Jawa atau Java?

Jalan-jalan itu bepergian untuk dinikmati. Jadi, pasti happy. Apalagi bersama teman-teman, pasti akan lebih fun. Nyenengkèh! Begitu istilah orang Solo, kini. Banyak berjumpa dengan hal-hal yang tak terduga. Wujudnya bisa apa saja.

Sayang, orang gila berusia separuh baya yang membungkus tubuhnya secara sekenanya, tak sempat saya jepret. Padahal, fotonya bisa untuk oleh-oleh. Berjalan menyusuri jalan protokol Boyolali, lelaki yang membungkus tubuhnya bekas bendera dan spanduk Partai Demokrat. Maklum, siang itu saya memerankan diri jadi sopir, dan tak bisa menghentikan mobil secara mendadak.

The Next Einstein...akankah muncul dari Boyolali?

Yang pertama menggelitik saya adalah papan nama sebuah lembaga pendidikan di Cepogo, Boyolali. Di pinggir jalan menuju Selo saya dapati sebuah optimisme, bahwa orang cerdas sekaliber Albert Einstein pun bisa lahir dari pedusunan itu. Maka, tak tanggung-tanggung, seseorang berjiwa pendidik membuka tempat kursus dengan nama mentereng: The Next Einstein.

Optimisme yang wajar. Kepintaran bisa dilatih dan Tuhan selalu berkuasa menghadirkan Einstein di belahan dunia mana saja. Nyatanya, di negeri yang jadi bahan olok-olok dunia karena korupsinya, juga punya ratusan jagoan kimia, matematika, biologi, fisika, astronomi, dan masih banyak lagi. Semua masih muda, dan berkelas olimpiade, sejagad levelnya.

Jajan soto berhadiah liontin (emas). Bisa dijual lagi buat beli buku...

Kaya-miskin bukan soal. Asal bersungguh-sungguh dalam belajar, semua orang bisa jadi pintar. Perpustakaan sekolah sudah cukup memadai, sudah bisa jadi lumbung ilmu. Andai beruntung, pun bisa menguangkan liontin hasil undian lantaran jajan soto. Di Boyolali, ada warung soto yang memberi iming-iming hadiah emas. Bisa ditukar jadi buku dan buku-buku bacaan, atau akses internet.

Pokoknya, dari kota kecil pun bisa lahir apa saja, karena bisa berbuat apa saja yang berguna. Kreativitas itu milik siapa saja, dan bisa muncul kapan saja. Toh, helikopter dan pesawat terbang pun dulunya diilhami oleh seekor capung.

Kalau tak sabar, silakan Anda mendahului. Siapa tahu kendaraan Anda sudah mampu terbang

Maka, kendaraan bisa terbang bukan mustahil, meski untuk sejenis sepeda motor atau mobil, belum ada fasilitas untuk meniru si burung besi. Tapi kelak? Bukan sesuatu yang mustahil, bukan?

Makanya, jangan remehkan truk tangki butut yang sudah tak bisa bergerak gesit menyarankan orang-orang di belakangnya, yang tak memiliki kesabaran memadai, diminta terbang saja agar bisa mendahului. Yèn ora sabar, maburo. Kalau tak sabar, ya terbanglah.

Anda orang pujangga Jawa atau orang gaul seperti lakon F4?

Ya, begitulah. Hanya sedikit oleh-oleh yang bisa saya bagi kepada Anda. Mungkin saja, dari yang sedikit ini, Anda bisa melihat Jawa yang sudah berubah. Seperti keinginan melahirkan Einstein-Einstein baru, bukan orang hebat berpredikat pujangga, yang kewaskitaannya ‘hanya’ dicapai lewat olah rasa, kebatinan dan ilmu titen, mengingat dan mencermati.

Dan kita tahu, setiap mendengar kata pujangga disebut, asosiasinya kira-kira hanya bakal seperti ini: Jawa, tua, bersorban atau menutup kepala dengan blangkon, bersarung atau mengenakan jarik. Padahal, generasi Jawa kontemporer sudah ikut tepercik globalisasi. Lihat saja, orang Jawa kini sudah fasih mengucap: think globally, act locally atau memplesetkaannya dengan think locally, act globally.

Walau tak paham bahasa komputer sekalipun, toh pemangkas rambut di Cepogo, nun di kaki Gunung Merapi-Merbabu, mengekspresikan harapan perubahan Jawa selaras dengan perkembangan teknologi informasi. Dia tak lagi menyebut Jawa, namun Java. Mirip gambar cangkir berasap di atasnya…..

Dan, seperti Anda lihat, baik potongan rambut maupun uniform-nya, sudah tidak seperti jaman hidupnya para pujangga….. Cut locally for global style!

9 thoughts on “Jawa atau Java?

  1. DV

    Iki ora maksudku dinggo saru, Paklik..
    tapi pas scroll down tulisan tukang cukur kuwi, sekilas kebaca Cukur Jam… apa karena huruf bawahnya “R” itu “J” ya? 🙂
    .-= DV´s last blog ..Mengajarkan doa =-.

    halah, dasare wis pingin saru wae, kok…. :p
    /blt/

Leave a Reply