger yang memang mencari uang dari blog (ada banyak contoh, dari yg manfaatkan mesin, sampe yang memang bikin konten beneran)..

    tapi yo sekali lagi, tidak semua blogger begitu. blogger komersil pun, sama hal seperti pada jurnalis bodrek, cuma beberapa gelintir.. jumlahnya memang kecil, tapi kok ndilalah mereka sering banget ditemui.. cukup ngeselin juga hehehe..

    suwun kang, pencerahannya.. 😀

  7. Sam Ardi

    Jadi siapa yang memberi siapa dan siapa pula yang membuat sarana serta menjembataninya ? Jawab ya mr. Blonty …

    duh, mana kutahu, Sam…
    /blt/

  8. walah.. ternyata komenku sebelumnya masuk.. tadi error, dhe..

    ada yg menarik dari komentar di postingan Nena. kalo memang mau membayar, sebaiknya bilang terus terang sehingga blogger tidak merasa “ditipu”. kalo dari baca postingan Nena, banyak blogger yang udah terlebih dulu kecewa dgn acaranya kemudian “diperparah” dgn pembagian amplop..

    memang sangat susah kalo sudah bicara soal pantas/tidak pantas. ranahnya sangat subyektif. mungkin memang cara pemberian amplopnya yg kurang berkenan, sehingga banyak yg marah. kecuali kalo memang sejak awal ada info, akan ada uang transport, misalnya, tentu saya kira para blogger akan lebih bijak menyikapinya. 😀

    betul. postingan Nena jadi membuka mata kita, blogger mesti bersikap seperti apa menghadapi EO/konsultan komunikasi model demikian. mungkin mereka takut, kalau disampaikan di awal justru bikin ribut. masalahnya, si konsultan juga tak mengira, bahwa ada fakta orang ngeblog/ngetwit berbayar lantas dimaknai seorang blogger ‘gampang’ dibayar. hehe… blunder. maju kena, mundur malu.

    istilah ‘uang transpor’ pun sebenarnya juga eufemisme. di dunia jurnalistik, selalu begitu istilahnya.

    ini pengalaman pribadi. pernah ada seorang kandidat ketua ormas menghentikan saya seusasi wawancara ramai-ramai. dia kenalan baik saya. semua orang disuruh keluar, tinggal saya dan dia. kepada saya disodorkan amplop coklat nan tebal. bisa dipastikan itu duit karena dia meminta tolong saya membagikan kepada teman-teman jurnalis di Solo sebagai pengganti ongkos transpor. saya menolak, bilang tak perlu. lama kami berdebat, dan saya tetap tak mau.

    rupanya, teman saya itu tersinggung. petunjuknya, ia tak lagi mau menerima telpon dari saya. membalas sms pun cuma dua kali hari raya, tiga dan dua tahun silam. tentu bukan karena dia jadi pejabat sebab dari dulu pun ia orang penting…

    andai amplop saya terima dan tak dibagi pun, tak ada yang tahu, bahkan teman saya itu. tapi malaikat dan Allah Maha Tahu. dan bukan karena itu saja alasan saya menolaknya: secara moral, berat saya menerimanya. dan asal tahu saja, saya tak pernah menjelekkan dia dalam berita. proporsional semua…
    /blt/

  9. Kalau dilihat hikmahnya, ini berarti semakin banyak pihak sudah paham bahwa netter punya kemampuan untuk membentuk opini.. Kalau sekian banyak bloger bikin tulisan memuji2 produk tertentu, misalnya. Itu kan terhitung iklan. Anggap saja semacam kiat dagang getok tular. Akan jadi rawan kalau kekuatan itu dipakai untuk kampanye politik. Bisa2 nasib pengelolaan negara ditentukan oleh sentimen yang terlahir dari solidaritas di blogosfer, atau internet. Ya kalau hasilnya bagus, kalau tidak? Soalnya, orang Indonesia tuh cenderung sulit menerima kegagalan pemimpin, meskipun dia sendiri yang pilih. Untuk saat ini, mungkin terasa parno ya… Saya harap sih, orang Indonesia sudah mulai belajar menerima dengan dewasa, apa pun hasil yang ditentukan (secara sadar maupun tidak) dari wisdom of the crowd.

    Btw, salam untuk kucing siamnya ya Pak. Lucu sekali sih aksinya di poto..

    duh, sayangnya si kucing sudah lama menghilang. dia cuma main ke rumah saya… tapi, kasus di event #IndonesiaSetara cukup jadi bahan pembelajaran untuk kita semua. kapan kita mau menerima bayaran dengan konsekwensi beragam.
    /blt/

  10. beda ya ama twit/postingan blog berbayar?

    wah, susah jawabnya. saya kira semua blogger punya cara, strategi dan ukuran sendiri-sendiri. namun, soal ukuran kepantasannya, biasanya berlaku umum. postingan blog/twit berbayar juga bukan dosa… mungkin, motivasi (baik pihak lain maupun blogger) bisa jadi pedoman umumnya.
    /blt/

  11. Sepintas, mudah dibilang ujungnya kembali pada nurani masing-masing blogger. Tapi nggak sesimpel itu juga. Kalo ada sebagian blogger yg menerima amplop semacam ini, pasti akan timbul komentar, paling nggak di dalam hati rekan-rekan blogger yang lain dan berpotensi menjadi duri di dalam daging komunitas blogger Indonesia (Jabodetabek?).

  12. memang dilema juga Kang… Soalnya ada yang beranggapan kalau blogger itu bukan wartawan walaupun dia selalu memposting tentang informasi-informasi (pewarta warga). Jadi ya memang harus dikembalikan ke diri masing-masing. Seperti Kang Blontang bilang kalo tidak perlu ada kode etik blogger, maka tak perlu juga kita mempermasalahkan blogger yang nerima amplop atau yang tidak mau.
    .-= bang FIKO´s last blog ..Lantunan Ayat Suci Al-Qur’an =-.

Leave a Reply