Bukan Soal Pestanya

Secara makna, kata pesta itu netral. Tak mengenal kasta, karena itu tiada unsur diskriminasi di dalamnya. Dulu, bangsa Eropa yang kumpul-kumpul dengan kudapan dan minum-minum di Lojiwetan, Solo, disebut sedang berpesta. Tapi, petani pun memiliki forum yang disebut pesta, semisal saat mantu yang biasa digelar usai panen raya.

Di kalangan keturunan Eropa, pesta dimeriahkan dengan dansa. Petani melakukan selebrasi dengan makan besar yang lebih enak dibanding hari-hari biasa, dengan mengundang penari tayub atau menggelar tari Gambyong. Sementara, para bangsawan Kraton Surakarta atau Kadipaten Mangkunegaran menandai ulang tahun naik tahta dengan hiburan tari bedaya.

Tentu, setiap kelompok memiliki pilihan jenis dan cara sendiri dalam melakukan selebrasi, sesuai hajat masing-masing, yang boleh jadi bukan karena atau demi hajat (hidup) orang banyak. Pada kelompok Eropa, pesta bisa digelar kapan saja: ketika ada yang berulang tahun, ada anggota kelompok yang akan kembali ke negara asal, ada yang datang, bahkan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, nun jauh di negeri Belanda.

Bisa saja terjadi, lantaran minat, niat dan kecocokan tertentu lantas beberapa beraliansi, walau yang demikian belum tentu dikehendaki oleh keseluruhan. Bagi-bagi proyek, kongsi bisnis atau kolaborasi politik bisa saja terjadi. Tapi, sekali lagi, itu hanya parsial. Bukan wajah komunitas sesungguhnya.

Bahwa kongsi-kongsi kecil itu lantas ‘memperdaya’ yang mayoritas, boleh jadi itu hanya sebatas kesan, walau juga tak menutup kemungkinan memang di dalamnya ada agenda terencana, semacam permainan. Tentu, hanya oleh ‘yang sebagian’.

***

Kini, ketika teknologi dan ilmu pencitraan begitu didewakan, kesenjangan bisa menjadi peluang. Dan, kesenjangan yang dimaksud di sini, bisa meliputi berbagai hal. Ya pengetahuan, informasi, budaya, ekonomi, politik, hukum…. Pokoknya, apa saja!

Ini yang masih dilupakan banyak orang...

Ahli pemasaran akan melihat kesenjangan sebagai peluang, sementara ahli komunikasi bisa menjadikannya sebagai bahan riset sebelum akhirnya muncul tawaran solusi. Ahli keuangan akan berhitung nilai investasi dengan acuan potensi keuntungan yang bakal bisa diraup dalam kurun tertentu, dan seterusnya…..

Tapi, itu semua sah-sah saja, bahkan bisa dikesankan sebagai keniscayaan ketika rezim pasar (bebas) dijadikan acuan, lalu di-panglima-kan. Sebab panglima, maka boleh mengatur segalanya. Bahkan, ia menjadi penentu siapa harus berperilaku bagaimana, dan siapa lagi harus dipaksa menjadi apa.

***

Suatu hari, sebuah pesan pendek dikirim oleh seseorang tanpa menyebut nama. Hanya dari kalimatnya, saya tahu ia utusan petinggi sebuah hajatan besar tahunan. Ia bertanya, apakah saya punya waktu untuk berbicara dengannya (mungkin atasannya), yang lantas saya jawab tidak bisa bicara apa-apa kalau menyangkut Pesta Blogger. Namun, seperti lazimnya adat ketimuran, saya berkirim salam kepada ‘atasannya’.

Selang beberapa hari, saya ditelepon seorang teman baik saya, yang tak lain adalah blogger terkemuka di Indonesia. Teman saya mengaku dimintai tolong oleh panitia Pesta Blogger, untuk menanyakan alasan saya tidak mau terlibat atau membantu (suksesnya) pesta tahunan pada setiap penghujung Oktober itu.

Panjang lebar saya cerita, di antaranya dilatari semangat solidaritas kepada teman-teman sesama blogger dari berbagai daerah, yang mengeluh dan mengaku kecewa lantaran adanya ‘kesenjangan’ keramahan, antara di dunia maya dengan di alam nyata. Jauh-jauh datang dengan menyisihkan waktu dan biaya untuk datang ke Jakarta, banyak teman berharap memperoleh kehangatan pertemanan seperti dirasakannya di ranah daring selama ini, namun yang didapat hanya kecewa.

Di ajang pesta, tak diperoleh keramahan seperti diharap. Sekali-dua, yang dialaminya sama saja. Intensitas hubungan tak bertambah dalam, begitu pun dalam jumlah ‘koleksi’ pertemanan. Nyaman pun tidak, biaya sudah telanjur melayang, padahal mereka yakin, jer basuki mawa beya, demi kenyamanan atau kebahagiaan, mesti rela berkorban (materi).

Kepada teman baik itu, pun saya katakan, ketidaksediaan terlibat (pada Pesta Blogger) bukan lantaran solidaritas semata. Lebih dari itu, saya nyatakan kekecewaan saya sebab ternyata pesta itu bukan milik ‘petani’, melainkan kepunyaan segelintir ‘bangsawan’ yang merasa telah berjasa menginisiasi event yang seharusnya menarik dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang itu, tak terbatas hanya manusia-manusia online.

Saya katakan, saya sangat kecewa ketika seorang blogger kenamaan menyebut ‘Pesta Blogger’ itu merupakan brand yang dimiliki sebuah badan usaha, alias bukan milik bloggerwan-bloggerwati Indonesia, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Artinya, entah blogger Indonesia mau memaknai pesta dengan cara apa saja, namun mereka tak berhak menggunakannya. Konon, sebagai brand, Pesta Blogger sudah didaftarkan hak kepemilikan intelektualnya sehingga dilindungi undang-undang oleh sebuah badan usaha, dan berasal dari luar Indonesia pula.

Ironis? Sepertinya tidak! (Nyatanya, kebanyakan blogger Indonesia diam saja, yang artinya cuek bebek, gak peduli. Ya, sebab memang dianggap tak penting).

Selain itu, penautan website-website resmi komunitas pada mesin agregator situs resmi Pesta Blogger tanpa ijin/pemberitahuan ke administrator masing-masing, merupakan bentuk klaim sepihak, yang dilakukan secara halus. Tindakan itu, tentu berdampak citra, seolah-olah Pesta Blogger di Jakarta merupakan forumnya berbagai komunitas blogger dan telah dirancang secara bersama-sama dengan perwakilan masing-masing komunitas.

Secara pribadi, bukan persoalan besar andai para blogger kita mau ‘merebut’ momentum pesta itu untuk kemaslahatan sebanyak mungkin orang, demi hajat hidup orang banyak. Sebagai peristiwa besar tahunan, rezim siapapun (apalagi yang sekarang) akan happy-happy saja ketika (kesan) mayoritas diam saja terhadap represi sistematis negara terhadap hak-hak warga negara, termasuk kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang dijamin konstitusi negara dan deklarasi PBB mengenai hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal.

Tentu, bukan semata-mata bertujuan melawan rezim berdasar rasa tidak suka. Lebih dari itu,  tanpa kontrol warganya, maka pemerintah akan cenderung teledor dalam mengelola negara dan sumberdayanya demi kemaslahatan rakyatnya, hajat hidup orang sebanyak-banyaknya.

Blogger dan media baru tak harus berposisi vis a vis dengan penguasa. Ngeblog itu suka-suka, meski tak terpuji kalau cuma sesuka hatinya (apalagi dikendalikan oleh segelintir orang saja). Fairness itu prinsip, adil itu cita-cita yang harus diperjuangkan secara wajib.

Kalau saya tak sejalan dengan misi dan visi para founding fathers and mothers Pesta Blogger, silakan (kalau bisa) dimaklumi saja. Saya percaya, di sana terdapat orang-orang hebat, pemikir-pemikir yang memiliki pengaruh sangat besar, yang mestinya bisa memikirkan dan melakukan perbuatan yang bisa bermanfaat bangi sebanyak mungkin orang.

Saya sangat tidak ingin mendengar lagi orang seperti Prita Mulyasari hanya dihadirkan untuk mewarnai sebuah pesta, diposisikan bak selebritis di tengah-tengah pekerja infotainment, tanpa menempatkan pada posisi yang seharusnya, sebagai (maaf) alat untuk memperbaiki keadaan, agar tak ada lagi korban kesewenang-wenangan negara.

Selain Pasal 27 ayat 3 UU ITE, kini kita sedang menghadapi RUU Tipiti, sejumlah pasal yang mengancam kebebasan berekspresi seperti RPM Konten Ilegal dan sebagainya. Mari kita renungkan bersama, apa yang sudah dilakukan para blogger selain meramaikannya di timeline Twitter atau nye-tatus di Facebook dengan ajakan menolak semata tanpa menyebarluaskan apa isi dan ancaman dampaknya?

Saya paham, kalian tak suka diskusi. Selain buang-buang waktu, pasti membosankan. Enakan nge-twit berbayar, bukan?

Sebagai referensi, saya sarankan teman-teman baca juga postingan Kang Iman Brotoseno ini. Mari kita belajar beda pendapat secara dewasa, jangan dengan marah. Suka-tak suka, pro atau kontra itu biasa, tapi dalam bersaudara, harus selalu luar biasa.

Jangan ketinggalan pula menyimak tulisan Pak Ong Hock Chuan, ya… Menarik, kok. Juga komentar-komentarnya.

Untuk Mbah Sangkil dan teman-teman yang masih mempertanyakan ‘kepemilikan’ brand PestaBlogger, ini kutipan jawabannya:

Pada tahun 2009, Maverick mendaftarkan nama Pesta Blogger karena ajang ini sudah mulai menjadi ajang dan ‘brand’ yang dikenal luas dan memiliki reputasi tertentu; baik di kalangan blogger, penggiat dunia online, maupun sponsor. Jika tidak didaftarkan, tidak ada yang bisa menghentikan orang-orang yang dengan alasan komersial maupun non-komersial mengambil keuntungan atau menyalahgunakan nama PB yang sudah dibangun oleh para blogger Panitia PB selama tiga tahun ini. Selengkapnya, ada di sini…

131 thoughts on “Bukan Soal Pestanya

  1. heran… mengapa jadi rame begini? ini kan cuma kebebasan berekspresi?
    yang menarik… ada beberapa komentator siluman.
    sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya, anonimous di internet adalah hal yang wajar, lumrah, dan sah… tapi ketika digunakan untuk “menyenggol” orang lain ibaratnya menjadi “wani silit wedi rai”…
    @blontank: maaf, saya tidak bisa berkomentar dengan baik soal tulisanmu ini…
    @all: maaf, saya tidak ikut pestablogger… (jangan tanya alasannya karena ini juga kebebasan berekspresi)…
    salam sukses!
    .-= Cah Gembagus´s last blog ..Pemecah Rekor =-.

    blogger kok disebut siluman sih? jangan merendahkan martabat orang lain, ah…
    /blt/

  2. “sekali-sekali nggawe hajatan nang suroboyo, po’o.
    men cak sangkil iku seneng.
    rak mung nang Jakartaaaa ae thok.

    piye cak?
    setuju?

    nek nang suroboyo aku yo melok!”

    wes onok hajatan gede kok nang suroboyo, temenan ta melok? kalo temenan ayok bareng aku nyuksesno Festival Seni Suroboyo. Kalo sesuk rapat maneh kowe gelem tak jak po ora? Iki yo onok rencana nanam mangrove nang pamurbaya, festival musik kampung sing ngadakno dewan kesenian surabaya.

    Piye cak kampret? ra sah mikir sing nasional2 awak ndewes, ra sah ribut maneh, ayok bareng aku nyuksesno hajatan ne suroboyo.
    .-= mbah sangkil´s last blog ..Harga Kamera DSLR canon dan kamera saku Canon =-.

    aku melok, Cak…
    /blt/

  3. wis, ah… aku merasa waras & gak punya dokar, jadi gak usah buang-buang waktu ladeni Kampret. mau mati-matian dukung PB ya silakan, wong yakin bakal masuk surga.

    kupikir jantan, ternyata tak bernyali.

    silakan habiskan energimu untuk marah-marah, nak… hahahaha……

  4. bukan sawung kampret

    “Saya itu lama hidup di jalan. tak sulit saya nyari sosok Kampret (yang di komentar terakhir, no. 86 dia berganti saluran dengan IP 125. 164.6.76).”

    lha kok bisa yakin kalau ip itu digunakan sosok Kampret?
    berdasarkan apanya?
    namanya?
    emailnya?

    wis ra mutu, bodo pisan.
    pret.

    kalau bermutu, saya tak mungkin dipisuhi sampeyan, Cak… gak bayangke sampeyan hormat, terus cium tanganku karena cumak dianggep luwih bermutu…
    /blt/

  5. @sawung kampret

    lha cak poer arek solo mbok jak gawe hajatan nang suroboyo. Kewalik cak kudune awak mu mbek aku sing gawe hajatan nang suroboyo. ra sah hajatan gede2an, hajatan kecil2an ae cangkruk2an sambil ngopi2. Asal ojok hajatan budhal bareng nang ndolly ae wakakakakakaka

  6. sawung kampret

    mas poer…
    lha wong sudah jelas anak-anak jakarta itu cuma mampu bikin TOP-DOWN.
    ndak mampulah mereka itu bikin BOTTOM-UP.

    mbok yao sampeyan yang mulai memprakarsai bikin yang BOTTOM-UP.
    biar bisa puas poro konco sakabehe.

    sekali-sekali nggawe hajatan nang suroboyo, po’o.
    men cak sangkil iku seneng.
    rak mung nang Jakartaaaa ae thok.

    piye cak?
    setuju?

    nek nang suroboyo aku yo melok! 😀

  7. @cak sawung kampret

    sepurane sing akeh kang, sampeyan suroboyo ta cak? kalo iyo ayo diskusi wae ambek aku. ngopi2 nang cak mis sambil kene sisan kenalan sopo ngerti iso bisnis bareng golek duit bareng hahahhahhahahahaha

    diskusi sing gayeng sing asik sambil kene tukar pendapat bukane tukaran lho cak. capek diskusi weteng luweh kari golek badokan sing enak mbuh kui sego sambel opo bebek kranggan opo liane sembarang.

    kalo sampeyan gelem cak emailen aku nang kene yo gandhi7th@gmail.com
    .-= mbah sangkil´s last blog ..Harga Kamera DSLR canon dan kamera saku Canon =-.

  8. Hik hik, Pakde Blontank niate mengajak semua untuk andil dan ben iso mendukung PB kembali ke khittah, kok malah Mas Kampret kuwi langsung nggawe tantangan pisahan koyok talak. Padahal mengkritik itu tanda cinta loh.. Lah terus kapan bersatunya kalau begitu..

    Mungkin NdoroKangkung itu bisa kasih jawaban yang pas..

  9. sawung kampret

    wangsulanipun panjenenganipun mas blontank poer punika namung ngatonaken menawi analisa kawulo mboten wonten lepatipun.

    *membungkus pisuhan dengan kalimat sopan* (niru panjenengan)

    TALK is CHEAP.
    ACT, is the one that counts.

    panitia PB 2007 2008 2009 sudah act.
    dengan sepenuh hati.
    dan jiwa.
    dan raga.
    esuk sore awan mbengi nganti ora turu.
    demi bisa berjalannya hajatan.
    nyari sponsor sana-sini.
    nyari inputan sana-sini.
    memastikan hajatan bisa berlangsung.

    apapun hasilnya, pasti ada ketidak sempurnaan.
    kesempurnaan hanya milik Allah semata.
    murka namanya, kalau menuntut panitia untuk bisa sempurna.

    panitia pasti sadar akan segala ketidak sempurnaan.
    dan panitia pasti juga sadar bahwa ketidak sempurnaan itu ajang dipisuhi.

    makanya saya kemarin nantang sama sampeyan dan yang lain.
    yang cuma bisa misuhi.

    coba ACT!
    coba bikin hajatan yang sama.
    supaya,
    nanti,
    saat kalian gagal menyenangkan semua blogger sak endonesa.
    kalian bisa kita pisuhi beramai-ramai.

    mau?
    i don’t think so.

    catatan:
    soal anonimitas.
    lha katanya berbeda pendapat itu boleh.
    berbeda pendapat itu rahmat.
    lalu kenapa harus memaksakan prinsip soal nama?
    rak sampeyan jadi sami mawon sama bangsawan pemaksa kehendak to…

    sekalian saja bikin disclaimer:
    ndak boleh anonim, because I said so.
    (hmm… mengingatkanku pada siapa ya… wahahaha)

    lagi pula, kenapa yang diprotes malah hal yang trivial?
    mbok ya protes sama isi protes ku gitu….
    soal ACT.
    berani?

    wah, bingung kudu nganggo emoticon apa untuk jawab komen sampeyan…
    /blt/

  10. @naif yang baik, coba deh direnungkan kembali. kalau Anda benar, kenapa harus menyembunyikan identitas? salahkah saya merespon Kampret yang komentar tidak sopan dengan menyamakan mulut dengan (maaf) silit atau dubur? sampai bisa nulis, Anda pasti pernah belajar dan dididik orang.

    Saya itu lama hidup di jalan. tak sulit saya nyari sosok Kampret (yang di komentar terakhir, no. 86 dia berganti saluran dengan IP 125. 164.6.76). kalau mau gentle-gentle-an, kan bisa cari lapangan lalu mengundang orang buat tontonan. asyik, menghibur. itu memang tak beradab bagi saya. tapi kalau adab Si Kampret memang demikian, ayo saja. Anda pasti suka kalau dia jadi manusia jantan, kan? Hahaha…

    @nita: harap dimengerti, saya tak butuh dilibatkan. pingin terlibat pun tidak. jadi, tak ada hubungan saya mau diundang atau tidak. mari diskusi/dialog tanpa embel-embel. saya bisa berkawan dengan siapa saja, kok. maling dan pelacur saja saya bisa berteman baik apalagi orang-orang yang lebih terhormat profesinya?

    INGAT! saya meladeni semua respon pada posting saya karena saya ingin bertanggung jawab. dan saya tunjukkan IP yang dipakai Kampret demi mengajarkan padanya cara bertanggung jawab.

    TOLONG TEMAN-TEMAN MEWASPADAI PEMBELOKAN ISU KE ARAH PERBEDAAN PENDAPAT SEMATA. ADA YANG LEBIL PRINSIPIL, BAHWA CARA-CARA TOP-DOWN MODEL PESTABLOGGER HARUS DIREVISI.

  11. sawung kampret

    Terima buat penulis blog yg sudah membuka email dan ip saya.
    Itu menunjukkan bahwa tulisan saya sangat benar adanya.

    wis ra mutu, bodo pisan.
    pret.

    logikane piye ta iki? lha wong email hoax, link blog juga tipu-tipu gitu, kok… xixixixixixixixixixixiixixxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
    /blt/

  12. mau tanya, pak poer.

    waktu diajak bertemu oleh panitia baru untuk diskusi bersama, kenapa menolak untuk datang? lebih enak bukan kalau diskusi dua arah, kebanding misuh satu arah. eh itu kalau saya ya.

    dan juga, bukannya teguran itu lebih enak disampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan, kebanding lewat forum umum? teguran macam yang terakhir itu sih namanya cari massa aja. sekali lagi, itu kalau saya.

    🙂

  13. Tampaknya pemilik blog ini sangat emosional sekali. Sekali disentil dengan orang yang anonim (yang adalah, hak orang tersebut untuk anonim), langsung tersinggung.
    Bukti tersinggung? Ya itu, sebar-sebar IP address orang yang nyentil tersebut.

    Jadi sepertinya penulis blog ini tidak jauh beda dengan orang-orang yang dia tuduhkan dalam klaimnya, walaupun menggunakan bahasa tersirat.

    Bahasa tersirat atau sindiran sendiri merupakan tindakan pengecut. Kalau hendak protes, langsung saja, tidak usah sindir-sindir dan menggunakan bahasa tersirat.

  14. Kawan, setahuku pertemanan itu punya reaksi kimia (chemistry). Maka tentunya susunan lingkaran sebuah pertemanan akan terbentuk dengan sendirinya. Begitu juga dengan komunitas-komunitas. Maka perindahlah perbedaan, saya hanya ingin menambahkan bahwa “TULISAN tidak punya EMOSI, PEMBACA yang memberi EMOSI”. Sangat disayangkan bila setiap komentar ditanggapi dengan tendensius, bahwa yang ini adalah golongan A, yang ini golongan Z. Bahkan seorang teman dekat saya di milis sebuah blog sampai-sampai langsung menganggap bahwa saya golongan “anda”. Entah merujuk kepada siapa.

    Sekedar berbagi info, insya Allah setelah lebaran saya akan memulai pembuatan Festival Taman Baca seluruh Indonesia. Dengan konsep dan materi hampir mirip seperti Festival Gapura punyanya sebuah brand ternama. Selama ini, kita seringkali menyediakan diri kita untuk ditunggangi oleh sebuah produk besar (sadar atau tidak sadar) namun kurang bisa memanfaatkannya dengan baik. Hanya dengan senang-senang, dibayari makan dan tidurnya maka selesailah urusan. Sungguh alangkah indahnya bila produk besar itu bisa diarahkan lebih ke pemberdayaan dan pemanfaatan internet dengan sasaran yang lebih spesifik. Misalnya, pembuatan “desa internet” atau pembuatan “rumah blogger” ditiap-tiap kota atau daerah. Dengan tetap mengedepankan aspek manfaat publik yang lebih besar, dengan begitu kita sebagai blogger yang notabene “sudah lebih melek” terhadap teknologi bisa menyebarkan/kampanye kegiatan teknologi informasi melalui pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus gratis. Sehingga target digitalisasi informasi bagi pemerintahpun bisa terbantu. Seperti KTP Online dan lain-lainnya.

    Senang-senang itu hal mudah, sangat mudah karena serasa gula yang melewati lidah. Namun berbagi manfaat sembari bersenang-senang tentu akan lebih hebat. Dan tentu yang namanya panitia, senang-senangnya lebih terkurangi :D.

    Yuk ah, jangan biarkan diri kita jadi ladang promosi semata. Ajak pula yang berpromosi itu berbagi benefit yang lebih dengan kita, sehingga profitnya bisa dirasakan semua orang.

    *sori pakde melok komentar maneh awakku, padahal ga weruh opo-opo hahaha…

  15. Itulah bangsa kita, pinter sedikit langsung merasa lebih dari yang lain. Nggak perlu pesta-pesta deh, langsung sosialisasi saja ke targetnya. Siapa yang menurut kita paling tepat memanfaatkan Blog itu yang kita kejar.

    sepakat…
    /blt/

  16. sampai segini panjang ternyata belum ada yang menjawab pertanyaan ku. Berharap ada pihak yang berkompeten membacanya dan mau menjawabnya. Saya akan mencoba mengulangi lagi pertanyaan nya.

    kenapa PB selalu di jakarta dan tidak bisa keluar jakarta?

    matur suwun sebelumnya.

    orang daerah apa sudah mampu, Mbah?
    /blt/

  17. Walaupun belum pernah ikut pesta Blogger, namun udah kebayang… Keinginan masing-masing, misalkan saya yang akan menghadiri pertemuan tersebut, Sudah terbayangkan ketemu sama mas Eko, misalkan. Namun apa yang terjadi, mas Eko malah sibuk dengan teman-temannya tanpa memberikan kesempatanku untuk menyapa. Pernyataan tersebut itu wajar menurut saya, kita akan kesulitan menemukan kesan ‘Pesta Petani” di tempat yang memang lokasinya di gedung, bukan di Pos Kambling misalnya.

    Entahlah… Keramahan orang Indonesia telah perge kemana…? Setelah anak-anak kita tidak bermain petak-umpat lagi sama teman-temannya, setelah anak-anak kita asyik dengan PlayStation-nya, mereke jadi kurang peduli sama lingkungannya. Begitupun dengan kita orang tuanya, bukan…?
    .-= RaRa´s last blog ..Memulihkan Citra Buruk MLM =-.

  18. @ budi (komen 56)

    tujuan anda ngeblog sendiri apaan? diakui eksistensinya?

    Saya ngeblog karena temen2 blogger saya pengen baca tulisan saya. Apa anda baca link pidato mas Iman yang saya taruh di komen itu? Baca pun mungkin percuma, karena sepertinya anda tidak paham apa itu komunitas blogger. Next.

    Otomatis, dengan anda ngeblog, anda secara sadar mengamini bahwa anda adalah komunitas blogger,

    Salah. Ini yang menunjukkan kalo anda tidak mengerti soal komunitas blogger. Coba lihat postingan & peta2 ini, mungkin bisa sedikit membantu. Singkatnya, kalo anda ngeblog, anda masuk ke blogosphere; dunia blog di dunia maya. Tapi komunitas blogger adalah organisasi para blogger di dunia nyata. Misalnya CahAndong, KopdarJakarta atau Palanta. Jangan kecampur.
    Jadi kalo kembali ke pidato yang saya kutip; kesan saya adalah panitia PB 09 hanya mengakui para blogger yang bernaung dibawah organisasi, tapi mengabaikan blogger yang ngeblog tanpa bendera.

    Kenapa ga ke barat? Aceh?

    Punya peta Indonesia mas? Secara geografis Jakarta letaknya sudah di barat Indonesia, makanya ide saya adalah menggesernya ke tengah, dan itu tentu ke arah timur. Meskipun demikian silahkan saja kalo mau digeser ke Aceh, yang penting jangan terus2an di Jakarta.

    Kenapa ga pontianak aja? katanya itu titik katulistiwa.

    Katulistiwa memang tengahnya dunia, sayangnya (Pontianak) itu bukan tengahnya Indonesia. Mohon beli peta. 😉

    bisa dibuletin tuh bulan-bulan dimana pesta blogger biasanya diadakan. sisihkan uang jajan anda.

    Anda tinggal dimana? Saya tinggal di pinggir negara. Butuh 4 jutaan hanya untuk transportasi pesawat PP ke ibukota sana. Sementara blogger2 Jakarta tiap tahun bisa “jalan kaki” ke acara. Uang jajan saya tak sebanyak itu, blum lagi tempat nginap dan makan. 🙂

    Kalaupun tidak mencukupi, keriaan itu tidak harus dengan datang bukan?

    Kalo komunitas bloggerpun anda tak mengerti, saya paham kalo anda juga susah ngerti kenapa seorang blogger seperti saya merasa perlu kopdar dengan sesama teman dunia maya dalam keriaan (selevel) itu.

    […] paling tidak, itu yang saya lakukan.

    Silahkan, saya tidak meributkan atau menentang orang yang mendukung PB 10 maupun PB 10 itu sendiri kok. Dan acaranya sendiri masih 2 bulanan lagi. Masih ada kemungkinan saya mampu hadir tahun ini. Akan tetapi, kecuali anda panitia PB 10, anda sebenarnya tidak punya urusan dengan pendapat maupun uneg-uneg saya. Seperti juga tulisan empu blog ini (yang terang2an menyatakan tidak mau terlibat dalam PB tahun ini), maka perbedaan pendapat itu wajar adanya. Hargailah.

    […] sesudah pesta, lalu apa?

    Kembali ngeblog, tentu. Mencari kawan baru di dunia maya tuk ditemui di pesta blogger berikutnya lagi, mungkin… 🙄
    .-= jensen99´s last blog ..Saya dan Partai Final =-.

    L.I.K.E.
    /blt/

  19. sawung kampret

    sebagai blogger daerah, mari kita buktikan kalau kita bisa bikin hajatan yang sama!
    dan hasilnya harus bisa menyenangkan semua blogger sak endonesa!

    ayo buktikan kalau kita bisa!

    buktikan bahwa masblontank dan rekan-rekan juga punya kemampuan!
    selain njeplak….

    mbok kalau berani, identitasnya dikenalke ta, Mas… dadi kabeh ngerti, sing nembe njeplak kuwi asmane sapa? istilahe: satria….
    /blt/

  20. sawung kampret

    aneh.
    itu yang saya analisa setelah membaca posting ini.
    juga beberapa comment-nya.

    aneh.
    yang salah kabinet lama, yang disalahke kabinet baru yang belum terbentuk.
    pakai segala macam kata sindiran bangsawan petani.
    keliatan banget ndak berani protes langsung.
    cuma berani sindir sana sindir sini.

    sudah gitu pakai mutung.
    diajak ikut kabinet baru, biar sesuai maunya dia, malah ndak mau.
    ya gimana si petani mau jadi bangsawan kalau begini caranya.
    jadi petani saja terus wis.
    dasar mental petani.

    jadi ketahuan seperti gimana mutu si penulis.
    pret.

    dipikir, mbikin hajatan seperti gitu itu gampang apa?
    buat kalian yang cuma bisa protes,
    coba buktikan dengan bikin acara yang sama di kota sampeyan masing-masing!

    apa kalian yakin bisa nyenengke semua blogger sak endonesa?
    pikir!
    buktikan!
    bisa?
    pret.
    paling-paling omdo doang.

    kalau cuma ngomong doang kayak gitu, saya juga bisa.
    nih, komen saya ini buktinya.
    so, mutu kalian sama saja kayak saya.
    ndak lebih baik.
    sama-sama ndak kasih solusi.
    sama-sama cuma bisa keluar suara… pret!
    cuma bisa keluar kentut dari mulut.
    ra mutu!

    lha kok sampeyan ya ngentut lumantar tutuk, ta? sangertiku, aku luwih apik tinimbang awakmu. aku wani ndhadhani risiko dipisuhi: emailku cetha, profilku genah, avatar ya duwe. lha sliramu???

    mbok ajar kendel, belajar berani menampakkan identitas diri, gak pakai alamat email bodong. aku yakin, sampeyan kenal aku dan aku kenal sampeyan. sampeyan juga dikenal di tlatah blogosphere. hanya karena pengecut, sampeyan sembunyikan semua identitas. ya, kan?

    kasihan deh, situ….!
    /blt/

  21. Kok jadi gatel pingin komentar.
    Yang namanya banyak kepala, tentu banyak keinginan, banyak pemikiran, banyak selera, dan banyak macam2 lainnya. Jadi pasti suilt memuaskan semuanya.
    Kalau memang ada yang merasa “tersisih”, ya mestinya berani mengungkapkan apa yang dirasakan dan kasih usul kongkrit gimana supaya hal itu tidak terjadi lagi. Jangan cuma kritik dan defense.
    Ini seperti anak saya yang kalo diajak makan di X gak mau, bilang gak suka, tapi ketika ditanya balik sukanya apa, gak mau jawab, malah jawab terserah. Lha khan susah itu.
    Saya yakin kok, panitia PB 2010 dan tahun2 mendatang pasti akan berusaha untuk merangkul lebih banyak blogger, baik yang tergabung dalam komunitas maupun independen. Bahkan PB10 nampaknya sudah dimulai dengan memasukkan onliner non-blogger ke dalam daftar yang bakal diundang.
    Pengalaman saya sendiri pas pertama kali datang di PB 08, memang pertama serasa dicuekin. Ya wajarlah, mereka belum tau siapa itu Oom Yahya. Wajar juga kalo saya duluan yang mendatangi dan ngajak kenalan. Biarpun lebih tua ya ndak masalah. Hasilnya, sekarang siapa yang gak kenal Oom Yahya, hehe

    wah, repot memang orang seperti saya. hebat tidak, bodoh sudah kelamaan…. tapi kalau disamakan dengan anakmu, ya aku jelas sangat malu. wong Anda tak bisa memahami sikap saya, kok…..

    soal usul konkret, misalnya, hanya akan saya berikan kepada pihak-pihak yang saya percaya. kritik melalui posting ini pun, sebenarnya sudah menunjukkan sedikit kepedulian saya terhadap event tersebut.

    andai Anda memasukkan saya dalam kategori ‘tersisih’, rasanya keliru besar. tersisih dari apa? saya punya eksistensi saya sendiri, dan saya sangat menikmati itu. ada atau tidak Pesta Blogger, tak berpengaruh bagi saya. saya justru iri dengan ‘gerakan kecil’ tapi berdampak besar seperti program kambing di Bangsari yang diinisiasi teman-teman BHI.

    ya, tapi mau apa lagi. pemahaman Anda masih jauh berbeda (maksudnya, jauh di bawah saya) dengan saya dalam memaknai sebuah jejaring dan berkomunitas serta aktivitas blogging. begitu, Bung…
    /blt/

  22. Perbedaan itu rahmat, jika kita bisa menerima dan menyikapinya secara bijak. Alangkah garingnya jika hidup tak dinamis, identitas harus seragam. Penolakan publik terhadap upaya penyeragaman sistematis telah meruntuhkan bangunan Orde Baru.

    Ini yang tak disadari generasi yang lahir pada paruh 1980-an, karena memang tak memiliki referensi memadai. Kepada mereka, tak bisa ditimpakan kesalahan. Justru para pengggiat blogging yang lebih senior, yang mestinya mau dan aktif berbagi.

    Ancaman pembatasan kebebasan berekspresi, termasuk konten blog (lewat UU ITE, RPM Konten, dll) oleh rezim, misalnya, masih dimaknai sebagi hal yang lumrah-lumrah saja.

    Tentu, tak perlu mengajak blogger-blogger muda untuk berpolitik. Sebab itu pun tak baik. Biarkan mereka asyik dengan minat masing-masing, untuk mengembangkan diri, hingga menemukan eksitensinya sendiri-sendiri.

    Pesta Blogger, Amprokan, dan apapun namanya, tetap diperlukan, maka perlu didorong agar lebih dinamis. Kian beragam, kian banyak medium belajar, tentang apa saja. Dan itu baik untuk masa depan Indonesia dan peradaban manusia.

    Kata ‘pesta’ sejatinya netral. Semua orang (tak tergantung stratifikasi sosial), memiliki ekspresi pestanya sendiri, dalam arti selebrasi. Perayaan.

    Jadi, janganlah pernah menganggap kritik sebagai ekpresi permusuhan. Jangan jadikan perbedaan sebagai senjata untuk menutup ruang komunikasi, tempat meretas persahabatan.

  23. Tulisan ini rada nyelekit, tajam, jelas, tapi perlu, dan terbukti mencerahkan. Suwun. Harus diterima dengan lapang dada.

    Yah namanya juga pasamuwan. Banyak kepala, banyak hati, banyak selera.
    Satu hal yang membedakan bloggers Indonesia dari beberapa negara adalah… suka kopdar. Mereka, orang negeri lain, heran kenapa bisa blogger beda kota bisa saling kenal secara pribadi.

    Jika menyangkut pesta sebagai sebuah perhelatan besar yang diniati nasional maka semuanya terpulang pada niat: sekadar kopdar akbar atau apa. Sulit membayangkan acara akbar akan memberikan perataan peran dan partsipasi, tapi justru di situ tantangannya: bagaimana merancang agenda.

    Di sisi lain, agenda yang “partisipatif” pun akan berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagai orang-orang merdeka bloggers juga datang untuk ngobrol gayeng dan guyub dengan teman dari komunitas lain. Pilihan ekstremnya dua: ngobrol di tengah sesi atau meninggalkan sesi. PB bukanlah konferensi akbar, dan tentu bukan semacam muktamar partai yang ujung-ujungnya adalah pleno untuk memilih pengurus dengan bonus resolusi.

    Saya sendiri, yang baru sekali ikut PB (tahun lalu), belum tahu solusinya. Yaitu solusi agar semua orang, siapapun dia, merasa bukan hanya tamu perhelatan tetapi juga si empunya hajat.

    gak ada yang perlu dikomentari, karena pernyataan Paman lebih tepat saya jadikan bahan refleksi. matur nuwun, Man…
    /blt/

  24. Wuih… Dari kemarin ikut nyimak pro dan kontra ini. Memang acara PB2009 kemarin tidak membekas dihatiku. Bukan dikarenakan tidak dapat dorrprize, melainkan kurang hangatnya acara yang mempertemukan blogger-blogger ibukota dan non ibu kota (ngutip komentar no. 59).

    Mending acara Amprokan Blogger yang dibuat, ada diskusi dan acaranya gak formal.. Santai tapi justru mempererat hubungan antar Blogger secara Offline dan Online..

    Kita tunggu gebrakan PB2010 ini. Semoga dengan kepemimpinan Rara yang bijaksana, cantik, ramah, baik, suka menolong dan rajin ini, akan membuat gebrakan baru bahwa PB ini bukan untuk pesta rakyat atas aja, melainkan juga untuk petaninya..

    Kang Blontank, kalau ke PB2010 jangan lupa bawa teh, ya.. (halah)… 😀

    Salam Kebersamaan,

    Irfan
    .-= Irfan´s last blog ..Baru… Penyedia Layanan Blog Gratis Indonesia =-.

    maaf, Kang. kayaknya gak mungkin kita ketemu di forum itu. soal teh, bisa didapat dengan banyak cara. secara pribadi, saya juga berharap Rara sukses menjalani perannya sekarang.
    /blt/

  25. Jika para ahli-ahli profesi itu sudah bisa membaca keuntungannya, bagaimana dengan sedulur-sedulur yang belum ahli seperti saya ini ya? Apa keuntungan yang bisa diperoleh… (doh)

    kita belajar a la pondok saja: baik-buruk bisa dijadikan cermin. diambil hikmahnya…
    /blt/

  26. ada peribahasa yang mengatakan “sudah jatuh tertimpa tangga pula” nahh…….. bagi yang sudah merasa jatuh (baca: pernah kecewa pd pb sebelumnya) jangan mau lagi untuk di timpuk tangga. namun bagi yang tetep mau (berulang2 lg) merasakan kekecewaannya yaaa berarti dia belajar dari kesalahan dan maka akhirnya pun akan salah terus (lmao) tp bila ta ingin kecewa dan salah terus ya solusinya seeh simple aja “leave, and forget it”.

    daripada pusing dengan ketidakjelasan mendingan kita nyaru aja yukkk ‘;)
    .-= katakataku´s last blog ..Jangan Menungguku =-.

  27. Betul perbedaan itu rahmat..

    Ikut bantu2 di 2 PB trakhir tanpa ketemu panitia sekalipun saya sih asik2 aja tuh… 🙂
    Syukur2 bisa ikut kontribusi sambil berkarya untuk kemajuan Blogger Indonesia dan komunitasnya.

    Masukan yg bagus dan sukses terus yo mas Blontank Poer…
    .-= Ipul Anwar´s last blog ..Dari Balik Layar Kemeriahan Pesta Blogger 2009 =-.

    terima kasih. mari kita ramaikan blogosphere Indonesia dengan konten-konten bermutu, tanpa takut UU ITE dan sebangsanya yang represif itu… sukses selalu buat panjenengan…..
    /blt/

  28. sepertinya banyak yg salah kaprah dgn penamaan ‘pesta blogger’. walaupun ada irah-irah ‘pesta’, isinya bukan dansa2, makan-minum sepuasnya (ada sih makan siang, nasi kotak tapinya), segala macem. sama seperti olimpiade atau piala dunia disebut pesta olahraga dan pesta sepak bola, padahal atletnya sendiri tidak berhura-hura. blogger ke pesta blogger untuk saling bertemu, kopdar (dan mungkin sedikit tukar pikiran, sharing); yg tadinya cuma ketemu gravatarnya sekarang bisa tau wujudnya, yg sudah tahu wujudnya sekarang bisa kumpul2 dan sharing lagi. yg susah itu kalau ke pesta blogger tapi belum punya teman, mungkin akan merasa terasing, tapi setidaknya masih bisa ikut rangkaian acara di dalamnya (talkshow, diskusi) dan siapa tau bisa kenalan sama yg di sebelahnya, jadi punya temen kan? mungkin ada yg tidak menikmati pesta blogger (kayanya pernah baca artikel korelasi blogger dan antisosial), tapi banyak juga yg bisa menikmati meskipun ada ketidaknyamanan2, gimana cara menyikapinya saja.

    sip… suka…
    /blt/

  29. suatu hari kita blogger2 non ibukota (waktu itu disebut blogger daerah) berinisiatif mengadakan acara untuk bersilaturahmi, tetapi betapa luar biasa respon blogger-blogger ibukota dan (oknum) blogger jokja yang dengan sadar dan sengaja menyebut ‘pesta’ kami tidak lebih dari acara kampung 17 agustusan. hal yang demikian tidak bisa dilupakan. tidak juga untuk dimaafkan.

    wah, kalau lebaran nanti diajak bersalaman, bermaaf-maafan apa yang gak bisa, Kang? dosa, lho… :p
    /blt/

  30. Tulisan yang sangat tajam..

    Posisi panitia PB memang sulit, di satu sisi mereka mencoba mulai membuka untuk menyerap aspirasi semua komunitas, di sisi lain sudah terlalu banyak blogger yang kecewa dengan penyelenggaraan PB-PB sebelumnya.

    Saya dan rekan-rekan dari deBlogger pun punya kekecewaan yang tidak jauh beda. Bahkan mungkin bisa dibilang kami cukup sakit hati karena susah payah kami mempersiapkan segala sesuatu untuk diperkenalkan kepada khalayak di stand komunitas, dibuat percuma karena stand tersebut jauuuh di ujung gedung. Kalau banyak blogger yang mutung karena tidak diapresiasi sebagaimana mestinya, itu menjadi “suara yang sama” dengan kami juga.

    Secara fair, saya pribadi mengangkat topi untuk keberanian Rara memegang tongkat estafet yang “banyak lumpurnya” ini. Tidak banyak yang berani memegang amanah seperti ini. Saya teringat ucapan dia bahwa untuk menyelamatkan perahu yang tenggelam, kita harus terjun dan menyeret perahu tersebut ke tepian.

    Saya sangat mengapresiasi bagaimana dia mendengarkan masukan/kritikan dari blogger2 Bangkalan di acara SOLO atau di acara Ujicoba LTE Telkomsel kemarin dia dengan sabar mendengarkan keluhan2 kami (baca: deBlogger). Buat saya, dia sudah melakukan step awal yang baik: mendengarkan.

    Bagaimana cerita ini akan berakhir? Mari kita lihat. Sebagai pribadi, saya masih tetap berharap event-event blogger (apapun, baik itu Pesta atau Amprokan, Wisata atau Kopdar Akbar) akan tetap bisa menyatukan blogger-blogger di tanah air. Dan jujur saya tidak setuju dengan pengagung-agungan label: selebog, blogger daerah, blogger timur-tengah… baiknya membaur saja. Untuk Indonesia.

    IMHO.
    .-= dhodie´s last blog ..Your Job is not Your Career =-.

    setuju, tanpa reserve. labelling sungguh tak perlu. demi Indonesia, kita ramaikan blogging, kita jalin persaudaraan, lewat berbagai cara…
    /blt/

  31. budi

    @jensen99 : bingung saya sama maksudnya. tujuan anda ngeblog sendiri apaan? diakui eksistensinya? atau sarana untuk berbagi pengetahuan? komunitas blogger? ini blogger sebagai brand sebuah perusahaan atau blogger karena memang dia suka ngeblog. contoh deh, saya naek motor, merknya honda. Cuma karena saya tidak ikut komunitas honda, tidak berarti saya ga bisa ikutan pesta, misalnya acara 1.000.000 produksi honda? asal niat saya untuk ikut sudah ada. insha allah saya bakalan ikut meramaikan.
    Jadi, menurut pandangan saya sih, komunitas blogger itu sendiri merupakan ‘kumpulan’ orang2 yang doyan ngeblog. baik ngeblog sporadis, maupun ngeblog konsisten. baik yang modal dengan bikin domain sendiri maupun yang nempel di situs penyedia layanan blogging. Otomatis, dengan anda ngeblog, anda secara sadar mengamini bahwa anda adalah komunitas blogger, sebagaimana saya mengamini bahwa saya adalah bagian dari komunitas sepeda motor, tanpa melihat bahwa saya ikut komunitas sepeda motor merk tertentu atau tidak.

    Saya tidak tahu ya soal Surabaya/Jogja lebih dekat dengan kota-kota yang anda sebut. Tapi dari pernyataan yang anda buat kok saya merasa ada tendensi keberpihakan ya? 🙂
    dan kenapa harus ke timur? kenapa harus makassar?
    Kenapa ga ke barat? Aceh?
    Kenapa ga pontianak aja? katanya itu titik katulistiwa. Pusatkan saja sekalian disana? 🙂

    kemudian poin selanjutnya, bahwa panitia mengakomodir peserta. Ya, mungkin bisa diakomodasikan. mungkin lho yaa. Tapi mandangnya jangan seperti itu lah. Anda punya kalender kan? bisa dibuletin tuh bulan-bulan dimana pesta blogger biasanya diadakan. sisihkan uang jajan anda. Kalaupun tidak mencukupi, keriaan itu tidak harus dengan datang bukan? anda bisa tempel bahwa saya mendukung acara ini. paling tidak, itu yang saya lakukan. 🙂
    blogshop dan tema2 lain yang diadakan panitia saya rasa sudah cukup mewakili deh, walaupun menurut saya tidak akan bisa menyenangkan semua pihak 🙂
    tapi memang sih, ada satu ganjelan di saya. sesudah pesta, lalu apa? hehehe…..

    Berpikirlah positif.

  32. Yah, saya cuma harap tahun ini gak perlu lagi posting seperti ini. 😆

    Secara serius, ini catatan dari saya:
    1] saya suka komentarnya kika (komen 45) diatas.
    2] mengingat Jakarta sudah 3 kali menjadi tempat pesta blogger, rasanya gak adil kalo tahun ini lagi2 di Jakarta. Apa salahnya kalo bergeser sedikit ke timur? Jogja atau Surabaya? Kalo bisa malah Makassar, supaya memberikan kesempatan pada para blogger yang selama ini kejauhan ke Jakarta (tapi lebih dekat ke kota2 tersebut) tuk merasakan pengalaman elit itu, gak cuma kebagian blogshop/roadtrip saja.
    3] Tidak semua blogger berasal dari komunitas. Banyak juga yang independen dan anonim. Mereka juga mesti diakui eksistensinya. Tahun lalu (menurut pidato mas Iman?) PB hanya mengagungkan komunitas blogger, semoga tahun ini tidak terulang.
    4] Para bangsawan yang jadi panitia, harus lebih serius memperhatikan para petani yang sudah berjuang keras tuk bisa meramaikan dari luar Jakarta/Jawa. Setidaknya akomodasi dan konsumsi. .
    5] Kalo memang ngotot selalu di Jawa/Jakarta, tiap tahun sponsorilah setidaknya 10 blogger luar Jawa tuk datang ikut PB. :mrgreen:
    .-= jensen99´s last blog ..Saya dan Partai Final =-.

    tanggapan yang asyik…
    /blt/

  33. Udin Obod

    @Kika August 4th, 2010 11:28 pm
    Semoga sukses acara mendirikan taman baca ke pelosok Sulawesi dan Kalimantan akhir Oktober ini.
    Untuk di Sulawesi coba aja kontak blogger2 Anging Mamiri (http://www.angingmammiri.org/), sepertinya mereka juga getol bikin acara sosial di sana.

  34. Udin Obod

    @ fatur August 5th, 2010 9:35 am
    Sejak kapan RSS yg dipublish harus minta izin dulu kalau mau diagregat?
    Kalo sampeyan gak mau diagregat blognya, jangan publish RSS-nya, protek pake kondom eh password.
    Kalaupun udah terlanjur diagregat kan bisa kirim email ke agregatornya bilang gak sudi diagregat. Gampang toh.

    “… dalam benak saya yang namanya pesta kie cuma hura-hura tanpa makna, selain menghamburka sumber daya.”
    Kalau loe nikah gak bikin pesta resepsi yah? Karena cuma hura2.. 😛

    Bermakna atau tidaknya suatu pesta ya loe2 padalah yg berpesta yg menentukannya.

    Kalau ada masalah ya cari solusinya, jangan bikin tambah masalah.

    kalau dialog jadi ribut, itu namanya nambah masalah…
    /blt/

  35. baru terpikir jadi panitia Pesta blogger itu berat ya…sama beratnya jadi seorang presiden..yang dipuji disana di hina disana, disindir disana, dikritik disana…tabah dan sabar ya panitia pesta blogger…no body perfect…luruskan niat…kuatkan pegangan…semua pasti bantu(minimal bantu doa)..bahkan kritikan disini pun intine mo bantu..biar semua heppy…walo susah ya menyenangkan hati semua orang…(inget film-nya jim carrey..yg mighty mighty itu)

    btw pakde blontang..kapan2 kopdar di klaten yuk..aku kok kepengen makan soto ayam di deket jatinom ato sate kambing jatinom itu ya…
    .-= kian´s last blog ..ini- tentang dana tuk masa depan =-.

    soal nyoto, ayo saja… kapan? soto gedhek itu juga kusuka…
    /blt/

Leave a Reply