Buku Petunjuk Singapura

Di sebuah ruang sempit di Harbourfront, saya diperiksa hampir satu jam oleh petugas imigrasi Singapura. Datang berdua dari Batam Center, teman saya sudah berlalu hanya dalam hitungan menit. Tak banyak yang ditanyakan, tapi kalimatnya selalu diulang-ulang, penuh selidik. Sempat kuatir, saya bakal ditahan.

Gedung Suntec, tempat berlangsungnya pertemuan tahunan IMF-World Bank, 2006

Bukan tak mungkin, bukan pula berlebihan. Bisa jadi, intelijen Singapura sudah mencatat nama saya. Apalagi, sejak menjelang kedatangan kedua ke negeri itu, banyak media mengutip nama saya, terkait rencana kumpul-kumpul aktivis organisasi masyarakat sipil dari seluruh penjuru dunia. Kami hendak datang ke negeri itu untuk mengkritisi Bank Dunia dan IMF yang sedang menggelar sidang tahunan.

Karena negeri itu antidemokrasi, maka melarang demonstrasi atau segala bentuk unjukrasa. Jangankan orang asing, warga sendiri pun dilarang. Singkat kata, saya curiga dengan materi pertanyaan petugas imigrasi yang seolah-olah tahu siapa saya. Padahal, saya hanya membantu publikasi International People’s Forum (IPF), terutama lewat media massa. Yang jelas, semua pertanyaan diarahkan pada kegiatan apa saja yang saya lakukan selama di Batam, juga keterkaitan saya dengan IPF.

Saya tahu, sebagai negeri serba tertib dan mengatur semua sendi kehidupan warganya, Pemerintah Singapura ingin menjadi tuan rumah yang baik bagi semua delegasi pertemuan lembaga donor itu. Maka, ingatan pun melayang pada tiga hingga lima kapal perang yang mondar-mandir di perairan perbatasan antara Pulau Sentosa dengan Batam. Sebegitu paranoidnya, bahkan para aktivis masyarakat sipil yang kumpul di Batam pun dihadapi dengan senjata.

Terbebas dari ‘interogasi’ petugas imigrasi, saya mulai menjejakkan kaki di negeri itu. Di mana-mana, tentara bersenjata siaga, berjaga di radius lebih dari setengah kilometer dari Gedung Suntec, tempat sidang berlangsung. Ada pita pembatas, sehingga semua pelintas harus berjalan di luar garis.

Di pusat perbelanjaan sepanjang Orchard Road, terpampang aneka materi publikasi, yang intinya menyemarakkan pertemuan Bank Dunia/IMF di negeri itu, seolah-olah mengelu-elukan keduanya sebagai simbol dewa penolong. Jauh berbeda dengan pemadangan di Asrama Haji Batam yang dipenuhi dengan spanduk-spanduk kecaman.

*****

Rupanya, apa yang saya alami belum seberapa. Kulit luar pun belum, sehingga tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan seorang Margaritta. Ia yang bertahun-tahun tinggal di sana bersama orang-orang asal Indonesia yang ‘dipilih’ sebagai bakal aset penting Singapura, pun menjalani keseharian dengan sarat beban.

Buku ini layak dijuluki Singapore Undercover

Margaritta mungkin bukan siapa-siapa bagi kebanyakan orang Indonesia, termasuk pemerintahnya. Andai menjumpainya di pusat perbelanjaan atau berpapasan di jalan, pun orang cenderung tunduk pada cap, stereotiping: karena peranakan Cina, paling gitu-gitu aja! Padahal, kepada dia, kita bisa bertanya akan banyak hal. Apalagi, bagi remaja dan para orang tua yang terobsesi meneruskan sekolah di Singapura.

Lewat buku terbarunya, After Orchard, Margaritta mengupas nyaris tuntas tentang budaya, sistem sosial, hubungan antarorang, hingga kebijakan politik-keamanan Negeri Singa itu. Potret bangsa paranoid yang saya alamatkan terhadap Singapura, terpaparkan secara gamblang melalui esai-esai ringan yang dibukukannya.

Jangan pernah mengira, kehebatan saudara-saudara sebangsa kita berbanding lurus dengan kenyamanan fasilitas. Bibit-bibit unggul kita, para pemegang banyak trofi dan medali olimpiade sains, tak berarti akan mudah meraih impian. Betapapun memperoleh beasiswa dan ‘bonus’ kontrak kerja di perusahaan-perusahaan multinasional papan atas yang menjanjikan kesejahteraan ekonomis dan prestis, mereka bakal menjadi bukan manusia lagi bila sudah masuk ke dalam sistem Singapura.

Semua dihitung serba ekonomis-matematis-mekanis. Persis robot, yang output-nya pasti presisi dan bisa dipacu untuk terus meningkatkan produksi. Jangan bicara hati atau pakai nurani, sebab itu justru membuat orang cenderung ingin bunuh diri.

Serba tertib, teratur sudah menjadi ciri negeri jiran yang satu ini. Betapa sistemik dan tak adanya kompromi di berbagai sisi manusiawi, tampak pada hal-hal yang dianggap kecil di sini. Seorang petugas asrama, misalnya, memiliki kekuasaan absolut karena sistem. Mereka yang ‘cuma’ pembantu, bisa mengeluarkan barang-barang pribadi dari kamar penghuni asrama, betapapun ia anak konglomerat kaya raya dan berkuasa.

Padahal, untuk bisa tinggal di asrama yang sejatinya merupakan fasilitas penunjang keberhasilan mahasiswa-mahasiswa Nanyang Technological Univesity (NTU), satu dengan yang lain harus berkompetisi sengit, yang diukur dengan poin. Dan untuk mengumpulkan poin, seseorang harus kerja keras, mengikuti berbagai macam kegiatan kampus.

Soal mual-muntah-pusing, juga tentang kutu atau sesama mahasiswa saling cumbu sembari menjemur baju, bukan lagi peristiwa lucu. Semua ada presedennya, juga ada dasar hukum yang menciptakannya. Membaca cerita Margie, kita seperti dihadapkan pada dunia mimpi. Tentang impian orang akan pesona Singapura. Juga tentang kebahagiaan hidup yang seolah tak pantas diimpikan.

Margaritta dengan segudang pengalaman dan kemampuan bertuturnya, seperti menyodorkan kepada kita, betapa rapuhnya sebuah negeri seperti Singapura. Empat tahun di NTU lalu bekerja pada perusahaan multinasional di Singapura cukup memberinya pengalaman memadai sehingga cerita-ceritanya memiliki kredibilas tinggi. Layak dipercaya.

Mulai soal kutu dan perlunya uji laboratorium sehingga seorang pembantu bisa membuat keputusan perlunya kasur di-steam agar kutu-kutu pengganggu itu mati. Atau cerita betapa berkuasanya seorang bibi petugas kebersihan asrama untuk mengatur hidu-matinya AC atau televisi, dan masih banyak lagi.

After Orchard, buku ketiga Margie ini, sungguh layak disebut Singapore Undercover. Bahasanya lugas dan bernas, meski sangat disayangkan, terdapat banyak salah ketik di sana-sini, yang kecil namun cukup mengganggu. Buku ini wajib dibaca bagi remaja Indonesia, juga para orang tua, sehingga bila kelak tak bisa berjumpa lagi dengan anaknya, dua kemungkinan akan sama kuatnya: bunuh diri atau dirinya dibunuh. Ya, seperti David itu…..

Kalau mau rekreasi di Singpura, buku panduan wisata memang wajib Anda punya. Tapi kalau ingin menetap di sana, atau menyekolahkan anak Anda, sudah seharusnya membaca After Orchard terlebih dahulu. Tawaran akan datang berulang kali, tapi penyesalan hanya sekali. Bukan hendak menakut-nakuti, sebab Anda pun perlu ngerti. Minimal, bisa menyiapkan strategi untuk adaptasi.

Asal tahu saja, tulisan-tulisan Margie semasa kuliah di NTU yang sebenarnya biasa di Indonesia, namun dianggap bahaya oleh Pemerintah Singapura. Sampai Menteri Luar Negeri Singapura pun perlu mengirim surat kepada dia. Bunyinya:

…Dan kami ingin memperingatkan agar Anda tidak mencitrakan Singapura secara salah, terutama dalam hubungannya dengan relasi antar-ras.

Membaca semua yang dipaparkannya melalui After Orchard, mengingat betapa paranoidnya Pemerintah Singapura, saya kuatir, Margaritta tak akan gampang lagi menginjakkan kakinya di Singapura, betapapun ia berstatus editor khusus di Singapura.

9 thoughts on “Buku Petunjuk Singapura

  1. menarik
    saya pun tidak berminat penuh ke singapura
    tapi mumpung di batam, saya mau sekali kesana
    saya sebenarnya lebig tertarik ke bromo daripada singapura
    .-= muchie´s last blog ..PERSPECTIVE =-.

    berkunjung juga bukan dosa, kok…
    /blt/

  2. gunawan raharja

    nguplek-uplek gramedia puri ra ono…opo goro-goro aku nang jakarta ndeso ya ?

    kuminta penulisnya ngirim nggonmu piye? alamate ngendi?
    /blt/

  3. Lha ya itu.
    1. Imigrasi di manapun seringkali mengesalkan 🙁

    2. Sering saya dengar derita para bibit unggul kita di sana, beserta segala stresnya, sehingga terbumbui kasus pembunuhan oleh mahasiswa Indonesia itu

    3. Soal isu rasial, hmmmm yayayayaa.. begitulah. Kita sama-sama tahu. 🙂 Bukankah sang putra mahkota juga bikin gerah karena pernyataan jujurnya? 😉

    kalau yang begitu itu masuk kategori apa, Man? ironi atau tragedi?
    /blt/

  4. DV

    Menarik, Pakdhe!
    Sistemik seperti jadi harga yang harus dibayar untuk sebuah kemajuan atas nama modernitas.
    Asal jangan kematian sistemik karena arsenik seperti Kawan Munir terjadi sebagai tumbalnya ya.. 🙂
    .-= DV´s last blog ..Mengajarkan doa =-.

    hahaha….. setuju, Dab. tanpa reserve!
    /blt/

Leave a Reply