Sang Pencerah

Adegan KH Achmad Dachlan sedang bersedekah kepada fakir-miskin.

Penasaran betul saya terhadap Sang Pencerah, film arahan Hanung Bramantyo. Bukan sekadar karena ingin mengenal ‘lebih dekat’ sosok KH Achmad Dachlan, pendiri Muhammadiyah, namun seberapa penting film itu bagi masa depan Indonesia, hingga Pak Din Syamsuddin rela menjadi juru bicara, mengiklankan film itu di televisi.

Jujur, saya berharap film itu bisa menjadi sumber pencerahan, aufklarung, bagi masyarakat muslim Indonesia, yang sebagiannya, belakangan sering ‘terlibat’ dalam keributan antarumat beragama. Gegeran Ahmadiyah, pelarangan umat Kristen menjalankan ibadah seperti di Ciketing, Bekasi, dan banyak lagi. Belum lagi kalau kita menyimak catatan kekerasan atas nama agama seperti yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI).

Kelahiran Darwis, yang kelak berganti nama Achmad Dachlan, menjadi pembuka yang memukau. Aneka jenis sesaji sebagai uba rampé prosesi upacara selamatan atas kelahiran sang jabang bayi cukup menyentak.

Dengan setting Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang budaya keagamaannya sinkretis, karena meneruskan tradisi Mataram yang semula Hindu lantas ‘di-Islam-kan’ para wali, maka sesaji menjadi kata kunci. Doa-doa yang mewujud pada praktek Yasinan dan Tahlilan, yang sejatinya menjadi bagian dari proses transisi Islamisasi, lantas terpenggal. Berhenti tanpa penjelasan, sehingga polemik khilafiyah yang mulai ditinggalkan sejak beberapa tahun belakangan, justru kembali mengemuka lewat film ini.

Ketidaksukaan Darwis remaja terhadap praktek pemberian sesaji dan upacara membakar kemenyan di bawah ringin kurung di alun-alun selatan kraton, misalnya, terasa janggal. Saat itu, Darwis belum tercerahkan. Bahwa ia kurang sreg terhadap praktek klenik demikian, boleh jadi benar. Hanya saja, tak ada penjelasan, dari mana dan atas ajaran siapa sehingga memunculkan sikap dan tindakan penolakan yang frontal.

Dalam benak saya, ada adegan yang memberi gambaran kepada penonton awam, bahwa sikap yang demikian kuat dipegangnya itu merujuk pada ajaran tertentu. Apalagi, ia dilahirkan dari keluarga yang dekat dengan tradisi keagamaan sinkretis ala Masjid Kauman, masjid agung yang serba diatur oleh Sultan sebagai penguasa tunggal dalam bidang politik dan agama.

Sejarah menunjukkan, paham pemurnian ajaran Islam justru ia peroleh usai proses naik hajinya yang kedua, pada 1902. Pada masa itulah ia terpengaruh gerakan pemurnian ajaran Islam, yakni kembali kepada Al Qur’an dan Hadis yang dipelopori Muhammad bin Abdul Wahab, lalu secara teratur mempelajari pemikiran para reformis seperti Sayid Jamaluddin al-Afghani dan Tafsir al Manar karya Muhammad Abduh.

Sepulang dari hajinya yang kedua itulah, ia lantas berkeinginan kuat menghapus praktek keagamaan yang dianggap bid’ah, khurafat dan takhayul, sehingga perlu mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 1912. Untuk mengikis praktek yang dinilainya tak bersandar pada aaran Qur’an dan hadis itulah, ia menggunakan jalur pendidikan dan dakwah, ya lewat Muhammadiyah itu.

Asal tahu saja, gagasan KH Achmad Dachlan lewat organisasi yang dibentuknya itu segera memperoleh dukungan memadai dari organisasi-organisasi Islam lokal yang kelak meleburkan diri menjadi Muhammadiyah. Di antaranya adalah Nurul Islam di Pekalongan, Al Munir dan Siratal Mustaqin (Makassar), Al Hidayah (Garut), Sidiq Amanah Tabligh Fathanah (Sala) dan belasan organisasi di Yogyakarta.

Hingga di sini, sosok Achmad Dachlan tak tergambar secara gamblang melalui Sang Pencerah. Malah, kekiaian Darwis dewasa justru terganggu dengan kurang fasihnya Lukman Sardi berbahasa Arab. Bahkan, untuk yang ‘standar’ seperti kalimat Assalamu’alaikum saja masih terasa kedororan.

Tentu, saya tak hendak mengolok-olok karya yang secara artistik tergolong sangat bagus itu. Pun, saya tak ingin membawa film ini ke ranah politik. Apapun, Sang Pencerah bukanlah film dokumenter yang harus mengupas sosok Darwis lengkap dengan kiprahnya dalam segala bidang.

Saya memakluminya sebagai film cerita, yang kisah dari jalinan ceritanya bisa dijadikan teladan. Ya kearifannya, kesantunannya yang menyejukkan, dan hal-hal yang serba baik lainnya, sehingga hikmah-nya benar-benar mampu menggugah umat Islam di Indonesia yang kini seperti kehilangan panutan dan gampang marah, mudah menyerang dan menyalahkan hingga mengkafirkan selain golongannya.

Saya rasa, sekian dulu uneg-uneg saya tentang Sang Pencerah, mengenai sosok KH Achmad Dachlan yang saya yakini memiliki segudang teladan, khususnya bagi saya. Esok atau lusa, semoga saya bisa menuliskan catatan tambahan, sebab hari ini, saya ingin menontonnya lagi. Saya suka filmnya, terutama akan keindahan gambar-gambarnya.

Jadi, tak ada ruginya bagi saya dan Anda, untuk menontonnya. Setidaknya, mari kita tunjukkan diri sebagai penyokong kebangkitan film Indonesia. Apalagi, para kreatornya adalah para generasi muda dengan talenta luar biasa.

*) Ilustrasi gambar diambil dari sini.

**) Ingin catatan tambahan, baca juga yang ini, dari Candra Malik. Catatan selanjutnya dari saya, silakan baca Sang Pencerah #2

Posting di atas di-copas di sini. Tanggapannya sungguh menarik dicermati.

8 thoughts on “Sang Pencerah

  1. ahahaha, saya ketinggalan adegan2 awal gara2 adik saya makannya lama sekali. baru masuk bioskop waktu darwis sudah berangkat ke arab, dan setelahnya diganggu sama aktingnya zaskia mecca dan jawa2 aspal lainnya 😀

  2. Pembaca kecewa. Berharap membaca review yang lebih panjang :)
    .-= ikram´s last blog ..I like watching the Twilight saga =-.

    asyiik… kecewa berarti sayang. nanti akan dilanjutkan repiunya setelah nonton yang kedua. catatan sudah punya beberapa. nonton lagi biar gak salah-salah amat saat menilai. maklum, gak ngerti film…..

    /blt/

Leave a Reply