Kartu Lebaran

Empat atau lima tahun silam, saya menerima kartu ucapan Idul Fitri dari Mas Tyo. Bungah, gembira campur haru. Bukan karena itu menjadi satu-satunya kartu pos yang saya terima tahun itu, namun sudah lima tahun lebih saat itu, atau satu dasawarsa kalau dihitung hingga sekarang. Sungguh sensasional, walau saya lupa persisnya. (Maaf ya, Paman..)

Sejak awal 2000, ketika telepon genggam nyaris dimiliki semua orang, pesan singkat sudah menggusur kartu pos. Lebih praktis, dan cepat sampai. Apalagi, orang sekarang cenderung ogah repot mengingat alamat sahabat, teman, relasi bisnis, atau bahkan saudara jauh. Belum lagi kalau harus mengantar si kartu ke kantor pos, ketika bis surat sudah jarang ditemukan.

Beberapa teman bahkan menganggap kirim kartu ucapan lebaran, Natal dan sejenisnya sebagai kuno, tak beradaptasi dengan kemajuan. Tak apa. Mungkin, orang-orang sudah sedemikian mekanis, ingin serba praktis, sehingga pesan-pesan ‘personal’ diwakili SMS, surat elektronik, atau yang belakangan marak, e-card.

Sejatinya, tak ada soal dengan pilihan demikian. Cuma yang saya sering merasa risih adalah menerima pesan yang di-broadcast serentak, dengan pesan sama. Jujur, ada perasaan seperti kehilangan kehangatan sebuah hubungan. Apalagi, kalau pesan serupa dikirim seseorang dari hasil terusan (forward) dari orang lain, yang celakanya kelupaan menghapus nama si pembuat pesan. Hmmm…

Walau saya juga suka praktis-praktisan dengan kirim pesan singkat atau surat elektronik, namun selalu saya hindari pengiriman ke beberapa atau banyak orang sekaligus, dengan pesan sama. Saya selalu mencoba menggunakan bahasa antar kami, yang lebih personal, sehingga (saya harap) lebih mengena. Si penerima pesan jadi kepranan, kata orang Jawa.

Berangkat dari pengalaman demikianlah, kemarin saya mengajak teman-teman Bengawan menghadirkan Pak Budi Raharjo, Operation Manager PT Pos Indonesia, Solo, dalam bincang-bincang dalam rangka buka bersama atau Ngabubur-IT bersama tim InternetSehat.

Obrolan jadi hangat, sebab ternyata banyak teman-teman dan hadirin yang berusia hingga 23 tahun mengaku belum pernah berkirim surat, atau minimal kartu ucapan, entah saat Lebaran atau Natal/Tahun Baru. Ironis? Bisa jadi.

Banyak teman lantas mengusulkan agar PT Pos menggalakkan sosialisasi. Dan rupanya, sudah menjadi kebijakan umum PT Pos Indonesia, bahwa perusahaan plat merah itu mulai menggalakkan gerakan kembali menggunakan jasa pos. Caranya, setiap Kantor Pos di berbagai daerah memproduksi kartu lebaran dengan tema-tema wisata dan budaya setempat, lalu disebar gratis. Orang tinggal beli perangko saja.

Sayang, gerakan itu belum massif dipublikasikan. Padahal, pendekatan itu justru bakal menghidupkan dunia pariwisata daerah, sebab foto-foto obyek wisata yang dicetak di kartu pos akan menuntun banyak orang untuk penasaran, lalu mengunjungi obyek wisata. Sayang, contoh kartu pos yang ketika itu dibawa Pak Budi tak memberi cukup informasi. Hanya tertera nama obyek wisata dan nama kota.

Mestinya, PT Pos bisa bekerja sama dengan kantor dinas/badan pariwisata daerah, termasuk mencantumkan sedikit cerita mengenai obyek wisata yang dipromosikan. Dengan begitu, penerima kartu bisa mendapatkan referensi awal mengenai sesuatu. Semoga, kelak ada perbaikan, serta dengan strategi yang lebih matang.

Sehingga, tak ada lagi protes orang-orang seperti di twitter dan jejaring sosial, yang dialamatkan kepada Gubernur Jawa Barat karena mengalokasikan dana miliaran rupiah untuk menyebar kartu lebaran. Andai Pak Gubernur mengemas kartu lebaran sedemikian menarik dalam rangka promosi wisata daerahnya, mungkin prasangka menghambur-hamburkan uang rakyat tak sedemikian heboh di dunia maya.

Pak Gubernur, mestinya juga paham, bahwa banyak generasi muda kini, yang lebih mengenal pesan singkat, surat elektronik, dan aneka piranti ‘moderen’ lainnya, dibanding surat-menyurat ala kartu pos dan sejenisnya. Teknologi, memang memiliki sisi lain, salah satunya lahirnya generasi instan, yang tak punya referensi atau ingatan tentang Pak Pos, apalagi Merpati Pos yang bisa jadi cuma dianggap dongeng pengantar tidur.

4 thoughts on “Kartu Lebaran

Leave a Reply