Menggenapkan Keramahan

Keramahan Solo paling bisa dirasakan banyak orang (apalagi pendatang) ketika tersesat atau sedang mencari alamat. Hampir setiap orang ditanya, akan menunjukkan arah dengan detil, kalau perlu bahkan diantar. Tanpa upah. Tapi sayang, masih ada yang terlewat. Pengguna jalan raya bisa celaka, orang berkursi roda tak mudah naik bus kota yang baru akan diluncurkan.

Perempatan SPBU Manahan, pertigaan Kerten dan depan Stasiun Purwosari merupakan tiga titik berpotensi membuat orang tambah celaka. Di tiga lokasi itu, demi menyelamatkan tanaman di taman pembatas jalan, dipasang kawat berduri. Kalau tak hati-hati, pejalan bisa tergores di kaki.

Rasanya, menekan potensi celaka belum jadi pertimbangan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota. Mari berandai-andai saja, sebab celaka selalu tak bisa diduga, begitu pula penyebabnya. Andai seorang pengendara sepeda motor terlanggar mobil atau sesamanya, lalu terpelanting dan ‘nyangkut’ di pagar kawat kawat berduri, apa yang terjadi? Cukuplah kalau ‘cuma’ melukai tangan. Kalau wajah?

Ya, mungkin saja para perencana taman terlalu semagat menghemat anggaran, atau ultracinta pada tetumbuhan. Lagi pula, mungkin ia terbiasa naik mobil, jadi terhindar dari risiko yang (nyatanya) masih sebatas potensi. Belum nyata!

Ketidakramahan kedua, terdapat pada puluhan shelter, tempat perhentian bus baru, yang dirancang meniru konsep pengoperasian TransJakarta di ibukota. Tak ada aksesibilitas bagi kaum difabel, yang karena keterbatasan kemampuan fisiknya, harus menggunakan kursi roda ke mana-mana.

Mas Pono, seorang penderita kelumpuhan akibat kecelakaan mengaku sudah mengecek semua shelter untuk perhentian Batik Solo Transport (BST), nama bis baru itu. Selain sempit, di beberapa shelter yang ada fasilitas untuk aksesibilitas kaum cacat, jauh dari ramah. “Terlalu curam! Anda kuat tenaganya, pun seseorang yang mengakses bisa jatuh terbalik,” katanya.

Khusus soal aksesibilitas di shelter bis kota itu, bisa dibilang sangat memprihatinkan. Ironis, bahkan.

Solo yang dikenal sebagai Pusat Rehabilitasi Cacat terbesar di Indonesia, ternyata tak mampu menjadi inspirasi, apalagi menjadi pusat percontohan, pembangunan fasilitas-fasilitas publik yang ramah untuk siapapun, tanpa diskriminasi. Jangan tanya kantor-kantor pelayanan publik, hampir semua masih memprihatinkan.

Padahal, MAAF, hampir setiap hari nyaris selalu ‘datang’ orang cacat baru, terutama akibat kecelakaan lalu lintas. RS Orthopaedi, RS Kustati, dan belakangan ada satu rumah sakit swasta baru khusus bedah tulang, bahkan termasuk ‘laris’ karena  menjadi pusat rujukan terbaik.

Belum lagi keberadaan kantor resmi yang dikelola negara dengan tugas khusus untuk merehabilitasi mental dan fisik penderita cacat, juga ada di Solo. Di kantor itu, orang normal yang tiba-tiba harus menderita cacat permanen ‘dibentuk’ mentalnya, agar kelak tak merasa rendah diri di tengah pergaulan sosial.

Pembekalan ketrampilan aneka macam bidang juga dilakukan sebagai bekal, sebab para kaum difabel diyakini tak mudah mengakses pekerjaan seperti kebanyakan orang.

Ya, itu memang persoalan. Bagi saya, juga Anda. Sayangnya, persoalan yang ada di depan mata itu tak menggugah para pembuat kebijakan. Ya kepala-kepala dinasnya, anggota dewan yang mengawasi kebijakan dan punya hak menginisiasi peraturan, juga masyarakatnya, yang tak mengontrol pemerintahnya.


Kapan keramahan masyarakat Solo itu digenapkan? Tepa salira, tenggang rasa rupanya kian asing saja…

3 thoughts on “Menggenapkan Keramahan

  1. lha? saya membayangkan saja sudah serem pakdhe, mosok yo taman dikasih kawat berduri? kenapa ndak ditembok saja sekalian yang tinggi, biar makin aman, makin ndak estetik.

    eh tapi ngomong-ngomong beberapa tukang becak di terminal solo kalo ngapusi suka kebangetan lho pakdhe, dari jaman saya masih nyusu sama simbok sampe saya harus ngasih susu ke precil-precil saya kayaknya masih ndak berubah kelakukannya.
    .-= mas stein´s last blog ..Reuni Akbar Alumni STAN 2010 =-.

Leave a Reply