Biografi untuk Siapa

Terusan pesan di Twitter oleh Indra J. Piliang terasa mengganggu emosi saya. Ibu Ani Yudhoyono Terbitkan Biografi, begitu judul berita yang dikicaukan @antaranews, yang dilengkapi dengan URL, yang di-RT IJP. Saya tak tertarik membaca, apalagi memiliki buku itu. Setidaknya, saat ini dan beberapa hari mendatang. Salah satu alasannya, saya tak mengenal, apalagi merasakan kiprah Bu Ani.

Biografi dibuat, tentu tidak tanpa tujuan. Ada yang bermotif berbagi pengalaman karena apa yang dilakukan seseorang memiliki arti penting bagi sangat banyak orang, sehingga (diasumsikan) dibutuhkan keteladanannya. Pada jenis ini, tentu layak diapresiasi dan dipuji.

Namun, seiring dengan majunya ilmu public relations dan kekeliruan orang menafsirkan urgensi pencitraan, sangat banyak orang tergelincir: membuat biografi semata-mata karena merasa dirinya penting dan dibutuhkan. Terhadap jenis ini, motifnya tentu layak dikritisi.

Dorongan seseorang untuk meraih citra atau kesan tertentu dari sebanyak mungkin orang, jelas dilatari kepentingan. Meski, hanya yang bersangkutan seoranglah yang tahu kepentingannya. Orang mau mencalonkan diri jadi bupati, gubernur atau jabatan-jabatan tertentu dalam organisasi (bisnis/nonbisnis), bahkan petinggi partai atau ormas, misalnya, sering ‘merasa perlu’ membuat biografi atau otobiografi.

Pada jenis beginian, godaannya memang terlalu berat. Paling tidak, kebaikan sematalah yang ditonjolkan, sehingga lebay pada kesan yang dihasilkan. Karena terlalu bernafsu, tak jarang seseorang lantas merekayasa peristiwa, sebab produk biografi tak jauh beda dengan masakan, perlu bumbu penyedap walau artifisial.

Namun, ciri utama manusia-manusia bernafsu menonjolkan diri, umumnya dilatari fakta sejatinya: bahwa mereka tak punya prestasi dan reputasi apa-apa. Kalau pun ada, mungkin hanya kecelakaan atau kebetulan berada pada tempat dan saat yang ‘tepat’. Tidak lebih.

Yang diuntungkan oleh situasi demikian adalah para ‘insan kreatif’ (bahasanya Orde Baru banget, ya?), yang lihai menjual gagasan yang berangkat dari niat mroyek atau cari proyek. Bisa dari kalangan praktisi komunikasi (seperti PR Officer), orang dalam partai/ormas, pejabat humas, atau (mantan) jurnalis.

Pribadi-pribadi narsis atau yang punya obsesi ngeksis merupakan mangsa yang empuk bagi pembuat biografi. Mari kita perhatikan baik-baik: seberapa banyak buku-buku biografi yang tersebar di rak-rak toko buku yang memiliki kualitas memadai. Saya berani bertaruh, sebagian besar di antaranya layak kita sebut sebagai produk abal-abal.

Bagi para proyektor (pemburu proyek), produk-produk kerja mereka tak diniatkan untuk sharing keteladanan. Karena itu, mereka tak peduli apakah jerih payah mereka pantas diapresiasi melalui rubrik-rubrik resensi. Kalau ada yang ‘pinter’ (padahal cerdik), mereka akan membayar seseorang yang ‘kredibel’ untuk menulis resensi untuk diterbitkan koran/majalah.

Dan, karena resensi dibutuhkan tidak lebih sebagai stempel semata (yang ujung-ujungnya demi mendongkrak nilai proyek), maka tiras dan cakupan jumlah pembaca menjadi tidak terlalu penting. Sangat banyak buku biografi tidak beredar di publik, namun dicetak dalam jumlah terbatas untuk kepentingan sebagai cinderamata sebuah peristiwa: entah ulang tahun, konperensi pers menjelang kongres, dan kepentingan-kepentingan subyektif-pragmatis lainnya.

Jujur, saya pernah telibat dalam sebuah ‘proyek’ penulisan biografi. Saya sebut demikian, sebab seorang teman yang menawari pekerjaan menulis (sebagai salah satu anggota tim) itu, saya ketahui sengaja ingin mencari sesuap nasi yang nantinya cuma ditaruh di bagasi Mercy yang dia beli dari menerbitkan biografi.

Semula, demi alasan jaim alias jaga image, saya mengajukan syarat tidak menggunakan nama pop saya karena masih sangat ragu akan kredibilitas (menyangkut kebersihan moralitas) si pemilik biografi.

Namun, seiring proses penyusunan, saya memperoleh banyak pernyataan dan petunjuk-petunjuk penting dan menarik. Temuan demi temuan saya dapatkan dari si tokoh, hingga saya lantas menarik pernyataan sebelumnya, lalu meminta nama pop saya yang disebutkan dalam susunan nama penulis. Menurut keyakinan saya, banyak temuan-temuan penting yang perlu dibuka untuk publik, sebab selama ini rapat terkunci di dalam peti wasiat.

Kontroversi itu pasti. Demikian menurut prediksi yang saya yakini. Rupanya, si tokoh tak jadi menerbitkan dengan alasan ‘tak enak’ karena akan menyakiti hati orang penting di republik ini, dan dampaknya bisa menguntungkan lawan-lawan politik si orang penting. Bila kontroversi terjadi, maka saya pun akan gembira hati. Puas karena temuan penting datang dari saya, dan senang karena nama baka terdongkrak tinggi.

Tapi, buku biografi itu kini rapat terkunci di laci lemari sang tokoh. Mungkin juga sudah hilang atau dibuang. Walau tahu teman saya membuatnya demi proyek pribadi, tapi saya senang andai kelak buku itu diterbitkan dan diedarkan di toko-toko buku. Misteri proses jual-beli pesawat tempur (ini keyword-nya) itu akan membuka mata banyak pihak, betapa buruknya dunia perpolitikan (dan moralitas politisi) kita, yang siginifikan mempengaruhi kinerja menteri-menteri dan departemen-departemen yang dipimpinnya.

Soal biografi Bu Ani masuk di kelompok mana, tak penting bagi saya. Saya cuma ingin mengurangi kadar emosi saya, gara-gara retweet Uda Indra soal biografi ibu negara yang diberitakan kantor berita Antara, yang saya duga merupakan produk orang-orang pemuja citra. Semoga saya salah menilainya, sebab saya belum mengenal Bu Ani selain sebatas ia istri Presiden Yudhoyono.

(Kalau Bu Tien sudah jelas, walau ia hanya istri Soeharto yang presiden, namun banyak orang meyakini adanya Taman Mini karena peran si ibu ini. Tentu, masih terlalu jauh kalau dibandingkan dengan peran Bu Ani, walau sama-sama berstatus istri presiden).

10 thoughts on “Biografi untuk Siapa

  1. Sepertinya tak jauh-jauh dari eksistensi, ingin merekam jejak meski sejengkal. Bu Ani di mata saya juga belum melakukan apa-apa, tak lebih sebagai seorang istri presiden. Kalau pengaruhnya sih pada si Bapak lumayan berdampak qe3 wah jadi nggosip istana nih hehehe… salam dari Palmerah, Pakdhe…
    .-= inung gunarba´s last blog ..Kapolda Jateng Dicopot =-.

    penasaran…. siapa nih? palmerah mana? :p
    /blt/

  2. Saya kagum sama cara NgeBlog mas Blontank yang lugas. Namun di akhir artikel ini, ada penyataan “Semoga saya salah menilainya, sebab saya belum mengenal Bu Ani selain sebatas ia istri Presiden Yudhoyono.” yang menurut saya membatalkan segala celoteh diatasnya. Mungkin kurang baik juga anda mengkritik suatu biografi seseorang yang belum anda kenal sepenuhnya.

    Demikian, walaupun saya bukan penggemar Ibu Ani, tapi ya… apapun tujuannya, coba kita lihat apa yang sudah diperbuatnya selama ini.
    .-= Fashion MLM´s last blog ..Memulihkan Citra Buruk MLM =-.

    sudah berbuat apa saja ya, Mbak? menurut panjenengan, saya sedang menulis apa, ta?
    /blt/

Leave a Reply