Bukan Soal Pestanya

Secara makna, kata pesta itu netral. Tak mengenal kasta, karena itu tiada unsur diskriminasi di dalamnya. Dulu, bangsa Eropa yang kumpul-kumpul dengan kudapan dan minum-minum di Lojiwetan, Solo, disebut sedang berpesta. Tapi, petani pun memiliki forum yang disebut pesta, semisal saat mantu yang biasa digelar usai panen raya.

Di kalangan keturunan Eropa, pesta dimeriahkan dengan dansa. Petani melakukan selebrasi dengan makan besar yang lebih enak dibanding hari-hari biasa, dengan mengundang penari tayub atau menggelar tari Gambyong. Sementara, para bangsawan Kraton Surakarta atau Kadipaten Mangkunegaran menandai ulang tahun naik tahta dengan hiburan tari bedaya.

Tentu, setiap kelompok memiliki pilihan jenis dan cara sendiri dalam melakukan selebrasi, sesuai hajat masing-masing, yang boleh jadi bukan karena atau demi hajat (hidup) orang banyak. Pada kelompok Eropa, pesta bisa digelar kapan saja: ketika ada yang berulang tahun, ada anggota kelompok yang akan kembali ke negara asal, ada yang datang, bahkan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, nun jauh di negeri Belanda.

Bisa saja terjadi, lantaran minat, niat dan kecocokan tertentu lantas beberapa beraliansi, walau yang demikian belum tentu dikehendaki oleh keseluruhan. Bagi-bagi proyek, kongsi bisnis atau kolaborasi politik bisa saja terjadi. Tapi, sekali lagi, itu hanya parsial. Bukan wajah komunitas sesungguhnya.

Bahwa kongsi-kongsi kecil itu lantas ‘memperdaya’ yang mayoritas, boleh jadi itu hanya sebatas kesan, walau juga tak menutup kemungkinan memang di dalamnya ada agenda terencana, semacam permainan. Tentu, hanya oleh ‘yang sebagian’.

***

Kini, ketika teknologi dan ilmu pencitraan begitu didewakan, kesenjangan bisa menjadi peluang. Dan, kesenjangan yang dimaksud di sini, bisa meliputi berbagai hal. Ya pengetahuan, informasi, budaya, ekonomi, politik, hukum…. Pokoknya, apa saja!

Ini yang masih dilupakan banyak orang...

Ahli pemasaran akan melihat kesenjangan sebagai peluang, sementara ahli komunikasi bisa menjadikannya sebagai bahan riset sebelum akhirnya muncul tawaran solusi. Ahli keuangan akan berhitung nilai investasi dengan acuan potensi keuntungan yang bakal bisa diraup dalam kurun tertentu, dan seterusnya…..

Tapi, itu semua sah-sah saja, bahkan bisa dikesankan sebagai keniscayaan ketika rezim pasar (bebas) dijadikan acuan, lalu di-panglima-kan. Sebab panglima, maka boleh mengatur segalanya. Bahkan, ia menjadi penentu siapa harus berperilaku bagaimana, dan siapa lagi harus dipaksa menjadi apa.

***

Suatu hari, sebuah pesan pendek dikirim oleh seseorang tanpa menyebut nama. Hanya dari kalimatnya, saya tahu ia utusan petinggi sebuah hajatan besar tahunan. Ia bertanya, apakah saya punya waktu untuk berbicara dengannya (mungkin atasannya), yang lantas saya jawab tidak bisa bicara apa-apa kalau menyangkut Pesta Blogger. Namun, seperti lazimnya adat ketimuran, saya berkirim salam kepada ‘atasannya’.

Selang beberapa hari, saya ditelepon seorang teman baik saya, yang tak lain adalah blogger terkemuka di Indonesia. Teman saya mengaku dimintai tolong oleh panitia Pesta Blogger, untuk menanyakan alasan saya tidak mau terlibat atau membantu (suksesnya) pesta tahunan pada setiap penghujung Oktober itu.

Panjang lebar saya cerita, di antaranya dilatari semangat solidaritas kepada teman-teman sesama blogger dari berbagai daerah, yang mengeluh dan mengaku kecewa lantaran adanya ‘kesenjangan’ keramahan, antara di dunia maya dengan di alam nyata. Jauh-jauh datang dengan menyisihkan waktu dan biaya untuk datang ke Jakarta, banyak teman berharap memperoleh kehangatan pertemanan seperti dirasakannya di ranah daring selama ini, namun yang didapat hanya kecewa.

Di ajang pesta, tak diperoleh keramahan seperti diharap. Sekali-dua, yang dialaminya sama saja. Intensitas hubungan tak bertambah dalam, begitu pun dalam jumlah ‘koleksi’ pertemanan. Nyaman pun tidak, biaya sudah telanjur melayang, padahal mereka yakin, jer basuki mawa beya, demi kenyamanan atau kebahagiaan, mesti rela berkorban (materi).

Kepada teman baik itu, pun saya katakan, ketidaksediaan terlibat (pada Pesta Blogger) bukan lantaran solidaritas semata. Lebih dari itu, saya nyatakan kekecewaan saya sebab ternyata pesta itu bukan milik ‘petani’, melainkan kepunyaan segelintir ‘bangsawan’ yang merasa telah berjasa menginisiasi event yang seharusnya menarik dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang itu, tak terbatas hanya manusia-manusia online.

Saya katakan, saya sangat kecewa ketika seorang blogger kenamaan menyebut ‘Pesta Blogger’ itu merupakan brand yang dimiliki sebuah badan usaha, alias bukan milik bloggerwan-bloggerwati Indonesia, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Artinya, entah blogger Indonesia mau memaknai pesta dengan cara apa saja, namun mereka tak berhak menggunakannya. Konon, sebagai brand, Pesta Blogger sudah didaftarkan hak kepemilikan intelektualnya sehingga dilindungi undang-undang oleh sebuah badan usaha, dan berasal dari luar Indonesia pula.

Ironis? Sepertinya tidak! (Nyatanya, kebanyakan blogger Indonesia diam saja, yang artinya cuek bebek, gak peduli. Ya, sebab memang dianggap tak penting).

Selain itu, penautan website-website resmi komunitas pada mesin agregator situs resmi Pesta Blogger tanpa ijin/pemberitahuan ke administrator masing-masing, merupakan bentuk klaim sepihak, yang dilakukan secara halus. Tindakan itu, tentu berdampak citra, seolah-olah Pesta Blogger di Jakarta merupakan forumnya berbagai komunitas blogger dan telah dirancang secara bersama-sama dengan perwakilan masing-masing komunitas.

Secara pribadi, bukan persoalan besar andai para blogger kita mau ‘merebut’ momentum pesta itu untuk kemaslahatan sebanyak mungkin orang, demi hajat hidup orang banyak. Sebagai peristiwa besar tahunan, rezim siapapun (apalagi yang sekarang) akan happy-happy saja ketika (kesan) mayoritas diam saja terhadap represi sistematis negara terhadap hak-hak warga negara, termasuk kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang dijamin konstitusi negara dan deklarasi PBB mengenai hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal.

Tentu, bukan semata-mata bertujuan melawan rezim berdasar rasa tidak suka. Lebih dari itu,  tanpa kontrol warganya, maka pemerintah akan cenderung teledor dalam mengelola negara dan sumberdayanya demi kemaslahatan rakyatnya, hajat hidup orang sebanyak-banyaknya.

Blogger dan media baru tak harus berposisi vis a vis dengan penguasa. Ngeblog itu suka-suka, meski tak terpuji kalau cuma sesuka hatinya (apalagi dikendalikan oleh segelintir orang saja). Fairness itu prinsip, adil itu cita-cita yang harus diperjuangkan secara wajib.

Kalau saya tak sejalan dengan misi dan visi para founding fathers and mothers Pesta Blogger, silakan (kalau bisa) dimaklumi saja. Saya percaya, di sana terdapat orang-orang hebat, pemikir-pemikir yang memiliki pengaruh sangat besar, yang mestinya bisa memikirkan dan melakukan perbuatan yang bisa bermanfaat bangi sebanyak mungkin orang.

Saya sangat tidak ingin mendengar lagi orang seperti Prita Mulyasari hanya dihadirkan untuk mewarnai sebuah pesta, diposisikan bak selebritis di tengah-tengah pekerja infotainment, tanpa menempatkan pada posisi yang seharusnya, sebagai (maaf) alat untuk memperbaiki keadaan, agar tak ada lagi korban kesewenang-wenangan negara.

Selain Pasal 27 ayat 3 UU ITE, kini kita sedang menghadapi RUU Tipiti, sejumlah pasal yang mengancam kebebasan berekspresi seperti RPM Konten Ilegal dan sebagainya. Mari kita renungkan bersama, apa yang sudah dilakukan para blogger selain meramaikannya di timeline Twitter atau nye-tatus di Facebook dengan ajakan menolak semata tanpa menyebarluaskan apa isi dan ancaman dampaknya?

Saya paham, kalian tak suka diskusi. Selain buang-buang waktu, pasti membosankan. Enakan nge-twit berbayar, bukan?

Sebagai referensi, saya sarankan teman-teman baca juga postingan Kang Iman Brotoseno ini. Mari kita belajar beda pendapat secara dewasa, jangan dengan marah. Suka-tak suka, pro atau kontra itu biasa, tapi dalam bersaudara, harus selalu luar biasa.

Jangan ketinggalan pula menyimak tulisan Pak Ong Hock Chuan, ya… Menarik, kok. Juga komentar-komentarnya.

Untuk Mbah Sangkil dan teman-teman yang masih mempertanyakan ‘kepemilikan’ brand PestaBlogger, ini kutipan jawabannya:

Pada tahun 2009, Maverick mendaftarkan nama Pesta Blogger karena ajang ini sudah mulai menjadi ajang dan ‘brand’ yang dikenal luas dan memiliki reputasi tertentu; baik di kalangan blogger, penggiat dunia online, maupun sponsor. Jika tidak didaftarkan, tidak ada yang bisa menghentikan orang-orang yang dengan alasan komersial maupun non-komersial mengambil keuntungan atau menyalahgunakan nama PB yang sudah dibangun oleh para blogger Panitia PB selama tiga tahun ini. Selengkapnya, ada di sini…

131 thoughts on “Bukan Soal Pestanya

  1. istilah pesta itu identik dengan bersenang-senang, aku ngeblog pingin golek konco lan sedulur, nonggo kiwo tengen… rumongso blogger ning ora mudeng masalah PB, mending ngeblog aja terus walau tanpa ‘identitas’, sing arep pesta monggo, sing arep jagongan neng prapatan ayo tak kancani…

    maturnuwun Pak Poer, nyuwun pangapunten mbok bilih klentu… 🙂
    .-= Sukadi Brotoadmojo´s last blog ..Saya Hanya Menulis =-.

    mboten wonten klentunipun. mbokmenawi panci kula ingkang keladuk wani kurang duga, banjur muni-muni mboten migunani….
    /blt/

  2. kulonuwon,

    nganu pak dhe…kalau saya website pesta blogger yang tanpa ijin mencatumkan agregat komunitas tanpa ijin kie sama saja maling, wong temen2 kita kalau situsnya di copas orang lain tanpa ijin yo marah2 kog.
    memang pesta blogger mungkin juga berasal dari komunitas blogger juga, tetapi harusnya agregatnya juga dari komunitas blogger yang mendukung hal itu saja, kalau sudah ada komunitas yang bersikap tidak ikut yo tolong dihormati. toh ini cuma pesta, dalam benak saya yang namanya pesta kie cuma hura-hura tanpa makna, selain menghamburka sumber daya.

    :p
    /blt/

  3. mumpung banyak bos2 PB disini mau nanya 1 hal yang belum ada jawaban yang pasti selama bertahun-tahun. Selama ini cuma dapat jawaban kasak kusuk gak jelas.

    kenapa PB selalu di Jkt, kenapa gak bisa keluar JKT?

    thanks sebelumnya
    .-= mbah sangkil´s last blog ..Culoboyo Juniol =-.

  4. pakerte

    aku ora ngerti karepmu! yen ora mudheng perkarane, apike aja melu-melu… :p
    /blt/

    baiklah pak blontank, saya memang tidak tahu opo perkarane.
    yang saya tangkap di sini itu, anda tidak suka dengan pestablogger, tapi ketika pengurus pb sekarang minta bertemu, anda malah menghindar.
    dan kenapa saya sampai tidak tahu perkaranya? ya karena dari tulisan anda sepanjang itu dan dari komentar-komentar yang kemudian anda komentari sama sekali tidak ada yang TODEPOIN.
    Kelihatannya, hanya saya yang tidak tahu perkaranya di sini.
    mungkin tulisan anda diatas semacam “private posting”, kalau begitu saya mohon pamit dulu, semoga anda sukses dengan apa yg menjadi tujuan dari tulisan ini, apapun itu.

    matur nuwun, saya ndak akan melu-melu lagi.
    tak lupa saya mohon maaf sudah mengganggu diskusi kalian semua.

    ya jelas saya menghindar. wong saya tidak setuju. kembalikan nama PestaBlogger jadi miliknya blogger dulu, baru bicara. begitu nalar saya…
    /blt/

  5. Ohhh, ternyata ada begini hahaha…

    Pakde, aku tidak tahu apa itu blogger. Duniaku menulis adalah untuk menyehatkan pikiranku, seperti ketika aku harus donor darah. Menulis di blog adalah kegiatanku untuk memperbaiki sirkulasi pikiran. Bahwa kemudian muncul beberapa hal seperti nama “blogger” itu sendiri, sebuah kewajaran karena berawal dari Blog.

    Tapi ada juga benarnya bila melihat yang dipaparkan sama njenengan, tentu tidak semua bisa memenuhi ekspektasi setiap orang. Hanya saja saya rasa, kekecewaan yang muncul itu karena masih banyaknya sifat “merasa lebih” bukan “lebih merasa” dari beberapa kawan yang menyelenggarakan acara itu. Dan juga sifat “memilih” yang diungkap panjenengan, juga masih menjadi acuan bagi kawan-kawan penyelenggara, meski tentu tidaklah pula bisa untuk menyapa semua peserta, namun at least tersenyumlah bila disapa. Beberapa kawan saya lihat, masih sering memposisikan pikirannya dengan memilah “bahwa si anu sudah setaraf denganku, maka aku harus add atau kenal” atau juga “bahwa si anu bukanlah orang yang selevel aku, maka cuekin sajalah”. Sebuah cara pandang yang (seringkali) salah. Karena tidak semua orang yang “proletar” itu tidak berpotensi. Saya yakin, panitianya saja kalau ditanya “apakah semua orang punya potensi?” tentu akan menjawab iya.

    Ada seorang teman yang bermain twitter bilang, “akhirnya aku unfollow ndorokakung, amriltg, dan beberapa blogger seleb itu, karena setiap disapa tidak pernah membalas sedikitpun padahal aku pun tidak berharap di followback”. Kemudian saya hanya bisa bilang, “yahh, mungkin karena mereka belum tahu siapa kamu saja, aku yakin kalau mereka tahu kamu, pasti kamu akan didekati oleh mereka bukan kamu yang mendekat”. Dan saya akhirnya menyesal merekomendasikan semua ini pada teman saya. Jiaahhh malah jadi curhat, tapi semoga para panitia itu baca tulisan ini. Karena ini nyata, mungkin sepele buat anda-anda semua, tapi tidak bagi seseorang yang benar-benar ingin menikmati indahnya berkomunitas.

    Akhir kata, saya tidak tahu betul esensi dari “kasus” pesta ini. Karena bagi saya, MEMBANTU ADALAH KEBUTUHAN bukan semata karena TUHAN. Maka saya lebih suka membantu orang-orang yang butuh untuk dibantu, bukan onani di atas batu.

    Eh tapi ngomong-ngomong Rara itu cantik juga ya Pakde, boleh dong kenalin. Barangkali mau kalau diajak mendirikan tamanbaca ke pelosok Sulawesi dan Kalimantan akhir Oktober ini agar tidak melulu jalan-jalan ke Negeri Orang. Atau mungkin panitia “pesta” ini mau menyisihkan sedikit “makanan sisa pesta” buat perjalanan kesana :D.

    Rara itu cantik dan asyik. sayang, kini dia harus pusing dengan kita-kita yang berisik. hehehe….. Rara, jangan pedulikan brisik kami, lakukan yang terbaik. saya yakin, kamu sedang berada di tempat yang kurang tepat…
    /blt/

  6. Inilah yang saya cemaskan *lebay* IMHO, Pak Blontank… Ini bukan soal dalam/luar Jakarta (saya nggak suka sebutan “daerah”). Selain kesamaan minat seperti kata Hedi, penilaian ramah/tidak sambutan pun cenderung subjektif, tergantung orangnya… Ada bloger yang jarang saling sapa di blogosfer, tapi karena dasarnya ramah, ya bisa saja pas ketemu ngobrol nyambung.. oh iya.. saya juga belum pernah ikutan Pesta Bloger, dan baru tahu itu ada patennya…

    duh, jadi malu. sudah lama gak menyapa mpok. apa kabar, nggih? semoga sehat dan sukses selalu…
    /blt/

  7. pakerte

    terkait pertemuan tanggal 7, silakan saja dilanjutkan. saya percaya terdapat banyak kebaikan di sana, meski saya belum bisa dan sanggup berada di dalamnya. soal getaran, sudah sejak jauh hari…: berbeda. hehehe…. silakan, sumangga……………

    Wah sampeyan wis ngritik,
    diajak ketemuan penake piye kok malah mungsret.

    aku ora ngerti karepmu! yen ora mudheng perkarane, apike aja melu-melu… :p
    /blt/

  8. anu.. selama gratisan saya sih ayuk ayuk aja, contohnya yang roadtrip besok ituh.. AYOK AJAH!!! hahahahaha…
    eniwei, sejak pertama kali ada PB saya belom berkesempatan ikutan dateng ke jakarta, mulai dari masalah biaya sampai dengan masalah waktu #klisebangetyah

    di PB2009, saya sangat menikmati acara roadshow panitia yang sudi dateng ke kota-kota, we’ve memorable moment 🙂

    dan untuk PB2010 kali ini juga belum pasti datang ke jakarta, kecuali kalo ada yg nyangoni mbayari tiket pesawat garuda 1st class .. ayok! #pekok!

    salam kenal, jarang2 saya blogwalking loh, situ kudu bangga saya blogwalking-in #halah

    alhamdulillah. saya sedang kanugrahan, namanya. salam kenal kembali…..
    /blt/

  9. sepakat dengan Mas Eko.
    justru dengan saling mengemukakan pendapat, kepala dingin, bisa melahirkan gagasan-gagasan baru. seperti dalam bertetangga, selera bisa berbeda, namun tetap hidup bersama, toleran, saling menghormati eksistensi masing-masing.

    adalah bodoh dan ruginya, jika dalam pertemanan terganggu kehangatannya hanya lantaran perbedaan kecil saja. tentu masih banyak cara dan forum untuk bersama, membangun Indonesia yang lebih baik.

    Dirgahayu Indonesia…

  10. Tulisan ini menjadi menarik karena memancing pendapat pro dan kontra.
    Silahkan kita berbeda pendapat yang penting tetap menjaga kebersamaan dan pertemanan kita.

    Jangan sampai gara-gara diskusi disini jadi rusak persaudaraan sesama Blogger.

    Bhineka Tunggal Ika masih ampuh untuk merekatkan diskusi ini agar menjadikan hasil keluaran yang bermanfaat bagi para blogger.

    Salam Sehati.
    .-= eko sutrisno hp´s last blog ..Jurus Pamungkas – WIPE tutorial BB =-.

  11. Setiap orang pasti beda untuk masalah pergaulan dan kesupelan. Tidak bisa dipukul rata. Kalau ternyata secara “real” dikehidupan nyata si A tidak serame dan sesupel di dunia maya, apa bisa dibuat? Kira-kira gitu aja yang mo ditanggapi.

  12. Hai, Mas Blontank,

    Kita memang belum pernah bertemu secara langsung, ya 🙂 tetapi saya salut kepada Mas Blontank dan tulisan ini. Kritik yang Mas Blontak berikan ini sangat baik, sangat rasional, dan sesungguhnya menunjukkan ekspektasi yang lebih dari beberapa blogger mengenai ajang PB itu sendiri. Justru kritik semacam ini penting dan perlu, agar juga bisa menjadi refleksi bersama.

    PB–sebagai ajang non-profit yang diorganisasi secara pro bono, dengan panitia dari kawan-kawan blogger juga, tahun demi tahun selalu berupaya berbenah dan memperbaiki diri; tentunya dari masukan-masukan rekan-rekan blogger yang diposting di blog masing-masing maupun di blog PB itu sendiri.

    Namun sekiranya ekspektasi yang diharapkan oleh beberapa pihak belum dapat tercapai sepenuhnya, secara pribadi saya harap ke depannya akan lahir pula ajang-ajang lainnya; yang juga bisa memenuhi ekspektasi yang beragam dari para blogger itu sendiri. Tentunya ini juga akan memperkaya kita semua dengan pilihan yang beragam, sesuai ketertarikan dan pemikiran kita masing-masing.

    Apapun medium yang dipilih, saya harap perbedaan yang ada tidak memecah, tetapi justru memperkaya. Yang terpenting, terlepas dari perbedaan yang ada, semoga para blogger di Indonesia tetap bisa bersahabat dan menjalin silaturahmi satu sama lain, baik di dalam maupun di luar ajang PB itu sendiri.

    Salam, Mas Blontank! Saya harap suatu hari bisa bertandang ke Solo dan bertemu langsung untuk berjabat tangan dengan Anda 🙂

    terima kasih Hanny.
    memang, setiap orang punya ekspektasinya sendiri-sendiri, atas atau terhadap apapun. lumrah saja. yang penting, masing-masing bisa membawa diri dengan baik. saya sadar sepenuhnya seperti apa repotnya teman-teman PB mengorganisir kegiatan demikian.

    tapi, setiap orang juga punya pilihan. spirit kebersamaan itulah yang sejatinya mesti dipegang dan diperjuangkan, oleh siapapun juga, demi kebaikan, membangun peradaban yang lebih bermartabat.

    siapapun kita, tentu harus bertanggung jawab terhadap terhadap masa depan Indonesia. seperti orang yang tak suka lambannya pemerintah menangani banyak persoalan, orang yang muak dengan legislator yang bekerja semaunya, melalui blog, jejaring sosial dan beragam kegiatan (personal/komunal), kita bisa memberi kontribusi pada perubahan.

    mari kita merawat Indonesia melalui pertemanan dan kegiatan blogging. silakan teman-teman PB berjalan menurut keyakinannya sendiri, dan saya atau teman-teman lain, juga bisa memberi kontribusi lewat aneka cara dan model. toh, muaranya sama: kegelisahan memajukan dunia blogging kita. prinsip saya sudah jelas, banyak posting saya buat dalam rangka menyumbang gagasan. tentu, menurut idealisasi yang subyektif sifatnya.

    salam,
    /blt/

  13. mnrtku wajar pesta blog diembel-embeli sponsor dll..kecuali saya juragan minyak..nah pesta blog tak biayayi.

    hm…mnrtku sah2 saja.

    Pakde…mari kita berdiskusi,ada acara temu blogger besok tgl 7 agustus di semarang.
    ada rara,momon,didut dll.. jadi bisa bertuker info soal mau gimana pesta blog ini.
    tdk mencari solusi,tapi..minimal menyamakan getaran saja..
    .-= escoret´s last blog ..Seputar Ajaran Samin di Bojonegoro =-.

    naif kalau event sebesar itu tak dibiayai sponsor. tak ada orang baik tanpa maksud, bahkan andai saya kaya sekalipun (dan baik) dan sanggup membiayai kegiatan apapun.

    rasanya, saya juga tak sedang menyoal sponsorship, sehingga tak relevan membicarakan keabsahan. FPI sekalipun, mereka layak hidup, berorganisasi dan berkegiatan. yang tak dibolehkan adalah saat mereka memaksakan tafsir tunggal kebnaran dan kebaikan. tak ada istilah seseorang harus tunduk pada banyak orang, atau sebaliknya.

    terkait pertemuan tanggal 7, silakan saja dilanjutkan. saya percaya terdapat banyak kebaikan di sana, meski saya belum bisa dan sanggup berada di dalamnya. soal getaran, sudah sejak jauh hari…: berbeda. hehehe…. silakan, sumangga……………
    /blt/

  14. hidup demokrasi!!
    berani bersikap, berani bertanggung jawab.

    yg penting silaturahmi tetap dijaga ya de 😀

    tak boleh ditawar! silaturahmi harus dijaga, supaya kita tak tergolong pada kelompok selemah-lemahnya iman, sehingga tak dijanjikan surga. kita semua harus mewartakan kebenaran (yang diyakini), namun tak boleh memaksakan agar orang lain mengerti (dan mau). ya kan, Meth?

    seperti kata Ndoro, perbedaan itu rahmat. justru keseragaman itu laknat, tak bermanfaat, sebab hidup jadi garing, tak berwarna. sudah makan siang, Meth?
    /blt/

  15. gRy

    postingan kritis seperti ini bikin merinding bacanya, salut mas.
    saya pernah terfikir “setelah pesta usai, kemudian apa?”
    perkenalan didunia nyata, bertukar kartu nama, bertukar url blog masing-masing ataupun akun sosmed lainnya, tapi tak pernah difollow ataupun di-add setelahnya, ya sudah kelanjutannya hilang 🙂
    bagi “petani” yg terlalu sibuk bertani sehingga tak sempat (atau mungkin tak bisa) bergabung dengan bangsawan, dipesta hanya bisa melihat keriangan dari kejauhan saja, selain minder, perasaan tak pantas juga ada pastinya.
    sekali lagi saya salut mas dengan idealisme dan sikap kritisnya,
    salam kenal.

    salam kenal kembali… semoga rajin ngeblog… :p
    eh, A/S/L please….
    /blt/

  16. Jadi keinget label Pribumi dan Non Pribumi pada reformasi 99.. okey lupain diluar konteks 😀

    Kl saya mah tetep ah ngurangin labelisasi. Ada momen yang saya suka ketika terakhir beberapa bulan yg lalu ngisi seminar blog di UM Magelang, Waktu itu saya bilang, “Udah deh, lupain istilah saya blogger daerah, diakan blogger seleb. Atau saya orang indonesia dan dia orang luar negeri. Pede aja, orang kita itu hebat-hebat kok!”.

    Saya ngeliat itu peserta pada tersenyum! Semoga senyumnya itu senyum yang termotivasi untuk maju berkarya. Setidaknya berbagi lewat blog. Dan saya mendadak bahagia kala itu.. #eeaaa
    .-= nicowijaya´s last blog ..Goa Jomblang =-.

    Good. seharusnya memang begitu, Nic. egaliter, jelas lebih baik. hanya orang inferior saja yang merasa ‘ada’ ketika nempel-nempel tokoh. orang pede, pasti berani hidup sendirian, tidak minderan. tapi, nyatanya ya masih ada orang-orang yang canggung berteman. entah merasa hebat, beda kasta, dan sebagainya…..

    selain minderan yang mesti dilawan, penyakit sok-sokan juga mesti disingkirkan…
    eh, tapi ya terserah masing-masing, ding. suka-suka aja…..
    /blt/

  17. Masukan yang sangat berharga Mas Poer.
    Bagaimanapun saya yakin pelaksanaan Pesta Blogger ini tak akan bisa mencapai ekspektasi yg diinginkan semua pihak. Setidaknya, berusaha lebih optimal walau mungkin tidak ideal penuh seperti apa yang diharapkan berbagai pihak, itu sebuah ikhtiar strategis yg layak diapresiasi. Dan saya yakin PB2010 tahun ini dibawah kepemimpinan Rara bisa jauh lebih baik dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya dengan berbagai terobosan yg saya yakin bisa mengakomodir keinginan rekan-rekan blogger semua.
    Terimakasih Mas atas pencerahannya lewat posting ini, Mas.

    sip. setuju, Daeng… setiap orang pasti punya ekspektasinya sendiri-sendiri, tergantung referensi. memang tak fair kalau menyebut keterlibatan seseorang dalam pesta sebagai dosa. tidak bisa begitu, dan tak boleh demikian.

    walau hanya ingin melihat dari kejauhan, tapi saya juga berharap ada sesuatu yang jauh lebih baik, sehingga menggenapkan capaian-capaian yang sudah ditorehkan Enda, Ndoro dan Iman.

    selamat bekerja…
    /blt/

  18. Kritis banget Pak,
    Semoga semua pihak bisa mengerti kenapa bisa beda pendapat.
    saya kurang sregnya PB kenapa dimiliki badan usaha. emangnya PB bisnis? berarti kita dibisniskan dong 😀
    saya sukanya PB karena (mungkin) bisa jumpa temen2 blogwalking saya :roll:.

    Bukan karena susah bersatu, hanya perlu saling mengerti saja.
    toh saya yakin semua bloger pasti bersahabat, iya ndak Pak hehe.

  19. bijak ngga sih 65 tahun Indonesia merdeka masih menggunakan pelabelan Bangsawan dan Petani? soalnya saya sendiri, setidaknya di generasi seumuran saya, ngga begitu mementingkan pelabelan. udah dibuang jauh-jauh dari mindset. kita sama, pede aja. berkarya dan terus berkarya. itu sih yg saya coba tanamkan ke diri sendiri.

    bijak-tak bijak itu soal sudut pandang dan keberpihakan. tanpa belajar sejarah, kita tak bisa menyongsong masa depan dengan baik. keledai saja tak bisa dicap bodoh karena tak mau kejeblos belulang kali.

    setiap kata punya dua makna: konotatif dan denotatif. membaca teks akan lebih baik kalau menyimak konteks. kenapa? karena kita bukan tentara, yang tahunya komando, hitam-putih, tak merdeka pada (terhadap) tafsir.

    labelisasi memang sebaiknya dihindari. tapi?

    /blt/

  20. ih tulisannya keren deh ^_^
    thanks ya pak blontank, semoga dengan tulisan ini saya bisa tetap berada di jalur idealisme saya.
    sayangnya di SOLO kemarin, kita ga sempat ngobrol banyak 🙂

    keep the spirit!
    .-= rara´s last blog ..Travelling to Bangkok 2 =-.

    terima kasih, Rara. sejujurnya, aku paham betul posisimu. kutulis ini justru karena sayang padamu. hahaha… sepertinya, ini cuma soal waktu dan tempat yang kurang pas buatmu. bekerjalah semaksimal mungkin, profesional. publik sangat bisa menilai secara fair.

    kesempurnaan jelas tak ada. tapi upaya meraihnya, harus jadi prinsip utama… Good luck
    /blt/

  21. menurutku sih, perbedaan pendapat, apalagi kritikan, jgn langsung otomatis dicap mutung atau mbalelo 🙂 jaman dulu, menurut sejarah, perseteruan dan perbedaan pendekatan antar pemimpin bangsa sangat kentara. ada yg milih diplomasi, ada yang milih gerilya, dll. tetapi perbedaan tsb, sepanjang tujuannya sama demi rakyat, toh berhasil membuat bangsa ini bersatu.

    jadi ini saya liat, cuma beda style dan pendekatan saja. yg suka dengan acara pb2010, silakan diramaikan. yg tidak suka, silakan buat acara alternatif. sepanjang niatnya sama memajukan blogger, persatuan akan terwujud tanpa harus diseragamkan atau disamakan cara memandangnya. kalo persatuan itu diidentikkan dengan harus sama, harus ikut, ndak boleh beda, ndak boleh ngritik, nanti malah kayak jaman babe 🙂

    -dbu-
    .-= donnybu´s last blog ..hajatan petani paruh waktu =-.

    cool… cerdas…. (tumben)
    /blt/

  22. wow, pertemanan offline (masyarakat online) sebaiknya sudah dimulai dari online. agak sulit kalau tak pernah berkunjung ke blog a lalu kita jadi berkawan dgn a di offline (kecuali ada persamaan minat) 😀
    .-= hedi´s last blog ..Titik Nadir =-.

    setuju….
    /blt/

  23. Menurut saya, sikap ngambek seperti ini yang justru membuat blogger tidak bisa bersatu. Kalau tidak bersatu, ya susah mau melawan UU ITE.

    ngambek? aneh lho, Mon… coba ditimbang lagi, dicermati lagi, deh… mari kita lakukan refleksi: siapakah yang tidak bersatu? baru di kopdar-kopdar saja masih ada, kan, yang suka misah, menyendiri, gak bisa membaur dengan yang lain?

    itu potret, betapa bergaul pun masih ada yang suka pilih-pilih. kayak dulu, waktu Bengawan bikin kegiatan susur Bengawan Solo saja ada yang nyebut ‘kalau tenggelam gimana?‘, dll. aku yakin Momon ingat itu…
    /blt/

  24. apakah ini termasuk pesta th ini pak ?
    yg mana dipimpin sama orang yg buka itu2 aja ?

    oh inikah gerakan nol koma nol itu ya yg mau ngadain pesta tandingan itu
    .-= geblek´s last blog ..Lelaki Tua =-.

    gerakan apakah itu? emang ada yang bikin tandingan? ngapain repot-repot nandingi segala?
    /blt/

  25. Jadi pengen tahu suasan Pesta Blogger seperti apa..
    Tapi kalo mencerna dari tulisan diatas, sisi hedonisme akan merambat ke blogger yang mungkin dulunya berprinsip “masyarakat petani” sepeti diatas. Sependapat dengan Mas Joulecar, “dari blogger oleh blogger untuk blogger”. Daripada pesta dengan super duper mewah, mending yasinan terus pulang bawa “sego besekan” 😀

  26. Dalam sekali nie pesannya, mas. Seteju saya, mustinya blogger harus bebas dari “branding” tertentu. Maksud saya, jika blogger terikat dengan pihak-pihak tertentu, baik pemerintah, penguasa, dll, takutnya hilang tuh sifat kritis yang menjadi modal utama para blogger.
    Yah, moga-moga tulisan ini dibaca panita PB yo … 🙂
    .-= Martianus´s last blog ..Struktur Atom 1 =-.

    amin.
    /blt/

  27. seperti yang pernah saia sampaikan di Wonosobo kemarin, “Gak roh aku, emang onok acara opo?”, memang saia ndak tahu motivasinya daripada Pesta Blogger tersebut, arahnya kemana juga ndak tahu, saia cuma tahunya setiap tahun mesti ada dan selalu dikelola oleh instansi tersebut..

    mengingat yang digunakan adalah hukum perdagangan, saia pun menggunakan hukum perdagangan, jika terdapati hal yang menguntungkan, pasti akan saia gunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya, saia sendiri fleksibel dalam berbagai events dan kegiatan..

    jika bersikap idealis, sebenarnya semua mampu bersikap idealis, namun sayangnya masih banyak yang mengedepankan egoisnya, contohnya seperti saia yang juga bermain monetized (demi keuntungan pribadi), seng sabar wae paklek…
    .-= gajah_pesing´s last blog ..Tunggakan Laporan =-.

    ini cuma rasan-rasan wae kok, Jah… kapan kita wisata bareng lagi, ya?
    /blt/

  28. Sudah lama tak membaca tulisan seperti ini di ranah blog. Aku seperti menemukan oase baru. Salut untuk sikap berani berbeda dan berekspresi dengan jujur. Perbedaan adalah rahmat bagi kita semua. Salam untuk Mas Purwoko dan teman-teman di Bengawan

    duh, pujianmu ora nguwati, Ndor… mosok aku bisa sodorkan oase? emang situ lagi umroh, ya, kok kayak di gurun? hehe… aku sepakat soal rahmat itu, maka aku menulis begini. demi sesuatu yang lebih baik……
    /blt/

  29. … Bahwa kongsi-kongsi kecil itu lantas ‘memperdaya’ yang mayoritas, boleh jadi itu hanya sebatas kesan, walau juga tak menutup kemungkinan memang di dalamnya ada agenda terencana, semacam permainan. Tentu, hanya oleh ‘yang sebagian’….

    Tulisan di atas benar2 mengena
    .-= Munif´s last blog ..Mari Peduli Keselamatan Bersama =-.

  30. sepertinya memang iya, banyak yang kecewa dengan PB tahun lalu.. mungkin karena ya itu sudah mengeluarkan biaya, expectationnya besar, jadi terus kecewa…
    mungkin para blogger harus membiasakan diri untuk tidak mau tombok, seperti saya…
    saya waktu itu ya ndak mau repot2 ke jakarta.. tapi kalau acara di semarang.. ofkors saya ikut…
    dan jangan terlalu mengaharapkan sesuatu yg berlebihan,.. bisa kumpul saja harusnya sudah senang…
    apalagi kalau ada makan gratis…

    maap jika saran saya agak wagu 😀
    .-= nining´s last blog ..Why It’s So Hard to Fall in Love =-.

    hehehe….
    /blt/

  31. mungkin orang semarang terlalu santai kali yah hihi~
    kl saya sih asal kekurangan di tahun sebelumnya tdk dilakukan sudah puas saya, sy coba ikut PB tahun ini pengen ngerasain atmosfernya..kl msh sama ya gak usah lagi wes :))

    semoga berubah. secara prinsip pribadi bagimu agamamu, bagiku agamaku, saya juga berharap semua menjadi baik dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. saya mengapresiasi tinggi dan salut kepada para pengagasnya. cuma konten dan visi yang perlu diperbarui…
    /blt/

  32. Setelah lewat tengah malam kubaca tulisan ini.
    Sebuah ungkapan yang patut kita renungkan bersama untuk bersikap yang lebih arif.
    PB 2009 memang sangat mengecewakan, padahal aku sengaja membawa LiLo anak SD yang ingin kukenalkan pada dunia blogger.
    PB2010 ini sudah mulai dipanaskan, sementara itu pro kontra terus berlangsung.
    Mari kita renungkan lagi, sebaiknya apa yang harus kita lakukan.

    Salam Sehati

    meluruskan kembali niat, Dab. mau dibawa ke mana, untuk apa, oleh siapa…..
    /blt/

Leave a Reply