Kemlu, Blogger, Diplomasi

Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia melirik blogger sebagai mitra, terutama dalam konteks penyebarluasan capaian-capaian proses diplomasi antarnegara/bangsa. Malah, sempat terlontar gagasan dari seorang pejabat Kemlu, ingin mengadakan tukar-menukar blogger antarnegara, seperti live in program yang digagas Pamantyo.

Setidaknya, begitulah gambaran yang bisa ditangkap ketika Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Kementrian Luar Negeri RI menggelar sosialisasi hasil kerjasama kawasan serumpun, yang bekerja sama dengan Komunitas Blogger Bengawan, 6 Juli lalu. Bagi Kemlu, seminar di Solo itu merupakan kali kedua setelah sebelumnya digelar di Surabaya, bekerjasama dengan komunitas serupa, Tugu Pahlawan (TPC).

Kerjasama semacam itu sudah tentu baik. Tak hanya memperoleh informasi memadai dari yang bersangkutan, para blogger pun menjadi lebih ngeh, kian aware mengenai beragam isu menyangkut hubungan antarbangsa dari berbagai negara. Dan, kerjasama seperti kemarin tak bakal terjadi andai tak ada staf Kemlu yang blogger seperti Mas Aris Heru Utomo.

Dalam seminar setengah hari di Solo itu, misalnya, Duta Besar Hazairin Pohan menyebut blogger punya peran strategis, melengkapi apa yang sudah dilakukan oleh awak media massa dalam penyebaran informasi seputar kawasan maupun yang lebih global cakupannya.

***

Kita tahu, salah satu kunci kejayaan bangsa terletak di tangan para diplomat. Indonesia disegani di kawasan ASEAN, bahkan dunia, juga lantaran banyaknya peran yang sudah dilakukan diplomat-diplomat kita. Nama-nama diplomat ulung yang pernah kita miliki, antara lain Adam Malik, Mochtar Kusumaatmadja, Ali Alattas hingga menteri luar negeri yang masih muda namun piawai, Marty Natalegawa yang belum genap setahun menjabat.

Di luar diplomat formal, Indonesia juga punya diplomat partikelir, yakni perunding untuk masalah-masalah khusus. KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, misalnya, pernah menjadi jembatan bagi Mindanau-Manila dalam konteks penyelesaian gerakan separatis Moro. Upaya penyelesaian sengketa politik yang muncul di Pattani, Thailand Selatan pun tak lepas dari peran Gus Dur.

Begitu pula kiprah almarhum di kawasan Timur Tengah. Kedekatannya dengan sejumlah tokoh kunci di Israel, juga dalam rangka menciptakan perdamaian di kawasan Teluk. Asal tahu saja, Gus Dur sempat diangkat menjadi penasihat khusus Presiden Irak pasca-Saddam Hussein. Aksesnya di negara-negara barat yang kuat, menjadi modal penting pula dalam upaya mengakhiri sengketa antaretnis/kelompok/aliran di Negeri 1001 Malam itu. Jangan lupa, ayatollah-nya Irak adalah sahabat Gus Dur saat mengaji di Bagdhdad.

Konon, hingga tutup usia, Gus Dur masih terlibat dalam perundingan-perundingan strategis, yakni penentuan batas-batas wilayah pasca-Perang Irak-Kuwait dan sebagainya. Dalam perundingan model demikian, termasuk penyelesaian konflik Israel-Palestina, Manila-Mindanau, Bangkok-Pattani, maka semua serba rahasia, dan hanya sedikit orang yang tahu, kecuali tokoh-tokoh kunci yang belum tentu ia seorang populer di media massa.

Dalam bentuknya yang lain, seniman dan budayawan kita yang mondar-mandir ke berbagai negara mempertunjukkan karyanya juga merupakan jembatan sekaligus bukti peran mereka dalam menjalankan diplomasi, dalam pengertian menyodorkan tawaran dialog melalui jalur kebudayaan. Indonesia, bisa lebih dikenal bangsa-bangsa asing juga melalui bentuk-bentuk kegiatan kebudayaan.

***

Ada satu hal menarik dari seminar sosialisasi program kerjasama ASEAN antara Kementrian Luar Negeri dengan Komunitas Blogger Bengawan, 6 Juli lalu.

Sejumlah pelajar SMU yang mengenakan seragam OSIS, lalu meminta Kementrian Luar Negeri menjadi fasilitator, agar tahun depan bisa menghadirkan siswa-siswa berprestasi dari negara-negara tetangga dalam gelaran pameran Kreasi Anak-anak Sekolah Solo (Kreasso) yang sukses mereka gelar tiga pekan sebelumnya.

Pada pameran itu, banyak karya-karya bermutu hasil kreasi mereka, termasuk kehadiran mobil-mobil rakitan anak-anak SMK dari Solo, Surabaya dan berbagai kota di Indonesia. Mereka berharap, pada event mereka tahun depan, bisa mendatangkan sesama pelajar dari negara tetangga, agar bisa bertukar pikiran, pengalaman dan berbagi informasi. Tentu, juga menjalin persahabatan antarbangsa.

Bagi Komunitas Blogger Bengawan, keberhasilan menggelar event ‘kecil nan sederhana’ itu menjadi kebanggaan tersendiri. Setidaknya, keberadaan blogger tidak di awang-awang, yang susah bergaul dengan masyarakat kebanyakan. Internet dan teknologi komunikasi hanyalah alat semata, yang memudahkan pertukaran informasi dan jalinan persahabatan tanpa batas, untuk kemajuan bersama.

Ada satu yang melegakan, saat Pak Dubes Pohan menyatakan seminar semacam itu tidak memiliki arti apa-apa, tanpa ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan kecil, namun melibatkan sektor-sektor khusus, seperti pengusaha kerajinan, pelaku seni-budaya, dan pelaku indsutri kreatif lainnya.

Melalui seminar kecil itu, terbuka sudah informasi tentang aneka peluang kerjasama antarbangsa. Bisa jadi, kian bakal banyak pertemuan-pertemuan regional diselenggarakan di Solo, atau sebaliknya, kian banyak kesempatan warga Solo (dan Indonesia umumnya) untuk memperkenalkan apa yang dimilikinya ke tingkatan lebih luas. Lebih mengglobal.

6 thoughts on “Kemlu, Blogger, Diplomasi

Leave a Reply